Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Nayla Berharap


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


☡Salamat Membaca☡


Tubuh Nayla gemetar, ia merasakan panas dingin kala Arfa mendekatinya, pria muda itu menatap wajah si cantik lekat, hingga membuat Nayla merasa tercekat.


"Ka_kau, mau apa?"


"Membantumu melepaskan baju, jangan berpikir yang bukan-bukan!"


Jawaban Arfa membuat Nayla diam sejenak, ia sedikit tak percaya jika Arfa tak akan berulah. Namun tak ada pilihan bagi Nayla, bajunya yang basah memang harus segera di ganti.


Ck___


Pelan dan perlahan, Arfa sangat berhati-hati membantu Nayla melepas dan memakai bajunya, selama proses itu juga, Arfa benar-benar berusaha untuk menahan, gejolak tak biasa yang menyergap tubuhnya. Kesempurnaan si cantik, tentu saja sangat menggoda bagi siapa pun yang menyaksikanya.


"Selesai."


Ujar Arfa datar, ia cepat-cepat melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar Nayla, sebelum keinginanya merajalela. Sesampai ia di luar kamar, Arfa langsung mengelus dadanya sendiri.


"Tolong, Fa! Ayo berubah!' harap Arfa pada dirinya sendiri.


***


Hari terus berganti, waktu terus berlalu. Nayla tetap memilih tinggal di rumah Arfa, karena ia masih ragu untuk pulang ke rumah. Meski begitu, Nayla tetap berusaha sesering mungkin agar bisa menghubungi keluarganya.


"Sudah 1 bulan lebih, kamu meninggalkan rumah. Apa kamu tak merindukan papa dan mama?" itulah pertanyaan Tito setiap kali menghubungi anaknya. Meski sempat marah, tapi nyatanya ia tak bisa berpisah dengan anak semata wayangnya.


"Nanti, aku pasti pulang. Beri aku waktu untuk di sini dulu!" pinta Nayla pula.


Tentu saja, Tito sebenarnya tak memberi izin, tapi ia terpaksa, karena Tito berharap semua akan baik-baik saja dan anaknya segera pulang ke rumah.


**


Sejak seminggu yang lalu, Nayla sudah mulai kembali masuk kuliah, meski ia tinggal di rumah Arfa, pria itu tak pernah mengajak Nayla berangkat kuliah bersama denganya. Sebab Arfilah yang selalu siap sedia mengantarkan Nayla kemanapun, si cantik akan pergi.


"Nay, katanya sekarang, kamu tinggal di rumah Arfa. Kenapa?" tanya Ika penasaran.


"Iya. Hem, siapa yang memberi tahumu?"


"Dimas," jawab Ika singkat.


Nayla yang saat ini, sedang berada di kantin kampus bersama kedua sahabatnya, menarik sudut bibir sebab melihat Ika dan Meymei saling tatap penuh tanya.


"Nay, kata Dimas_____," ucapan Ika tertahan.


"Apa?"


"Kamu dan Arfa, sudah melakukan, hal yang belum pantas untuk kalian lakukan." Tambah Ika meski ia berucap sedikit takut.


Pertanyaan dan ucapan yang Ika katakan, membuat Nayla sungguh merasa tidak nyaman. Terlebih lagi, kini ia semakin membenci Dimas, karena memiliki mulut, selebar Lambe Turah, kesana sini membagi gosip.


"Nay..... mau kemana?" bingung Meymei sebab tiba-tiba saja Nayla beranjak dari duduknya.


Si cantik tak menghiraukan pertanyaan sahabatnya itu, ia memilih menjauh dan menyendiri di tampat sepi.

__ADS_1


"Kamu kenapa?"


Pertanyaan itu keluar, dari bibir seseorang yang suaranya, sangat Nayla kenali.


"Arfa,"


"Kamu sedih? Kenapa?" pria muda itu bertanya dengan gaya jutek.


Spontan saja, Nayla menceritakan hal yang membuatnya kesal luar biasa, prihal sikap Dimas yang menceritkan hal, yang seharusnya menjadi rahasia pribadi antara ia dan Arfa.


"An*ng__!" umpat Arfa kasar. Secepat kilat ia melangkah, berjalan menyusuri seluruh kampus, baik di dalam atau pun di luar ruangan, untuk mencari keberadaan Dimas.


"Fa.. tunggu! Apa yang kamu cari?" Nayla pun mengikuti langkah Arfa dengan begitu tergesa-gesa.


Tapi Arfa tak perduli, ia begitu kesal akan sikap pria, yang mulutnya tak bisa di jaga, memburukan orang kemana pun, dan membuka rahasia orang lain.


BUUUGH!


Tanpa basa-basi, Arfa langsung melayangkan sebuah tinjuan tepat mulut Dimas, hingga darah segar keluar dari bibir pria itu.


"Dasar mulut alay! Kemana-mana menebar fitnah!" teriak Arfa kesal.


"Siapa yang memfitnahmu? Prihal apa yang aku katakan ke mereka, memang benar adanya. Kau dan Nayla, memang sudah melakukan hal yang tak selayaknyak kalian lukukan... dasar murahan!!!" balas Dimas tanpa pikir-pikir lagi.


"Sialan_______! Apapun yang telah ku lakukan, bukan urusanmu!" kesalnya lagi.


Dan... hari ini pun, terjadi pertengkaran di antara keduanya, hingga akhirnya apa yang terjadi di antara Dimas dan Arfa, terdengar juga di telinga dosen pembimbing.


***


"Kurang ajar! Apa yang terjadi hari ini... semua karena mulut sialanmu itu." Amarah Arfa.


"Huuuuf!" desuhnya berat.


Kini, Arfa memilih untuk pergi menenangkan diri, ia harus bisa mengendalikan emosi. Sebab ia mulai paham, jika emosi akan merugikan diri sendiri.


"Hai....,"


Sosok cantik, tiba-tiba hadir dan duduk di sampingnya, bahkan ia menepuk pelan pundak Arfa, yang sedari tadi terasa begitu berat.


"Nayla. Bagaimana bisa, kamu berada di sini?"


"Emmmm.... tadi, aku sengaja mengikutimu dari belakang, sebab aku tau, jika kamu sedang kacau,"


"Apaan, sok perhatian banget sih,"


Arfa membuang wajah, ia lalu sedikit menjaga jarak dari keberadan Nayla, namun si cantik terus menggeser tubuh, agar terus berada di dekat, pria muda yang membuatnya hancur sekaligus jatuh cinta.


"Bukan sok perhatian sih, tapi... masalah yang kamu hadapai saat ini, mau tak mau menyeret namaku," jelasnya lalu tersenyum simpul ke arah Arfa.


"Haah, kok bisa?"


"Kan.... yang kamu tiduri aku, masa pihak kampus akan memanggil Ika. Jadi tidak mungkinkan,"


Pemberitahuan yang Nayla katakan, membuat kepala Arfa semakin pusing, secepat kilat ia meraih ponsel yang berada di dalam tasnya.

__ADS_1


"Hallo bos,"


"Kamu dimana, Fiz?"


"Sedang melakukan peninjaun, di tanah kosong yang akan kita bangun, steam motor, bos," jelas Afiz melalui sambungan telepon.


"Aku ada tugas, buatmu dan teman-teman,"


"Apa?"


Arfa, meminta anak buahnya untuk mengh*jar Dimas, sebab ia mendapatkan masalah ini, karena mulut lemes pria sialan itu.


"Siap bos, akan kami laksanakan,"


Senyum sinis ter'ukuir jelas di raut wajah Arfa, ia ingin sekali memberi pelajaran terhadap Dimas.


"Fa... kamu yakin, meminta anak buahmu, untuk menghajar Dimas?"


"Yakinlah. Biar si Dimas itu tau, jika dia telah salah, karena menentangku."


"Tapi Fa,"


"Jangan melarang ku!"


"Tapi emosimu itu bisa saja membunuh orang lain," ujar Nayla lagi, namun Arfa tetap tidak perduli.


Kini ia menatap wajah Nayla tajam, di pandanginya dalam-dalam. Masihkah sama, rasa cinta dan suka yang ia punya?


"A_apa yang kamu pandangi?" gugup si cantik.


"Kecantikanmu. Terlebih kamu menggunakan gaun itu, semakin membuatmu terlihat sangat mempesona."


"Haaah???"


Seketika otak Nayla berpikir liar, ia memundurkan tubuhnya, agar tak terlalu dekat dengan Arfa, ia bahkan sudah memasang ancang-acang untuk berlari, andai nanti Arfa akan macam-macam kepadanya.


"Kenapa?" Arfa tersenyum.


"Jangan lakukan, apapun lagi kepadaku!" pintanya penuh harap.


Cleeetak!


Secepat kilat Arfa menyentil kening si cantik, yang mambuat Nayla meringis kesakitan.


"Otakmu, terlalu berpikr buruk tentangku. Tenanglah! Aku tidak akan pernah mengganggumu lagi," ujar Arfa lalu segera berdiri, ia melangkah untuk pergi dari hadapan si cantik.


Dan, Nayla sendiri, langsung merasa sedih, ucapan Arfa seolah membuatnya patah.


"Apakah dia, tidak akan menikahiku?" batin si cantik lirih.


.


.


.

__ADS_1


.


Terima Kasih, kakak-kakak baik🤗


__ADS_2