
🕊Selamat Membaca🕊
Alvian dan Airin kini tengah dalam perjalan menuju pulang, keduanya saling melempar senyum penuh arti.
"Kita menikah tanpa pacaran ya, Rin! Jadi belum pernah merasakan serunya malam mingguan," ucap Alvian yang sepontan membuat Airin tersenyum.
"Memang ini malam apa, sih?"
"Malam jum'at," jawab si tampan lalu melirik ke arah sang istri.
"Ya sudah, besok-besok kita malam mingguan ya!"
"Jalan kemana, Rin enaknya?"
"Ke hatimu,"
"Jangan jalan-jalan di hatiku, Rin! Harusnya kau menetap di dalam sana," goda si tampan manja.
"Ea.. ea..,"
Airin membalas godaan Alvian, dengan salah tingkah.
"Aku, akan menetap di hatimu, mulai hari ini, esok dan juga nanti,"
"Eh, berasa judul lagu," Alvian menggeleng.
"Memang," spontan Airin menjawab.
Hahahahahahaha!
Keduanya tertawa lepas, antara benar-benar lucu atau di paksa lucu, yang pasti malam ini, keduanya melewati waktu yang berlalu dengan bercanda.
***
Sesampainya di rumah, keduanya langsung saja masuk ke dalam kamar, Airin dan Alvian sudah merencanakan sesuatu.
"Siap?" Alvian mengedipkan matanya.
"Ya," jawabnya datar. "Eh... mandi dulu, lah!" usul Airin.
"Ini malam hari, Rin.. buat apa mandi?"
"Biar wangi,"
"Ahh... tanpa kau mandi, tubuhmu harum sepanjang hari," goda si tampan lagi.
"Hilih, alay banget sih, Al," Airin berdecak lirih.
Lagi-lagi keduanya pun tertawa, sebelum melanjutkan aksi malam ini. Airin dan Alvian ingin sesegera mungkin mendapatkan momongan.
Tak perlu aba-aba, keduanya menghabiskan malam dengan saling berpeluk hangat, membelai manja dan saling melengkapi. Merengguh indahnya surga dunia, dan berharap akan segera menghasilkan. Airin dan Alvian menginginkan hadirnya malaikat kecil di dalam pernikahan mereka.
"Aaaah," lirih Alvian lalu menjatuhkan tubuhnya spontan.
Sementara Airin, memilih untuk tetap memejamkan mata, lalu menarik selimut untuk menutup tubuhnya.
"Selamat malam, Al," ucapnya pelan sebelum memejamkan mata.
Sedangkan Alvian masih terkapar tak berdaya, aktifitasnya yang baru saja sungguh menguras tenaga.
__ADS_1
"Selamat tidur, Rin!" balasnya pada sang istri yang sayup-sayup mulai terlelap dalam tidurnya.
Alvian beranjak dari tempat tidur, lalu menuju ke kamar mandi, pria muda itu tersenyum melihat sang istri yang terlihat kelelahan karena ulahnya.
Ck....
Jam 6 pagi, Alvian sudah siap dan rapih, ia akan kekantor lebih cepat hari ini. Sementara Airin masih terlelap dalam tidurnya, rasa lelah yang luar biasa, membuat si cantik bermalas-malasan untuk membuka mata, bahkan karena terlalu lelahnya Airin tak sadar jika Alvian sudah berangkat bekerja.
"Mana istrimu?"
"Masih tidur,"
"Owh,"
Tania membuang nafas pelan, lalu tersenyum ke arah Alvian.
"Apakah, Airin tak enak badan? Tumben, jam segini belum bangun?" tanya Tania lagi.
"Semalam, habis bertempur, mah... jadi dia lelah, biarkan dia beristirahat! Katanya mama mau, cepat-cepat punya cucu,"
"Haah, seruis?"
Tania menyunggingkan senyumnya, sungguh ia bahagia saat mendengar ucapan Alvian baru saja, karena nyatanya ia memang sudah lama mengharapkan hadirnya malikat kecil dari pernikahan, Airin dan Alvian.
"Tancap gas'lah!" ucap si papa tiba-tiba.
"Eh, papa," Alvian tersenyum sumringah.
"Kau tau, teman-teman papa, hampir semua sudah punya cucu, maka dari itu, papa sangat berharap dari kalian berdua!" harap si papa pula.
"Iya Al, mama juga. Kalau arisan dan kumpul dengan teman-teman, mereka pasti cerita, betapa lucu dan imutnya cucu mereka. Dan mama hanya diam saja," tambah Tania.
Alvian menarik nafas panjang, ia melihat raut-raut penuh harap dari wajah si mama dan si papa. Sungguh ia dan Airin sudah berusaha, tapi Tuhan belum memberi rizki untuk keduanya.
Alvian segera melangkah pergi untuk berangat ke kantor pagi ini. Sama halnya dengan Reyhan dan Tania, keduanya pun berangkat ke kantor juga.
***
Jam menunjukan pukul delapan pagi, Airin baru saja membuka mata. Ia terbelalak tak percaya saat melihat jam di dinding kamarnya.
"Haaah, jam delapan? Ga.. salah," ia berdecak heran lalu beranjak dari tempat tidurnya.
Si cantik keluar dari kamar, lalu menoleh ke kanan dan kekiri.
"Al....,"
Airin memanggil nama sang suami berkali-kali, namun Alvian tak kunjung menampakan wajahnya.
"Maaf mbak, mas Al sudah kekantor sejak pagi-pagi sekali," si Bibi memberitahu.
"Ohh begitu, baiklah. Terima kasih, bi!"
Si bibi pun tersenyum simpul, ia sudah menyiapkan sarapan pagi untuk Airin.
Huwaaammmm!
Airin menguam berkali-kali, ia merasa begitu lelah pagi ini. Maklum saja, kemarin seharian ia hampir bergelut dengan air mata, sementara malam, ia harus menhadapi sang suami.
"Ya Tuhan, badanku rasanya pegal semua, tulangku seolah patah-patah," desuhnya pelan sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Tanpa pikir lagi, ia segera membersihkan tubuhnya yang masih terasa lelah, ia tak berniat melakukan apapun hari ini, sebab ia merasa perlu mengistirahatkan tubuhnya sedikit lama.
Ting!
Ponsel Airin berbunyi, sesigap mungkin ia membukanya.
Dan... rupanya itu bunyi pemberitahuan dari salah satu karyawan kantor Alvian, yang memposting sebuah foto di sosial media.
"Haaah,"
Airin mengerutkan wajahnya, saat melihat foto tersebut.
"Penyambutan karyawan, cantik," begitu tulis caption dari status keryawan tersebut.
Airin berdecak kesal, antara marah atau bagaimana. Ia sendiri tak mengerti apa yang menyergap batinya kini. Airin benci saat melihat karyawan baru tersebut, berfoto di samping sang suami.
"Siapa dia?"
Airin bertanya pada salah satu karyawan kantor Alvian melalui pesan singkat.
"Namanya Fifa bu, dia katanya teman pak Al, saat kuliah dulu. Pagi ini melamar pekerjaan dan si bapak langsung menerimanya," balas si karyawan melalui pesan singkat pula.
"Haaah, sial!" decaknya kesal.
Secepat kilat, ia mengambil kontak mobil dan memutuskan untuk bergegas ke kantor pula, meski awalnya ia tak berniat kemana-mana, tapi seketika niatnya berubah saat mengetahui jika karyawan cantik yang berfoto di samping Alvian, adalah teman semasa sang suami kuliah dulu.
"Mau macam-macam tu cewek. Awas saja tebar pesona ke suamiku! Tak penyet-penyet sampai jadi ayam geprek," omelnya berkali-kali seraya fokus mengemudi.
Airin memberhentikan mobilnya ke suatu tempat, sebelum menuju ke kantor, ia tengah merencanakan sesuatu kali ini.
1 jam berada di tempat tersebut, Airin pun kembali melajukan mobil miliknya dan memutuskan segera menuju ke kantor.
Di sisi lain, Alvian merasa sedikit bahagia saat berjumpa dengan sahabat dimasa ia sekolah.
"Bukankah kau seorang polisi, Al. Kenapa tiba-tiba memiliki perusahaan?" Fifa penasaran.
"Biasalah, ada hal yang membuatku berkendala, saat menjadi polisi, maka aku memutuskan untuk mendirikan perusahaan. Kau sendiri bagaimana? Bukankah kau sudah mendapatkan pekerjaan bagus di luar negri?" tanya Alvian pula.
"Haha," tawa Fifa datar. "Aku tak betah di sana, rupanya aku meindukanmu," ucap Fifa sedikit bercanda.
Mendengar itu, Alvian spontan menautkan kedua alisnya, bahkan Fifa bersikap tak canggung sedikit pun padanya.
Sssstttt.....
Saat keduanya masih asik berbicara, semua karyawan dan Alvian di kejutkan dengan ke datangan Airin yang tiba-tiba. Bahkan semua mata kini di buat terpesona olehnya.
Ya... Airin yang memang sudah cantik jelita, hari ini ia semakin terlihat mempesona. Jika biasanya Airin ke kantor dengan polesan makeup yang biasa saja, tapi hari ini ia terlihat cetar membahana.
Kenapa?"
Ya karena Airin cemburu, ia tak mau Fifa terlihat lebih cantik di depan suaminya. Sementara Alvian susah payah menelan salivahnya, saat melihat Airin berpenampilan sangat berbeda hari ini.
.
.
.
.
__ADS_1
🤗🤗❤😊😊.
Terima kasih kakak-kakak baik, semoga tetap betah di karya ambyarku ya.