Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Dendam Atau Cinta


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


Polisi Sang Penakluk Hati Season2


☡Selamat Membaca☡


Nayla memundurkan langkah, saat Arfa menatap wajahnya dengan senyum mes*u, pria muda itu memandangi Nayla dari atas sampai ke bawah, bahkan Arfa tak perduli jika gadis di hadapanya sangat ketakutan.


"Jangan gila, Fa!"


"Aku mencintaimu, bukan gila,"


"Tapi bukan ini cara, agar kau dan aku bisa bersama,"


"Lantas, apa yang harus kita lakukan?"


Arfa terus mendekat, bahkan kini tubuh Nayla sudah bersandar ke dinding kamar, namun wajah Arfa terus mengarah tepat di wajah si cantik. Hingga gadis itu merasa sangat gemetaran, seketika saja air matanya tumpah, ia benar-benar takut jika Arfa akan menggila.


"Jangan sentuh aku, Fa!"


Melihat Nayla yang gemetaran, Arfa spontan memundurkan langkahnya, bahkan secepat kilat ia meraih tas dan ponsel gadis tersebut, lalu berniat untuk pergi.


"Kamu mau kemana? Kenapa kamu membawa ponselku?"


"Agar kamu, tidak memberj tahu siapapun! Jika kamu ada di sini,"


"Ta_tapi,"


Belum sempat Nayla berucap, Arfa sudah keluar dari kamar, lalu mengunci pintu, agar Nayla tak bisa kemana-mana. Bahkan melalui ponsel tersebut Arfa mengirim pesan singkat ke no pesel orang tua Nayla, jika gadis itu sedang berada di rumah temanya, dan pulang sedikit terlambat.


"Dengan begini, mereka pasti mengira jika pesan singkat ini dari, Nayla," ucapnya lirih.


Dan, setelah 15 menit berada di luar rumah, akhirnya Arfa pun kembali ke kamar. Ia medapati Nayla tengah duduk seraya menonton televisi.


"Dari mana? Kenapa lama sekali?"


"Ini,"


Arfa membawa 2 kotak nasi goreng, untuk mereka makan bersama sore ini. Bahkan detik iní pria muda itu tak menunjukan pikiran jahatnya.


"Setelah makan, antar aku pulang ke rumah! Karena aku yakin, papa dan mamaku sudah khawatir, sebab aku belum pulang juga,"


"Aman. Aku sudah memberi tahu kedua orang tuamu, jika malam ini kamu pulang sedikit terlambat,"


"Haaaah!" Nayla menatap nanar wajah Arfa.

__ADS_1


"Ya, aku mengirim pesan menggunakan poselmu,"


"Huuh sialan, dasar licik,"


Nayla tanpa pikir panjang, langsung menyantap nasi goreng yang ada di hadapanya, karena ia memang sudah merasa sangat lapar.


"Eh, jangan-jangan kamu, memasukan obat ke dalam nasi ini,"


"Buat apa?"


"Agar kamu leluasa menyentuhku,"


"Bodoh. Jika aku mau, ku pastikan merenggut kesucianmu dengan kesadaran penuh, agar kamu merasakan, nikmatnya belaian demi belaian yang akan ku yang akan ku berikan,"


Seketika Nayla menghentikan suapan demi suapan yang sejak tadi ia nikmati, mendengar ucapan Arfa membuat bulu-bulu di tubuhnya berdiri. Ia tak pernah berpikir jika pria yang selama ini di anggap culun dan cupu, memiliki cara pikir seliar ini.


"Pulang. Aku mau pulang!"


"Ehhh, mau kemana sayang? Katamu kamu mencintaiku, kenapa kamu tidak mau tidur denganku?"


Arfa menarik tangan Nayla, dan menarik tubuh si cantik untuk memeluk tubuhnya.


"Aku memang mencintaimu, tapi bukan ini jalan, agar mendapatkan restu papaku,"


"Dengar ke kasihku sayang, aku mencintaimu dengan begitu tulus, tapi kamu tak perlu merenggut kesucianku, agar membuatku tak bisa menjauh,"


"Mungkin, kamu tidak akan membuat hubungan kita menjauh, tapi bagimana dengan papapu? Dia itu pembunuh, maka akan banyak cara yang dia lakukan, untuk menyingkirkanku dalam hidupmu,"


Karena emosi Arfa tak menyadari, apa yang baru saja ia ungkapkan, dan enjelasan si tampan tadi tentu saja membuat Nayla penasaran. Si cantik meminta agar Arfa menjelaskan, kenapa Arfa mengatakan jika papanya seorang pembunuh?"


Dengan mata berkaca-kaca, Arfa menceritakan siapa Tito bagi kularganya.


"Papa'mu pembunuh opa dan omaku, yang tak lain kedua orang tua papiku. Bahkan mereka meninggal karena kecelakaan tragis dan kondisi tubuh tampak sangatlah sadis, membuat papiku seolah menjadi gila. Papi tak menerima kematian opa dan oma yang tak wajar," jelas Arfa panjang lebar.


Sementara mata Nayla mulai berkaca-kaca.


"Setelah ku selidiki dan menangkap orang yang sengaja menyabotase mobil opa. Mereka pun jujur, jika mereka di suruh oleh Tito Sadewo yang tak lain, papamu." Tambah Arfa yang seketika tampak emosi.


"Haaah__!"


Seketika tubuh Nayla lemas, ia mulai menangis. Dadanya terasa sesak, antara percaya atau tidak dengan apa yang baru saja Arfa katakan.


"Lantas, apa ku tulus mencintaiku? Atau menjadikanku, alat untuk balas dendamu?" tanya Nayla sesenggukan.


Arfa langsung meraik tangan Nayla agar berdiri, setelah itu ia dudukan di atas ranjang.

__ADS_1


"Ya, aku ingin menjadikanmu alat agar aku bisa membalas kejahatan papamu," jujur Arfa, yang spontan setetes air mata jatuh dari manik indahnya. "Tapi, aku juga tulus mencintaimu, sebab selama aku memperhatikanmu, untuk mencari celah agar membuatmu celaka, namun aku justru terbawa rasa. Aku mencintaimu, Nay." Ujarnya lagi, kini suara Arfa terdengar paru dan patah-patah karena pria muda itu mencoba untuk menahan tangisanya.


Diam seribu bahasa, Nayla merasakan sakit batin yang Arfa rasa.


"Bagimana kabar papimu kini?" si cantik mencoba untuk memberanikan diri untuk bertanya.


"Papiku, hanya diam saja. Dia tak pernah mau berbicara, makan pun harus di paksa, terkadang ia senyum sendiri namun tiba-tiba saja menangis tanpa sebab. Dari situlah aku merasa batin papi terluka, karena opa dan oma meninggal tak wajar, di usia senja mereka," tambah Arfa, namun kini ia bicara dengan begitu lembut.


Nayla tertunduk pasrah, bola mata Arfa yang berkaca-kaca, membuatnya sesak luar biasa, ia paham sakit yang Arfa rasa, sebab semenjak sang papi berubah, tak ada senyum dan tawa, seperti dulu saat keluarga Arfa masih utuh.


"La_lakukan! Jika merenggut kehormatanku bisa membuat, sakit di hatimu sedikit berkurang," titah Nayla gemetar ia kini gugup luar biasa.


Mendengar itu, dengan liarnya Arfa mengecup bibir Nayla, membuka baju si cantik dengan sangat kasar. Ia menjelajah seolah tengah merengguh indahnya surga dunia. Pria muda itu tak perduli, selama ia melakukanya, selama itu pula air mata Nayla tumpah, puncaknya saat Arfa berhasil menghancurkan benteng mahkota milik Nayla.


30 menit pasrah, dan Arfa pun mulai lelah, ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, namun sebelumnya, ia menarik selimut lalu menutupi tubuh Nayla yang baru saja ia jelajah.


Happ!


Arfa berkali-kali mengecup kening Nayla, yang sudah lemas tanpa daya. Bahkan seketika ia pun mulai menejankan mata.


20 menit kemudian ia pun sadar, bola matanya menatap ke kanan dan ke kiri, dan sorot matanya terhenti saat melihat Arfa tengah duduk menatap layar laptop.


"Hai Nay, kamu sudah sadar?" sapanya seolah tak terjadi apa-apa.


Nayla menarik selimut, lalu meringkuh tubuhnya yang masih tanpa busana.


"Mandi dan pakailah bajumu! Sebelum aku bernaf*u untuk menjajah tubuhmu lagi!" titahnya namun tatapanya masih fokus menatap layar laptop.


Sementara si cantik masih menangis sesenggukan.


"Tugas kuliahmu sudah ku kerjakan, malam ini kamu bisa tidur dengan nyenyak, karena aku tahu, kamu pasti lelah setelah menyerahkan kehormatanmu padaku!"


Pria muda itu pun berdiri lalu mendekati Nayla yang masih membisu.


"Aku pulang ya sayang, kamu bisa bisa pulang sendiri, oke! Dan aku juga sudah memesan Taxi online untukmu, cepatlah gunakan bajumu setelah itu pulang!" bisik Arfa pelan di telinga Nayla.


Ia meninggalkan si cantik di kamaf hotel sendirian, sedangkan Arfa memilih untuk langsung pulang ke rumah.


.


.


.


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2