
🌸S e l a m a t ~ M e m b a c a🌸
Sejak hamil, Sisi memang selalu dimanja, tak pernah dimarah dan tak pernah salah. Apapun yang dia mau, pasti akan Arfi turuti, meski pemintaan Sisi, sangat mambuat Arfi sakit kepala.
"Hari ini mandi bola di Mall!" ajak Sisi pada sang suami yang tampak sibuk bermain ponsel.
"Kakak belikan bolanya. Tapi mandi bola di rumah saja!"
"Gaa mau... aku mau mandi bola di Mall tidak mau dirumah!!" rengeknya seperti anak-anak.
Tak ada pilihan bagi Arfi, akhirnya menuruti keinginan sang istri. "Asal masih mandi bola, aku pasti bisa mewujudkanya, yang penting jangan naik UFO jam 3 pagi." gumam Arfi dalam hati.
Wusssh!
Kini keduanya sudah tiba di pusat permainan anak-anak. Dengan sorak gembira ia langsung menarik tangan Arfi dan mengajak mandi bola.
"Adiknya umur berapa, pak? Wahana ini untuk anak 12 tahun kebawah!"
"Dia bukan adik, tapi istriku."
"Haaah? Kalau begitu sudah dewasa ya?"
"Umurnya belum genap 19 tahun."
Awalnya, petugas pusat permainan tersebut, melarang... jika Sisi akan bermain. Karena usianya sudah 18 tahun lebih. Tapi, bukan Arfi namanya, jika tak bisa mengambil alih semua peraturan yang ada, ia membeli semua tiket untuk membiarkan sang istri bermain didalam sana sepuasanya.
"Kok sepi kak? Gak ada yang masuk ketempat ini atau gimana?"
"Udah gak usah bawel! Main sana semaumu!"
"Ayo ikutan!'
Karena dirasa cukup sepi dan tak ada siapapun di tempat permainan ini, akhirnya Arfi pun ikut. Keduanya saling melempar bola, bercanda dan terlihat seperti anak TK... ada beberapa orang yang memperhatikan keduanya, pun merasa ikut bahagia.
"Uhh lelahnya!" keluh Sisi seraya mendudukan tubuhnya di kursi, karena setelah bermain ia dan Arfi langsung menuju tempat makan yang ada di Mall tersebut.
"Minum dulu!" Arfi menuangkan air dingin ke dalam gelas lalu ia berikan kepada Sisi.
Dengan cepat, si cantik meminum air yang Arfi beri, seraya menatap lekat wajah sang suami yang tampak lelah, karena menuruti semua ke inginanya. Arfi yang sibuk mengotak atik ponsel tak sadar, jika tengah di perhatikan oleh sang istri.
"Setelah ini, kamu mau kemana lagi?"
"Pulang.'
"Yakin? Gak mau beli apa gitu?"
"Gak... kasihan kakak,"
__ADS_1
"Kok kasihan kakak?" Arfi penasaran.
"Kakak pasti lelah."
"Asal kamu bahagia, gapapa. Hitung-hitung membayar kesalahan beberapa waktu lalu, yang kakak lakukan padamu." tulusnya.
Sisi bahagia. Asal tau saja, saat ini ia sebenarnya ingin locat-loncat kegirangan. Ucapan Arfi terdengar tulus, itulah yang membuat ia gembira.
"Kamu gak capek?"
"Capek sih. Maka dari itu, kita pulang saja!"
Tak ada kata-kata yang bisa Sisi lukiskan, untuk mewakili batapa bahagia ia kini. Sisi mengelus perutnya yang sebenarnya masih rata, karena hadirnya si calon bayi telah merubah sikap Arfi. Terlebih saat ia dinyatakan hamil, Sisi tak mengalami mual terlalu parah, hanya ngidamnya saja yang berlebihan.
Bruuuk!"
Sisi menjatuhkan tubuh diatas tempat tidur, seraya mengelus-elus perutnya. Ia menoleh kearah sang suami yang juga merebahkan tubuh di sofa.
"Kakak mandi dulu, setelah itu baru tidur!"
"Kamu saja, mandi dulu! Kakak mau mengatur napas sebentar!"
Sisi teraenyum simpul, ia segera masuk kedalam kamar mandi. Dan 15 menit kemudian, ia pun keluar seraya mengeringkan rambutnya yang basah.
Ck...
Lagi, Sisi tersenyum penuh arti karena medapati Arfi yang tertidur di sofa. Dengan wajah yang terlihat begitu lelah, karena sepanjang hari ini, Arfi bermain seperti anak kecil bersama sang istri. Mandi bola, kejar-kejaran di Mall sampai menjadi pusat perhatian banyak orang.
Ia melangkah mendekati Arfi yang lelah, segera memperhatikan wajah tampan sang suami. Bibir merah, mata lentik, kulit putih mulus dengan tubuh yang lumayan kekar, membuat Sisi menggeleng pelan, karena saat Arfi tertidur dia tampak seperti wajah bayi, ekspresi wajahnya tak menunjukan jika pria itu orang jahat, suka menggila terlebih saat berhubungan.
Ssstt..
Sisi meraih selimut di atas tempat tidur, lalu menutup tubuh sang suami, tapi sebelumnya ia harus melepas sepatu Arfi pelan-pelan, agar dia tidak terbangun.
"Selamat istirahat!" bisiknya di telinga si tampan, lalu memg*cup kening Arfi dengan penuh cinta. Sisi seyang itu dan secinta itu.
Hampir 6 minggu usia kandungan Sisi, selama istrinya di nyatakan hamil, memang tak sekali pun, Arfi menggagahi tubuh Sisi, pria itu berusaha untuk berubah, menjadi Arfi yang baik hati dan tak mau membuat sang istri bersedih.
***.
"Sisi.... kata mami kamu hamil ya?" tanya Nayla bersemangat melalui video call yang di lakukan keduanya.
"Iya mbak... aku hamil dan sebentar lagi usia kandunganku 2 bulan!" Sisi pun bersemangat.
"Semoga lancar ya, sampai persalian. Kamu dan dedek bayinya selalu sehat!"
"Terima kasih, mbak!'
__ADS_1
Sisi menceritakan perubahan sikap Arfi setelah ia hamil. Membuat Nayla ikut merasa bahagia juga, bukan hanya Nayla saja, Arfa pun senang mendengarnya.
"Setauku, dia memang oranc baik. Semoga Arfi tak menyakitimu lagi, ya. Si!"
Obrolan saling memberi semangaţ pun usai. Sisi segera beranjak dari tempat ia duduk, berencana menghirup udara segar dari balkon kamarnya, ia memandang kesegala arah, memperhatikan kendaraan yang lalu lalang seraya tersenyum penuh arti. Sisi berkali-kali mengucapkan rasa syukur, atas semua hal yang Tuhan beri untuknya.
"Aku tak pernah menyangka, akan tidur di kamar mewah, aku tak pernah berpikir akan tinggal di tempat yang nyaman." ucap Sisi dalam hati.
Wanita muda itu, terus menajamkan pandangan, seakan dunia telah ia genggam. Satu-satunya hal yang paling membuat Sisi bahagia, adalah sikap sang suami yang semakin hari, membuat ia tersenyum dan selalu melindungi Sisi.
Braaaak!
Saat ia tengah memandang ke arah jalan luas, ada kendaraan bertabrakan bebas. Pengemudi terpental ke atas, ada yang jatuh kejalan tapi tetap ada kendaraan yang menerabas, darah tampak mengucur deras, membuat Sisi yang melihat berteriak keras.
Panik!
Tabrakan yang tampak jelas dan terjadi tepat di depan mata Sisi, membuat dadanya terasa sesak, ia terkejut luar biasa, hingga napasnya terengah-engah.
"Kak.. pu-pulang!' suara Sisi terdengar gemetar, ia menelepon sang suami, agar segera kembali.
Dengan langkah gontai, Sisi masuk kedalam kamar, sementara di jalan yang terjadi tabrakan, kini sudah ramai di datangi banyak orang.
"Astaga, napasku," decak Sisi lirih.
Karena terkejut membuat asmanya seketika kambuh, sementara saat ini, Arfi sedang berada di kantor. Beruntung Sisi sudah menghubungi sang suami, sebelum akhirnya tak sadarkan diri. Asma yang Sisi punya, membuat jantungnya sedikit lemah. Kaget memang salah satu pemicu, penyakitnya kambuh.
Ck...
Arfi yang baru akan sampai di apatemen, sedikit terkejut karena jalanan tampak ramai.
"Ada apa ini, pak?"
"Kecelakaan, pak."
"Siapa?"
"Entah.. korbanya seorang wanita dan ada 2 orang lainya."
"Haaaah?"
Karena terlalu gugup, Arfi mengira sang istri yang menjadi korban kecelakaan, sebab saat di hubungi melalui sambungan telepon, Sisi tak mengangkatnya.
.
.
.
__ADS_1
.
TERIMA KASIH