Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Menyelidiki


__ADS_3

šŸ•ŠSelamat MembacašŸ•Š


Airin duduk termenung di sebuh kursi, ia terbayang-bayang wajah Dipta, pria sialan yang pernah merendahkanya, Dipta memang teman satu kampus Airin dulu, namun ia tak menyangka, jika pria itu adalah adik kandung dari sahabat sang suami.


"Huuuh,"


Ia membuang nafas kasar, dadanya sesak mengingat wajah pria sialan itu.


"Ahh, mungkinkah dia sudah berubah?"


Tanyanya lagi di dalam hati, Airin berdecak kesal dan penasaran berkali-kali.


"Ehmmm,"


Gumam Alvian lirih, seraya menatap Airin yang tengah duduk di kursi, si tampan sedikit curiga, akan sikap istrinya yang tak biasa, bahkan sikap aneh itu terjadi setelah Airin bertemu dengan adik kandung Toni.


"Ada yang tidak beres nih?" batin Alvian lagi.


Mantan polisi itu segera melangkah kaki untuk mendekati keberadaan Airin... Alvian langsung duduk di samping sang istri.


"Hei, mikirin apa sih? Apa mama'mu masih sakit? Atau, tadi papa tiri melakukan sesuatu padamu?" tanya Alvian penuh selidik.


"Tidak," Airin menggeleng cepat, ia segera menundukan wajahnya seolah enggan menatap wajah sang suami.


"Kalau tidak, kenapa kamu terlihat sedih begitu?" selidik Alvian lagi.


"A_aku tidak sedih, hanya sedikt kelelahan," jawabnya berbohong sorot mata Airin menunjukan isyarat ketakutan, bahkan sikap Airin yang sangat gugup membuat Alvian yakin ada yang di sembunyikan oleh istrinya.


Alvian menatap wajah sang istri semakin dalam dan semakin tajam, ia memandangi sang istri secara seksama.


"Istriahatlah, jika kamu lelah!"


"Ba_baik, mas. Aku ke kamar dulu ya,"


"Iya, tapi sebelum kamu ke kamar, beritahu si bibi untuk masak banyak dan enak hari ini!" titah Alvian kemudian.


"Lah, memang mau ada acara apa, mas?"


"Nanti malam, Dipta akan makan malam bersama kita,"


"Haaaah....!"


Mendengar penjelasan sang suami. membuat Airin terkejut luar biasa, ia langsung pergi ke ke kamar dengan langkah tergesa-gesa, dan ia pun lupa jika suaminya menyuruh ia untuk memberi tahu si bibi, agar masak banyak.


"Hemmmz.....,"


Alvian menggeleng heran, setelah sang istri sudah hilang dari pandanganya, ia semakin yakin, ada yang tak beres dari sikan sang istri.


"Padahal, aku berbohong, jika Dipta akan ke sini," lirih Alvian dalam hati.


Si tampan segera beranjak, lalu meraih ponselnya yang terletak di ruang tengah, ia benar-benar meminta Dipta dan kedua orang tuanya makan malam di rumah.


"Ta_tapi bang," gugup Dipta pula saat Alvian mengundangnya makan malam bersama.


"Ayolah Dip, ini sebagai bentuk sayangku untuk abangmu, dan aku akan menganggap kau dan juga kedua orang tuamu, saudaraku," Alvian membujuk Dipta, ia menggunakan banyak cara agar adik dari sahabatnya itu, tak menolak ajakanya.

__ADS_1


Ya... dengan gugupnya Dipta dan beribu alasan Dipta menolak makan malam di rumahnya, ia semakin yakin, ada rahasia antara Airin dan adik kandung Toni itu.


"Ba_baik bang, nanti malam aku akan datang," ucap Dipta yang akhirnya menyerah, ia menerima tawaran Alvian, meski gugup dan takut.


"Baiklah, aku tunggu kedatanganmu,"


Alvian tersenyum puas, ia wajib mengulik sampai akar, apa yang telah terjadi antara Dipat dan sang istri.


"Bi masak yang banyak, jangan lupa siapkan jus buahnya juga! Karena nanti malam, ada tamu mau berkunjung," seru Alvian pada si bibi.


"Siap mas, nanti akan saya siapakan semuanya," ujar si bibi semangat.


"Bagus,"


Si tampan tersenyum puas, dari pertemuan nanti malam, Alvian harus bisa membongkar rahasia yang ada.


***


Malam pun tiba, Tania dan Reyhan sedikit heran, kenapa tiba-tiba begitu banyak makanan di atas meja.


"Ini, aku mengundang adik dan kedua orang tua Toni, untuk makan malam bersama kita," Alvian menjelaskan.


"Oh begitu. Lalu, dimana mereka, kenapa belum datang?"


"Masih di jalan mah, pah,"


"Lantas, dimana istrimu?"


"Masih di kamar, sebentar lagi turun," jawab si tampan bersemangat.


Alvian sungguh tak sabar, ia bolak balik menatap ke arah pintu utama, berharap Dipta dan kedua orang tuanya segera tiba.


Pintu pun terbuka, si satpam rumah membawa orang-orang yang di tunggu Alvian masuk ke dalam rumah.


"Malam om, tante... ayo duduk!" Alvian bersikap seramah mungkin.


"Terima kasih, Al,"


"Dip, ayo duduk di sini!" serunya lagi. Alvian menunjuk sebuah kursi tepat di hadapanya.


Kedua orang tua Almarhum Toni, berberita dan saling bertukar tawa dengan kedua orang tua Alvian, sedangkan si tampan ngobrol empat mata bersama Dipta.


Ssstt...


Saat mereka tengah asik saling bercerita, saat itu pula Airin keluar dari kamar lalu menemui mereka.


GLEG!


Meski tengah hamil, wanita itu tetap terlihat cantik, hingga membuat Dipta tetap terpesona akan kecantikan, teman satu kampusnya itu. Ya.. dulu, Airin memang menjadi primadona bahkan Dipta mati-matian untuk mendapatkan cintanya, namun Airin tak tertarik sedikit pun.


"Rin, kemarilah!"


Si cantik tersenyum simpul, ia segera mendudukan tubuhnya tepat di samping sang suami.


"Selamat malam, Rin,"

__ADS_1


"Selalat malam juga, om," Airin membalas ramah sapa'an, Ridho untuknya


Namun sorot mata Airin, menatap wajah Dipta penuh benci, sementara Alvian memperhatikan setiap gerak-gerik antara sang istri dan adik dari sahabatnya.


"Hemm, Dipta,"


"I_iya, bang," gugup Dipta saat Alvian memanggil namanya.


"Kau sekarang kuliah ambil, fakultas apa?" basa-basi Alvian, tapi tanganya menggenggam tangan sang istri, yang terasa begitu dingin.


"Aku ambil fakultas hukum bang, karena dulu bang Toni, sangat mengharapkanku menjadi seorang pengacara," jelas Dipta pula.


"Hilih preeet, manusia memiliki otak kotor sepertimu, mana mungkin akan menjadi pengacara," umpat Airin dalam hati, sorot matanya kian sinis.


Tatapan sinis Airin, sungguh membuat Dipta tak nyaman, ia berkali-kali tertunduk malu.


"Om, tante.. apakah, tidak sebaiknya, Dipta kuliah di sini saja. Dengan begitu, setidaknya kalian tidak akan kesepian," usul Alvian.


"Akan ku pikirkan," jawab Ridho kemudian.


"Ehh, kalau boleh tau, sebelumnya Dipta kuliah dimana?"


DEEEG!


Airin dan Dipta sama terkejutnya, mereka berdua saling tatap, lalu menatap Alvian penuh harap.


"Lho, ada apa? Kenapa kalian menatapku sinis begitu?" spontan Alvian dengan banyak tanya memenuhi benaknya.


"Sebelumnya, Dipta kuliah di Universitas Pemersatu Bangsa," jelas Ridho kepada Alvian.


"Haaahhh..!" kini Alvian yang terkejut juga, sementara Dipta tertunduk lesu dan Airin mengernyitkan wajahnya.


"Kenapa, Al.. kenapa kau terkejut?" Reyhan dan Tania berdecak heran akan sikap Alvian.


"Be_bearti, dulu, kau dan Airin satu kampus? Lalu, apakah kalian saling mengenal sebelumnya?" todong Alvian sedikit gugup.


Mendengar pertanyaan itu, Dipta segera beranjak dari tempat duduknya, ia tak menjawab sepatah katapun, priahal pertanyaan Alvian tadi.


"Dipta, kau mau kemana?" Ridho dan sang istri heran.


"Heei, Dip... kau mau kemana?!" teriak Alvian juga, ia pun beranjak dari tempat duduknya, lalu mengejar langkah Dipta.


"Maafkan aku, bang!" ucapnya pelan, dan segera berlari agar Alvian tak medekatinya.


"Maaf....?"


Si tampan, menggeleng pelan, sorot matanya menatap Dipta penasaran, namun adik sahabatnya itu sudah masuk ke dalam mobil, dan segera bergegas pergi. Kini, sang istrilah yang akan Alvian introgasi.


.


.


.


.

__ADS_1


TERIMA KASIH KAKAK-KAKAK BAIKā˜ŗā¤. MAAF UP SEBAB-SEBAB DULU YAK, KARENA AKU LAGI SAKIT MATAšŸ˜­ā¤ā¤.


šŸ•ŠTerima kasihšŸ•Š


__ADS_2