Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Kity Kucing Arfa yang Hilang


__ADS_3

🐸Selamat Membaca🐸


Seiring bergantinya hari, dan berlalunya waktu, usia Arfi dan Arfa pun semakin bertambah. Kini keduanya sudah duduk di bangku sekolah dasar(SD), usia si kembar memasuki 10 tahun, keduanya semakin pintar, banyak akal dan tentunya semakin nakal.


"Mi, besok bagi raport, kata bu guru," jelas Arfi pada sang mami.


"Iya, nanti mami dan papi pasti datang ke sekolah kalian," jawab Airin meyakinkan seraya menatap kedua anaknya. Arfa sedang asik bermain dengan Kity, kucing kesayanganya, sementara Arfi masih menatap wajah sang mami.


"Kata bu guru, bawa kue yang banyak, mi!" kini Arfa yang berbicara.


"Nanti mama buatkan, kue bolu kukus. Terus, kalau besok nilai kalian bagus, mami anjak Arfa dan Arfi, main ke pasar malam."


"Asik_____________!!"


Sorak si kembar bersemangat, keduanya langsung memeluk erat tubuh Airin.


"Papi juga.. kalau nanti kalian masuk 10 besar, papi, belikan kalian sepeda baru,"


Kini Alvian yang menyemangati.


Si kembar kian sorak bahagia, Arfi dan Arfa benar-benar berharap untuk bisa juara. Keduanya langsung melangkah, untuk ke luar rumah untuk bermain bersama.


"Kucingnya jangan di gendong terus Fa!" pekik si mami.


Mendengar itu, Arfa langsung meletakan Kity di sofa, lalu segera berlari ke luar rumah.


"Aku Superman," ucap Arfa.


"Aku jadi apa dong?" tanya Arfi.


"Kamu sukanya jadi apa?"


"Jadi Upin dan Ipin. Kamu Upin, aku Ipin," jelas Arfi pada saudaranya.


"Upin... Ipin bukan superhero, Fi,"


"Terus mereka apa? Kalau bukan auperhero?"


"Tuyul," jawab Arfa spontan.


Buhaahahahahahahahaha!"


Rio baru saja tiba, untuk mengunjungi si kembar, seketika tertawa, mendengar cerita kedua keponakanya.


"Upin dan Ipin, masa Tuyul sih?"

__ADS_1


"Kan gundul, paman,"


"Tapi, bukan bearti mereka Tuyul,"


Rio pun menjelaskan, siapa Upin dan Ipin kepada kedua keponakanya. Yang tentu saha membuat si kembar menggeleng-geleng pelan.


"Paham,"


"Iya," jawab Arfi dan Arfa bersamaan.


Mereka pun, akhirnya bermain bersama, Rio mengajak kedua ponakanya untuk bermain bola. Sampai sore menyapa mereka masih asik main bersama.


***


Pagi menyapa, dengan indahnya sinar sang fajar, Arfi dan Arfi baru saja selesai mandi, bahkan pagi ini si kembar tampak semangar sekali.


Ck..


Tiba-tiba saja, wajah Arfa tampak cemberut, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, untuk mencari sesuatu. Yang tentu saja membuat Airin dan Alvian pun ikut kebingungan.


"Pi... dari semalam, Kita tidak kelihatan," ujar Arfa tampak kebingungan.


"Dia pasti sedang bermai, nanti juga pulang. Yang penting sekarang kita berangkat sekolah dulu,"


"Nanti siang, Kity pasti pulang," Arfi menepuk pelan pundak Arfa saat keduanya sudah tiba di sekolah.


"Lihatlah! Kelak, saat mereka dewasa. Arfi pasti akan lebih dewasa dan bisa melindungi Arfa," ucap Airin pelan, kepada suaminya. Karena ia dan Alvian, memang di wajibkan datang ke sekolah, sebab Arfi dan Arfa, hari ini akan mendapatkan Raport.


Detik-detik yang di tunggu pun tiba, kini mereka sudah mendapatkan hasil, dengan nilai-nilai yang mereka dapat, selama belajar di sekolah beberapa bulan ini. Arfi mendapat juara kelas, sementara Arfa, puas duduk di ranking sembilan. Yang tentu saja, membuat Arfa kian menekuk wajah.


"Semester dua nanti, kamu pasti akan juara kelas,"


"Huuuh,"


Arfa membuang muka, setelah mendengar ucapan saudaranya, karena Arfa tampak emosi dan marah, karena selalu kalah dari Arfi.


"Belajar lebih giat lagi, nanti kamu pasti bisa juara seperti Arfa!" nasehat si papi pula. Namun, hal itu justru membuat Arfa semakin marah.


Dengan apa yang terjadi hari ini, semakin mepertegas perbedaan antara Arfi dan Arfa. Meski wajah keduanya sangat sama, tapi sikap dan cara keduanya sangat jauh berbeda.


"Kity... Kity...!!"


Setibanya di rumah, Arfa langsung memanggil-manggil, nama kucing kesayanganya, namun Kita tak nampak juga. Yang tentu membuar Arfa menangis sejadi-jadinya.


"Kamu diam dong, jangan menangis! Aku bantu cari ya!" titah Arfi pelan.

__ADS_1


Airin, Alvian dengan di bantu Tania, di sibukan untuk mencari keberadaan Kity, karena Arfa terus menangis sesenggukan.


"Kity__________. Kity_______!!"


Teriak Arfi lalu belari ke sana kemari.


Sementara Arfa, terus menangis sesenggukan di halaman, anak kecil itu benar-benar merasa kehilangan. Baginya Kity adalah suadara, seperti ia dan Arfi.


"Sayang... kamu kenapa?"


"Opa______,"


Arfa berhambur, berlari lalu memeluk tubuh sang kakek. Reyhan pun langsung membelai erat tubuh si cucu.


"Kenapa Arfa menangis?"


"Kucingku hilang, Opa..." jelas Arfa dengan isak tangisnya.


"Ohhh begitu, bolehkah Opa membantu,"


Arfa mengangguk cepat, ia tersenyum ke arah Reyhan.


"Coba jelaskan, secara keseluruhan, ciri-ciri kucingmu itu!"


"Untuk apa, Opa?"


"Mau Opa pasang ke internet, ciri-ciri kucing Arfa tadi,"


Seketika wajah Arfa yang tadi sedikit sumringah pun, tiba-tiba kembali nampak kecewa.


"Percuma, Opa pasang ke internet,"


"Kenapa?"


"Kucingku, tidak bisa browsing ke internet, Kity tidak punya akun facebook, apa lagi instagram," jelasnya polos.


"$^!*^#*^()!(/!//*!%\=÷+&&.....!" Reyhan langsung menautkan kedua alisnya. "Haaaah😭.....!!!"


.


.


Hai kakak-kakak baik. Mulai besok aku up rutin lagi ya, bahkan 3 bab sehari, dengan cerita yang sangat menegangkan dan membuat kalian cenat-cenut ataupun senyum-senyum sendiri, Kisah yang baru "Polisi Sang Penakluk Hati Season 2". Dewasanya Arfi dan Arfa❤, semoga ada yang mau nunggu dan baca ya🤗.


🤗TERIMA KASIH KAKAK-KAKAK BAIK🤗

__ADS_1


__ADS_2