
❣Selamat Membaca❣
Sepanjang jalan menuju pulang, Cia benar-benar mengikuti perintah Arfi, ia diam seribu bahasa, bahkan pandanganya fokus saja ke depan, seraya menatap jalanan yang di guyur hujan. Sesekali Cia melirik kecil ke arah Arfi.
"Kos-kosan Kakak kamu di mana?" Arfi membuka pembicaraan, suaranya mencairkan ke heningan. Cia menarik napas lega.
"Bentar lagi sampai kok, Pak,"
"Kalau bukan di kantor, jangan panggil, Pak!"
"Terus aku panggil gimana dong?" gadis itu menatap ke arah Arfi penasaran.
"Terserah!" jawab pria itu ketus.
"Sayang aja gimana?"
Pertanyaan Cia sukses membuat Arfi terbelalak mendengarnya. Si tampan menggigit bibir tipis tak menjawab pertanyaan Cia sepatah kata pun. Yang Arfi pikirkan, kenapa ada gadis se bar-bar Cia di muka bumi ini. Baru sehari menjadi bos dan karyawan, gadis itu berhasil membuat Arfi gemetaran.
"Stop Pak, sudah sampai! Itu kos-kosan Kakak ku!" gadis itu menunjuk bangunan sederhana dengan cat merah muda. Banyak bunga-bunga bermekaran di halaman rumah itu.
"Ini kos-kosan apa rumah kontrak?" Arfi bertanya sedangkan Cia sudah menurunkan tubuhnya dari dalam mobil.
"Anggep aja kos-kosan, Pak! Kan bayarnya bulanan."
"Oh," balasnya singkat. "tapi kamu keren loh, anak orang kaya bisa hidup di rumah sekecil ini," ucap Arfi seakan memuji.
"Jangan salah Pak, yang buat aku betah penghuni di dalamnya. Ada Kakak ku yang baik hati dan cantik sekali, selalu ada untuk ku." jelas gadis itu sedemikian panjang.
"Begitu." Arfi tersenyum simpul.
Cia berkacak pinggang, seraya mengibaskan rambutnya yang basah karena ke hujanan. Ia berdiri di samping pintu mobil Arfi seakan tak perduli, jika hujan tengah membasahi bumi.
"Pak, mau kenalan nggak sama Kakak ku?"
"Gak deh,"
"Cantik loh."
"Nggak ada yang lebih cantik dari mantan istri saya." Arfi mendengus kesal.
"Masa? Kalau sama aku, Bapak suka nggak? Aku kan cantik juga," naris Cia tanpa malu sedikit pun.
__ADS_1
"Sialan kamu. Sudah sana, masuk rumah! Kamu kehujanan nanti sakit!" spontan Arfi menyentil pelan kening gadis di hadapanya. Kontan membuat dada Cia berdebar hebat.
"Makasih Pak, sudah perhatian!" ucapnya kepedean.
Arfi tertawa pelan, ia langsung memacu mobilnya menjauh dari tempat tinggal Cia. Bersamaan dengan itu, pintu kos-kosan pun terbuka. Tampak Sisi melotot tajam karena Cia yang hujan-hujanan.
"Kok mandi hujan. Nanti sakit, Cia!" Sisi panik, ia mengambil payung lalu menarik tangan sang Adik angkat untuk berteduh.
"Kak Sisi, bos aku tuh cakep banget, loh."
"Iya, nanti aja ceritanya. Kamu mandi dulu terus makan! Kakak sudah buat opor ayam sore ini."
"Makasih Kak.. karena selalu perhatian!"
"Dih, siapa yang merhatiin kamu."
Cia mengembungkan pipi mendengar cetusan Sisi baru saja. "Tuh Kakak nyuciin baju aku!" gadis itu menjuk baju-bajunya yang tergantung karena belum kering.
"Oh.. itu. Kakak lagi baik aja sih, jadi nyuciin baju kamu hari ini. Besok-besok lagi, jangan harapa ya!"
Sisi berkilah, sukses menjadikan Adiknya karena jawabanya. Meski sebenarnya Sisi melakukan semuanya dengan senang hati. Baginya Cia adalah Adik, terlebih gadis itu selalu mencukupi kebutuhanya. Kini Cia sedang dalam masalah, karena orang tuanya menjual perusahaan secara tiba-tiba, itulah kenapa, Sisi berusaha untuk selalu ada. Toh ia juga tidak bisa melakukan apapun untuk meringankan beban Adik angkatnya tersebut.
Tiga puluh menit kemudian, Cia sudah keluar dari kamar mandi. Tubuhnya harum sekali, karena ia menghabiskan lulur milik Sisi yang baru saja di beli.
"Kak, tahu nggak? Kalau Pak bos'ku itu, ternyata seorang duda. Dan kerenya dia masih menunggu sang mantan isrti kembali, kayaknya dia cinta mati sama mantanya itu." Cia membari tahu.
Meski penasaran kenapa bos Adiknya bisa menduda di usia muda. Tapi Sisi memilih untuk mengacuhkanya, ia tak mau kepo berlebihan, apa lagi menyangkut hidup orang lain.
"Kakak nggak penasaran, seganteng apa bosku itu? Kulitnya putih seperti susu dan mulus lagi, seperti abis nyalon satu tahun." Cia masih melanjutkan ceritanya.
'Terus Kakak harus bilang WOW, gitu? Sorry ya, nggak tertarik!"
"Okeh kalau Kakak nggak tertarik, tapi aku jujur nih ya... tatapan bosku tadi, membuat hatiku cenat cenut!"
"Eleh lebay. Memang siapa sih nama bosmu itu?" akhirnya Sisi penasaran juga.
Belum sempat Cia menjawab pertanyaan sang Kakak, ia di kejutkan dengan deringan telepon miliknya. Dan ternyata Papa yang menghubungi, memberi kabar jika Mama dalam kondisi kritis.
"Mama mu, terus memanggil nama kamu, Cia. Kenapa kamu nggak pulang-pulang?"
Setidaknya itulah yang di tanyakan Papa melalui sambungan telepon baru saja. Dan semenit kemudian Cia pergi dari hadapan Sisi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Begitu juga Sisi sendiri, ia tak pernah mau ikut campur urusan keluarga sang Adik angkat, meski tak di pungkiri Sisi selalu panik setiap kali Cia pergi tanpa pamit.
__ADS_1
.
.
Sepuluh menit dari sesudah Cia keluar rumah. Sisi berjalan pelan masuk ke dalam kamar, ia perlahan merebahkan tubuh di atas ranjang dan sedetik kemudian menatap langit-langit kamar dengan banyaknya pertanyaan.
"Kak, apa kamu masih di Jerman?" pertanyaan itu muncul begitu saja, kala bayangan Arfi terselip dalam ingatan.
Dalam diam dan keheningan, dari hari sore yang mulai beranjak malam. Sisi meraih posel yang ia letakan di atas nakas. Pelan-pelan ia membuka layar ponsel dan menatap poto-poto bahagia, saat ia menjadi istri dari Arfi beberapa tahun lalu. Sisi sendiri tak menghapus satu pun kenanganya bersama sang suami.
Ck....
Mata Sisi berkaca-kaca, saat mendapati no handpone Arfi masih tersimpan rapih di kontak ponselnya. Sejak bercerai, Sisi tak mengganti hp'nya apa lagi no ponsel. Tapi tak sekali pun, ia menerima panggilan atau pesan singkat dari no orang yang ia harapkan.
KAKAK SAYANG
Nama itulah sejak dulu tertulis di sana. Tak pernah Sisi ubah dan tak juga berniat untuk menghapusnya. Meski batin terasa sangat sakit ia tak pernah menyesal meminta cerai dari Arfi. Bukan tidak cinta tapi Sisi justru terlalu cinta. Ia sangat berharap pria yang Sisi sayangi itu, akan mendapatkan wanita baik-baik dan bisa memberi Arfi keturunan.
"Apa kamu sudah menikah lagi, Kak?" tanyanya lagi pada diri sendiri. Sisi selalu mengutuki sikapnya karena terus merindukan Arfi. Karena sampai detik ini tiba, ia masih sangat mencintai pria bernama Arfi itu.
.
.
.
***
Sementara Arfi yang kini berada di kamarnya, tengah memikirkan hal yang sama. Jika ia juga sangat merindukan Sisi. Tak sekali pun Arfi mencoba membuka hati untuk wanita lain. Cintanya kepada Sisi masih sama, tak berubah meski sudah dua tahun berpisah dan tak berjumpa.
Bahkan meski, kenangan tentang wanita itu tidak ada yang tersimpan lagi kecuali sebuah foto. Karena setelah resmi bercerai Arfi sungguh patah hati, ia membuang ponsel sekaligus barang-barang Sisi kedalam danau. Meski kenyataanya bayangan wanita itu tak mau hilang dalam pikiranya. Ia terus teringat dan mengingat. Hanya ada satu foto Sisi di dompetnya, meski sudah tampak pudar setidaknya foto inilah yang bisa Arfi pandang kala merindukan wanita itu.
.
.
.
.
L A N J U T
__ADS_1