Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Kelakuan Alvian


__ADS_3

šŸ•ŠSelamat MembacašŸ•Š


12 hari sudah Alvian menghabiskan waktu di rumah saja, pria tampan itu memantau pekerjaan kantor melalui online, dan andai ada yang butuh tanda tanganya, pasti ia suruh datang kerumah. (Bos mah bebas).


Bruuuk


Ia menjatuhkan tubuh di sofa, setelah sedari tadi menatap layar laptop, Alvian menatap langit-langit rumah seraya tersenyum penuh makna.


"Al, tolong!" Airin menyodorkan sebuah kalung emas ke tangan Alvian.


"Eh, siapa yang membelikan ini?" decak Alvian heran sebab ia tak merasa pernah memberi perhiasaan semacam itu untuk sang istri.


"Mama'mu, yang memberi ini untukku, bahkan bukan hanya ini saja. Mama memberiku gelang dan cincin," jelas Airin.


Alvian menautkan kedua alisnya, ia penasaran, apakah memang sang mama, yang memberi perhiasaan itu.


"Iya, mama memberikan itu untuk istrimu, karena... selama kalian.menikah, kau tak pernah memberi barang semacam itu kepada Airin," ucap si mama tiba-tiba, seraya mendekati anak menantunya.


"Ih mama sok tau, padahal aku sudah menyiapkan lebih dari itu," Alvian berkilah dan membela diri.


"Baguslah, jika ada... itu bisa menjadi tabungan untuk istrimu," ujar Tania lagi. Wanita paruh baya itu menatap wajah Alvian penuh arti. "Rin, sebaiknya, kau gunakan perhiasaan pemberian mama, setelah kau melahairkan nanti saja! Sebab, nanti saat di rumah sakit, dokter pasti akan memintamu melepaskanya, karena dalam ruang persalian, di larang menggunakan barang-barang tersebut," jelas si mama pada anak menantunya.


Terlepas ucapan dari si mama, benar atau tidaknya, Airin pun menurutinya. Karena ucapan orang tua, adalah nasehat baginya.


TOK TOK TOK


Seseorang mengetuk pintu rumah, dan hadirlah Rio dan Anita di hadapan mereka. Yang seketika membuat Airin terkejut luar biasa, ia tak menyangka jika si mama mau menjenguknya.


"Mama," sapanya pelan, ia segera mendekati wanita yang telah melahirkanya.


"Bu Anita, mari masuk dan silahkan duduk!" Tania pun bersikap seramah mungkin. Ia menyambut besanya dengan bahagia.


"Kak, tumben sama mama ke sini?"


"Karena mama merindukanmu, sudah hampir 1 bulan ini kau tak menjenguknya," jelas Rio pada sang adik.


Mereka pun saling menyapa dan berbicara seakrab mungkin. Tania bersikap seolah Anita tetap sahabatnya yang tanpa cacat, meski ia tau, wanita yang di anggap sahabat olehnya itu, pernah menelantarkan anak kandungnya sendiri, si cantik yang kini sudah menjadi menantunya.


"Maaf, ada hal penting yang perlu ku bicarakan," Alvian pun ikut bicara meski sedari tadi ia memilih diam saja.


"Mas...," Airin menatap wajah sang suami penuh arti.


"Iya, meski Rio berkata, mereka kesini karena mama'mu rindu, tapi sebenarnya akulah yang meminta meraka untuk datang ke rumah," Alvian menjelaskan.


Benar saja, karena nytanya si tampan memang mengundang Rio, Amira dan kedua orang tuanya datang ke rumah, tapi sayang Yuda dan Amira tak ikut datang bersama mereka


"Papaku, sedang ada urusan yang tak bisa di tinggalkan, jadi tidak bisa ikut bersama kami," Rio menjelaskan.


"Ada urusan, atau malu bertemu denganku dan Airin?" cela Alvian yang spontan membuat Rio dan Anita tertunduk.

__ADS_1


"Al...," si mama menepuk pundak sang anak cukup keras.


"Apaan sih, mah,"


"Jaga ucapanmu!" Tania mengingatkan.


"Huuuh," Alvian berdecak kesal, ia langsung menyandarkan tubuh di sofa lalu menyilangkan kedua tanganya di atas perut, si tampan, menatap Rio sinis.


Airin tersenyum getir, ia membuang nafas kasar melihat sikap Alvian, yang tampak acuh tak acuh pada keluarganya.


"Mas, apa yang mau kamu sampaikan tadi?" si cantik mengingatkan suaminya.


Mendengar itu, Alvian kembali menarik tubuhnya lalu duduk tegap dan menatap tajam wajah Rio, yang duduk tepat di samping Anita, wanita yang telah melahirkan istrinya.


"Oke, aku akan menyapaikan sesuatu!"


"Al, bersikaplah sesopan mungkin!" Tania benar-benar tak habis pikir anaknya bersikap sesombong itu di hadapan keluarga Airin.


"Begini, aku beniat meminta Rio untuk memimpin perusahan istriku," ucap Alvian tanpa ragu.


"Haaah, kau yakin? Apa aku tak salah dengar?" Rio penasaran.


"Yakin. Karena, sebentar lagi, Airin akan melahirkan dan tentu saja ia tak akan fokus ke kantor," tambah si tampan lagi.


"Ta_tapi, Al? Apa kau percaya padaku? Apa kau tak takut, aku akan menyabotase perusahaan itu?"


"Tidak, karena aku percaya, kau tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya," si tampan meyakinkan.


"Bagaimana, mah?"


"Terserahmu," jawab Anita.


"Bagaimana? Apa kau bisa menerima tawaranku, apa kau bisa memanfaatkan kepercayaanku?"


"Bagaimana, jika nanti aku mengecewakanmu?" tanya Rio kemudian.


"Asal tidak kau lakukan dengan sengaja, aku tak akan membencimu, tapi... jika kau sengaja membuatku kecewa, maka aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri," ucap Alvian sedikit mengancam.


Lagi. Rio pun terdiam sejenak, ia menarik nafas panjang sebelum mengambil keputusan.


"Baik, aku akan menjalankan kepercayaanmu sebaik mungkin,"


"Jadi... kau menyanggupinya?"


"Iya," jawab Rio tegas.


"Baik, nanti akan ku kirimkan berkas-berkas kantor ke rumahmu. Tapi ingat, lakukan semuanya, setransparan mungkin, jangan ada yang di sembunyikan dariku!"


"Baik.." Tegas Rio lagi.

__ADS_1


Alvian tersenyum puas, meski ia bersikap sesombong itu di hadapan keluarga Airin, tapi si tampan sesungguhnya, memikirkan kehidupan masa depan keluarga sang istri, buktinya dari penghasilan perusahaan, Alvian selalu memberikan setengahnya kepada Yuda.


Rio tersenyum simpul, karena ia melihat sisi lain sikap Alvian, meski tampak tega, tapi nyatanya dia memiliki sisi kasihan sebesar itu.


"Aku janji, tidak akan menyia-nyiakan kepercayaanmu," Rio meyakinkan.


Setelah melakukan pembicaraan cukup serius, antara Alvian dan Rio, juga melepas rindu antara Airin dan sang mama. Mereka pun berpamitan pulang,


"Em, terima kasih, mas!" Airin langsung memeluk tubuh sang suami, sikap Alvian tadi membuatnya bahagia sekali.


"Mama bangga padamu," Tania menepuk pelan pundak anaknya.


Si tampan tersenyum bahagia, ia mengangguk ke arah sang mama, lalu membalas dekapan sang istri.


"Sehat-sehat ya sayang!" lirih Alvian lalu membelai lembut perut Airin.


"Iya papi," balas si cantik sedikit bercanda.


"Ehh, kok papi?"


"Imut lho, mas,"


"Geli Rin,"


"Lalu. Anakmu, manggil kamu gimana, setelah lahir nanti?"


"Ayah saja, bagaimana?"


"Hmm, nanti akan ku pikirkan," jawab si cantik kemudian.


Keduanya segera melangkah, lalu masuk ke dalam kamar. Perut Airin yang sudah membesar membuatnya sedikit hati-hati saat berjalan.


"Mau ku gendong?"


"Ga ah, nanti jatuh,"


"Ga dong, masa polisi gendong istrinya jatuh,"


"Beban badanku'kan lumayan berat," ujar Airin lagi.


"Seberat apa si beban badanmu? Beban negara saja ku tanggung, apa lagi beban tubuhmu," balas Alvian bercanda.


Pasangan yang sebentar lagi, akan menjadi orang tua tersebut, selalu melewati hari-hari dengan canda tawa. Bagi keduanya seberat apapun masalah yang menerjang, hadapi semua dengan senyuman. Tak luput terus berusaha dan berdoa, karena senantiasa bahagia akan menyertai orang-orang yang sabar.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih buat semua, makasih masih setia baca dua "A".. maaf kalau komentar jarang di balas. Semoga selalu bahagia buat semua, salam damai sehat sentosašŸ¤—. Lope-lope Allā¤


__ADS_2