Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Sikap Aneh Alvian


__ADS_3

🕊Selamat Membaca🕊


Jarum jam menunjukan pukul, 10 pagi menjelang siang, Airin masih setia untuk menjaga suaminya.


"Makanlah dulu, Rin! Biar, papa yang menjaga Alvian," titah Reyhan kepada menantunya itu.


"Aku sudah makan tadi, pah,"


"Benarkah?"


"Iya," jawab Airin berbohong, sebab ia benar-benar tak memiliki niat untuk makan sedikit pun, karena selera makanya tiba-tiba saja menghilang, di karenakan Alvian tak kunjung membuka mata.


"Kalau begitu, papa pergi ya! Karena pihak kepolisian meminta papa, untuk memberi keterangan, dengan apa yang sudah terjadi pada Alvian,"


"Iya, semoga yang melakukanya, segera di tahan!" harapnya lalu membuang nafas pelan.


Si papa sudah keluar dari ruangan, kini Airin sendiri menjaga Alvian.


Ck.


Tangan Alvian seketika bergerak perlahan, pelan-pelan ia pun mulai mengumpulkan kesadaran.


"Al... kau, membuka mata?"


Si cantik bersemangat, ia segera beranjak dari tempat duduknya untuk memanggil dokter dan memberitahukan bahwa Alvian sudah membuka matanya.


"Syukurlah, semua sudah normal dan Alvian baik-baik saja, tapi untuk beberapa hari ini, usahakan, Alvian tak banyak gerak, karena luka di perutnya cukup parah, belum lagi bekas luka Alvian saat kecelakaan pun, masih belum sembuh sempurna," jelas si dokter.


Airin mengangguk paham, ia kembali mendekati Alvian, setelah memastikan, pak dokter sudah keluar dari ruangan.


"Hei," Alvian lebih dulu menyapa, pria itu menyeka air mata yang membasahi wajah istrinya. "Apa yang kau tangisi, bukankah aku baik-baik saja,"


"Aku sedih, karena... kenapa harus kau yang terluka, bukankah, akulah penyebab Dini marah,"


"Dia memang berniat membunuhmu, tapi aku yang menggagalkan niatnya itu,"


"Benar, jadi kamu terluka karena menolongku, kan? Andai kamu tak melakukan itu, sudah pasti, kamu tak akan terbaring di sini,"


"Haah... sudahlah! Yang penting aku selamat dan kamu baik-baik saja, itu cukup membuatku bahagia,"


Airin tersenyum simpul mendengar ucapan sang suami tadi, ia segera mendekati Alvian, lalu berbisik pelan.


"Aku mencintaimu, sampai kapanpun akan terus begitu, sehat dan sembuhlah! Setelah itu kita akan berkeliling dunia berdua saja,"


Benar, bisikan sang istri membuat Alvian jadi bersemangat, karena ia memang memiliki cita-cita, bulan madu berkeliling dunia bersama Airin.


"Al,"

__ADS_1


"Ya,"


"Jangan kenapa-kenapa ya!" pinta Airin manja.


"Iya... hanya luka kecil, jadi tak masalah,"


"Kecil darimana? Kamu, harus menjalani oprasi karena luka tersebut," Airin menautkan kedua alisnya saat melihat sikap Alvian yang biasa saja.


"Dulu.. saat aku masih bertugas di kepolisian, hampir setiap hari berhadapan dengan benda-benda tajam. Lihatlah! Berapa banyak bekas luka di tubuhku, karena aku berkelahi dengan orang-orang jahat, yang coba melarikan diri, tapi aku selalu selamat dan baik-baik saja, meski harus berdarah-darah," lagi-lagi Alvian meyakinkan istrinya, bahwa terluka adalah hal yang biasa saja baginya.


Airin menarik nafas panjang, lalu membuang secara kasar, sebab meski sang suami meyakinkan bahwa terluka adalah hal biasa, namun tetap saja, rasa takut tak bisa si cantik sembunyikan.


Ceklek!


Pintu kamar pun terbuka, hadirlah seorang dan berniat menemui Alvian.


"Selamat siang, pak,"


"Siang," jawab Alvian pelan. "Katakan, apa yang perlu kau sampaikan!" titah Alvian kemudian.


Seseorang tersebut segera mendekati keberadaan Alvian, ia tanpa basa basi segera membisikan sesuatu di telinga pria muda itu.


"Sial...!! Apa dia masih mau bermain-main denganku," kesal Alvian spontan setelah mendengar bisikan dari seseorang tersebut.


Dengan langkah tergesa-gesa, orang itu pun segera berlalu. Sementara Alvian mengepal-ngepal tanganya sendiri, seolah tengah menahan kekesalan.


"Bukan urusanmu! Karena tugasmu hanya merawatku, bukan ikut campur, apapun yang akan kulakukan!" cetus Alvian spontan, yang tentu membuat Airin menggeleng heran.


"Ada apa denganya? Kenapa tiba-tiba, Alvian ketus begitu?" banyak tanya dan keheranan yang menyergap perasaan Airin.


Sementara Alvian sudah membuang muka, seolah tak mau menatap wajah istrinya.


"Katanya mau buat, aku bahagia. Tapi dia sendiri justru tiba-tiba, bersikap aneh begini," kesal Airin.


Namun Alvian masih membuang muka, entah apa yang sudah terjadi? Dan apa yang di bisikan seseorang tadi, hanya Alvian sendiri yang memahaminya.


"Okeh.. jika kau masih marah dan mungkin ada alasan, kenapa tiba-tiba kau tak memperdulikanku seperti ini. Istirahatlah! Kau baru saja sadar, jangan gunakan otakmu untuk berpikir yang macam-macam!"


Setelah mengatakan itu kepada Alvian, Airin pun melangkah pelan untuk segera keluar dari ruangan.


"Baru saja selesai masalah Dini, kini aku harus menghadapi musuh dalam selimut," cetus Alvian kesal seraya menatap langkah sang istri yang menjauhi keberadaanya.


***


Di luar, Airin menatap seluruh sudut ruangan, sorot matanya berputar kesana kemari. ia mencari seseorang yang berbisik di telinga Alvian tadi


"Kemana dia? Aku penasaran, apa yang di bicarakannya tadi?"

__ADS_1


Airin terus mencari, tapi ia tetap tak bisa menemui, karena tanpa Airin ketahui orang tersebut memang sengaja menghindar darinya.


"Rin, ada apa? Kenapa kau seperti orang yang sedang kebingungan?" Tania bertanya sesaat melihat sikap yang sedikit aneh dari menantunya.


Airin menceritakan, apa yang terjadi kepada Alvian. Suaminya itu tiba-tiba saja, bersikap ketus padanya.


"Padahal, sebelum orang itu datang, aku dan Alvian baik-baik saja, bercanda dan bercerita.. tapi setelah orang itu berbisik di telinga Alvian, barulah sikapnya spontan berubah." Ujar si cantik berharap sang mama mertua dapat membantunya.


"Aneh, nanti kita bahas lagi, sekarang kamu ganti baju dan makan dulu!" titah Tania seketika, seraya meyodorkan sekotak nasi dan baju untuk Airin.


Dengan rasa semangatnya yang tersisa, Airin pun segera menuruti, apa yang di perintahkan Tania padanya, sedangkan sang mama melangkah dan masuk kedalam ruangan dimana Alvian di rawat.


"Al,"


"Mama,"


Tania memastikan keadaan anaknya, dan tanpa basa-basi langsung membahas apa yang sudah Airin sampaikan tadi.


"Jika Airin, berbuat salah, kau berhak menegurnya, bukan mendiamkanya,"


"Ini urusanku, bukan urusan, mama!!"


"Terserah kau saja! Sehatlah dulu, setelah itu silahkan marah-marah!"


Tania ikut kesal pula, akan sikap Alvian yang tiba-tiba saja seperti anak kecil.


"Kenapa tiba-tiba, aku penasaran juga. Apa yang di katakan orang itu, kepada Alvian?"


Tanpa banyak bicara, Tania segera keluar dari ruangan lalu menemui menantunya. Wanita paru baya itu, mengajak Airin untuk mencari tahu, siapa yang datang menemui Alvian tadi.


"Tapi, mah... mama baru saja pulang dari kantor polisi, untuk menghadapi kasus yang membawa nama Dini. Apa tak sebaiknya, mama istirahat saja dulu!"


"Mana bisa, Rin... melihat muka masam Alvian tadi, rasanya mama sudah tak sabar, ingin menampar, wajah orang yang kamu sebut tadi," geram Tania.


Airin pun menggaruk-garuk kepalanya, karena sebenarnya ia juga sama kesalnya seperti sang mama.


Namun tanpa mereka ketahui, rupanya dari salah satu sudut ruangan, ada sepasang mata yang mengawasi gerak-gerik keduanya.


.


.


.


🤗😊


Nanti, jam 12 up lagi ya, semoga masih betah

__ADS_1


🤗❤Terima Kasih kakak-kakak baik❤💪


__ADS_2