Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Sikap Airin


__ADS_3

🕊Selamat Membaca🕊


Hari terus berganti, waktu terus berlalu. Kini usia kandungan Airin memasuki 8 bulan, satu bulan lagi menuju persalinan, keduanya sudah di sibukan dengan banyaknya persiapan.


"Rin, baju-baju bayi sebanyak ini, kamu yang beli?" tanya Alvian seraya memperhatikan satu persatu baju bayi yang amat lucu di hadapanya.


"Itu mama Anita yang beliin, tadi pagi, kak Rio yang antarkan ke sini," jawab si cantik kemudian.


"Owh, tumben," decak Alvian pelan.


"Apanya yang tumben. Kan ini cucu mama juga,"


"Hehe, iya sih. Tapi yang tumben itu kakakmu, bukan mamamu,"


"Ya sudah sih, artinya... kak Rio sudah menerima hubungan kita," jelas Airin pula.


"Ya sih, tapi... kalau itu cuma modus, biar dia bisa deket-deket kamu gimana?"


"Ihh apaan... kok pikiranmu seliar itu," Airin berdecak kesal.


"Hemm, ya maaf!"


Si tampan pun segera beranjak, lalu berjalan menuju kamar, dengan membawa baju-baju bayi pemberian si mama mertua. Ia bahagia, karena pelan-pelan keluarga Airin akan bersikap lebih baik kepada mereka. Terlebih perhatian Anita tentu saja, akan membuat Airin bahagia.


"Al, hari ini cek up, ajak istrimu USG!" perintah si mama.


"Iya, nanti siang, toh.. aku sudah buat janji dengan dokter kandungan'nya,"


"Baguslah, jadi suami memang harus sigap dan siaga," tambah Tania.


"Siap,"


Si mama tersenyum riang, ia sudah tak sabar menunggu kelahiran cucu pertamanya, Tania juga sudah melengkapi semua kebutuhan si bayi, sebab kedua orang tua Alvian, lebih heboh dan bersemangat daripada sang anak dan menantunya.


***


Airin dan Alvian, kini sudah tiba di rumah sakit, mereka pun segera masuk ke ruang dokter kandungan.


"Ini USG pertama kalinya ya?" tanya si doker pada keduanya.


"Iya dok, karena, kami mau melakukanya saat usia kehamilan Airin memasuki 8 bulan," jawab Airin menjelaskan.


Si dokter menarik sudut bibir, lalu tersenyum penuh arti, semakin lama, senyum di wajahnya semakin melebar.


"Bagaimana dok?" Alvian penasaran.


"Emmm... posisi bayi sudah bagus, berat badan pun cukup, kondisi Airin pun sehat," jelasnya.


"Ah syukurlah," keduanya berujar begitu bahagia.


"Cewek atau cowok?" kini gantian Airin yang bertanya.


"Cowok semua,"


"Haaah, kok semua. Maksud dokter apa?" keduanya berdecak heran.


"Anak kalian kembar, dan dua-duanya laki-laki semua,"

__ADS_1


"Woaaah," Alvian dan Airin terkejut tak percaya, jika akan memiliki bayi sekaligus dua, bahan dua-duanya laki-laki semua.


Hari ini, pasangan muda tersebut sangatlah bahagia, keduanya pulang ke rumah dengan hati dan perasaan yang berbunga-bungam


"Mah, kasur bayinya kurang," ujar Alvian sesaat sampai di rumah.


"Kok bisa?" si papa yang justru penasaran.


"Sebab, anak kami kembar," ungkap Airin dan Alvian bersamaan.


"Haaah, syukurlah,"


Tania dan Reyhan bersorak bahagia, karena sebentar lagi akan memiliki cucu dua, sebuah kado indah, yang sudah sekian lama mereka nantikan.


"Jadi kapan kata dokternya, Rin?"


"Apanya yang kapan mah?"


"Lahirnya?"


"Kurang lebih satu bulan lagi mah,"


Sejak hari itu, Airin sudah tak di izinkan pergi sendirian, kemanapun harus ada yang mendampingi, Alvian dan kedua orang tuanya, bergantian untuk menemani si cantik, bahkan si tampan sendiri sudah mengurangi aktifitas ke kantornya.


"Eh," Alvian menautkan kedua alisnya, saat melihat Rio datang ke rumahnya bersama Amira.


"Hai Al, selamat sore?" Rio bersikap seramah mungkin.


"Hai juga. Ada perlu apa kalian ke sini?"


"Aku ingin bertemu kak Airin," Amira yang menjawab.


Saat ketiganya masih saling berbicara, tiba-tiba Airin hadir di tengah-tengah mereka, si cantik terdiam sejenak, saat mendapati kehadiran Rio dan Amira di rumahnya.


"Kak," sapa Amira bersikap semanis mungkin.


"Ya," Airin sedikit gugup. "Ayo masuk!" ajaknya kemudian.


Meski Amira pernah bersikap tak sopan padanya, Airin tetap menerima kehadiran adiknya itu seramah mungkin.


"Silahkan duduk!" serunya lagi seraya memegang perutnya yang sudah terlihat sangat besar.


Sementara Alvian menggeleng pelan, melihat sikap sang istri yang begitu baik dan ramah terhadap Amira.


"Bi, buatkan jus jeruk dua!" titah si cantik lagi.


"Buatin aku juga bi, tapi jangan jus jeruk!" seru Alvian pula.


"Lalu mas Al, mau bibi buatin apa?"


"Air dingin tapi banyakin Esnya, biar gak panas!" tambahnya lagi seraya menatap lekat wajah Rio yang juga mengeryitkan wajahnya.


Rio tahu, jika Alvian tak nyaman akan kehadiranya. Pria muda itu membalas sinis tatapan Alvian.


"Sial, beraninya dia menatapku seperti itu!" grutu si tampan dalam hati.


Semakin Alvian tampak gelisah, semakin Rio membuatnya kesal.

__ADS_1


"Rin, mama rindu kepadamu. Kapan kau akan main ke rumah?"


"Iya kak, mama setiap hari tanya tentang kakak," Amira menambahkan.


"Besok pagi, kakak akan ke rumah dan menjenguk mama," jawab Airin dengan senyuman mengarah ke wajah Amira.


Airin, Amira dan Rio, saling bercerita sok akrab, yang tentu saja menjadikan Alvian geram bukan main. Ia berkali-kali berdehe'em agar kedua orang saudara istrinya itu segera pulang. Karena Alvian meragukan ketulusan Amira dan kebaikan Rio.


"Pasti, ada udang di balik bakwan," lirihnya dalam hati.


Setelah hampir 1 jam saling bercerita, dan tertawa bersama, entah memang lucu atau di paksa lucu, akhirnya Rio dan Amira berpamitan pulang juga.


"Huuuuh akhirnya," Alvian menarik nafas lega, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Tegang banget sih, mas!" goda Airin.


"Iya tegang. Memperhatikan kalian berberita, lebih menyebalkan dari nonton bola Indonesia Vs Singapura," jawab Alvian bercanda.


"Hilih, apa hubunganya? Masa iya, kami saling cerita kamu yang tegang,"


"Ihh ya gimana dong? Tak tau kenapa, aku sebel banget, melihat wajah adik dan kakak'mu,"


Airin tersenyum simpul, ia segera mendekati Alvian, lalu duduk di samping sang suami, ia segera meraih tangan si tampan, lalu mencium punggungnya dengan penuh cinta.


"Mas...,"


"Ya..,"


"Kata mama, kalau benci sama orang, jangan berlebihan, terlebih saat sedang hamil," ucap Airin sekatika.


"Kenapa?" Alvian berdecak heran.


"Karena, nanti katanya, anak kita mirip dengan orang yang kita benci itu,"


"Ah, masa sih? Kok bisa?"


"Mana aku tahu, tanya sana sama mama!" seru Airin kepada suaminya.


Alvian terdiam sejenak, lalu menautkan kedua alisnya.


"Jadi, sekesal apapun aku kepada kak Rio dan Amira, aku berusaha besikap biasa saja," imbuh si cantik lagi


"Aneh banget sih? Filosofi dari sebelah mana caba? Kalau sedang hamil, terus benci ke seseorang, terus anaknya jadi mirip sama orang yang di benci itu?" decak Alvian dengan banyak tanya yang berputar-putar memenuhi pikiranya.


"Entahlah, aku sendiri juga bingung," tambah Airin juga.


Dengan bodohnya, Airin dan Alvian di buat pusing sendiri atas ucapan si mama tersebut, sampai malam tiba keduanya pun belum menemukan jawabanya, dan jalan satu-satunya, mereka berdua pun bertanya kepada mbah GOOGLE.


"Lantas, apakah Airin dan Alvian akan mendapatkan jawabanya?"😭


.


.


.


Yok bantu jawab dan cari tau yok😆😂😭💪

__ADS_1


Terima kasih kakak-kakak baik🕊❤


__ADS_2