
❣Selamat Membaca❣
Luka lebam di wajah Arfi, membuat pria itu merasa sangat tidak nyaman, ia membayangkan wajah sangar sang papi ketika marah tadi.
"Hih," desuhnya pelan.
Dulu, ia dan Arfa memang sering mendapat pukulan jika berbuat salah. Tapi hari ini kemarahan sang papi sepertinya level tinggi, karena memukul dan menampar sampai berkali-kali.
"Ahhh....!"
Arfi sedikit mendengus, karena luka yang Sisi kompres rasanya benar-benar sakit.
"Maaf, kak!"
"Huuuh. Kamu sengaja, haaah?"
"Tidak,"
Sisi menunduk, ia segera beranjak pergi sebelum Arfi lebih marah lagi. Menghindar adalah jalan terbaik baginya.
Bruuuuk!
Selepas mandi dan membersihkan diri, Sisi langsung merebahkan tubuh, seraya sesekali melirik sang suami, yang masih sibuk mengompres lukanya sendiri.
"Apa lihat-lihat!" sergah Arfi yang seketika membuat Sisi menarik selimut.
Malam ini, Arfi tak melakukan apapun pada istrinya, karena ia masih merasakan sakit menyergap seluruh tubuh. Membuat Sisi bisa tertidur lelap dan nyaman.
"Bebas dia." grutu Arfi kesal, seraya memandangi sang istri yang sudah tertidur lelap.
***
Beberapa hari kemudian
Semenjak Arfa berada di Jerman, semua anak buahnya kini sering menemui Arfi, membantu saudara kembar bos nya itu dalam hal apapun.
"Heeemmm....!"
"Eh... ada si bos." Afiz tersenyum.
"Abang saja, jangan bos. Geli saya!!"
"Okeh bang Arfi. Ngomong-ngomong, ada yang bisa kami bantu gak nih?"
"Gak, kalian pulang saja!"
"Siap, bang. Kalau butuh bantuan, jangan segan hubungi aku dan rekan-rekan!"
Arfi mengangguk, ia membuang napas pelan seraya memandangi langkah Afiz dan teman-temanya.
"Kak, ini kopi yang kakak minta!"
Sisi meletakan segelas kopi buatanya diatas meja, setelah itu langsung melangkah untuk menjauh.
Praaank!
__ADS_1
Suara gelas terhempas, terdengar dan membuat Sisi seketika gemetar, perlakuan Arfi tadi malam, masih mengecap ditubuhnya. Jangan sampai siang ini suaminya itu marah, karena setiap kali Arfi merah, dia memang tak pernah memukul sang istri, tapi ia menjadikan Sisi kuda, yang di pacu tanpa henti.
"Sisi______!!"
Suara teriakan suaminya, seolah memecah gendang telinga, secepat kilat ia melangkah dan berdiri didepan Arfi.
"Apa kamu tidak bisa membuat kopi? Apa keahlianmu hanya membuatku candu di atas ranjang, apa kamu tidak punya otak, sampai membuat kopi semanis ini? Kamu mau aku cepat mati terkena penyakit gula?!" teriak Arfi kencang-kencang, lalu meminta Sisi untuk menatap wajahnya.
"A-aku membuat, sesuai dengan apa yang kakak minta. Kak Arfi tadi memintaku memasukan 2 sendok gula dan aku melakukanya." Sisi mencoba untuk membela diri.
"Kamu menyalahkanku, haaah?!"
Dengan emosi, ia membawa Sisi ke atas ranjang, siksaan yang membuat istrinya menangis adalah menidurinya. Karena si cantik tak pernah bergeming jika hanya di pukul dan di tampar, meski di lakukan berkali-kali.
"Kak- bisakah, kita tak melakukan ini dulu? Perutku sakit, pinggangku sepertinya akan patah!" si berucap jujur.
"Lalu, kamu mau aku melakukan apa? Mengikatmu di luar sana tanpa busana, atau ku tiduri di atas ranjang ini?" ucapnya yang membuat Sisi bergidik ngeri.
"Di- disini saja!" ujar Sisi gemetar.
Tapi, mendengar itu, Arfi tidak melakukanya, ia justru melangkah pergi dan meniggalkan Sisi di atas ranjang. Hal yang membuat Arfi urung melakukanya adalah, goresan memerah dari dada hingga keperut, karena semalam tanpa sadar Arfi mencakar Sisi saat n^fsunya memuncak.
"Kak mau kemana?"
Sisi menatap heran, karena pria itu justru keluar dari dalam kamar, bahkan tak menjawab pertanyaan Sisi sama sekali. Namun 15 menit kemudian, ia kembali dengan membawa perban dan obat merah di tanganya.
"Sisi, kemarilah!"
"Ka-kakak, ma-mau apa?" ia yang mulai tenang kini kembali gemetar.
Seperti biasa. Arfi memang tak pernah menjawab pertanyaan sang istri. Ia menarik kasar tangan wanita itu, lalu mendudukan Sisi tepat di sampingnya.
Arfi membuka baju Sisi perlahan, setelah itu ia langsung mengobati luka sang istri, memberinya obat merah, lalu ditutup menggunakan perban untuk membungkus luka.
"Aw.. pedih!"
Sisi menguji, apakah Arfi akan panik saat ia kesakitan. Dan benar saja, saat si cantik berdecak seolah merasakan sakit, Arfi langsung panik, setelah itu berhenti sejenak menyentuh luka yang memang terlihat masih memerah.
"Sebelah mana yang perih? Kakak tiup ya?" tanyanya spontan.
Sisi tersenyum, ia tak menjawab pertanyaan sang suami, hanya diam dengan hati yang merasa bahagia. Karena dari sini Sisi tahu, jika suaminya masih memiliki rasa.
"Kamu membohongiku?" decaknya kesal, saat melihat senyum di wajah sang istri, Arfi mencengkram kuat wajah Sisi menggunakan kelima jarinya.
"Sakit kak!"
Kali ini Sisi benar-benar merasa sakit, tapi Arfi tak perduli. Paniknya tadi membuat ia benar-benar malu, karena jauh didalam lubuk hati yang paling dalam, ia memang, menyayangi wanita itu.
"Hallo mbak, Nayla?"
Sisi bersorak gembira, karena Nayla menghubungi dirinya melalui video call. Rasa rindu sedikit terobati, terlebih saat baby Acha ikut duduk bersama Nayla di depan kamera laptop.
"Hai dedek Acha, makin cantik ya!"
"Iya dong, onti Sisi." Nayla menjawab dengan bercanda. "Kamu apa kabar, Si?"
__ADS_1
"Baik mbak. Mbak Nayla sendiri apa kabar?"
"Yakin kamu baik? Pipimu biru begitu?"
"Ahahaha... ini hanya terbentur sapu saja," jawab Sisi nyeleneh.
Jawaban Sisi yang aneh, cukup membuat Nayla paham, jika istri dari saudara kembar suaminya itu, mendapatkan perlakuan tak baik dari Arfi.
"Kakak adik sama saja. Sama-sama kasar!"
"Haaah, jadi kak Arfa suka memukul mbak Nayla juga?" Sisi spontan bertanya.
"Dulu, sebelum dan baru-baru menikah. Saat perutku membuncit dan aku melahirkan, Arfa tak pernah kasar lagi, ia bahkan mau membantu segala urusanku." Nayla menjelaskan, seraya tersenyum simpul. "Si, jadi kamu sering di pukul ya?" tanyanya dengan raut wajah iba.
Sisi menggeleng. "Hanya sesekali, tapi setiap hari kak Arfi menjajah tubuhku." jelasnya sendu.
"Jika kamu tidak sanggup, mintalah cerai, bicarakan baik-baik ke mami dan papi. Mereka pasti memahamimu!"
"Tapi mbak, aku mencintai kak Arfi,"
"Cinta saja, tidak menjamin bahagia. Buat apa bertahan, jika dia selalu menyiksamu?!"
"Aku.. bingung mbak. Karena di luar sana kehidupan lebih keras, aku pernah, hampir di nodai banyak pria. Hal itu membuatku trauma dan takut sendirian."
Mendengar cerita Sisi, membuat Nayla semakin iba.
"Mungkin, jika aku hamil. Kak Arfi tak kasar lagi," ujar Sisi.
Nayla hanya mengangguk. Do'a paling baik selalu ia beri untuk Sisi. Semoga Arfi bisa melupakanya dan menerima Sisi sepenuhnya.
"Sisi____!!"
Suara itu kembali menggema, dan cepat-cepat ia mematikan obrolanya dengan sang saudara ipar. Ia segera berlari dan menemui Arfi.
"A-ada, apa kak?"
"Apa ini?"
Arfi melempar, satu kotak pil KB ke wajah Sisi, dan sang istri langsung meminta maaf.
"Kenapa kamu mengkonsumsi obat itu? Pantas saja, hampir setiap hari aku menidurimu, kamu tak hamil-hamil juga." omel Arfi tanpa jeda.
"Maaf kak.... aku kira, memiliki anak belum ada dalam agenda hidupmu!"
"Ohhhh begitu. Baiklah, itu artinya kamu meninta lebih lama untukku siksa."
Seperti biasa, ia pasti menghempaskan tubuh sang istri keatas ranjang. Melakukan itu lagi kepada Sisi, membuatnya tak berdaya dan tertidur karena lelah. Arfi, sungguh menyayangkan, perbuatan Sisi yang meminum obat untuk menunda memiliki anak.
"Maaf, kak!" pinta Sisi lirih, sebelum memejamkan mata, karena kelelahan dan tak kuat lagi menerima serangan Arfi yang bertubi-tubi.
,
.
.
__ADS_1
.
🌸TERIMA KASIH🌸