
🌸Selamat Membaca🌸
Perubahan sikap Arfi, membuat hidup Sisi cukup damai. Ia di perlakukan sebaik mungkin dan apapun yang Sisi mau pasti Arfi turuti, tapi ada satu hal yang Sisi inginkan tapi belum terwujud. Anak... ya, memiliki anak adalah hal sangat didambakan setelah menikah.
Ck....
Otak-atik handpone, terus Sisi lakukan. Entah apa yang ia cari, sebab... saking sibuknya memainkan posel, ia sampai lupa mandi dan makan, sampai suaminya pulang dari kantor ia masih betah merabahkan tubuh diatas tempat tidur
"Astaga... Sisi...! Apa-apaan ini?"
Arfi tercengang, kala mendapati bungkus makanan ringan berserak disekitar tempat tidur. Bukan itu saja... semua bantal jatuh kebawah hanya ada Sisi sendiri diatas ranjang.
"Kakak, sudah pulang? Perasaan baru 15 menit yang lalu pergi." ujarnya seraya terus fokus menatap layar ponsel.
"15 menit..... dari Hongkong. Kamu dari pagi tidak mandi, baju tidak ganti, kamar berantakan, main ponsel sambil di carger. Gak bosan kamu begitu?" omel si tampan.
"Kakak... cerewetnya kayak mamak-mamak. Pusing kepalaku!!" sahut Sisi tak perduli.
Kepala Arfi seolah mau pecah, mendengar semua jawaban istrinya. Tapi ia coba untuk menahan emosi, dengan menarik napas, mengganti baju setelah itu memungguti sampah yang berserak disekitar kamar.
"Ya ampun... berikan sapunya padaku! Biar aku saja yang membersihkanya."
Sisi yang sadar, sang suami membersihkan sampah, karena ulahnya sepanjang hari ini, segera membantu Arfi untuk memunguti bungkus makanan ringan yang berhamburan.
"Kamu gak makan?"
Sisi menggeleng.
"Kenapa gak makan? Di depan ada restoran, di samping gang, ada mamang jual mie ayam. Apa susahnya tinggal beli?"
"Aku sibuk kak."
"Sibuk apa? Sampai lupa makan dan mandi, bahkan kamar sampai berantakan begini. Apa main ponsel, sebuah kesibukan? Kenapa tidak makan dulu, mandi dulu, setelah itu terserah, mau main handpone sepuasmu!"
"Ya ampun. Kakak lebih cerewet dari emak-emak?"
"Sisi..... kakak tidak sedang bercanda!!!"
"I-iya, iya... maaf!"
Sisi pun menceritakan, apa yang dilakukan sepanjang hari ini. Ia sibuk mencari penyebab, kenapa ia tidak hamil? Mencari cara, bagaimana bisa hamil cepat? Konsultasi kesana kesini, bertanya kebayak orang yang berpengalaman. Dan semua itu ia lakukan, melalui internet.
"Haaaah?!"
Arfi terkejut mendengarnya. Ia gemetar mendengar penjelasan sang istri.
"Si.... cepat atau lambat. Kamu pasti akan hamil, untuk sementara ini Tuhan belum memberi calon bayi diperutmu, karena kamu masih diberi izin untuk bebas, bisa kesana, kesini dan tidak direpotkan oleh anak kecil."
"Ta-tapi.." Sisi tertunduk sedih.
"Tapi, apa sayang?"
"Aku takut kak."
"Takut kenapa, katakan yang sebenarnya!"
"Takut, kakak akan berselingkuh, mencari wanita lain dan meninggalkanku."
"Astaga....!!"
__ADS_1
Arfi sungguh dibuat gemas sore ini. Penjelasan polos sang istri membuat ia bahagia, sebab Sisi benar-benar mencintainya.
"Sisi... dengar kakak baik-baik! Kalau kakak tidak mencintamu, sampai detik ini, aku pasti belum berubah, aku pasti masih membuatmu menderita. Kakak berusaha untuk membuat kamu nyaman, karena takut Sisi akan pergi dan meninggalkan kakak." ungkap Arfi jujur, ia menatap dalam-dalam wajah sang istri dan meyakinkan Sisi, jika dalam kondisi apapun mereka harus tetap bersama.
"Kakak, bersungguh-sungguh?"
"Iya.. sungguh. Apa yang membuat kamu ragu?"
"Kakak perah berselingkuh."
"Kakak bukan selingkuh. Tapi mencari pelampiasan, karena saat itu kakak tak mau membuat kamu sulit, karena kegilaan kakak untuk terus berhubungan."
"Hmmm... janji, tidak akan selingkuh?"
"Iya... janji!"
Dari sini, Arfi paham, jika sebenarnya sang istri pribadi yang manja, tidak bisa dibentak, pola pikir masih seperti anak-anak. Tapi cinta yang Sisi punya untuk Arfi tak main-main, karena saat pria itu menggila dan menjadikan sang istri seperti boneka, Sisi tidak pernah meninggalkanya, ia tetap pulang dan terus bersama, meski sadar... pada saat itu Arfi hanya membutuhkan tubuhnya saja.
"Mandilah! Nanti ikut kakak."
'Kemana?"
"Makan ayam panggang, nasi panggang, bebek panggang dan semua menunya dipanggang." jelas Arfi yang sebenarnya bercanda, tapi Sisi menanggapi dengan serius.
Karena, sepanjang ia membersihkan diri, Sisi membayangkan bentuk nasi panggang. Seperti apa?
***
Hanya 10 menit, Sisi sudah keluar dari kamar mandi, secepat kilat memakai baju lalu bermakeup seperlunya, rambut di ikat keatas, membuat ia semkin terlihat seperti anak remaja.
"Sudah siap... ayo berangkat!"
"Eh.. Sisi, nanti dulu, kakak ganti baju sebentar."
"Gak perlu, begitu saja, kakak sudah tampan."
"Celana pendek dengan kaos dalam begini. Masa iya, tampan!"
"Dahlah... mau makan saja ribet sih, kak."
Sisi tak mau mengalah, Arfi akhirnya menuruti keinginan sang istri, ia pergi dengan penampilan seadanya.
"Disini?" tanya Sisi berdecak pelan.
Setibanya mereka didepan tempat makan yang tampak biasa saja. Saat masuk kedalam, Sisi tak melihat para pembeli ada yang makan nasi panggang.
"Soto iga dan jus alpukat!" pesan Arfi kepada pelayan rumah makan. "Si... kamu mau makan apa?"
"Nasi panggang kak."
"Gak ada dong sayang."
"Kata kakak tadi, mau makan serba di panggang." polos Sisi.
"Adanya ayam dan ikan panggang. Mau?"
Arfi tak kuasa menahan tawa, sikap Sisi benar-benar seperti anak kecil, bahkan si cantik memasamkan wajah, saat sang suami mengatakan hanya bercanda.
"Bercanda aja terooss!!" kesalnya.
__ADS_1
"Maaf sayang!"
"Maaf... maaf! Pasti didalam hati kakak tertawakan. Pasti kakak mengumpat, jika aku kampungan!"
"Astaga Sisi... pikiranmu terlalu jauh. Kakak tidak menertawakanmu."
Sisi yang malu, melahap makanan tanpa memperdulikan ucapan Arfi. Karena sejujurnya ia ingin berteriak dan berlari sejauh mungkin, seraya berkata. KAKAK MEMBUATKU MALU! Tapi Sisi mengalihkanya dengan manikmati makanan tanpa berbicara sedikitpun.
"Aww....!!"
"Eh, kamu kenapa?"
"Tanganku terluka."
"Kok bisa luka?" panik Arfi seketika.
"Kena tulang ikan. Kak."
"Ya Tuhan... kok bisa? Kamu sih, gak hati-hati!"
"Jangan marah-marah terus!"
"Iya... sini, kakak tiup!"
Arfi memberisihkan luka di tangan Sisi, menghilangkan darah dengan sangat hati-hati, menggunakan tisu.
"Terima kasih."
Sikap Arfi, membuat Sisi begitu bahagia. Ia menatap suaminya dalam-dalam, lalu spontan meng*cup bibir pria itu, yang seketika menjadikan Arfi salah tingkah.
"Haaah!"
Si tampan masih tercekat, sementara Sisi sudah pergi dari hadapanya.
"Ahh cieee...!!"
Baru kali ini Arfi dibuat diam tanpa kata, dan hebatnya ia tak bisa marah. Perasaanya justru berbunga-bunga. Ini kali pertama, Sisi menciumnya tanpa diminta, karena selama ini Arfi'lah yang selalu meng*cup bibir wanita itu lebih dulu.
"Papay... aku mau kabur......!!"
Sisi berlari keluar dan seketika Arfi langsung mengejar. Keduanya berputar-putar saling tertawa dan bercanda, bahkan tanpa sadar Sisi dan Arfi menjadi tontonan gratisan oleh para pengunjung rumah makan. Sang istri yang bersikap layaknya anak remaja, tanpa sadar menular kesuaminya.
Wuuuush!
Sadar tengah jadi tontonan, Arfi langsung menggendong tubuh Sisi dan membawa sang istri pergi.
"Maaas... bayar dulu!!" teriak si pemilik rumah makan.
Spontan, membuat Arfi menepuk jidat, karena merasa malu luar biasa.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TERIMA KASIH