Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 45 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🍁Selamat Membaca🍁


Cia meminta Ata menjelakan ucapanya sekali lagi. Bahkan saat Ata berniat kabur dan menghindar, Cia mencoba untuk menghalanginya.


"Biarkan Ata pergi, ini sudah jam sebelas malam!" ucap Arfi pada sang istri yang spontan membuat Cia menatapnya heran. "Ooh iya, ini uang buat benerin motor Abang kamu!" Arfi pun mengeluarkan banyak uang dari dompernya dan meminta Ata untuk segera pulang ke rumah.


Tentu saja Cia kesal akan sikap suaminya, tapi marah juga percuma, toh Ata juga sudah lenyap dari hadapanya.


"Kenapa si Ata, di suruh pulang sih? Aku belum puas menuntut penjelasan dari dia!" alis Cia terangkat tanda jika ia kesal setengah mampus.


"Kamu mau nuntut apa dari Ata? Prihal Abangnya yang suka sama kamu, itu benar. Angga memang suka kamu, jauh sebelum saya masuk dalam hidupmu."


Sisi membisu, rupanya Arfi tahu prihal perasaan Angga kepadanya tapi dia diam saja. "Kok Kak Arfi tidak memberi tahuku?"


"Terus kalau kamu tahu, kamu mau apa?"


"Setidaknya, aku bisa mempertimbangkan Angga sebelum menikah dengan Kak Arfi."


Mendengar pernyataan Cia, Arfi mendadak emosi, ia menarik tangan sang istri lalu mengajaknya pulang secara paksa. Cia merasa Arfi cemburu karena ucapanya tadi.


"Sakit, lepas!" Cia memberontak saat sudah berada di dalam mobil.


"Sakit mana dengan perasaan saya? Kamu dengan jelas membela pria lain,"


"Kok sakit sih? Memangnya Kakak cinta? Memangnya kamu perduli?"


"CIA!!" Arfi sangat emosi, ia mengepal jari jemari sang istri sekuat tenaga.


Cia sendiri bingung, atas sikap Arfi yang menurutnya sangat sulit ia pahami. Tadi sebelum pergi makan malam, Cia memeriksa ponsel milik sang suami, ia kaget karena ada banyak panggilan keluar ke no seseorang dan setelah Cia cek, no tersebut milik Sisi


Benar saja, Arfi memang menghapus semua chating dengan Sisi, tapi ia lupa menghapus panggilan keluar. Cia tentu saja curiga namun ia tak lantas langsung menuduh, ia memilih untuk mendiamkanya dulu dan menyelidiki secara diam-diam.


.


.


***


Sampai lah keduanya di rumah, tanpa menyapa Arfi langsung berlalu dari hadapan Cia begitu saja. Cia sendiri sudah tak heran lagi, Arfi sudah sering mengabaikanya dan membuatnya marah. Tapi amarah juga rasa kesalnya, langsung sirna seketika saat Arfi mendekati dan memintaa maaf. Semudah itu menyakti dan semudah itu juga merasa bersalah. Begitulah Arfi.


Ck...


Setelah membersihkan tubuh, Cia memilih untuk tidur di sofa dan Arfi di dalam kamar tak perduli sama sekali jika sang istri mulai mengabaikanya. Setidaknya begitulah yang di pikirkan Cia.


"Ya Tuhan, sebenarnya ada rahasia apa ini?" Cia bertanya sendiri berkali-kali, meski tak ada jawaban Cia tetap melakukanya.

__ADS_1


Ia bingung, kenapa Angga tak pernah menyatakan cinta? Jika memang memiliki perasaan. Begitupun prihal panggilan telepon yang Arfi lakukan ke no Sisi. Cia jadi bingung sendiri dan begitu banyak tanya membebani pikiranya.


Ssstt..


Sayup-sayup Cia pun terlelap karena ia merasa terlalu lelah. Akhir-akhir ini banyak hal yang membuat kepalanya sangat sakit.


.


.


.


***


Berbeda dengan Ata yang sudah dari sejam yang lalu di ceramahi Angga. Sang Abang marah karena ia merusak motor, kendaraan satu-satunya yang Angga gunakan untuk bekerja dan mencari nafkah.


"Apa ini?" Angga terbelalak mendapati uang yang lumayan banyak tertata rapih di atas meja. "Uang siapa ini?"


"Uang gue lah," jawab Ata gemetar. Angga memang jarang marah, sekalinya emosi terasa saakan-akan mau menelan bumi.


"Bohong!!! Uang siapa, kasih tahu saya!"


"Uang Pak Arfi," akhirnya Ata jujur juga.


Sejenak Angga mengtur napas. "Kok bisa, kamu punya uang dari Pak Arfi?"


"Yaah, Bang... kok gitu sih?"


"Kalau masih mau jadi Adik saya, kamu wajib patuh! Tapi jika tak mau jadi Adik saya, ya terserah kamu. Mau keluar malam, atau nggak pulang sekalian. Silahkah!"


Ata paling ngeri, jika Abangnya sudah seemosi ini. Ia pun tak ada pilihan kecuali menuruti titah Angga baru saja.


"Nyaris." celetuk Aldi kala Ata sudah masuk ke dalam kamar.


"Nyaris apa?" Ata menatap si bungsu penasaran.


"Lu nyaris di coret dari Kartu Keluarga oleh Bang Angga. Kalau lu di coret bakal nyesel seumur idup tau nggak."


"Eeh, nyesel karena nggak bisa makan?" Ata coba menebak.


"Bukan."


"Laah terus?"


"Lu bakal nyesel, karena nggak punya Adek seimut gue lagi. Secara di antara kita bertiga, gue kan paling ganteng?"

__ADS_1


"Dih sialan...!" Ata terkekeh pelan mendengar candaan Aldi baru saja. Ia pun mengusap lembut rambut sang Adik. "Udah, tidur sana! Ini udah jam satu malem, lu besok sekolah harus berangkat pagi!"


"Siap!" Aldi menurut.


Tiga bersaudara ini, memamg sangat saling menyayangi, bahkan mereka sama-sama saling melindungi satu sama lain. Aldi pernah masuk rumah sakit karena melindungi Angga yang saat itu hampir tertabrak mobil, baruntung nyawanya masih tertolong. Begitu pun Ata, ia pernah tidak di perbolehkan sekolah karena menghajar salah satu siswa sampai tak berdaya. Kala itu Ata sangat kesal, karena siswa tersebut mencaci jika Aldi anak idiot.


.


.


.


***


Pagi ini seperti biasa, Cia pasti bangun setelah suaminya sudah berangkat ke kantor. Namun ia baru sadar jika kini ia dirinya berada di dalam kamar, padahal seingatnya ia semalam tidur di sofa ruang tengah. Siapa lagi yang memindahkanya, jika bukan Arfi.


Ceklek!


Pintu kamarnya terbuka, Cia terkejut saat mendapati ada Sisi di rumahnya. "Kakak, kok di sini?"


"Iya. Pak Arfi bilang, katanya kamu sakit, jadi Kakak minta izin untuk menemui kamu."


Cia memang merasakan tubuhnya sangat lemah dan kepalanya sangat sakit. Setelah di tensi panas tubuhnya memang sangat tinggi.


"Berbaringlah, biar Kakak kompres kamu!" titah Sisi yang langsung di turuti oleh Cia.


Cia berpikir, jika wanita sebaik Kakaknya tidak mungkin menyembunyikan sesuatu darinya. Ia yakin sekali, jika Sisi adalah orang yang sangat baik. Cia sudah dua tahun lebih mengenal Sisi dan selama itu, yang ia tahu, Kakaknya adalah orang yang sangat perduli terhadap orang lain. Jadi Sisi tidak mungkin berkhianat.


"Badan kamu panas banget. Kita ke Dokter saja yuk!"


Cia menggeleng, ia paling anti di tusuk jarum suntik, jika masuk rumah sakit otomatis dia akan di infus.


"Em, jangan-jangan kamu hamil, mangkanya demam seperti ini. Secara kaliankan sudah dua bulan lebih menikah," Sisi berbicara sangat semangat, ia menatap Adiknya yang justru tampak sedih.


"Aku nggak mungkin hamil, Kak." ucapnya gemetar bahkan spontan air matanya jatuh bercucuran.


"Loh, kenapa?"


Selama Cia dan Arfi menikah, suaminya itu belum pernah menyentuh Sisi sebentar pun. Yang artinya mereka berdua belum melakukan apapun setelah menikah.


Curhatan hati Cia, membuat dada Sisi sesak sekaligus terkejut.


.


.

__ADS_1


B E R S A M B U N G


__ADS_2