
❣Selamat Membaca❣
Suasana malam ini sangatlah hening, tidak seperti hari-hari biasanya, yang terkadang di depan rumah Arfi, banyak perkumpulan anak-anak remaja nongkrong. Tapi tidak dengan malam ini, mereka tak nampak seorang pun menunjukan batang hidungnya. Usut punya usut, salah satu dari mereka ada yang masuk rumah sakit, karena terlibat tawuran.
"Duh, dasar anak-anak sekarang, hobbynya tawuran. Saat luka dan masuk rumah sakit, siapa yang rugi? Pasti mereka sendiri," celoteh Arfi tak henti, membayangkan betapa anehnya anak-anak masa kini.
Sejujurnya, Arfi bukan mempermasalahkan. Anak-anak remaja itu tidak nongkrong di depan rumah. Melainkan kondisi hatinya tengah terasa sangat aneh dan sulit di jelaskan. Andai anak-anak itu ada, Arfi pasti memilih bergabung saja dengan mereka, supaya ia tak terus menerus teringat semua ucapan Cia padanyam
"Aaagggrhhh.. sialan!" umpatnya dengan dada naik turun.
Arfi menarik napas pelan, mana kala bayangan wajah Cia terus terngian-ngiang di pelupuk mata. Entah apa yang ia rasa, semuanya sangat aneh menurutnya.
SUKA.
"Ah nggak mungkin, kenal tuh cewek bar-bar baru beberapa hari. Masa suka?" Arfi bermonolog dengan dirinya sendiri.
Tapi tak bisa ia pungkiri, wajah cantik Cia terus terbayang di pelupuk mata. Namun sekali lagi Arfi menepisnya, perasaan ini bukanlah suka apa lagi cinta. Melainkan hanya sebuah ke kaguman yang amat mendalam pada gadis bermana Cia itu. Alasanya klise, karena menurut Arfi, gadis itu anak yang sangat mandiri, ia tahu Alicia tak pernah mendapatkan perhatian kedua orang tuanya. Namun Cia masih bisa tersenyum lebar.
"Ehem.. ehem. Anak Papi kenapa ini, kok senyam senyum sendiri?"
Kehadiran Papi yang cukup mendadak, sungguh membuat Arfi terkejut. Ia menjadi salah tingkah terlebih saat Papi memandangi wajahnya inci demi inci.
"Apakah perempuan yang kamu ajak kencan semalam, mengajak kamu menikah?"
"Uhuk... uhuk!!"
Pertanyaan Papi sukses membuat Arfi terbatuk batuk. Ia mendengus pelan, berpikir apa yang akan ia jelaskan. Sungguh saat ini ia kehilangan kata-kata.
"Kok batuk sih? Kenapa, apa ucapan Papi ada yang salah?"
"Pi, aku baru beberapa hari pulang dari Jerman dan beberapa hari tinggal di sini. Jangan aneh-aneh deh! Mana ada perempuan yang suka aku dalam waktu sesingkat-singkatnya."
"Ada dong, bisa aja. Jika tangan Tuhan sudah mentakdirkan, dalam satu jam saja, mungkin sudah ada yang jatuh cinta."
Arfi mendadak gemetar, sepertinya Papi memang ahli perkara hati. Detik ini susah payah ia menelan saliva. Karena bingung luar biasa.
"Ya sudah, kamu istirahat terus tidur! Besok kan, kamu harus bekerja,"
"I-iya, Pi."
__ADS_1
Tak mau membuang waktu, Arfi bergegas berdiri lalu berjalan tergesa-gesa untuk masuk ke dalam kamar. Ia merasa ingin hilang detik itu juga. Karena tak bisa di pungkiri, Arfi selalu sedih, jika Papi sudah membahas perkara hati. Usianya sudah dua puluh sembilan tahun. Sangat wajar, kalau Mami atau pun Papi terkesan memaksa Arfi untuk segera menikah lagi
"Si, kamu dimana? Aku takut jika menerima orang lain dalam hidupku, nanti aku akan bercerai lagi. Aku butuh kamu, Si... hanya kamu!" lirih Arfi sedih.
Ia langsung menjatuhkan tubuh di atas ranjang. Berusaha susah payah agar bisa memejamkan mata. Lagi-lagi dalam kondisi seperti ini, Arfi hanya mengingat Sisi.
.
.
.
*** *** ***
Di kos-kosan. Sisi masih setia mendengar Cia bercerita. Adiknya itu tak henti-henti mengungkapkan rasa sukanya kepada Pak Arfi.
"Statusnya sebagai duda, kamu nggak masalah, ya?"
"Nggak dong, Kak.... karena cinta nyatanya memang buta." Cia sok puitis.
Sebenarnya, Sisi sendiri ingin sekali bertanya-tanya lebih dalam lagi tentang pria bernama Arfi itu. Tapi ia urung menanyakan karena takut merusak mood sang Adik.
"Terus reaksinya gimana?"
"Kaget kayaknya, dan Pak Arfi nggak percaya aku suka sama dia. Lagi-lagi katanya karena dia berstatus duda."
Sisi benar-benar semakin penasaran. Tapi dia harus bisa menahan rasa keponya. Toh besok ia akan melamar pekerjaan di kantor itu. Otomatis dia pasti akan bertemu.
"Kak, kira-kira Pak Arfi bisa jadi jodohku nggak ya? Aku ngarep banget loh!"
"Kalau jodoh nggak akan kemana. Pak Arfi pasti takluk dalam dekapan kamu,"
"Hasek, Aamiin, semoga, semoga dan semoga!"
Harapan Cia memang sangat besar kepada pria itu. Karena selain tampan dan mapan, Arfi juga terlihat sangat dewasa. Ia yakin sekali Arfi akan menjadi suami yang bijaksana dan bisa membimbingnya ke jalan yang benar. Masa bodoh dengan masa lalu pria itu, yang pasti Cia mengenal Arfi adalah pria baik-baik. Harapanya sudah sebesar itu.
Sstt...
Mata Sisi melirik perlahan mendapati Cia sudah terpejam. Rupanya gadis ini lelah setelah bercerita dengan semangatnya. Dan kini ia sudah tetidur pulas tanpa mengucapkan selamat malam lagi untuk Sisi.
__ADS_1
"Mimpi indah sayangku!"
Wanita itu berbisik pelan di teling Cia, Adik angkat yang Tuhan kirim untuk menjadi malaikat penyemangat untuknya.
Kak lagi apa? Kakak aku punya cerita? Kak Sisi sudah makan atau belum? Adalah pertanyaan dan pernyataan sederhana yang sukses membuat Sisi merasa beruntung. Cia menepatkan ia di posisi tertinggi setelah kedua orang tua gadis itu sendiri.
.
.
.
Berbicara tentang hidup Cia, memang sangat sulit untuk di lukiskan. Bagaimana kisah hidupnya? Jika di katakan harmonis nyatanya tidak juga, karena Mama atau pun Papa tak pernah memberi perhatian lebih. Cia sempat hidup dengan sangat tercukupi sebelum perusahaanya di jual kepada Arfi.
Apapun yang ingin Cia beli dan apapun yang ia mau, pasti akan dengan sangat mudah ia dapatkan. Satu hal yang sulit Cia genggam, waktu Mama dan Papa yang terlalu sibuk bekerja. Terlebih saat Mama jutuh sakit, Papa tak perduli Cia sama sekali. Contohnya saat ini, ia sudah berhari-hari tinggal di kos-kosan Sisi, tapi orang tuanya tak tampak panik apa lagi mencari. Mereka sangat masa bodoh prihal kehidupan Cia. Papa hanya fokus untuk Mama dan Mama fokus untuk ke sehatanya sendiri.
Jika pun kalau mereka sedang berkumpul, Papa dan Mama akan membahasa prihal Cia yang akan di jodohkan dengan seseorang. Padahal Cia tidak mau, karena orang yang di jodohkan denganya sudah sangat tua. Hanya saja orang itu kaya raya.
Dalam hal seperti ini, kira-kira siapa yang patut di salahkan? Haruskah Cia paham, kondisi dan ke adaan kedua orang tuanya? Oh... tentu saja tidak, Cia seakan tak punya pikiran kasihan sedikit pun, karena Mama dan Papa tak pernah mengajarkan ia bagaimana cara mengasihani.
"Pa, hari ini antarkan aku ke kampus ya! Kan, aku baru pertama kali masuk kuliah," kala itu Cia merengek bak anak TK.
"Cia sayang, Papa masih sibuk, kamu di antar sama Pak Yayan saja ya. Besok saat libur, Papa akan ajak kamu jalan-jalan bareng, Mama."
"Serius? Papa nggak bohong, janji ya!"
"Janji!"
Papa menautkan kelingkingnya ke kelingking Cia, seakan benar-benar berjanji. Tapi lagi-lagi Papa hanya sekedar berjanji dan terniat untuk di ingkari. Mereka memang tak punya waktu meski hanya sekedar menemani.
Itulah kenapa, Cia sangat menyayang Sisi, karena wanita itu, sangat tulus menyayanginya.
.
.
.
B E R S A M B U N G
__ADS_1