Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 1 IUMS : Kembali Pulang


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Empat tahun setelah Arfi dan Sisi menikah. Keduanya tak kunjung di karuniai buah hati. Meski sudah berusaha, tapi hasilnya tetap sama. Hingga pada akhirnya, Sisi menggugat cerai Arfi tepat di usia pernikahan yang ke empat tahun.


Mati-matian Arfi mempertahankan, tapi Sisi masih bersikukuh, ingin berpiasah darinya. Dan pada akhirnya, Arfi pun terpkasa menyerah dan membebaskan Sisi dari hidupnya.


Bukan karena tidak mencinti Arfi, tapi Sisi merasa, tak berguna menjadi seorang istri, sebab sampai sekian lama menunggu, ia tak kunjung hamil lagi. Begitu pun Arfi, ia rela berpisah karena takut membuat Sisi menderita lebih lama jika terus hidup bersama.


Patah hati karena perceraian, spontan membuat Arfi terpenjara dalam sebuah rasa, yang amat sulit untuk di jelaskan. Meski sudah dua tahun menduda, sejak ia resmi berpisah. Pada kenyataanya, tak sedikit pun rasa cintanya terhadap Sisi berkurang. Senyum manis dan sikap wanita itu selalu terbayang-bayang dalam benaknya.


Dan karena frustasi, akhirnya Arfi memilih mundur dari statusnya sebagai Polisi dan memilih tinggal di Jerman bersama Arfa, sang saudara kembar. Dari sana Arfi belajar dunia bisnis dan berencana akan mendirikan sebuah perusahan, setelah nanti kembali ke Negara asalnya.


Tak main-main dua tahun berada di Jerman, membuat ilmu perbisnisan yang Arfi punya, sudah cukup untuk ia membuka usaha sendiri. Berbekal uang yang banyak, kegigihan dalam berusaha dan skil yang mumpuni. Sudah cukup bagi Arfi agar bisa berdiri di kakinya sendiri


WAKTUNYA BANGKIT!


Begitulah, hal yang selalu Arfi tanamkan untuk menyemangati diri. Dukungan dari Mami, Papi dan si suadara kembar, sedikit membuat Arfi kembali bangkit.


"Om, jangan lama-lama perginya!" rengek Acha, si ponakan yang sangat Arfi sayangi.


Anak kecil berusia enam tahun itu. Ia menangis sesenggukan, kala Arfi berpamitan. Tangisnya kian menjadi saat saudara kembar Papa'nya tersebut, memeluk Acha dengan begitu erat.


"Acha sayang..... Om Arfi nanti pasti ke sini lagi! Sekarang, Om harus jenguk Opa dan Oma dulu. Acha jangan sedih ya!"


Wajah Acha semakin memerah. Karena tangisnya bukan mereda tapi semakin menjadi-jadi. Sungguh ia sangat sedih, harus berpisah dengan Om yang sangat ia sayangi.


"Acha, nanti kita ke rumah Om Arfi juga. Tunggu kamu libur sekolah dulu ya!!" Mama menenangkan. Nayla segera menggendong tubuh sang anak lalu membawa Acha dalam dekapanya.


"Mama janji!"


"Iya janji." Nayla meyakinkan anaknya.


"Nanti, Papa ikut juga nggak?"


"Ikut dong sayang!" Arfa menyahut ucapan Acha bersemangat.


Setelah anaknya tenang, Nayla membawa Acha masuk ke dalam rumah. Sementara Arfa mengantar Arfi kebandara. Sedih tentu pasti karena mereka akan berpisah. Tapi Arfi juga merindukan Mami dan Papi, karena dua tahun ini, mereka berkomunikasi hanya melalui video call saja.


"Jaga Mami dan Papi baik-baik!"

__ADS_1


"Kamu juga. Jaga anak istrimu baik-baik!"


"Siap... telepon aku jika sudah sampai di rumah!"


Arfi mengangguk cepat. Ia menepuk pelan pundak sang Adik, setelah itu berlalu. Dan Arfa sendiri tersenyum kelu, seraya menatap langkah si saudara kembar yang semakin menjauh.


"Hati-hati, Fi!" ucap Arfa dalam hati.


Sedetik setelah sang Adik berharap demi kian. Arfi menoleh lalu tersenyum lebar ke arah Arfa. Ia seakan mendengar harap dan doa dari saudara kembarnya.


"Dah. Bye-bye...!"


Arfi melambaikan tangan setelah itu benar-benar hilang dari pandangan Arfa. Dua tahun tentu saja, tak akan cukup untuk kebersamaan mereka. Tapi demi menjauhkan Nayla dari keluarganya yang licik, Arfa bertahan untuk tinggal di Jerman.


.


.


.


***


Sisi yang memilih tinggal di sebuah rumah kos-kosan sederhana. Menatap langit-langit kamar dengan jengah. Napasnya berderu hebat, karena merasakan lelah yang amat luar biasa.


Kembali Sisi menghela nepas, seraya membuang ke segala arah, secarik kertas yang sedari tadi berada di tanganya. Surat pemberitahuan jika ia di berhentikan dari pekerjaan. Surat dimana Sisi di anggap melakukan ke salahan.


"Dunia sekejam ini Tuhan, kenapa sulit sekali hanya sekedar bertahan. Aku tidak meminta banyak, kecuali pekerjaan dan kenyamanan." lirih Sisi lalu berusaha memejamkan mata.


Tapi saat Sisi akan terlelap, ia mendapati ponselnya berding. Sesigap mungkin ia meraih benda pipih itu dari atas nakas. Lalu mendapati nama sosok gadis yang kini ia anggap sahabat sekaligus Adik.


"Ada apa, Cia?" tanyanya tak semangat.


"Kak Sisi dimana? Aku ke kos'anmu ya?"


"Aku lagi ga mood, jangan ke sini dulu!"


"Kak Sisi kenapa?"


"Aku di pecat dari pekerjaan, Cia. Sekarang lagi bingung, mau kerja dimana?"

__ADS_1


"Kakak santai aja. Cukup bantu aku ngerjain tugas kampus dan temenin kemanapun aku pergi. Nanti aku bayar Kak Sisi dua juta perbulan. Makan sehari-hari aku yang beliin. Gimana, Kak?" gadis bernama Cia itu bertanya serius melalui sambungan telepon Ia sudah lama mendambakan Sisi menjadi Kakaknya.


"Ya udah... oke, oke... kamu masuk aja dulu ke kamarku!"


"Siap Kak Sisi!"


.


.


Sementara Arfi yang akan pulang hari ini. Tersenyum riang, karena mendapatkan perusahaan yang ingin ia beli.


"Boleh, nanti jika saya sudah sampai kita bertemu. Total semua harganya dan saya harus membayar berapa?" tanya Arfi pada pemilik perusahaan yang kemungkian akan menjadi miliknya sebentar lagi.


"Saya tidak akan menjual mahal, asal pak Arfi tidak memecat karyawan di kantor saya ini. Dan di sini ada anak saya sedang magang. Tolong biarkan dia tetap di sini juga!"


"Boleh... asal anak dan karyawan-karyawan anda bisa di percaya. Saya tidak akan memecat mereka."


"Saya jamin, mereka akan membantu anda menyelesaikan semua pekerjaan kantor dengan baik,"


"Oke saya percaya. Sampai jumpa Pak Dana! Saya tutup telepon dulu!"


Arfi tersenyum dan menghela napas lega. Belum sampai ia di negaranya, Arfi sudah mendapatkan perusahaan yang di inginkan. Kini tugasnya hanya tinggal pulang agar biss segera bertemu Mami dan Papi.


Di usia ke dua puluh sembilan tahun, ia sudah menyandang status duda. Dua tahun lamanya menduda, sejauh ini ia belum bisa move on dari sang mantan istri. Diam-diam Arfi masih menyimpan foto Sisi di dalam dompet. Bahkan saat akan memejamkan mata. Ia akan membayangkan senyum manis saat bersama Sisi dulu.


"Aku kangen kamu, Si." ucapnya lirih.


Setelah itu ia masuk ke dalam pesawat yang akan membawa Arfi pulang ke negaranya. Mematikan telepon dan memilih untuk memejamkan mata. Dalam tidur saja, ia masih memimpikan Sisi menjadi istri.


Perceraian yang terjadi karena terpaksa, sunggun menyiksa batinya, ia hidup dalam perasaan cinta tanpa bisa menatap dan menyapa, seakan terkurung dalam penjara cinta yang tak tahu kapan akan terbuka.


Terkurung dalam rasa bersalah dan penyesalan karena tak bisa mempertahankan rumah tangganya. Adalah hal yang paling Arfi sesali. Andai waktu bisa kembali, ia tak akan melepaskan sang Istri, apapun yang terjadi.


"Maaf'kan, Kakak, Si!"


.


.

__ADS_1


.


L A N J U T.......


__ADS_2