
🕊Selamat Membaca🕊
Hari-hari di lalui Airin dengan penuh harap, ia tak sabar menunggu kelahiran malaikat-malaikat kecil, yang sudah 9 bulan lebih berada di dalam perutnya.
"Gimana ini dok? Sudah 9 bulan lebih 3 minggu kok belum ada tanda-tanda akan melahirkan?" tanya Alvian penasaran seraya menggenggam erat tangan Airin yang juga sama penasaranya.
"Kita tunggu sampai 5 hari lagi, jika belum ada tanda-tanda, maka secera terpaksa kita akan melakukan oprasi," jelas si dokter kandungan dengan senyum penuh arti.
"Tapi, kondisi bayi-bayi kami, sehat-sehat saja kan, dok?" kini Airin yang bertanya.
"Sejauh ini, bayi dalam kandungan mba Airin baik-baik dan sehat semua. Semoga nanti dan seterusnya akan tetap baik ya!" harap si dokter pula.
Alvian dan Airin mengangguk paham, keduanya pun pulang dengan harapan yang lebih pasti, setidaknya jika dalam waktu 5 hari si cantik tak mengalami tanda-tanda akan melahirkan, maka dokter akan mengeluarkan si bayi secara oprasi.
"Tenang Rin! Oprasi tak semenyeramkan itu," Tania menenangkan menantunya, karena Airin terlihat sangat was-was saat mendengar melahirkan dengan oprasi cesar.
Si cantik tertunduk, ia mengelus pelan perutnya yang luar biasa besar, sementara Alvian membelai pelan rambut sang istri dan menguatkan Airin.
"Kamu pasti bisa. dan tetap berdoa, jika sang pencipta akan melancarkan segalanya!" ucap Alvian yang berusaha menguatkan sang istri.
***
2 Hari Kemudian
Airin bolak balik kamar mandi, ia merasakan perutnya mulas dan buang air kecil secara tak biasa. Nafasnya ter'engah-engah karena perutnya seolah bergerak-garak, bahkan sudah hampir 2 jam lebih ia seperti itu.
"Al, bangun!"
Jam 3 pagi, Airin berusaha membangunkan sang suami, walau sebenarnya Alvian baru saja tertidur 1 jam yang lalu.
"Kenapa Rin?"
Alvian mendudukan tubuhnya, seraya mengerjabkan mata berkali-kali. Seketika si tampan panik, sebab baju yang di gunakan Airin basah, karena terlalu menahan rasa sakit, hingga akhirnya si cantik berkeringat parah.
"Perutku sakit," keluhnya.
Karena panik Alvian bingung harus melakukan apa, sebab baginya menghadapi sang istri yang akan melahirkan lebih tegang daripada menangkap segerombol pencuri.
"Mama____ Airin akan melahirkan!!" pekiknya dari pintu kamar.
Teriakan Alvian, membangunkan seisi rumah, dengan tergesa-gesa, Reyhan dan Tania segera beranjak lalu menemui anaknya.
"Ada apa, Al?"
__ADS_1
"Airin mah!"
Si tampan segera masuk kembali kedalam kamar bersama kedua orang tuanya. Tania pun langsung mendekati Airin.
"Siapkan mobil! Kita harus ke rumah sakit," titah Tania cepat.
Dan... secepat kilat, Alvian langsung menyiapkan mobil, lalu menggendong tubuh sang istri masuk. Ia dan keluarganya segera membawa Airin langsung ke rumah sakit.
**
Setibanya di rumah sakit, Airin langung masuk ke ruang bersalin, meski hampir jam 4 pagi, rumah sakit tersebut selalu stay dokter kandungan.
"Sudah pembukaan 7 mas, mudah-mudahan jam 7 pagi nanti, bayinya sudah lahir," jelas si dokter.
Alvian mengangguk, ia segera menatap wajah sang istri yang menyembunyikan rasa sakit di balik senyuman. Si tampan langsung meraih tangan Airin lalu menggenggam erat, sementara si dokter tadi melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Panggil saya, 1 jam lagi, atau jika ada apa-apa, silahkan ke ruangan saya!" tambah doker itu lagi, sebelum melangkah pergi.
Kini Airin di ruang bersalin di temani, sang suami dan kedua orang tua suaminya. Meski sakit luar biasa, ia coba untuk tetap menahanya.
Jam 6 pagi, sang fajar mulai tampak bersinar, Airin mengerang kasakitan, hingga membuat Alvian yang ketiduran pun terbangun.
"Sakit mas!" keluahnya dengan wajah yang tampak memerah.
Secepat kilat, Alvian berlari lalu memanggil dokter, dan memberitahukan bahwa Airin tengah kesakitan.
"Lalu, apa yang harus di lakukan?" Alvian panik dan ketakutan.
"Anda kuatkan saja mba Airin!" seru si dokter lagi.
Dalam suasanya yang cukup menegangkan, Airin berjuang hidup dan mati, demi melahirkan kedua bayi kembarnya.
"Ayo mba, tarik nafas lalu buang!"
"Huuuuuh.... haaaaah!" Airin mengikuti apa yang di ucapkan si dokter.
"Tekan, sebentar lagi bayinya akan keluar!"
15 menit si dokter dan dua perawatnya berjibaku membantu persalian Airin, dan akhirnya keluarlah salah satu bayi dari rahim si cantik, lalu 5 menit kemudian keluarlah salah satunya lagi.
"Haaaah,"
Akhirnya suara tangisan bayi pun pecah, menggema memenuhi ruangan, sedangkan Airin pingsan, karena kehabisan tenaga.
__ADS_1
"Bagaimana ini dok?" panik Alvian lagi.
Kedua anak bayi kembarnya di bawa oleh perawat, tapi Alvian setia di samping sang istri .
"Mba Airin kehabisan tenaga, sudah saya pasang infus, mudah-mudahan 20 menit kemudian istri anda siuman!" si dokter menjelaskan sebelum pergi meinggalkan ruangan.
Benar saja, perlahan Airin mulai membuka mata, ia menatap ke segala arah, di dapatinya wajah sang suami dan kedua mertuanya, bukan hanya mereka saja, kini ada keluarga besar Airin yang juga hadir dan berada di sana.
"Mama," lirihnya saat melihat Anita tengah menggendong salah satu bayi yang baru saja di lahirkanya. "Mas,' ucapnya lagi seraya tersenyum penuh arti ke wajah sang suami.
Kebahagian tak bisa di lukiskan, karena hadirnya bayi kembar Airin, menyatukan kembali dua sahabat yang sempat merenggang. Ya Yuda dan Reyhan, kini saling bertatap muka, bahkan mereka sama-sama menimang cucu kembar di hadapanya, kedua sahabat yang usianya tak lagi muda itu, bersikap seolah tak pernah terjadi masalah apapun di antara mereka.
"Siapa namanya, cucu tampan Opa?" ucap Yuda sedikit bercanda.
"Dafa dan Dafi,... Opa," jawab Alvian spontan.
Semua pasang mata, kini menatap wajah Alvian semua, mereka memastikan, apa benar Dafa dan Dafi nama cucu kembar mereka.
"Kalau Bagus dan Bagas keren juga," usul Rio pula.
Mendengar itu Alvian diam sejenak, ia langsung menatap wajah sang istri yang masih tampak letih.
"Bagaimana, Rin?"
"Rafa dan Rafi, bagus juga," Airin malah ikut usul nama untuk anak kembarnya.
Kedua orang tua Alvian dan Airin, memilih diam sejenak, dengan mendengarkan perdebatan prihal, siapa nama bayi kembar yang baru saja di lahirkan oleh Airin.
"Begini saja. Lebih baik, nama yang di usulkan Kak Rio, Kak Al dan Kak Airin, kita kocok saja. Nah... mana yang keluar itulah nama untuk dedek bayi nanti," kini Amira yang angkat bicara.
"Setujuh," jawab semuanya bersemangat.
"Mama mau usul nama juga dong!" Tania menarik sudut bibir, beharap usulnya tak akan di tolak.
"Mama mau kasih nama siapa?"
"Arfa dan Arfi, cocok'kan, Rin," ujar si mama lantang.
Secepat kilat, Airin mengangguk. Karena nama yang di usulkan oleh si mama mertua cukup menarik baginya. Bahkan sampai malam menyapa lagi, keluarga besar Airin dan Alvian masih terlihat di sana, mereka semakin akrab dan tak ada satu pun, yang mengungkit masalah, yang pernah ada di antara mereka.
Lupakan masa lalu yang buruk, tatap masa depan yang lebih baik. Lupakan semua masalah yang mendera, bersatulah dan jalin semua dengan lebih erat lagi!
.
__ADS_1
.
.