
🌸Selamat Membaca🌸
Orang bilang, setiap doa yang kita panjatkan dan di sertai usaha yang bersungguh-sungguh makan akan ada hasilnya. Begitupun dengan harap dan ke ingian Cia, ia menolak keras perjodohan yang orang tuanya mau, tapi ia tidak diam saja, Cia terus berdoa dan berusaha jika dirinya bisa mendapatkan pria mapan tanpa harus di jodohkan.
"Ma-maaf Pak! Maksud anda apa?" jujur saja Pak Dana terkejut, saat Arfi meraih tangan Sisi dan meminta gadis itu untuk duduk di dekatnya.
"Setelah Cia lulus kuliah, saya berencana untuk melamarnya. Jadi saya minta kepada anda, jangan pernah jodohkan Cia dengan siapapun! Apa lagi di jodohkan dengan duda beranak tiga. Manusia setua itu lebih pantas menjadi Ayahnya Cia bukan suami,"
Pak Dana tertegun dan susah payah ia menelan salivanya. Ucapan Arfi seolah menghantam bumi. Entahlah saat ini ia sedang berusaha susah payah, mencerna semua ucapan demi ucapan yang baru saja Arfi lontarkan.
"Maksudnya, anda dan anak saya akan menikah?"
"Bisa jadi.'
'Kok bisa jadi, saya butuh kepastian!" kini nada bicara Pak Dana sedikit menekan.
Arfi tersenyum sinis mendengarnya, ia pun mengangkat kepala sedikit lalu menyilangkan tangan ke perut. Berlagak sesongong mungkin.
"Boleh saya bertanya sesuatu?" ucap Arfi lagi.
"Silahkan!"
"Sebenarnya, apa motifasi anda? Berniat menikahkan Sisi dengan pria tua seperti yang anda inginkan?"
Pak Dana menghela napas jengah, ia mulai paham maksud dan tujuan Arfi datang ke rumahnya. "Saya mau masa depan Cia sebaik mungkin, itu sebabnya menikahkan dia dengan pria mapan mungkin akan menjadi pilihan paling baik."
"Apa menurut anda, harta bisa menjamin kebahagian?" kini Arfi lebih sinis lagi di bandingkan tadi. Sementara Cia yang duduk di sebelahnya hanya mampu tertunduk kelu.
"Kekayaan dan harta berlimpah, itu mutlak perlu di kamus hidup saya. Cia harus menikah dengan orang yang sudah di pastikan memiliki masa depan cerah. Jadi saya tahu, apa yang paling baik untuk, Cia."
__ADS_1
'Bagaimana jika Cia menolak?"
"Selama saya hidup, tidak pernah sekali pun mengajarkan Cia untuk melawan apa lagi membantah ke inginan saya."
"GILA! Baru kali ini, saya bertemu dengan manusia sepicik anda. Yang isi votaknya hanya harta harta dan harta.
"Cih," Pak Dana berdecih lirih. "Jangan menjadi manusia munafik! Karena nyatanya hidup tidak akan bahagia jika mengandalkan CINTA saja,"
Bak perdebatan di drama Korea, hal itulah yang terjadi kini. Cia sendiri masih memilih diam dan menjadi pendengar yang baik. Meski sebenarnya ia cukup terkejut saat Arfi mengatakan akan menikahinya Padahal Cia merasa, pria tampan itu belum seutuhnya mencintai.
"Saya mapan dan memiliki banyak harta. Jangkan hanya Cia, tujuh turunan ada saja, bisa saya hidupi semua tanpa terkecuali." ujar Arfi benar-benar berlagak jemawa. Tapi apa yang ia katakan bukanlah ke bohongan, nyatanya Arfi memang sekaya itu
Diam benar-benar hanya bisa diam, Pak Dana ingin sekali muntah mendengar ucapan Arfi. Yang terdengar sombong bin songong. "Baiklah, saya akan membatalkan perjodohan Cia dengan orang yang saya pilih. Tapi ada syaratnya?"
"Apa?" perarasaan Arfi mulai tidak enak, terlebih saat ia melihat Pak Dana tersenyum licik ke arahnya.
"Dalam perjanjian perjodohan antara Cia dengan pria pilihan saya. Apa bila nanti resmi menikah, sebagian harta milik dia akan menjadi milik saya. Karena semua hal harus bisa saling menguntungkan. Dia mendapatkan anak gadis saya dan saya mendapkan ke untung harta darinya."
Melotot lebar, menatap benci, pria tua yang ada di hadapanya kini, sungguh tak memiliki hati. Arfi berdecih berkali-kali seraya mengepal jari jemari. Rasanya ingin sekali, melenyapkan manusia laknat yang ada di hadapanya kini.
"Setan sialan, dasar titisan dajjal!" umpat Arfi kesal. Sementara Cia sudah beranjak dari sana. Gadis itu masuk ke dalam kamar dan siap melangkahkan kaki untuk pergi.
"Mau kemana, kamu?!" Papa berteriak, sontak membuat dada Cia terasa sangat sesak. "Dari kecil, kamu saya rawat sebaik mungkin, lantas setelah tumbuh dewasa, kamu malah jadi pembangkang hebat!'" tambahnya, masih dengan nada yang sama, tinggi dan menggema syarat akan kemarahan.
Tapi Arfi lebih marah lagi, ia mendorong tubuh Pak Dana dan siap menerjangkan kaki ke perut pria tua itu. Tapi Cia menghalangi dan ia pun urung melakukanya, padahal jika saja bisa dan tidak jadi dosa, Arfi ingin menenggelamkan tubuh pria sialan ini ke dasar laut.
"Bawa aku pergi, Pak. Tolong!" pintanya penuh harapan.
Arfi pun mengangguk, ia segera menarik tangan Sisi dan langsung membawanya pergi. Niat hati datang ke sini dengan niat baik-baik, nyatanya sikap Pak Dana membuat Arfi tersulut emosi. Tak habis pikir, kenapa ada orang tua seperti mereka.
__ADS_1
"Cia, beri tahu saya! Sebenarnya hal apa yang membuat Mama dan Papamu setega itu? Kenapa mereka ingin sekali menikahkanmu dengan pria tua?" Arfi harus bertanya, bagaimana pun ia harus tahu secara menyeluruh apa yang terjadi kepada Cia
"Sebentar Pak, aku balas pesan singkat Kak Sisi dulu," ujar Cia seketika dan Arfi hanya bisa mengangguk pelan. Sisi bertanya, dimana Cia kini? Setelah menjawab pesan Sisi, ia pun menatap Arfi penuh arti. "Tadi Pak Arfi tanya apa?"
Arfi kembali menghela napas kasar, sudah berkali-kali ia melarang Cia memanggilnya PAK, tapi apa mau di kata, sepertinya Cia sangat nyaman memanggil dengan sebutan itu
"Iya, saya bertanya. Kenapa orang tuamu bersikap seperti itu?"
Cia tersenyum getir, sesaat ia tertunduk lesu. Arfi belum pernah melihat Cia bersikap seperti ini. Karena yang Arfi tahu, gadis di hadapanya ini selalu tampak ceria, bar-bar dan selalu tersenyum. Tapi kenyataanya Cia menyimpan banyak luka tak kasat mata dan kini Arfi bisa merasakanya.
"Dulu aku memiliki suadara, nmanya Ciko, dia Adikaki-laki yang paling menggemaskan. Suatu hari dia sakit demam panas tinggi, hanya ada aku yang menjaga. Aku memberi tahu Mama dan Papa, jika Ciko sakit parah dan pada Mama memintaku memberikan Ciko obat penurun panas dan pereda nyeri yang ada di lemari. Karena demamnya sangat panas, Ciko terus menangis, aku berinisiatif memberi dia obat yang sangat banyak. Harapanku agar panasnya cepat menurun. Tapi karena obar itu dia mengalami over dosis dan meninggal dunia. Mama Papa, menganggap aku pembunuh Adiku sendiri."
Menceritakan itu tak kuasa Cia manahan air mata, ia menangis sampai bahu tergetar dan napas yang naik turun. Air matanya mengalir, sederas hujan saat membasahi bumi. Ia tak lagi mampu berkata-kata kecuali terus berderai air mata.
"Kemarilah!"
Arfi langsung memeluk tubuh Cia, membelai pelan rambut panjangnya dan mengucapkan banyak kata untuk membuat tangis Cia reda.
"Aku bukan pembunuh, Pak!"
"Iya, saya tahu, kalau kamu anak baik dan tidak berniat membunuh. Jika ada yang patut di salahkan, adalah orang tuamu, karena telah lalai menjaga anak-anaknya."
Cia terdiam, tapi perasaanya menjadi sedikit lega. Ia pun semakin mengeratkan dekapanya, sangat erat.
.
.
.
__ADS_1
B E R S A M B U N G