Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Kejujuran Arfi


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Dengan tatapan yang siap mencakar musuhnya, seperti itulah Arfi menatap Sisi. Si cantik membalasnya dengan membuang wajah.


Ck...


Arfi beranjak dari tempat ia duduk, setelah melihat sang istri terbangun dari tidurnya. Sejam yang lalu, ia menjelajah tubuh Sisi hingga si cantik seolah tak sadarkan diri. Kini Arfi kembali mendekat, padahal Sisi baru saja membuka mata.


Ssstt...


Tanpa sadar dan karena merasa sangat lelah, spontan Sisi menendang kaki Arfi, hingga membuat suaminya itu tersungkur ke lantai.


"Maaf, kak! Ti-tidak sengaja." ujarnya gemetar, karena ia reflek menendang kaki Arfi.


"Tak sengaja katamu?!"


Arfi berusahan bangkit, setelah itu mencengkaram erat, ruas tangan Sisi, hingga istri kecilnya tersebut meringis kesakitan.


"Kak- di ruang belakang ada gunting. Kakak bunuh saja aku dengan gunting itu, daripada menyiksaku seperti ini!" serunya sesantai mungkin padahal ia tengah menahan sakit yang amat luar biasa.


"Haaah!"


Mendengar seruan Sisi, perlahan membuat Arfi mundur, ia melepaskan cengkraman dan sedikit menjauhkan tubuh dari tubuh sang istri.


"Kenapa, kok menjauh? Apa perlu aku yang mengambilnya?"


"Si-sisi, kamu.... mengertakku?" gugupnya.


"Mengertak..." si cantik tersenyum. "Tidak sama sekali, jika kakak memang muak melihat wajahku. Ceraikan saja! Jika kakak tidak mau melihatku masih bernapas, silahkan bunuh saja!"


Karena merasa sangat lelah, bahkan urat-urat di tubuhnya seolah putus, sebab sang suami terus membuatnya tak berdaya, menjadikan Sisi pelampiasan n^fsu dan menjadikan tubuh sang istri tempat ia meluapkan amarah. Membuat Sisi menyerah, ia tak sanggup di perlakukan layaknya wanita murahan, dijadikan wanita pemuas ranjang dan ditiduri kapanpun Arfi mau, bahkan saat wanita itu merasa lelah sekalipun.


"Kamu.....!"


Tangan Arfi siap menampar mulut Sisi sekuat tenaga, tapi ia urung melalukanya, sebab si cantik justru memajukan wajah.


"Ayo tampar! Sekuatnya dan sampai aku tak bangun lagi, jika perlu!!"


"Haaaah....,"


Perlawanan dan ucapan serta seruan yang Sisi perlihaatkan, justru membuat Arfi tak bedaya. Ia tidak mau melakukanya, jika Sisi yang meminta. Tatapan tajam wanitanya itu, menjadikan Arfi tertunduk lesu.


"Dulu... saat kak Arfi akan menikahiku, kakak bilang akan menjagaku. Tapi nyatanya apa... 4 bulan kita menikah, selama itu kamu menjadikanku pemuas n^fsumu, selama itu kamu meperlakukanku bak p*lac^r. Kamu menyiksa tubuhku setiap hari, sampai aku tak sadarkan diri. Dan jika aku membuka mata, tanpa memberiku waktu untuk bernapas, kamu kembali menjelajah tubuhku! Apa serendah itu aku di matamu? Lemparkan saja tubuhku dari lantai 7... agar aku tak menjadi budak s*xkmu lagi!" ucapnya berapi-api dengan nada meninggi. Dan... hampir beberapa bulan ini, riwayat asma yang Sisi punya tak menyerang. Tapi tidak dengan malam ini, napasnya seolah terengah-engah, ia teduduk tak berdaya, seakan detik ini juga ia akan kehilangan nyawa.


"Si- ayo kita kerumah sakit. Asmamu kambuh!" ajak Arfi seraya memapah tubuh sang istri.


"Apa perdulimu? Turunkan aku, biarkan aku mati saja!"

__ADS_1


"Tidak-tidak. Kamu tidak boleh mati. Tolong maafkan kakak! Aku janji akan memperlakukanmu sebaik mungkin, tidak lagi menjadikanmu pemuas, n^fsuku!"


"Janji...!!"


"Iya janji."


Sisi pun menuruti sang suami dan membawanya kerumah sakit. Setibanya disana si cantik langsung mendapatkan pertolongan.


"Mas Arfi,"


"Ya.... ada apa dok?"


"Ini obat hisap. Jika asma mbak Sisi kambuh, hisap saja obat ini, karena ini lebih membantu dari obat-obat lainya."


"Baik dok."


"Dia tidak boleh terlalu lelah. Andaipun suatu saat nanti Sisi hamil, saat persalinan harus dilakukan oprasi cecar. Sebab normal akan membahayakan nyawanya."


Arfi mengangguk paham. Setelah itu ia memapah tubuh Sisi karena sang istri sudah di izinkan pulang.


"Maafkan kakak! Kakak janji, tidak akan memakai tubuhmu lagi!"


Sisi tersenyum lalu tertunduk malu. Ia bahagia karena sang suami masih bisa meminta maaf padanya.


"Ayo turun! Jalan pelan-pelan!"


Arfi membantu Sisi berjalan dan kini keduanya sudah berada di kamar apartemen. Setibanya didalam, si tampan langsung membantu sang istri merebahkan tubuh.


Saat Arfi berada di dapur. Kedua orang tua Arfi tiba di apartemen. Pintu yang lupa dikunci membuat si mami dan papi langsung masuk.


"Sisi__!"


"Mami, papi.... malam-malam begini kenapa kesini?"


"Dokter Andri memberi tahu, jika Arfi membawamu kerumah sakit. Itu sebabnya kami kesini. Karena mami dan papi tadi ke rumah sakit, ternyata kamu dan Arfi sudah pulang," jelas si mami.


Sisi tersenyum simpul, ia meraih tangan sang mami lalu menatap penuh arti.


"Mi... aku takut, nanti kak Arfi mengira, aku mengadu kekalian." jujurnya.


"Tidak akan... jika Arfi berani memarahimu. Papi yang akan menegurnya!"


Si mami dan sang papi, berencana tidur di sini malam ini, hal itu membuat Sisi semakin takut. Takut jika Arfi akan lebih marah.


"Mami.. papi...! Kalian ada disini?" Arfi yang datang membawa segelas teh hangat menggeleng pelan, karena berpikir Sisilah yang mengadu.


"Papi dan mami kesini, karena dokter Andri yang memberitahu."

__ADS_1


"Benarkah?" Arfi menelisik wajah kedua orang tuanya, lalu mendudukan tubuh di samping Sisi.


"Terima kasih kak," ucap Sisi karena Arfi memberikan teh hangat untuknya.


Pria itu menjauh dari keberadaan Sisi, lalu duduk di sofa, ia menyandarkan tubuh karena merasa sedikit letih. Sementara sang mami terus mengajak Sisi berbicara seraya menyuap sendok demi sendok, teh manis yang Arfi buat tadi.


"Kamu sakit apa, Si?"


"Asma pi."


"Kamu memang memiliki riwayat asma, ya?"


Sisi mengangguk, ia bercerita seolah penyebab asmanya kambuh karena salah makan, makanan. Ia tak mau memburukan suaminya.


"Huuuuf!" Arfi membuang nafas kasar kala mendengar cerita Sisi kepada si mami dan si papi.


"Kamu yakin? Tapi lehermu memerah semua? Apa Arfi memaksamu?"


Lagi-lagi Sisi menggeleng dan membuat Arfi justru merasa muak. "Katakan saja! Jika akulah penyebabmu masuk rumah sakit. Aku menghajar tubuhmu tanpa memberi ampun! Kita hidup bukan dalam sinetron ikan terbang, yang pura-pura bahagia padahal menderita. Jujur saja, jika kamu menderita hidup bersamaku. Tapi... sampai aku mati, kamu tidak akan pernah ku ceraikan!"


PLAAAK!


Belum selesai Arfi berkoar-koar, si papi sudah mendaratkan tamparan di wajah putihnya, hingga cap lima jari, terlihat membekas disana.


"Kenapa kamu jadi sejahat ini? Kenapa kamu benar-benar menjadi pria kasar. Arfi yang papi tahu, lembut dan pendiam, Tapi sekarang___!"


"Arfi yang pendiam dan baik hati sudah mati, yang ada dihadapan papi kini, penjahat yang harus dilayani setiap hari. Harus membuat istrinya menderita!" ucapnya terdengar tegas tapi matanya berkaca-kaca.


"Kamu benar-benar berubah. Papi sangat kecewa, karena kamu tega membuat istrimu sendiri menderita."


"Asal papi tahu... semua ini bukan sepenuhnya salahku. Mami dan papi lah yang membimbingku menjadi manusia tega."


"Haah.. apa maksudmu?"


"Mami, papi selalu menyinggungku setiap hari. ARFI KAPAN MENIKAH? ADIKMU SEBENTAR LAGI MEMILIKI ANAK, TAPI KAMU MASIH BETAH SENDIRI. Hampir setiap hari, kalian bertanya seperti itu padaku. Dan aku.. setiap hari menidurinya, bahkan sampai dia lelah, tapi Sisi tidak hamil juga!!!"


"Haaaah...!!" si mami dan si tercengang.


"Hidup bukan prihal membandingkan. Tapi menghargai aku rasa lebih baik. Aku memang tidak seperti Arfa, yang dengan mudah mendapatkan wanita secantik Nayla. Aku juga tidak seperti Arfa yang bisa memberi mami dan papi cucu secepat itu!" ungkap Arfi setelah itu melangkah pergi.


Sedangkan si mami dan papi, masih terdiam, kejujuran Arfi baru saja, sungguh mengoyak perasaan.


.


.


.

__ADS_1


.


🌸TERIMA KASIH🌸


__ADS_2