Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Tidak Menyukai Penolakan


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


☡Selamat Membaca☡


Sesuai janjinya, hari ini Arfa tak berkerja dan berniat menghabiskan waktu bersama sang istri tercinta. Mereka kini sudah berada di ruang tengah untuk menonton drama korea.


"Jangan nonton yang sedih-sedih nanti mataku sembab!" pinta Nayla pada sang suami.


"Terus mau nonton apa?"


"Kartun, Doraemon." Usulnya bersemangat.


"Itu bukan drama, katamu mau nonton drama korea?"


Nayla menggeleng cepat dan Arfa memilih untuk mengalah, ia pun menuruti sang istri untuk menonton kartun. Selama itu pula Arfa memperhatikan Nayla yang tiba-tiba tertawa dan kesal sendiri.


"Cantik," ucapnya dalam hati, pria dingin yang selama ini tampak cuek dan tak perduli, nyatanya cinta mati terhadap istrinya.


Ssssttt


"Huwaaam,"


Hampir 3 jam lebih, Nayla menatap layar televisi dan sudah 7 judul kartun the movie yang ia saksikan. Kini tiba-tiba saja, matanya terasa sangat berat, ia sudah tak tahan menahan kantuknya.


Ck____


"Yank, ehh....," dengan suara khas orang yang tengah menahan tidur, Nayla menatap nanar sang suami yang tiba-tiba memapah tubuhnya.


"Kalau mau tidur, harus di kamar," ujar Arfa berbisik.


Nayla pun mengagguk, ia mendekap erat tubuh Arfa yang berjalan pelan menggendong tubuhnya dan segera masuk ke dalam kamar.


"Tidur ya!"


Sayup-sayup si cantik pun memejamkan mata, dengan tertidur lelap, ia memeluk bantal guling kesayanganya. Arfa pun menarik selimut dan menutupi tubuh sang istri, ia meletakan bantal di belakang Nayla, agar istrinya itu tertidur dengan nyaman.


"Hmmm,"


Arfa tersenyum simpul, menatap Nayla yang tertidur pulas, entah mengapa wanita itu semakin cantik saat terlelap dalam tidurnya. Dan karena merasa belum mengantuk Arfa pun memilih untuk mengerjakan urusan kantor. Lagi pula Nayla sudah tertidur dia tak akan mungkin marah, begitulah pikir Arfa.


***


"Sayang, sarapan dulu!" si mami berteriak kala Arfi tampak tergesa-gesa keluar dari kamar.


"Fi... makan dulu, nak!" kini si papi yang meminta.


"Maaf mi, maaf pi... pagi ini aku tidak bisa ikut sarapan,"


"Kenapa?"


"A_aku ada tugas dadakan," jawabnya gugup.


Si mami dan si papi saling menatap, ini bukan kali pertama Arfi tampak pergi begitu buru-buru. Airin dan Alvian yakin, jika anaknya itu sedang jatuh cinta.


Ck...


Benar saja, Arfi kini sudah berada tepat di hadapan Sisi, gadis itu berdecak senang karena semakin hari Arfi semakin menunjukan perhatianya.


"Kak gak tugas?"


"Setalah mengantarmu, aku akan ke kantor,"


"Begitu ya,"


"Iya... Ayo masuk!" Arfi membuka pintu mobil.


Dengan semangat, Sisi masuk ke dalam mobil milik polisi tampan itu, ia tak henti-hentinya menatap wajah Arfi dengan tersenyum.


"Ada perkembangan, dari kasus yang merasampas harta kedua orang tuamu,"


"Haaah, benarkah?" Sisi berujar sendu ia berharap bisa menampar orang yang telah membuat kedua orang tuanya meninggal.


"Jangan banyak tanya dulu! Kalau semua sudah jelas, aku pasti memberi tahumu,"


"Ba_baik," jawab Sisi gugup, ia tak salah bertemu dengan Arfi, polisi itu seolah sudah di takdirkan Tuhan untuk membantunya.


Kini keduanya sudah tiba di depan gerbang sekolah Sisi, seperti biasa saat gadis itu turun dari mobil Arfi, pasti akan menjadi pusat perhatian.


"Nanti siang, makan bedua denganku!" ajak Arfi.


"Ta_tapi,"


"Aku tidak suka ada penolakan, kamu harus mau,"


Sisi membuang nafas berat, ia pun mengangguk setujuh. Dan langsung melangkahkan kaki untuk masuk ke halaman sekolah.


"Si___!" panggil Arfi berteriak.

__ADS_1


"Ya," si cantik pun menoleh.


"Kalau ada yang mengganggumu dan membully'mu. Laporkan padaku! Nanti akan kakak kasuskan," ujarnya lagi berteriak kencang-kecang dan banyak siswa sekolah yang mendengarnya.


Sisi tersenyum puas, ia berjalan di hadapan teman-teman sekolahnya dengan kepala tegak. Ia yakin, siapapun yang mendengar ucapan Arfi tadi, pasti tidak akan ada yang berani membully, apa lagi sampai mengatakan Sisi gadis murahan. Di sekolah gadis itu pun bisa belajar dengan nyaman dan tenang meski ia sadar ada beberapa siswi yang berbisik-bisik membicarkan tentangnya.


***


Waktu pulang sekolah pun tiba, Sisi menatap layar ponselnya dan ada 5 panggilan tak terjawab dari Arfi.


"Kakak, maaf! Tadi aku ada kelas fisika dan benar-benar harus fokus, jadi aku baru bisa membuka ponsel," jelas Sisi melalui sambungan telepon.


Tanpa menjawab, Arfi langsung mematikan panggilan dari Sisi tersebut yang tentu saja membuat Sisi berdecak kesal. Ia pun berkali-kali menghentakan kaki ke bumi.


"Ya Tuhaaan... kenapa dia lebih sensitif daripada cewek sih? Padahal, akukan sudah meminta maaf," omelnya kesal.


Sisi kembali menghubungi Arfi tapi no ponsel pria itu tidak aktif dan si cantikpun semakin ngomel-ngomel tak jelas.


"Polisi sinting, maunya menang sendiri, mudah marah dan tidak mau mengalah... huuuh Arfi menyebalkan," grutunya lagi dan mendudukan tubuhnya ke tanah.


"Sudah marahnya? Kok diam? Ayo lanjutkan!"


"Haaaaah_____!"


Sisi terkejut bukan main, karena Arfi tiba-tiba saja sudah ada di belakangnya, bakan pria itu membawa sesuatu di tanganya.


"Ka_kakak, kok ada di sini?"


"Jangan banyak tanya! Ayo berdiri!"


Arfi mengulurkan tangan, lalu membantu Sisi berdiri, si tampan mengajak gadis itu berjalan lalu menuju ke tempat mobilnya terparkir.


"Ganti bajumu! Aku tidak mau di anggap om-om yang mengajak anak SMA berkencan," titahnya, lalu melempar sesuatu ke arah Sisi.


Gadis itu menarik sudut bibir, ia coba menahan tawa. Sungguh ucapan Arfi baru saja cukup menggelitik baginya.


"Sudah belum?"


"Sudah, kak,"


Arfi segera membuka pintu mobil lalu masuk, karena sedari tadi ia menunggu di luar sebab Sisi mengganti baju di dalam mobil miliknya.


"Apa kamu tidak punya make up?"


"Ada sih, lipstik dan bedak padat. Kenapa? Apa kakak mau meminjamnya?"


"Sial.... kamu kira aku banci, haaah?!" Arfi mengerutkan wajah.


"Bodoh! Bukan aku yang mau pakai, tapi kamu!"


"Kok aku?" Sisi menunjuk wajahnya.


"Bermake uplah sedikit, agar wajahmu tak pucat seperti kurang darah!" cetusnya.


Si cantik mendengus kesal, lagi-lagi pria itu mengupat susukanya. Berkali-kali Sisi mendengar jika Arfi berujar kasar.


"Kenapa? Marah?"


"Tidak," Sisi menggeleng.


"Ayo turun, kita sudah sampai!"


Keduanya turun di sebuah rumah makan yang tampak begitu elite dan mewah. Bahkan sejak Sisi dan Arfi turun dari mobil, mereka sudah di sambut sedemikian sopanya.


"Silahkan duduk! Sebentar lagi hidangan akan datang," ucap si mbak-mbak karyawan rumah makan tersebut.


"Ehh, kok aneh ya kak? Gak pesan dulu gitu?" Sisi penasaran.


"Diamlah! Aku yang memesan makanan tadi,"


"Ohhhh,"


Gadis cantik itu mengangguk-angguk sok paham, meski banyak tanya membenam di pikiranya.


"Mungkin, kak Arfi sengaja, mau buat kejutan untukku," gumamnya menebak-nebak kepedean.


Dan... 15 menit kemudian, banyak hidangan lezat tersaji di atas meja makan, Sisi pun hanya bercuap-cuap kecil, karena banyak makanan di hadapanya. Selama ini ia jarang memasak jadi jarang sekali menikmati makanan seberagam saat ini. Mie dan telur menjadi makanan favorite Sisi setiap hari.


"Ini menu baru kami, mas. Namanya udang saus kecap dan udang-udang ini di jamin kesegaranya," si mbak-mbak itu menjelaskan.


"Oke, terima kasih,"


Arfi pun langsung mengajak Sisi menikmati semua hidangan yang sudah ada di atas meja. Tak lupa, pria tampan itu mengupaskan udang saus kecap untuk si cantik.


"Kamu mau udang, kakak kupas dulu kulitnya ya!" ujar Arfi lembut.


Sisi tersenyum getir, terlebih Arfi berucap selembut itu padanya.

__ADS_1


"Bo_boleh," jawabnya gugup.


Arfi menikmati semua hidangan selahap mungkin dan Sisi masih bersusah payah menghabiskan udang yang di berikan oleh Arfi padanya.


Ck.....


Setelah udang di hadapanya habis, Sisi meminum air putih berkali-kali bahkan ia memakan semua makanan di atas meja, secepat mungkin, entah apa yang kini ia rasa.


"Aah," lirihnya, tangan Sisi mulai bekerja, garuk kanan dan garuk kiri, bahkan wajahnya mulai memerah, seketika nafasnya terengah-engah.


Arfi yang baru sadar, seketika langsung menghampiri gadis itu dan terperanjat karena seluruh tubuh Sisi memerah.


"Si, ada apa ini? Kamu kenapa?" paniknya.


"A_aku, alergi udang, kak," jawabnya terbata-bata.


"Astaga__ Sisi_____! Jika kamu alergi, kenapa masih memakanya?"


"Kakak bilang tidak suka di tolak, jadi aku tidak mau menolak tawaran kak Arfi tadi, aku tidak mau kakak kecewa," Sisi menjelaskan dan spontan membuat Arfa terdiam sejenak.


"Bodoh...!" umpatnya.


Tanpa pikir panjang lagi, Arfi mengendong tubuh Sisi dan membawa gadis itu ke rumah sakit. Si tampan semakin panik sebab suara nafas Sisi terdengar seperti nafas kucing.


"Si, kamu kenapa lagi?"


"Na_nafasku berat, kak," lirihnya seraya menarik nafas panjang dan membuang pelan.


Tak mau membuang waktu, Arfi memacu kendaraan miliknya secepat kilat. Dan kini keduanya sudah tiba di rumah sakit.


"Dokter....! Cepat panggil dokter!" Arfi memerintahkan.


Karena Arfi menggunakan baju polisi lengkap, semua pihak rumah sakit pun langsung bergegas melayani dan Sisi pun langsung mendapatkan perawatan secara cepat.


"Biarkan aku ikut masuk!" Arfi meminta.


"Si_silahkan!"


Arfi pun kini sudah di dalam ruangan dan menemani Sisi, gadis mungil itu tampak sangat sulit mengatur nafasnya.


"Pasien asma, nafasnys sesak parah. Cepat lakukan Uap Pernafasan!"


Dokter dan para perawatnya, sibuk luar biasa menangani apa yang terjadi kepada Sisi. Gadis itu mendapatkan suntikan di tangan dan Uap Pernafasan sampai dua kali.


"Bagaimana nafasmu, nak?" si dokter yang usianya tak lagi muda itu pun bertanya.


"Sudah lebih baik dok," Sisi tersenyum.


Arfi mampu bernafas lega, ia mendudukan tubuhnyya di lantai.


"Dok, apa yang terjadi denganya?"


"Sisi sepertinya miliki riwayat asma dan dia mungkin memakan makanan yang memicu asma'nya kambuh," jelas si dokter.


"Udang, dia tadi makan udang,"


"Mungkin Sisi alergi, hingga setelah memakan udang tersebut membuat ia mengalami gatal berlebih yang akhirnya dia lelah dan kambuhlah asma'nya," tambahnya lagi.


"Huuuuf!"


"Dia di larang lelah! Jadi jaga baik-baik! Saya keluar dulu, Sisi juga boleh langsung pulang, silahkan membayar adimistrasi terlebih dahulu!"


Arfi pun mengangguk, setelah dokter itu keluar, ia pun langsung menatap tajam wajah Sisi.


"Ma_maaf, kak! Sudah merepotkanmu," gugupnya gemetar.


"Bukan itu masalahnya, Si. Tapi aku menyesali kebodohanmu, sudah tau tidak boleh, kenapa masih di makan?"


"Jawabanya tetap sama, seperti yang ku jelaskan tadi,"


"Karena, aku tidak suka di tolak??"


"I_iya,"


"Oke... kalau misal, aku menyatakan cinta padamu, artinya kamu tidak akan menolak. Benar?"


"Haaaah...?!"


Sisi terperangah, ucapan Arfi baru saja membuat ia terkejut dan semua anggota tubuhnya terasa tak berdaya, jantungnya berdetak tak seirama, dadanya berdebar-debar luar biasa. Sungguh ia tersipu malu karena ucapan Arfi itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


❤Terima kasih kakak-kakak baik❤


__ADS_2