Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 30 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Sore ini suasana sangat mencekam, hujan dan angin saling bertautan. Semesta seakan paham betapa sedihnya perasaan Arfi kini. Di cekam rasa bersalah dan di cekam penyesalan, ia paham jika Sisi seperti ini karena sikapnya.


"Maafkan aku, Si!"


Entah sudah berapa kali, Arfi mengucapkan kata-kata ini. Ia benar-benar mengutuki sikapnya tadi.


Sssttt..


Sampailah kini mereka di rumah sakit, Sisi langsung mendapatkan penanganan yang lebih baik. Angga dan Arfi menunggu di luar ruangan, bolak-balik keduanya tampak panik. Arfi berjanji pada dirinya sendiri tak akan mengulangi kebodohan ini lagi. Tak akan mengecewakan Sisi lagi dan menuruti apapun yang mantan istrinya itu mau.


"Pak.. apa yang terjadi? Dimana Kak Sisi?" panik Cia setelah tiba. Angga menghubunginya tadi.


Arfi tak menjawab, ia memilih diam karena takut salah bicara, saat ini ia mempersilahkan Angga yang menenangkan Cia.


"Mbak Sisi tadi pingsan di dalam mobil," Angga memberi tahu.


"Kok bisa?"


"Sepertinya asma Mbak Sisi kambuh," jawab Angga lagi.


Tak memiliki pikiran buruk, Cia hanya menghela napas pelan, pasalnya Sisi memang sering tak sadarkan diri, terlebih saat tengah kelelahan.


"Terima kasih, Pak Arfi, makasih Ga! Karena sudah membawa Kakak ku ke rumah sakit. Jika sedang seperti Kak Sisi butuh bantuan oksigen. Telat sedikit saja fatal akbitnya."


Mendengar penjelasan Cia, Arfi kian tertunduk lemas. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu kepada Sisi.


"Hm, Cia... saya boleh minta tolong, belikan makanan, untuk saya dan Angga!"


Karena hari sudah larut malam, Arfi yakin Angga pasti kelaparan, ia juga ingin memastikan keadaan Sisi setelah Cia keluar nanti.


"Baik, Pak."


"Ini uangnya, jangan lupa air mineralnya juga! Oh iya Angga, tolong temani Cia!"


"Siap Pak," Angga bersemangat


Keduanya pun pergi dari hadapan Arfi, meski Angga sebenarnya paham, jika Pak Arfi tidak nyaman karena ada Cia di rumah sakit. Tapi setidaknya kondisi ini bisa memberikan ia keuntungan, Angga memiliki waktu lebih banyak lagi untuk bersama Cia.


"Pakai motor saja, biar romantis!" canda Angga membuat Cia sedikit tertawa.


"Nanti kamu demam gimana?"


"Rumah sakit masih banyak kamar, kalau saya sakit tinggal di rawat." sahutnya semakin mengada-ada. Spontan Cia langsung menepuk bahunya. "Aww sakit, tau!!"

__ADS_1


"Oh sakit ya, maaf- maaf!" Cia terkekeh pelan.


.


.


Sementara itu, Arfi yang kini masih di rumah sakit, mengirim pesan singkat ke Angga agar bisa mengajak Cia lebih lama di luar sana.


"Bagimana, Dok?" tanya Arfi bersemangat saat pria tua berbaju putih keluar dari dalam ruangan.


"Kondisi Sisi sekarang sudah membaik, bahkan dia sudah sadar. Tadi siang dia hanya pingsan saja, mungkin karena kelelahan atau bisa jadi karena banyak pikiran. Tolong di jaga moodnya ya, penderita asma jangan sampai terlalu emosi apa lagi lelah! Jika mau menjenguk silahkan!"


"Ba-baik, Dok..... terima kasih," jawabnya gugup benar-benar gugup.


Arfi melangkah pelan, ia sedikit ragu untuk menemui Sisi tapi bagaomana pun ia harus meminta maaf, prihal memaafkan atau tidak itu terserah dia, yang terpenting bagi Arfi ia meminta maaf lebih dulu.


"Hey, ma-malam." sapanya ragu-ragu.


Sisi tak menjawab, ia justru membuang wajah dan tak mau menatap wajah Arfi, Sisi ingat apa yang di lakukan pria itu siang tadi.


"Em, maaf! Aku tau apa yang terjadi padamu semua salahku, aku berjanji tidak akan lagi menggangumu dan apapun yang kamu mau, sebisa mungkin akan ku penuhi."


Mendengar penuturan Arfi baru saja, Sisi langsung menoleh cepat. "Janji!" ia memajukan kelingkingnya dan meminta Arfi menautkan dengan kelingking pria itu.


"Janji," Arfi terpaksa tersenyum.


Arfi sudah menebak apa yang di inginkan Sisi, ia bahkan tidak terkejut mendengarnya.


"Nikahi Cia, agar dia terbebas dan kedua orang tuanya tidak akan menjodohkannya dengan pria tua lagi."


"OKE." jawab Arfi lantang dan terdengar tak ragu sama sekali. "Lusa aku akan melamarnya, minggu depan aku akan menikahi Cia." tambahnya lagi.


Ucapan Arfi sukses membuat dadanya sesak. Seharusnya ia lega karena Arfi siap menikahi Cia. Tapi munafik sekali jika hatinya tak sakit, jika bisa ia ingin menangis sejadi-jadinya, namun Sisi mencoba untuk menahanya mati-matian.


"Tolong tinggalkan aku sendiri, aku butuh istirahat."


Tak menjawab, Arfi langsung beranjak dari duduknya dan segera menghilang dari hadapan Sisi. Keputusanya menikahi Cia rasanya sudah final karena itu yang di inginkan Sisi, meski Arfi tak yakin setelah menikah ia belum tentu bisa mencintai Cia sepenuhnya.


Ck!


Baru saja ia akan menutup pintu, Arfi mendengar Sisi menangis sesenggukan. Namun Arfi tak coba kembali apa lagi menyaka air mata di wajah mantan istrinya. Karena rasa sakit yang sekarang terasa semua pilihan Sisi sendiri.


HIKZ!


Terdengar jelas tangisan itu, Sisi tersedu-sedu karena bak di sayat sembilu. Satu-satunya alasan ia membiarkan Arfi menikah dengan Cia, karena selama ini gadis itu sudah menjadi malaikat penolong baginya. Tak terbayangkan oleh Sisi, betapa sakit hati yang Cia rasa, jika sampai Sisi merebut Arfi.

__ADS_1


"Pak- kok duduk di sini?" Cia bingung saat mendapati Arfi tampak pucat dan lemas terduduk tepat di depan pintu ruangan di mana Sisi di rawat.


"Saya tidak apa-apa. Kenapa kamu lama sekali mencari makanan, saya sudah sangat lapar."


Dengan cepat Cia berasumsi, jika Arfi tampak pucat karena menahan lapar. "Ini Pak, saya beli Nasi Padang dan Ayam Geprek, anda mau makan yang mana."


"Terserah."


"Ya sudah, Ayam Geprek saja ya! Biar Nasi'nya dimakan Angga saja."


Arfi mengangguk setujuh, ia pun dengan tidak semangat memakan makanan yang ada di hadapanya. Hal itu membuat Cia merasa heran.


"Anda ada masalah, ya? Sepertinya banyak sekali yang anda pikirkan."


"Iya- saya berpikir untuk menikahi kamu dalam waktu dekat."


"HAAAAH!!"


Yang terkejut bukan hanya Cia saja, tapi Angga juga. Anak muda itu mengepal jari jemari dan tidak rela jika Cia akan menikah dengan Arfi.


"Pak Arfi serius?"


"Iya...," jawabnya datar. "Sisi sudah sadar, temanilah dia dulu, nanti kita akan bicarakan pernikahan kita."


"Baik Pak." Cia sangat bahagia, ia semangat luar biasa dan menemui Sisi dengan raut senang bukan kepalangm. Ia tak menyangka jika Arfi benar-benar akan menjadikanya istri.


Ssssttt....


"Heeeh, apa-apaan ini?" Arfi melotot lebar mana kala Angga mencekat lehernya sampai ia sedikit sulit bernapas.


"Kenapa anda menikahi Cia, sementara ada hubungan diam-diam dengan Mbak Sisi."


"Sok tau kamu!" Arfi menepis cepat tangan Angga. "Saya menikahi Cia demi Sisi, jadi jangan banyak bicara."


"Saya tidak rela Pak, jika anda menikahi Cia bukan karena cinta."


"Kuliah dulu yang bener dan jadi lah orang kaya. Setelah itu akan ku berikan Cia padamu. Tenang aku tidak akan menyentuhnya sedikit pun setelah menikah nanti!"


Bukan tenang Angga justru merasa emosi, ia mendaratkan tinjuan tepat di hidung Arfi dan sedetik kemudian langsung mengeluarkan darah segar.


.


.


.

__ADS_1


B E R S A M B U N G


__ADS_2