
🕊Selamat Membaca🕊
Meski resah, karena teror-teror yang mengganggu sejak tadi malam, tak membuat Alvian dan Airin mengurungkan aktifitasnya untuk pergi ke kantor, sebab perusahaan yang tengah berjalan, memang full tanggung jawab Alvian, kini segudang pekerjaan sudah menanti di depan mata.
"Pak Al, ada pak Wijaya Bratayuda di dalam! Ia sengaja datang pagi-pagi untuk bertemu dengan anda," Ridho memberitahu setelah Alvian tiba di kantornya.
"Baik, aku akan temui beliau dulu, dan kau Rin, tolong urus sebentar berkas-berkas ini, setelah itu temui aku!" titah Alvian pula pada sang suami.
Airin mengangguk paham, ia segera masuk ke ruang kerjanya, untuk menyelesaikan tugas yang di berikan Alvian. Sementara si tampan, kini sudah berada di dalam ruangan dimana Yuda menunggunya.
"Selamat pagi pak Yuda," sapa Alvian ramah.
"Pagi," jawabnya datar, Yuda seolah tak membalas keramahan yang Alvian lakukan.
"Oke, kalau begitu, apa keputusan anda?" Alvian bertanya tanpa basa basi.
Pria paruh baya itu menarik sudut bibir, sebelum mengutarakan apa yang akan ia sampaikan.
"Aku menyerah, dan memilih untuk menjual perusahaan kepadamu," ujar Yuda sendu dengan raut wajah pilu.
Bagaimana tidak, sebab perusahaan tersebut sudah Yuda bangun dari titik nol, namun musnah dalam sekejab hanya karena ia tak mampu membayar hutang.
"Baiklah, kalau begitu kita lakukan perjanjian sekarng juga, aku akan membayar sisanya dan hutang anda pun lunas tanpa sisa,"
Setelah melakukan semua sesuai prosedur, dan atas persetujuan dua belah pihak, kini perusahaan milik Wijaya Bratayuda sudah "Sah" menjadi milik Alvian. Pria muda itu tersenyum puas, setelah mengambil alih hak, atas perusahaan orang tua Airin, sejujurnya, ini semua Alvian lakukan bukan tak menghormati mertuanya sendiri, tapi ia ingin memberi pelajaran kepada Yuda, bahwa harta bukanlah segalanya, dan memberi tahu Yuda pula. Bagaimana rasanya, di tinggal saat sedang membutuhkan dukungan.
Dengan raut wajah kecewa, Yuda berjalan pelan keluar dari perusahaan Alvian, ia tak tau harus mengatakan apa pada para karyawanya.
"Haruskah aku memecat mereka?" lirih Yuda pelan, namun suaranya terdengar jelas di telinga Alvian yang sengaja mengikuti langkah pria paruh baya tersebut.
"Maaf pak Yuda! Biarkan karyawan anda tetap di sana, dan semua formasi perusahaan, biarkan saja tetap sama! Hanya pemiliknya saja yang berubah, karena perusahaan itu saat ini miliku," titah Alvian yang spontan membuat Yuda menghela nafas pelan.
"Baiklah," jawabnya datar.
"Oh... iya, satu lagi. Aku rasa, mereka tak perlu tahu, jika perusahaan itu bukan lagi milik anda!"
"Kenapa?"
"Karena, nantinya... aku akan meminta Airin untuk menjadi CEO di sana, memimpin dan mengarahkan semua urusan perusahaan, semua Airin yang akan melakukan,"
"Haaaah,"
Tak di sangka, semua berbalik 100 persen, dari ia yang selalu mengabaikan Airin, dan tak pernah terbesit sedikitpun dalam benaknya, untuk membawa Airin, turut andil dalam mengurus perusahaan, karena selama ini, Yuda berpikir bahwa Airin adalah anak bodoh dengan pemikiran yang sangat dangkal, hingga tak mungkin bisa, ikut memajukan perusahaan. Tapi kenyataanyapun berbeda, anak yang di anggap bodoh luar biasa, kini justru menjadi pemimpin perusahaan, yang selama ini di pimpinya.
***
"Aaaaaah,"
Braaak!
Airin berteriak lalu melempar posel miliknya sekuat tenaga, hal itu tentu membuat semua karyawan terkejut di buatnya.
"Rin, ada apa?" Alvian berdecak heran di sertai rasa khawatir yang tak terkira.
"A_aku... takut, Al!" jawabnya gugup.
"Takut, kenapa Rin?"
__ADS_1
Airin pun menjelaskan, bahwa tadi ada yang menhubunginya berkali-kali melalui telpon genggam miliknya, namun saat ia angkat, orang yang menelponya itu tak mau berbicara, tapi setiap Airin matikan, dia pasti akan menelpon lagi.
"Dan.... gilanya, ia mengirim pesan ke no WhatsApp'ku, bahwa dia mengatakan, akan mengusikku setiap waktu. Karena itulah, aku spontan membanting ponsel miliku tadi," jelas Airin pada sang suami.
Alvian pun seketika geram, karena teror ini sudah sangat meresahkan. Si tampan meminta pihak kepolisian untuk bergerak cepat!.
"Jangan takut, Rin! Aku ada di sampingmu,"
"Tapi Al, aku takut jika orang itu akan melukaimu,"
"Tidak, percayalah! Aku bisa, menjaga diriku sendiri." Alvian meyakinkan.
Airin pun menggeleng, meski Alvian sudah berusaha meyakinkan, tapi rasa takut tak bisa Airin sembunyikan.
***
"Aaaaaah......!!!!!"
Lagi-lagi Airin berteriak sekuat tenaga, setibanya ia di dalam rumah, si cantik mendapati sebuah boneka tergantung dengan berlumuran darah. Hal itu tentu, semakin membuat Airin gemetaran.
"Rin... kenapa, lagi?"
"Itu...!" Airin pun menunjuk ke arah boneka yang tergantung di jendela kamarnya.
"Astaga!" pekik Alvian spontan saat melihat kondisi boneka itu, berlumuran darah.
Dengan cepat, Alvian pun menanggil beberapa polisi untuk masuk kedalam kamarnya.
"Gila....! Apa saja, yang kalian lakukan? Sampai tidak tahu, ada orang yang masuk ke rumahku?!" emosi Alvian tak terkendali, ia benar-benar marah, mengapa rekan-rekanya sangat lalai dalam bekerja?
"Maaf Al! Aku padahal, patroli setiap 15 menit," balas salah satunya.
Diam, para polisi yang menjaga rumah Alvian pun terdiam.
"Ciih, sial! Pasti dia," grutu Alvian pula dalam hatinya.
Pria muda itu meminta, rekan-rekanya di kepolisian, untuk kembali berjaga! Sementara Alvian menenangkan Airin lalu membuang boneka yang berlumuran darah.
"Istirhatlah, Rin!"
"Iya,"
Setelah memastikan Airin beristirahat, Alvian pun menemui kedua orang tuanya, yang saat ini tengah khawatir juga.
"Aku yakin, semua ini pasti ulah, dia," ungkap Alvian.
"Siapa, Al?"
"Adalah.. nanti, aku meminta polisi untuk menyelidiki, dengan teliti! Apakah, duguaanku ini, memang benar adanya?" tukasnya tegas.
Reyhan dan Tania, kini menatap Alvian dengan banyak tanya.
"Siapa orang, yang Alvian maksud, pah?"
"Entahlah," jawab Reyhan lalu memegangi kepalanya yang seketika terasa sangat berat. Teror yang terjadi kini, sungguh membuat si papa sangat tidak nyaman.
**
__ADS_1
"Al.......... tolong!!" teriak Airin sekuat tenaga.
Lagi-lagi Airin berterik dari dalam kamarnya, wanita itu tengah merasa ketakutan yang sangat mencekam.
"Rin, hei... ada apa lagi?"
Alvian mendapati sang istri sudah berkeringat dingin.
"Ta_tadi, ada orang menggunakan jubah hitam, berdiri di jendela sana!"
Airin menunjuk sebuah jendela kamarnya, karena tadi ia melihat seseorang tengah berdiri di sana, menggunakan baju hitam dan masker untuk menutupi wajah.
"Kepung! Si peneror ada di sekitar rumahku!" perintah Alvian kepada beberapa polisi yang menjaga rumahnya.
"Siap... laksanakan!!"
Polisi-polisi itu pun segera melaksanakan tugasnya, mereka memeriksa seluruh sudut ruangan dan sekitar rumah milik Alvian.
Daaan..... Ssssstttt
Alvian yang berjalan pelan-pelan, akhirnya menemukan keberadaan si peneror tersebut.
"Kau... itu benar kau?"
"Iya... ini aku, dan apa kabarmu, Al?" tanyanya seolah tak takut sama sekali, padahal saat ini ia sudah di pastikan akan tertangkap.
"Ciih! Sok, akrab kau ya," amarah Alvian semakin memuncak, setelah mengetahui siapa peneror itu sebenarnya.
"Anggap saja, kita sudah akrab,"
Seseorang itu segera mendekati Alvian, dan seketika itu pula, para polisi yang menjaga rumah Alvian pun, hadir di sana juga. Tanpa pikir panjang lagi, Alvian meminta mereka untuk menangkapnya.
Ck....
"Al....!!" panggil Airin
Airin menggeleng pelan, setelah melihat wajah orang yang sudah menerornya sejak tadi malam.
"Ya Tuhaaan, apa kau sudah gila? Sampai mempunyai pikiran, untuk meneror orang lain," grutu Airin di penuhi benci.
Ssssst... Srrrrrt...
Si peneror tiba-tiba saja, mengarahkan pisau yang sejak tadi di sembunyikanya di balik baju.
"Rin, awas!!!"
Alvian mendorong tubuh istrinya, hingga akhirnya ialah yang terkena tusukan senjata tajam, yang di ayunkan oleh si peneror tadi. Dan dalam waktu sekejab darah pun bercucuran.
"Al_vi_an.........!!" teriak Airin sekuat tenaga, melihat sang suami yang sudah berlumuran darah.
.
.
.
Love you buat semuanya, nanti jam 4 sore up lagi ya🤗❤.
__ADS_1
🕊Terima kasih🕊