
*Selamat Mambaca*
Matahari siang ini, bersinar dengan begitu terangnya, bahkan terik panasnya seolah membakar kulit. Alvian menggeleng pelan melihat Airin bolak-balik keluar supermarket , untuk memberi keperluan yang di butuhkan.
"Masih banyak ya, Rin?" tanya Alvian pada sang istri yang baru saja menaruh barang-barang belanjaanya di dalam mobil.
"Masih, Al... setelah ini aku harus ke toko depan, ingin membeli beberapa baju untuk bersantai saat di dalam rumah,"
"Kalau begitu, kau belanja saja dulu.. beli semua kebutuhmu! Tapi, aku pulang dulu, nanti pak Indra yang akan menjemputmu, jika semua urusan perbelanjaanmu sudah selesai," ujar Alvian pada istrinya.
Si cantik pun mengangguk setujuh, Airin segera pergi ke sebuah toko baju ternama, yang tak jauh dari keberadaanya saat ini. Sementara Alvian, memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Pak, setelah mengantarkanku, pulang ke rumah, tolong langsung tunggu istriku lagi di tempat tadi!" titah si tampan kemudian kepada pak sopir yang sudah menjadi kepercayaanya.
***
Di toko baju, Airin memilih beberapa lembar baju untuk dirinya sendiri dan beberapa lagi untuk sang suami. Setelah hampir 30 menit di dalam toko, akhirnya si cantik menyudahi aktifitasnya.
"Heei, Rin," seseorang menyapa dan menatap wajah Airin dengan penuh benci.
"Dini," si cantik memundurkan langkahnya saat melihat bahwa Dinilah yang kini tengah berdiri di hadapanya.
"Wooow, keluar dari penjara, kau terlihat semakin cantik ya... apa kau kini menjadi simpanan om-om, hingga bisa berbelanja sebanyak ini," ucapan Dini terkesan menghina.
"Jaga ucapanmu! Aku tidak seburuk dirimu, yang melakukan banyak cara untuk mendapatkan semua hal yang di inginkan," balas si cantik pula.
Dini menatap Airin semakin tajam, binar matanya memancarkan kebencian.
"Aku tak akan membuat hidupmu damai, sedetikpun. Selama aku ada di atas muka bumi ini, akan ku cari cara untuk melenyapkanmu, setragis mungkin," ancam Dini tak main-main.
Airin berdecak heran, seraya menarik sudut bibirnya, tatapan sinis Dini di balasnya dengan senyum penuh arti.
"Dasar orang gila! Dia yang memulai masalah, dia juga yang dendam," grutu Airin kesal, seraya melangkah tergesa-gesa untuk menjauhi keberadaan Dini.
Bagaimana Airin tidak merasa kesal, sebab Dinilah penyebab semua masalah besar ini terjadi, Dinilah yang merebut Nino dan akhirnya Nino pun membuangnya, bahkan karena perselingkuhan yang Dini dan Nino lakukanlah, membuat Airin gelap mata, hingga hampir melenyapkan nyawa Dini tanpa sengaja.
"Kenapa dia gak mati aja sih, buat apa hidup, jika isi dalam otaknya hanya niat jahat semua..," grutu si cantik lagi.
Tanpa melihat kanan dan kiri, karena kondisi hati yang sedang kesal luar biasa, Airin segera masuk ke dalam mobil, meski mobil itu mirip dengan mobil milik sang suami, namun bukan pak sopir yang duduk di kursi kemudi mobil tersebut.
"Pak, cepat ya! Aku mau kita segera sampai rumah," titah Airin pada seseorang yang duduk di kusri kemudi.
__ADS_1
Tanpa menjawab sepatah katapun, mobil yang kini Airin tumpangi pun berjalan pelan, namun lama-lama, mobil tersebut berjalan dengan kecepatan tak biasa.
"Pak... hati-hati dong!" kesal Airin.
"Kita akan pergi ke neraka sama-sama," ucap orang yang ada di kursi kemudi tersebut, seraya menghentikan laju mobilnya secara tiba-tiba.
"Ni_nino.....!!"
Jantung Airin serasa berhenti berdetak, saat melihat siapa pria yang kini satu mobil denganya.
"Apa kabar, Rin?" Nino pun turun dari mobil lalu menarik tubuh Airin keluar dari.
Susana jalan saat ini benar-benar lengang, membuat Nino dengan mudah melakukan apapun pada wanita yang hampir 4 tahun lamanya menjadi kekasihnya.
"Bagaimana, kau bisa ada di sini, bukankah kau sudah di tangkap pihak polisi?!" tanya Airin dengan semua rasa takut yang kini menyergap perasaanya.
"Polisi, tak sepandai yang orang-orang pikirkan... karena nyatanya, aku lebih pandai dari mereka," ucap Nino dengan tangan yang mencekik leher Airin.
"Lepaskan aku! Aku tak ada urusan lagi denganmu,"
"Benarkah...?" Nino semakin menguatkan cengkramanya dan tentu saja membuat Airin kesulitan untuk bernafas. "Apa yang kau katakan tadi? Kau bilang sudah tidak ada urusan denganku... asal kau tau, semua pekerjaanku terbongkar dan semua anak buahku tertangkap pihak kepolisian, semua karena ulah Alvian, karena dia kini usaha yang sudah ku kerjakan sekian lamanya, harus hancur tanpa sisa... jadi kini, aku akan membuat Alvian menderita, dengan cara melenyapkan, istri kesayanganya, karena aku tahu, beberapa hari lalu, kau sudah resmi melikah dengan pria sialan itu,"
Nino berucap kata demi kata, dengan raut wajah yang di penuhi amarah. Rasa benci dan dendam di hatinya, sudah membutakan akal sehat.. hingga yang ada dalam pikiran Nino saat ini, hanyalah menghabisi nyawa Airin semenyakitkan mungkin.
Dengan sisa tenaga yang ia punya, Airin berpikir secerdik mungkin untuk bisa lepas dari pria laknat, yang sudah menghancurkan hidupnya.
Ssssssttt....
"Aaaaaaaaahhh.....!!
Nino berteriak sekuat tenaga, kala Airin menendang bagian pusaka miliknya, bahkan Nino pun tersungkur ke tanah karena merasakan sakit yang luar biasa seolah menyerang seluruh tubuhnya.
Ck...
Si cantik menambahkan tendangan yang membuat Nino semakin tak memiliki tenaga. Airin segera berlari lalu masuk ke dalam mobil milik Nino yang kontak mobilnya masih berada di dalam sana.
"Heey.. mau kemana kau?" Nino berteriak kesal karena Airin berhasil kabur dengan menggunakan mobil miliknya. "Aaah..!" tambahnya dengan rasa kesal yang semakin membenam dalam dadanya.
Sekencang mungkin namun masih berhati-hati, Airin membawa mobil dengan kecepatan tinggi, kini pikiranya hanya ingin segera sampai ke rumah.
Ck
__ADS_1
15 menit kemudian si cantik pun tiba di depan gerbang rumah, ia turun dari mobil lalu melangkah gontai.
"Mba Airin... dari mana? Ini mobil siapa? Saya menunggu bahkan mencari anda, tapi anda sudah tidak ada di dalam toko ataupun sekitar sana,"
Pak satpam pun bertanya dengan segenap rasa khawatirnya, karena sejak tadi Alvian memarahi ia, bahkan semua caci maki Alvian lontarkan untuknya.
Airin tak menjawab, ia memilih untuk terus melangkah agar segera masuk ke dalam rumah.
"Rin, kau dari mana?"
Alvian yang sejak tadi khawatir karena sang istri tak bisa di hubungi, kini ia mampu bernafas lega, karena Airin sudah tiba di rumah.
"Al, aku takut,"
"Kenapa, ada Rin?"
Airin memeluk tubuh sang suami, sikap Airin yang tak biasa, membuat Alvian dan kedua orang tuanya merasa bingung.
"Ajak Airin duduk dan biarkan dia tenang dulu!" titah Tania pada anaknya.
Airin pun mendudukan tubuhnya di sofa dan di ikuti oleh sang suami.
"Minum dulu, Rin!"
Sesaat mereka memilih untuk diam sejenak, membiarkan Airin merasa lebih tenang.
"Mah, pah... Al,"
"Iya...,"
Ketiganya menatap Airin penasaran, sedangkan si cantik mulai menceritakan apa yang baru saja menimpanya.
"Aku hampir saja mati, karena salah masuk mobil dan ternyata mobil itu milik, Nino,"
"Haaaaah...! Nino?"
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa bahagia buat semua.