
❣Selamat Membaca❣
Rasa itu sungguh tidak bisa ia hindarkan, semakin ia mencoba untuk melupakan, semakin sakit perasaanya. Sisi terjebak di perasaan yang ia sendiri tak mau mewujudkan. Karena semakin ia mencintai, Sisi semakin sadar jika ia pernah melukai Arfi.
Ck...
Tadinya Sisi masih bisa tersenyum, tapi sedetik kemudian senyumnya mendadak sirna, saat ia mendapati Arfi di antarkan oleh Cia.
"Kak Sisi, ini!"
Arfi tak menyapa sama sekali, ia langsung masuk ke dalam sementara Cia memberikan sesuatu untuk Kakaknya.
"Apa ini?" Sisi mendadak gugup.
"Mobil yang aku bawa ini, hadiah untuk Kak Sisi."
"Maaf- hadiah apa ya?"
"Hadiah karena Kakak sudah menjadi orang paling baik dan perduli. Kak Sisi tidak boleh menolak!'
"Ta-tapi, mobil ini pasti mahal, kamu bisa di marah Mama dan Papa mu, karena menghabiskan uang mereka untuk membeli mobil ini." Sisi mendadak gemetar.
"Kakak tenang aja, ini aku beli pake uangku sendiri yang sudah ku tabung selama dua tahun lebih. Tadinya mau ku gunakan untuk pesta ulang tahunku yang ke dua puluh satu, tapi aku rasa, membahagiakan Kakak itu lebih utama."
Sisi tidak bisa berkata-kata, Cia terlalu sering memberikan kejutan untuknya. Dua tahun ini banyak yang Cia lakukan demi Sisi, bahkan saat Sisi sakit gadis itu akan rela menjaganya siang dan malam. Karena kebaikan Cia ini lah, Sisi semakin tidak tega jika harus merebut Arfi.
"Cia- Kakak rasa ini sangat berlebihan. Kakak malu menerimanya."
"Ambil saja Kak... beberapa minggu ke depan, aku akan fokus kuliah, jadi aku pasti akan sulit memiliki waktu untuk menjemput Kakak. Jika Kak Sisi punya mobil sendiri, Kakak tidak akan pusing lagi, harus minta jemput siapa saat datang hujan tiba-tiba."
Sisi sungguh terharu karenanya. Cia sendiri sangat tahu jika Kakak'nya ini alergi dengan air hujan dan juga debu. Jika terkena, dalam waktu sekejab asma yang Sisi derita pasti akan kambuh.
"Terima kasih, ya!"
"Sama-sama, aku pergi ya Kak,"
"Tapi, kamu pergi sama siapa jika mobilnya di tinggal. Kakak antar ya!"
"Nggak usah Kak, aku sudah pesan Taxi Online." dan benar saja tak lama kemudian, Taxi Online yang Cia pesan pun datang. "Dadah Kak Sisi," Cia melambaikan tangan sebelum pergi.
__ADS_1
Sementara itu Sisi sendiri masih terpaku dan membatu memandangi satu unit mobil yang tadi Cia beri. Ia tahu mobil ini sangat mahal harganya dan Sisi takut nantinya akan bermasalah. Tapi tak bisa di pungkiri ia bahagia sekali mendapatkan hadiah mobil ini dari Cia.
.
.
.
"Masih ngejer Mbak Cia, nggak? Atau udah nyerah?" Pak Suki kepo ia menatap Angga penuh tanya..
"Saya sih jalanin aja, Pak.. kalau jodoh nggak akan kemana." jawab Angga santai.
"Coba deh, kamu taklukin orang tuanya dulu!"
"Pak Suki udah gila ya, mana mau mereka angap saya calon menantu, bahkan seujung kuku pun, saya bukan tandingannya Pak Arfi."
"Ah kamu, terlalu merendahkan diri. Belum di coba tapi ciut nyali."
"Bukan gitu Pak... selama Pak Dana Papanya Cia memimpin kantor ini, dari sana saja saya tahu jika dia ilfil dengan orang-orang miskin."
Pak Suki hanya mampu menghela napas pelan dan tidak menjawab lagi perkataan Angga. Tanpa keduanya sadari ada Arfi yang diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka, dari sini Arfi paham jika Angga sudah menyimpan rasa untuk Cia sejak lama. Dan ia semakin gencar ingin mengkuliahkan Angga supaya anak itu menjadi orang yang sukses dan bisa memperkaya diri.
Perintah Arfi yang tiba-tiba membuat Angga terkejut, ia masuk ke dalam ruangan Pak Bos dengan banyaknya tanya memenuhi pikiran, pasalnya akhir-akhir ini Arfi sering meminta ia masuk ke dalam ruang kerja.
"Pilih, kamu mau kuliah dimana!" Arfi menyodorkan beberapa nama kampus kepada Angga.
"Ta-tapi Pak," mendadak Angga menjadi gugup.
"Mau jadi orang sukses nggak, jadi otaknya harus pinter dulu."
"Hm, tetangga di samping rumah saya, bisa jadi Penulis Novel Pak, padahal dia nggak kuliah."
"Artinya tetanggamu punya skil dan kemampuan. Lah kamu punya skil nggak?"
"Punya Pak,"
"Apa?" Arfi penasaran.
"Tegak selama berjam-jam tanpa lelah sedikit pun." jawab Angga yang spontan membuat Arfi memasamkan wajah.
__ADS_1
"Terserah kamu Ga, Ga... mau punya skil benerin genteng juga suka-suka kamu." entahlah Arfi seketika geli sendiri.
Angga pun terkekeh pelan karena sadar Pak Arfi kesal dengan jawabnya. "Dimana pun anda mau meng'Kuliahkan, saya oke- oke aja, Pak."
"Baiklah- sekarang kamu boleh keluar."
"Terima kasih Pak, semoga apapun kebaikan anda, akan di balas tujuh belas kali lipat oleh sang pencipta." setelah berucap demi kian, Angga langsung keluar, Arfi geli sendiri mendengarnya.
Sejujurnya sejak beberapa waktu lalu, Arfi sudah menyadari jika Angga menyimpan rasa untuk Cia sejak lama. Tapi ia tidak ingin terang-terangan mempersilahkan Angga mendekati gadis itu.
.
.
.
Sisi masih sibuk dengan pekerjaan, ia tidak sadar jika setiap hari Arfi diam-diam memperhatikanya lewat CCTV. Tapi semenit kemudian ia tersentak saat membaca Story WhatsApp dari Arfi.
(MENIKAH BUKAN HANYA SEKEDAR SALING MENCINTAI TAPI SALING MENDUKUNG DALAM KONDISI APAPUN. JANGAN HANYA MENGAMBIL KEPUTUSAN SEPIHAK BILA PADA AKHIRNYA AKAN SAMA-SAMA SALING MENYAKITI. NANTI JIKA TAKDIR MEMBUAT KITA BISA BERSAMA LAGI, MAKA BELAJARLAH DARI KESALAHAN MASA LALU)
Begitu yang Arfi tulis di story WA miliknya dan Sisi sadar jika itu di tujukan untuk ia. Jari Sisi sangat gatal ingin sekali mengetik kata MAAF tapi ia urung mengirimkanya. Arfi benar, bercarai bukan membuat mereka berdua menemukan kebahagiaan masing-masing tapi justru tenggelam dalam kegengsiang untuk rujuk kembali. Tapi menurut Sisi, ia bukanlah gengsi atau tak mengakui jika masih sangat mencintai Arfi, melainkan karena status sang mantan suami kini menjadi kekasih dari Adik angkatnya sendiri. Hingga akhirnya Sisi memilih untuk berpura-pura tidak mencintai lagi. Meski nyatanya Arfi tahu tanpa harus ia beri tahu.
"Sesulit itu ya, meminta MAAF atau mengetik kata MAAF haram dalam kamus hidupmu!" Arfi justru mengirim pesan lebih dulu. Spontan Sisi mendadak lemas membaca pesan tersebut.
Lagi-lagi ia hanya membacanya tanpa bisa membalas, Sisi bingung harus mengetik apa. Rasanya tidak ada ketikan yang pantas untuk menjawab pesan Arfi.
CK!
Merasa kesal atas sikap sang mantan istri, Arfi yang emosi langsung keluar dari ruangan dan menarik tangan Sisi secara sarkas
"Ikut ke ruangan, saya!" ucapnya kasar dan menarik paksa Sisi.
Sontak saja sikapnya membuat para karyawan keget bin terkejut. Banyak tanya memenuhi benak mereka semua. "Apa yang terjadi, kenapa Pak Arfi kasar sekali, kesalahan apa yang di lakukan Sisi?" setidaknya pertanyaan ini lah yang mereka pikirkan.
.
.
.
__ADS_1
B E R S A M B U N G