Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Cita-Cita Sisi


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


🐧Selamat Membaca🐧


"Bagaimana dok?"


Arfa yang panik langsung menghampiri seorang wanita manggunakan baju putih, keluar dari ruangan dimana Nayla berada.


"Perut istri anda, kram. Ini biasa dalam proses ke hamilan, tapi anda harus lebih berhati-hati lagi, dalam menjaga istri anda, sepertinya kandungan mbak Nayla dalam kondisi lemah,"


"Baik, dok,"


"Jangan terlalu sering pergi atau perjalanan jauh, karena hal itu memicu rasa sakit yang berlebih dan fatalnya, mbak Nayla bisa keguguran," tambah dokter itu lagi.


Arfa tersenyum, ia menela'ah semua ucapan si dokter baik-baik. Dan Nayla sendiri memang di izinkan untuk langsung pulang ke rumah.


"Nay, kamu nggak usah kuliah dulu ya!" Arfa berucap sepelan mungkin, ia pun menatap wajah Nayla dalam-dalam. Kini keduanya sudah berada dijalan untuk segera pulang.


"Pasti kerena kandunganku lemah ya, yank?"


"Iya, jadi kamu jangan terlalu lelah,"


"Baik, jika ini demi kabaikan bersama dan keselamatan anak kita. Aku berhenti sementara," ujar Nayla tulus.


Si tampan berdecak puas, karena Nayla menuruti laranganya, terlebih kondisi kandunguan Nayla memanglah lemah, maka ia di wajibkan untuk tidak terlalu lelah.


"Heeei... turunkan!"


Nayla terkejut, karena Arfa tiba-tiba menggendongnya, saat keduanya sudah tiba di rumah. Pria itu tak memperdulikan teriakan sang istri.


"Yank, turunin dong!" pintanya lirih.


"Apanya di turunin? Bajumu?" goda Arfa membalas.


"Ihhh, apaan sih,"


"Diamlah! Atau ku letakan kamu di gudang!'


Si cantik terdiam, ia tak mau lagi protes karena Arfa menggendongnya. Bukan karena ia tak suka, tapi Nayla takut jika suaminya lelah.


"Diam di sini! Aku buatkan kamu jus buah!" seru Arfa lalu melangkah pergi.


Nayla menarik sudur bibir, sikap Arfa benar-benar membuatnya geleng-geleng kepala.


"Definisi, suami cuek tapi sayang. Ya suamiku," omelnya dan segera merebahkan tubuh.


5 menit kemudian, si tampan pun tiba dengan segelas jus mangga di tanganya. Arfa memberikan jus buatanya untuk sang istri.


"Terima kasih, sayang," Nayla mengedipkan matanya.


"Gaa usah sok imut!"


Arfa keluar dari kamar dan memilih untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Meski ia tak pernah datang ke kantor sang papi, tapi setiap hari Alvian masih meminta anaknya untuk menyelesaikan pekerjaanya di rumah dan semua tanda tangan berkas kantor harus Arfa yang melakukanya. Sebagai pemilik perusahaan, Arfa tetap di buat sibuk meski tidak pernah mendatangi kantor secara langsung.


***


Di lain tempat, Sisi yang untuk pertama kalinya tidur di kamar mewah setelah 4 tahun ia tidur di kamar seadaanya. Hanya mampu membuang nafas pelan, ia teringat jika dulu selalu di manjakan oleh kedua orang tuanya, tapi dalam waktu sekejab, ia harus merasakan betapa kejamnya dunia. Dulu ia yang selalu di manja namun seketika harus hidup mandiri dan mencari uang sendiri, beruntung Sisi selalu bertemu orang baik setiap kali bekerja.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka dan hadirlah Arfa membawa sup hangat dan nasi putih di tanganya.


"Kak Arfi... kok bisa masuk? Kan kamarnya aku kunci?"


"Bisa dong. Kamar ini aku yang menyewa dan sudah pasti aku harus punya kunci yang lainya," jawab Arfi seraya meletakan sup dan nasi bawaanya di atas meja.


"Apa ini?" Sisi bersikap sok polos.

__ADS_1


"Batu goreng dan kerikil rebus. Makanlah selagi hangat," Arfi berdecak kesal.


"Ya... ya.. aku tahu ini sup. Heem, tapi... kenapa kakak baik sekali padaku?" tanyanya seraya mendekatkan wajah ke arah Arfi.


"Ihhhh, sini! Kalau tidak mau makan aku buang saja sup dan nasinya!"


"Iya.. iya... aku makan,"


"Makan cepat! Dan jangan banyak tanya!"


Dengan lahap Sisi menikmat sup bawaan Arfi, seraya sesekali melirik pria muda yang tengah sibuk memainkan ponselnya. Bukan itu saja, Arfi yang tau ia tengah di pandangi oleh Sisi seketika merasa gerogi.


"A_aku ke WC sebentar," ujarnya gugup.


Seketika Sisi mengerutkan wajahnya, karena ia sedang makan dan Arfi justru berpamitan untuk ke WC.


"Jorok banget sih, pasti mau Pup.. padahal, akukan sedang makan," grutu Sisi kesal, berkali-kali ia menghentakan sendok di mangkok makan yang barada di hadapanya.


Ssttt____


"Kamu sudah makanya?" tanya Arfi yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Belum," jawanya ketus.


"Lho... kok belum?"


"Gimana mau makan, kalau kakak saja masih di dalam saja!" Sisi menunjuk kamar mandi.


"Astaga, Sisi___ kamu kira aku sedang apa di saja? Otakmu jorok banget sih," kesal Arfi.


"Yaa terus kakak ngapain,"


"Itu urusanku. Jangan banyak tanya!" betaknya seketika.


Dan Sisi pun langsung gugup, belum lagi tatapan Arfi yang sangat tajam, bak singa yang siap mencakar-cakar mangsanya. Ia pun langsung menunduk dan kembali melanjutkan makan.


Tanpa mengucpkan sepatah kata lagi, Arfi langsung berlalu pergi dan meninggalkan kamar Sisi.


"Kak... mau kemana?"


"Pulang. Kenapa? Mau di temeni tidurnya?" jawabnya nyeleneh.


"Duuuh sial!"


Dengan cepat Sisi kembali masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kuat-kuat, ia membayangkan wajah nakal Arfi, jika memaksa tidur bersamanya malam ini.


"Ihhhhh serem___ dasar polisi sinting!!" grutunya lagi setelah itu langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Sementara Arfi keluar dari kamar Sisi dengan membawa senyum kecil, ia merasakan ada yang aneh pada dirinya, saat bertemu dengan gadis itu.


"Apaan, sih, Fi! Baru kenal 3 hari yang lalu masa sudah jatuh cinta," Arfi mengusap wajahnya sendiri dan berusaha menghilangkan bayangan Sisi dari dalam benaknya. Ia pun memilih untuk langsung pulang ke rumah.


***


Pagi tiba, Sisi sudah berada di sekolahnya. Hari ini ia piket kelas, itu sebabnya ia harus datang lebih awal.


"Huuuf,"


Sisi menyandarkan tubuhnya setelah semua urusan tentang kebersihan pagi ini selesai. Ia dan beberapa temanya yang bertugas piket kelas, memilih untuk istirahat di teras sekolah.


"Si, siapa yang anter kamu kemarin pagi?" tanya Lina seraya menatap Sisi penasaran.


"Ohh itu... namanya kak Arfi,"


"Arfi... nama yang cakep, secakep orangnya," puji Lina jujur.


"Masa iya?"

__ADS_1


"Iyalah.. mana gagah, ganteng terus seorang polisi. Duuuuh... sempurnanya,"


Sisi mengerutkan dahi, saat mendengar Lina memuji Arfi berkali-kali, ia bahkan merasakan jika tubuhnya kini tiba-tiba panas dingin.


"Ayo, Si___ masuk! Bu Jeni datang tuh!" Lina menarik tangan Sisi yang spontan langsung membuyarkan lamunanya.


Kini Sisi sudah berada di dalam kelas, gadis cantik itu menautkan kedua alisnya saat melihat guru yang mengajarnya kini. Bu Jeni adalah guru Bahasa Indonesia, yang sejak lama tidak di sukai oleh Sisi, karena bu Jeni sering membandingkanya dengan siswa siswi lainya.


"Oke anak-anak. 3 bulan lagi kalian semua kelulusan, jadi jika kalian lulus, cita-citanya mau jadi apa? Fadil ayo jawab!"


Bu Jeni menunjuk Fadil, siswa tampan dan berprestasi di sikolah ini, bahkan bu Jeni yang mamang belum menikah, sering sekali minta di antar pulang oleh siswa bernama Fadil tersebut.


"Aku mau jadi Polisi bu... biar nanti kalau ibu di jemberet penjahat, bisa tolongin ibu menangkap penjahat itu dan gratis tis tis, buat ibu tanpa di pungut biaya sedikit pun," jelas Fadil bersemangat.


"Yaaa ampun Fadil, ibu jadi tersanjung," bu Jeni tersenyum bahagia. "Oke, sekarang kamu Dendi, cita-citamu mau jadi apa?"


Bu Jeni menunjuk Dendi, pembasket tampan yang juga di kagumi banyak siswi sekolah ini.


"Aku mau jadi dokter, kalau nanti Fadil gagal menangkap penjambretnya dan ibu terluka, biar aku yang sembuhkan ibu dan gratis juga tanpa biaya,"


"Uuuuh Dendi, kamu baik sekali," si ibu Jeni ini sampai menghentakan kaki kelantai karena terlalu bahagia.


Hal itu membuat Sisi memanyunkan bibirnya, ia semakin tidak suka kepada guru satu ini.


"Sisi, kamu kenapa? Kok wajahnya di tekuk? Gak suka ya, melihat ibu bahagia?"


"Suka bu," jawabnya terpaksa.


"Dasar munafik!" cerca bu Jeni spontan dan membuat Sisi kian kesal. "Okee... kalau begitu, apa cita-citamu nanti?" kini bu Jeni menunjuk wajah Sisi.


"Mau jadi tukang gali kubur buk, biar bisa kasih ibu kuburan gratis tis tis, jika Fadil dan Dendi tidak bisa menolong ibu, akhirnya ibu meninggal,"


"Haaaaah! Kurang ajar... keluar kamu!" usir bu Jeni penuh benci.


Saking kesalnya ia menjawab kasar... yang tentu, membuat bu Jeni semakin emosi padanya. Ini bukan kali pertama, Sisi keluar kelas jika bu Jeni yang mengajar.


"Dasar guru genit! Kapan sih di pecatnya," omel Sisi kesal, ia menendang-nendang batu yang ada di halaman sekolah.


"Hahahaha____!"


Seorang laki-laki tertawa datar, ia pun mendekati keberadaan Sisi.


"Kalau semua Siswa dan Siswi di sekolah ini seberani kamu, sudah pasti di jamin cepat hancur," ucap Arfi yang sedari tadi sudah ada di sekolah.


"Kaak Arfi, kok ada di sini?"


"Sengaja, karena mau mengantarkan ini untukmu!"


"Apa ini?"


"Makan siang. Kakak tau kamu tidak punya uang, jadi kakak beli nasi goreng untukmu,"


"Ihh baik banget sih. Tapi masa menghina aku tidak punya uang,"


"Bukan menghina, tapi kenyataan. Daahh kakak pergi ya, baik-baik kamu di sekolah!"


"Siap komandan," jawab Sisi bersemangat.


Si cantik pun memandangi langkah Arfi yang menjauh darinya. Ia berdecak bahagia karena polisi menyebalkan itu nyatanya sangat perhatian. Sudah sekian lama ia di tinggal kedua orang tuanya, ini kali pertama Sisi di beri bekal saat sekolah.


.


.


.


.

__ADS_1


ā¤TERIMA KASIH KAKAK-KAKAK BAIKā¤


__ADS_2