
🌸S e l am a t ~ M e m b a c a🌸
Panik!
Tak mau buang waktu, tanpa berpikir lagi, Arfi langsung berjalan menerobos rombongan banyak orang, yang berkumpul untuk menolong siapa yang kecelakaan.
"Pak Arfi......!!" teriak seseorang dari lantai 7 apartemen.
Teriakan tersebut menghentikan langkah Arfi, untuk mendekati siapa yang menjadi korban kecelakaan. Ia langsung mendongak ke atas untuk melihat siapa yang memanggil namanya.
"Ada apa?"
"Istri anda pingsan!!"
"Haaaah?'
Antara lega dan panik, Arfi langsung berlari sekencang mungkin. Tubuhnya sampai jatuh bangun tapi ia tak perduli, menerabas apa saja yang menghalangi dan membuat banyak orang menatap Arfi penasaran.
"Sisi...!!
Pekiknya saat mendapati tubuh sang istri tergeletak di lantai.
"Kenapa anda tak mengangkat tubuh istriku dan memindahkanya ke kursi?" tanya Arfi pada seorang satpam yang berdiri di depan pintu.
"Maaf pak! Saya tidak berani,"
Satpam tersebut menjelaskan hal yang membuat ia tak berani mengangkat tubuh Sisi. Takut jika ada hal buruk yang terjadi dan ia pasti akan menjadi yang tertuduh.
"Lantas, darimana kamu tahu, jika istriku pingsan?"
"Sebelumnya mbak Sisi meminta saya membelikan makanan. Tapi saat saya akan mengantarkan, kondisi istri anda sudah seperti ini." jelas satpam itu lagi.
Dan... Arfi pun meminta satpam apartemen untuk membantunya membawa Sisi ke rumah sakit, sepanjang jalan Arfi hanya tertunduk sedih seraya menggenggam erat tangan sang istri.
"Maaf pak! Silahkan tunggu di luar dulu, biar kami periksa adik anda."
"An... jing. Kenapa semua orang mengira Sisi itu adikku!" umpatnya kasar, seraya menendang tembok dan membuat banyak pasang mata menatap nanar ke arahnya.
Arfi tertunduk lesu, mendudukan tubuhnya dikursi seraya bersandar, untuk menunggu dokter keluar dan memberi kabar jika istrinya pasti baik-baik saja.
"Arfi..., sayang, apa yang terjadi?"
"Mami... papi?"
Ya... kini ada si mami dan sang papi menemani Arfi, kedua orang taunya tau jika Sisi masuk rumah sakit dari satpam apartemen.
***
Satu jam penanganan, dokter bersama para jajaranya, baru keluar dari ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Dan tanpa pikir lagi Arfi langsung berlari untuk menanyakan keadaan Sisi.
__ADS_1
"Istri anda sepertinya syok dan mengakibatkan jantungnya menjadi lemah dan asma yang ia derita kambuh. Pasti ada pemicu yang membuat istri anda seperti ini?"
Arfi diam sejenak, karena ia belum bisa memastikan, penyebab Sisi syok.
"Lantas, bagaimana keadaan istri saya?"
"Mudah-mudahan, sebentar lagi istri anda sadar."
"Oke.. terima kasih."
"Hemmm... saya kira, yang di dalam itu, adik anda. Rupanya istri ya?"
"IYA. Mangkanya jangan sok tahu!"
"Maaf.. maaf!"
Dokter itu tersenyum simpul, setelah itu berlalu dari hadapan Arfi dan kedua orang tuanya.
"Duduk dulu, setelah itu masuk kedalam!" pinta si papi menenangkan anaknya.
Arfi mengangguk, ia duduk lalu mengacak-acak rambutnya sendiri. Sementara si mami dan papi hanya bisa memberi semangat untuk anaknya.
"Pak Arfi... mari masuk! Istri anda sudah sadar." seru salah satu perawat.
Tanpa menjawab, Arfi langsung melangkah cepat. Setelah masuk kedalam ruangan, ia menatap Sisi penuh arti dan istrinya itu menatapnya juga.
"Hai....!" Sisi menyapanya lebih dulu.
Arfi mendudukan tubuhnya di samping sang istri, ia meraih tangan Sisi lalu meng*cup lembut, ada rasa bersalah memenuhi perasaanya.
"Kakak kenapa?"
"Kamu yang kenapa, Sisi?"
"Gapapa tuh."
"Gak apa-apa gimana?" Arfi mencubit pipi istrinya.
Sisi tersenyum simpul, ia menceritakan apa yang dilihatnya sampai membuatnya jatuh pingsan. "Aku panik kak, dan juga terkejut. Maaf! Kalau membuat kakak khawatir."
"Kenapa maaf? Kakak yang minta maaf, karena tudak bisa menjagamu,"
Keduanya saling menatap, berbicara dari hati ke hati dan tersenyum penuh arti. Arfi akan meminta Sisi untuk terus ikut ke kantor bersamanya dan tak akan membiarkan sang istri sendirian lagi.
"Kakak akan rombak, satu ruangan menjadi tempat istirahatmu yang nyaman. Nanti kakak kasih tempat tidur dan semua perlengkapan yang Sisi butuh!"
"Haduh.... haduh... haduh. Berasa jadi Putri Salju nih aku. Hahahahahaha!" tawa Sisi menggema sampai lupa jika ia sedang di infus tangan kirinya. "Aaw sakif," decaknya seraya perlahan menghentikan tawa.
"Dosa tu ke suaminya. Kakak bicara baik-baik, tapi justru di tertawakan."
__ADS_1
"Maaf kakak! Tapi gimana ya... aku kan lucu aja gitu, ada kamar istrirahat di kantor hanya untuk aku. Kakak baik banget deh!"
"Hitung-hitung bayar hutang, selama 5 bulan kemarin buat kamu menderita."
"Ohh iya... bayar sampai lunas ya! Aku mau minta belikan pesawat, rumah 7 tingkat beserta kolam berenang dan taman bunga yang indah. Satu lagi, belikan aku mobil yang rodanya ada sebelas!!" pinta Sisi bercanda tapi berhasil membuat suaminya memasamkan wajah.
"Bunuh aja kakak, Si! Daripada pusing memikirkan permintaamu, semua yang kamu mau, bisa saja kakak wujudkan, kecuali mobil roda sebelas!"
"Bhahahahahahahaha..!" Sisi tertawa lagi. Ia menatap lekat wajah Arfi yang tampak kebingungan. "Bercanda kak, aku gak serius minta semua itu. Yang penting kakak sayang ke Sisi dan memberi tempat yang nyaman, gak perlu besar, asal kakak dan aku bahagia didalamnya." ujarnya serius.
Arfi bernapas lega, namun didalam hati ia berniat akan mewujudkan semua yang Sisi ucap tadi. Tatap kecuali mobil roda sebelas.
***
Setelah di rasa sudah baik-baii saja, dan kandungan Sisi pun di jamin aman. Dokter mengizinkan ia pulang, hal itu di sambut bahagia oleh Arfi dan kedua orang tuanya.
"Kamu mau makan apa? Nanti mami belikan ya!'
"Aku mau kentang rebus dan tumis kangkung saja, mi!"
"Ayam goreng, mau tidak?"
Sisi menggeleng cepat, ia menyandarkan tubuh di tempat tidur. Semenjak hamil, ia memang tidak suka makan ayam, ikan dan semua hal yang berbau amis, kecuali sedang khilaf.
"Sisi... apa mau papi carikan teman, untuk menjaga kamu saat sendiri?" kini si papi yang bertanya.
"Tidak mau, pi!" tolaknya lembut.
Sisi memilih untuk ikut Arfi ke kantor. Selain ia tak bisa cepat mengenal orang baru, Sisi juga lebih aman jika bersama sang suami.
"Ayo makan!"
15 menit kemudian, makanan yang Sisi mau pun datang, kentang dan kangkung tumis. Sementara Arfi bergidik ngeri saat melihat sayuran yang kini ada di hadapan sang istri.
"Kakak gak suka kangkung? Ini sayuran paling populer di Indonesia."
"Sisi, dari jaman dahulu kaka... suamimu memang tidak suka sayuran. Bukan tidak mau makan kangkung saja." jelas si mami seraya menyiapkan air minum untuk menantunya.
"Begitu ya.' sahutnya pelan.
Seketika, air mata tumpah membasahi wajah. Sisi tak pernah menyangka.. akan merasakan bahagia seperti saat ini. Dimana kedua orang tua suaminya, selalu memperhatikan ia sebaik mungkin. Padahal, jika ia menonton Drama apapun, yang namanya mertua pasti kebanyakan tidak perduli. Tapi kenyataanya tidak, si papi dan sang mami, memperlakukan Sisi seperti anaknya sendiri.
.
.
.
.
__ADS_1
T e r i m a ~ K a s i h