Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Ikut ke Kantor


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Sesampainya di apartemen, Sisi langsung mengobati luka dikening Arfi, dengan pelan dan sangat hati-hati ia membersihkan darah lalu memberi obat merah.


"Mandilah!" seru Arfi pada sang istri yang akhir-akhir ini jarang mandi dan merawat tubuh.


Sisi mengangguk, ia membersihkan tubuh dengan menggunakan air hangat. Didalam sana, ia terngiang-ngiang ucapan wanita di Club Malam tadi yang mengatakan jika ia harus pandai melayani suami, agar tak mencari wanita lain.


"Memangnya, aku harus apa? Haruskah tak menggunakan busana didepan kak Arfi?" pikir Sisi polos. Karena sungguh ia belum tahu, harus bersikap bagaimana, untuk melayani sang suami


Dan 15 menit kemudian ia keluar dari kamar mandi. Sisi menoleh kearah sang suami duduk tadi namun tak mendapati Arfi disana.


"Hemm...!"


Sisi pun melenggang santai, lalu menuju lemari pakaian. Karena merasa aman ia dengan leluasa melepas handuk yang menutupi tubuh, tanpa ia sadari sudah ada Arfi dibelakangnya.


"Ehem...!"


"Astaga kakak!" Sisi terkejut, dan berusaha meraih handuknya lagi. Tapi Arfi menghalanginya.


"Jadilah wanitaku malam ini!" pintanya dengan senyum penuh arti


Sisi mengangguk, meski ia merasa gemetar luar biasa. Arfi menarik tangan si cantik lalu merebahkan tubuh sang istri ke atas ranjang. Dengan cepat Arfi meng*cup bibir merah melilik Sisi, tanganya mecengkram erat ruas tangan sang istri tanpa Arfi tahu, sebenarnya Sisi merintih kesakitan.


Ck...


Dengan gemas, tangan Arfi bermain aman membelai tubuh sang istri. Meninggalkan banyak bekas memerah, mencengkram tubuh sang istri kuat-kuat, lalu beraksi membuat Sisi lemas dan akhirnya tertidur.


Sssttt.. Bruuuk!


Perlahan si tampan pun menjatuhkan tubuhnya juga, lalu tertidur mendekap erat tubuh sang istri. Sampai pagi keduanya tidur saling berpelukan dan berbagi kehangatan, Sisi berharap ia akan segera hamil.


***


Pagi pun menyapa, Arfi lebih dulu membuka mata, sementara Sisi masih terlelap.


"Si- bangun!" bisiknya pelan.


Si cantik perlahan membuka mata dan ia baru sadar, jika sepanjang malam tertidur tanpa sehelai kain pun.


"Kakak tidak memfoto tubuhku'kan?" Sisi menelisik.


"Tidak. Buat apa aku memfoto tubuhmu?"


"Kan... kakak suka mengancam. Dan akan menyebarkan foto jika aku kabur."


Hem... hanya itu yang keluar dari bibir Arfi, ia langsung menarik tangan sang istri dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.


"Hei... kakak mau apa?"


"Memandikanmu."


"Aku bisa mandi sendiri, tolong berhentilah!"


Arfi tidak perduli, ia mendudukan tubuh Sisi lalu memandikan istrinya dengan sangat hati-hati.


"Basah.. basah...!" teriak si cantik lalu membalas untuk menyiram tubuh Arfi.


Keduanya saling siram menyiram, bertingkah seperti anak-anak. Saling membalas dan berbalas, tanpa Sisi dan Arfi sadari, inilah pagi pertama, keduanya benar-benar akur dan bisa tertawa lepas setelah menikah.

__ADS_1


Ck....


Sisi hampir terpeleset, beruntung Arfi langsung menangkap tubuh mungil si cantik. Keduanya saling berpadang dan saling menatap layaknya keromantisan pasangan di Drama Korea.


"Ma-maaf!" ucap Sisi gugup ia langsung kembali berdiri tegak dan segera meraih handuk.


Si cantik keluar dari kamar mandi dan secepat kilat memakai baju untuk menutup tubuhnya. Arfi tersenyum puas kala keluar dengan mengacak-acak rambut hitam miliknya, lalu mengibas pelan. Seperti itu... Arfi terlihat semakin tampan.


"Kenapa memandangiku seperti itu?"


"Ti-tidak."


Sisi yang tampak gugup, membuat si tampan merasa semakin gemas. Pagi ini ia mengajak sang istri sarapan berdua diluar dan meminta Sisi untuk ikut bersamanya ke kantor.


"Kesalon dulu ya!"


"Kenapa? Kakak malu dengan penampilanku?"


"Bukan begitu. Kamu istri Direktur Utama, harus tampil berbeda dong!" Arfi berkilah.


Karena, ia hanya mampu menggeleng pelan, sebab Sisi hanya menggunakan baju kaos dan celana pendek. Sementara Arfi akan mengajak sang istri ke kantor.


Ck...


30 menit berada di salon. Kini Sisi sudah siap, ia tampil sangat berbeda, bak wanita karir yang sukses.


"Hem... bagaimana?"


"Biasa saja." jawab Arfi seakan malu memuji, karena nyatanya Sisi memang sangat cantik pagi ini.


Pria tampan yang kini banting stir, dari polisi menjadi pengusaha dan berkerja bukan dibidangnya selama ini, seolah sangat mampu karena sampai detik ini, Arfi bisa menyelesaikan urusan perkantoran dengan baik.


"Ayo...!!" ajaknya.


Wuussh!


Kini keduanya sudah tiba di perusahaan. Arfi berjalan lebih dulu masuk ke dalam, sedangkan Sisi masih sibuk membenarkan bajunya yang terasa sangat ketat.


Ssstt


Si cantik turun dari mobil dan beberapa orang yang berada didepan kantor, seolah terpana akan pesona Sisi.


"Siapa itu?"


"Gak tahu.."


"Adik pak Arfi kali. Cantik banget ya?"


"Iya... astaga! Pak Arfi tidak pernah memberi tahu, jika memiliki adik secantik itu,"


"Ya ampun... imut sekali."


Ada dua pria yang berdiri didepan pintu kantor, mereka bersama beberapa satpam yang juga ada didepan, terkagum-kagum melihat kecantikan Sisi, dan bodohnya mereka menebak jika wanita itu adik dari atasanya.


"Permisi... permisi...!!"


Sisi melenggang sopan, serya menundukan kepala berkali-kali, memberi hormat beberapa orang yang tengah memandanginya dan pasti usia mereka lebih tua darinya.


"Siapa?" tanya beberapa karyawan wanita yang juga penasaran, sebab si cantik langsung melangkah masuk kedalam ruang kerja Arfi.

__ADS_1


"Adik pak Arfï," jawab pak satpam.


"Ohh.........!!' mereka berdecak panjang. "Pantes, cantik sekali." kagum beberapa karyawan wanita.


Sisi yang sudah berada didalam ruang kerja Arfi, mengungkapkan rasa tak nyaman yang ia rasa, saat banyak orang yang memperhatikanya tadi.


"Meraka pasti terpesona. Karena kamu sangat cantik."


"Masa sih?" Sisi tak percaya


"Terserah."


"Terus. Aku ngapain disini?"


"Sudah... duduk saja! Temani aku bekerja."


"Oke...!!"


Sisi merasa sedikit canggung berada di kantor sang suami, berkali-kali ia hanya membuang napas panjang, karena pergerakanya merasa terbatasi.


"Kalau mau keluar dan lihat-lihat pemandangan kantor. Silahkah! Nanti kakak susul kamu, setełah berkas-berkas ini sudah ditanda tangani semua."


Sisi mengangguk cepat, ia langsung keluar dan menepis rasa canggungnya untuk berjalan dengan menyusuri seluruh sudut ruangan. Si cantik tahu jika ia tengah menjadi pusat perhatian.


"Hai.. salam kenal! Namaku Fery." seorang pria tampan, bertubuh tinggi mengikuti Sisi dan mengajak berkenalan.


"H-hai... namaku Sisi, salam kenal juga!" sambutnya ramah meski gugup luar biasa.


Setelah beberapa saat keduanya telihat cepat akrab, duduk disofa seraya menikmati segelas teh dingin. Tanpa Sisi sadari ada Arfi yang memandangi keduanya seraya mengepal jari jemari.


"Ehem...!"


"Pak Arfi," Fery tersenyum.


"Hebat kamu ya. Orang sibuk bekerja kamu justru berduaan disini."


"Ma-maaf pak, baiklah saya kembali bekerja."


Fery tersenyum kearah Sisi, bahkan sebelumnya ia menyempatkan membelai rambut si cantik, hal itu tentu saja, memancing amarah Arfi.


"Kak... ini tak seperti yang kakak pikirkan. Aku dan dia baru saja berkenalan." jelasnya jujur namun tetap gugup.


Tapi Arfi tetaplah Arfi, jika emosi penjelasan apapun tak akan diterimanya. Ia menarik tangan si cantik lalu mencengkram erat, seketika pria itu mendaratkan k*cupan kasar di bibir merah milik Sisi.


Ck...


Sisi langsung mendorong tubuh sang suami, entah mengapa ia merasa ji jik saat Arfi mendaratkan kec*pan di bibirnya. Si cantik terbayang saat suaminya melahap penuh n^fsu, bibir wanita yang ada di Club Malam.


"Hei... kamu mau kemana."


"Pulang."


Sisi melangkah tergesa-gesa, menjauhi Arfi dan keluar dari kantor. Sikapnya membuat Arfi semakin marah.


.


.


.

__ADS_1


.


TERIMA KASIH


__ADS_2