
🌹Selamat Membaca🌹
Cia berkata, jika ia hanya kuliah satu jam saja. Sebab dari itu, Arfi memilih untuk menunggu, ia menghabiskan waktu bermain ponsel di dalam mobil seraya berkomunikasi dengan Sisi untuk menanyakan kondisi kantor.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Sisi setelah membicarakan urusan pekerjaan selesai.
"Iya, aku baik." jawab Arfi singkat.
"Emmm, syukurlah, semoga selalu baik dan bahagia, ya!"
"Aamiin." lagi Arfi membalas sesingkat mungkin.
Sisi sendiri merasa aneh, biasanya Arfi sangat sensitif dan bertanya banyak hal. Tapi hari ini, jangankan bertanya, membalas pesan singkat Sisi saja Arfi terkesan enggan.
Jujur, marasa di abaikan oleh Arfi membuat moodnya hancur. Tapi kembali lagi, Sisi harus sadar diri prihal statusnya yang bukan siapa-siapa.
.
.
Arfi menghela napas berat, ia memejamkan mata sejenak, untuk membayangkan wajah Sisi saat ini. "Apakah dia kecewa? Apakan Sisi saat ini sedang bingung karena sikapku?" ia bermonolog sendiri, sebab Arfi sadar jika ia memang berusaha merubah sikap dan caranya.
Kejadian tadi malam, membuat Arfi harus mengutamakan Cia, karena secara logika mungkin saja, nanti Cia akan mengandung anaknya. Bagaimana pun, Cia memang istri SAH.
"Kak Arfi masih di sini?" senyum Cia mengembang saat menatap wajah sang suami.
"Iya... sengaja, saya tunggu kamu pulang."
"Haah, demi apa? Aku nggak mimpi kan? Tumben banget?"
"Udah lah, nggak usah lebay, ayo masuk mobil!"
Dengan semangat Cia melangkah lalu masuk ke dalam mobil. Ia akan mengabadikan jika hari ini adalah hari paling membahagiakan setelah ia menjadi istri Arfi.
"Kamu mau kemana hari ini? Saya antar dan akan saya temani."
"Serius?"
"Iya. Saya sedang mode baik hari ini."
"Hehehe, aku berdoa, Kak Arfi akan menggunakan mode baik selamanya. Aamiin!" Cia memejamkan mata dan bertingkah seakan dia benar-benar berdoa.
Ya, hari ini... kemana pun yang Cia mau semua Arfi turuti. Gadis ini tetap ceria seperti biasanya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Padahal dari beberapa memar yang tampak di tubuh istrinya itu, menggambarkan betapa kasarnya ia tadi malam.
__ADS_1
"Duduk di sini dulu!" ajak Arfi kepada sang istri. Kini keduanya duduk di sebuah taman yang sore ini tampak sangat ramai.
"Aku mau es krim," rengek Cia lagi.
"Beli lah," dengan sabar ia terus menuruti kemauan Cia. Dima-diam ia memperhatikan si kecil ini, Cia memang cantik, wajar jika Angga tergila-gila. Tapi ia belum juga bisa jatuh cinta.
"Kak Arfi mau?" Cia menawarkan es krim coklat yang baru saja ia beli.
Arfi menggeleng cepat. "Cia, apa teman-teman di kampusmu tidak bertanya? Prihal memar yang ada di bagian wajahmu?" Arfi malah bertanya.
"Tanya." jawab Cia sembari terus menikmati es krim di tangannya.
"Tarus."
"Ya aku jawab, kalau kemarin abis jatuh dari tangga. Mereka langsung bersyukur karena aku nggak geger otak." Cia bercerita seakan tanpa beban, lagi ia terus menikmati betapa lezatnya es krim tadi.
Arfi langsung tertunduk, ia benar-benar tak menyangka jika Cia menganggap, apa yang terjadi semalam bukanlah masalah besar.
"Kak Arfi kenapa?"
Arfi kembali menggeleng. "Maafkan saya, karena semalam sudah berbuat kasar!"
"Gak masalah, selagi yang lakuin masih suamiku. Percayalah, perjalanan hidupku lebih keras dan lebih kasar dari apa yang anda lakukan semalam!"
Demi apapun Arfi tak bisa berkata-kata, ia memilih diam seraya menahan sedih yang semakin dalam.
"Aku pernah di kurung di dalam WC yang gelap semalaman, aku juga pernah tidak makan. Papa dan Mama sudah membentuk mental ku sekuat-kuatnya. Jujur, semalam aku ketakutan, karena anda melakukanya sangat kasar, tapi setelah pagi datang. Ya sudah, marah juga percuma, toh aku tetap tidak akan kembali perawan lagi!"
Ini kali pertama, tetes demi tetes membasahi wajah tampan Arfi. Ia pun duduk di hadapan sang istri dan mencium punggung tangan Cia berkali-kali. "Saya bersumpah, mulai hari ini saya tidak akan menyakitimu lagi!"
Entah kenapa, Cia bergidik ngeri mendengar perkataan Arfi baru saja. Tapi jujur, Cia sangat bahagia dan untuk kali pertama, ia berani membelai lembut kepala sang suami. Karena selama ini Cia tak berani melakukanya.
~
Sejak hari itu, Cia selalu di utamakan oleh Arfi dan mereka juga hidup layaknya suami dan istri yang seharusnya. Melewati sepanjang malam dengan saling menghangatkan, makan malam bersama dan menyempatkan untuk sarapan di rumah.
.
.
Ssstt..
Pagi ini Cia ikut ke kantor dulu sebelum berangkat ke kampus. Ia di sapa karyawan dengan ramah dan ia juga balik menyapa mereka.
__ADS_1
"Selamat pagi Bu Cia, maaf ini milik anda bukan?"
Cia terkekeh pelan, kala Angga memanggilnya dengan sebutan 'BU'. Secepat mungkin ia meraih kalung liontin yang berada di tangan Angga. "Terima kasih ya!"
Cia segera melangkah lalu mendekati Sisi. Beberapa minggu ini sang Kakak seperti sengaja menjauh darinya. Cia merasa jika Sisi berubah tak sedekat dulu lagi denganya, tapi ia coba menepis pikiran buruknya ini, mungkin ia salah perasaan saja.
"Ini punya Kak!" Cia menyerahkan kalung liontin yang Angga temukan di halaman kantor.
"Hah," Sisi segera memeriksa tasnya dan benar, liontin miliknya memang tidak ada di dalam sana.
"Sengaja di buang ya Kak?"
Sisi tak menyangka jika Cia akan berkata demi kian.
"Nggak, aku tak sengaja menjatuhkannya."
"Kalau aku sih setiap waktu ku pakai.'
Cia benar ia selalu memakai kalung liontin persahabatan antara ia dan Sisi. Kalung yang Cia beli dengan uangnya sendiri.
"Maaf! Tapi Kakak sungguh tak sengaja menjatuhkannya!" Sisi berkata tulus.
"Menurut Kakak, kenapa aku jadi mikir kalau Kakak sengaja buang liontin ini?'
Sisi menggeleng meski sebenarnya ia tahu.
"Aku merasa, kalau kita sekarang kayak orang asing yang belum lama kenal. Kakak nggak pernah hubungi aku lagi, nggak pernah mau kalau di ajak ketemu dan jalan-jalan. Kenapa?"
Pertanyaan Cia membuat lidah Sisi mendadak kelu. Sejujurnya ia bukan tak ingin bersahabat lagi, bukan pula tak menyayangi Cia lagi, hanya saja ia memang sengaja menjauh demi menjaga perasaan. Baik perasaanya yang selalu cemburu setiap kali Cia berada di samping Arfi, atau pun perasaan Arfi sendiri yang Sisi takuti akan mengkhianati Cia.
"Beberapa minggu ini, Kakak sibuk, ada banyak hal yang harus ku selesaikan. Maaf ya, aku bukan sengaja menjauhi kamu!"
Cia sebenarnya mau saja percaya, tapi entah mengapa hatinya tak menerima. Perasaanya berkata jika memang ada hal yang sengaja di sembunyikan oleh Kakaknya.
Sejak Arfi mulai memperhatikannya, sejak Arfi mulai menjadikan Cia istri yang sesungguhnya. Sejak itulah Cia merasa, Sisi berubah. Pada akhirnya ia kembali mengingat prihal panggilan telepon yang Arfi lakukan ke no ponsel milik Sisi beberapa waktu lalu. Cia lupa jika ia pernah merencanakan misi untuk menyelidiki.
.
.
.
B E R S A M B U N G
__ADS_1