
Pada nebak, yang ngirim paket ayah kandungnya Airin kan... Hayo kita main tebak-tebakan, kira-kira bener apa kagak😭 Karena, beberapa kali, akak-akak semua, tepat lho nebaknya😅❤💪.
🕊Selamat Membaca🕊
Sebelumnya Airin terbayang rasa amat sangat frustasi, perihal kejadian kemarin di tempat kantor. Ocehan dari Amira yang menganggap ia anak haram, sungguh membuatnya geram.
"Sial.. kenapa aku harus mengingat lagi," grutunya kesal lalu menepuk pelan stir mobil miliknya.
Pagi ini, Airin pergi ke kantor, sedikit terlambat, karena ada hal yang harus ia lakukan. Belum lagi ia harus menemani si mama mertua ke pasar dulu, hingga akhirnya ia kekantor dengan terburu-buru.
"Mentang-mentang, bini bos... ke kantornya, tengah hari baru datang," umpat salah satu karyawan berbisik di telinga karyawan lainya.
Airin tersenyum sinis mendengar, celotehan tersebut, meski pelan ia mendengarnya dengan sangat jelas.
"Kamu ngatain aku, siap-siap di pecat!" ancamnya dan segera berlalu.
"Ehh, Rin.. Rin...!!" panggilnya dengan mengerjar langkah si cantik, namun Airin tak memperdulikanya.
Braaaak!
Airin menutup pintu ruangan kerja dengan sekuat tenaga, yang tentu saja membuat banyak karyawan terkejut luar biasa.
"Hei, Rin... kenapa?"
"Karyawanmu, mulutnya tajam-tajam," adunya pada sang suami.
"Yang mana, siapa? Kasih tau, biar ku tegur!"
"Ga perlu, karena tadi sudah ku ancam," ujarnya.
Alvian menautkan kedua alisnya, saat melihat sang istri menekuk wajah. Sungguh sikap Airin begitu membuat Alvian sedikit gemas.
"Rin. Sini!" panggilnya.
"Ada apa?" Airin penasaran.
"Ada sesuatu di wajahmu,"
"Eh, benarkah?"
Tak punya pikiran apapun, si cantik segera melangkah mendekati sang suami.
"Ada apa sih?"
Airin menggeleng heran, sebab wajah Alvian justru mendekati wajahnya. Yang spontan membuat Airin tersenyum nakal.
Haap!
Belum Alvian mencium, Airin sudah menciumnya lebih dulu, hingga Alvian pun tersenyum malu.
"Aduh, Rin! Kamu tau aja," ucapnya seraya menyentuh bibirnya sendiri, karena baru saja di beri hadiah dadakan oleh sang istri.
"Heleh, gitu aja bahagia. Mau yang lebih dari itu gak?"
"Haaah... kamu serius?"
"Memangnya kamu, mau apa?"
"Lah.. kan tadi kamu yang bilang, mau kasih yang lebih dari tadi," Alvian menegaskan.
"Nanti aja ah, kalau sudah di rumah," Airin berbisik di telinga Alvian.
"Ihhh,"
Alvian berdecak kesal, seraya menatap langkah kaki sang istri yang keluar dari ruanganya. Pria muda itu tersenyum sebab meski kondisi hati tak baik-baik saja, Airin selalu bisa membuatnya tertawa bahagia.
Airin melangkah pelan, melawati banyak pasang mata yang tengah memperhatikan dirinya.
"Apa liat-liat!" cetus Airin pada karyawan yang tadi mengumpatkanya.
"Ti_tidak," jawabnya gugup.
__ADS_1
Airin membuang muka, ia benar-benar terlihat seperti orang sombong hari ini, hal itu tentu membuat Alvian tertawa geli, sebab memperhatikan tingkah sang istri dari layar CCTV yang ada di dalam ruang kerjanya.
"Rin. Rin... ada-ada saja sih," ucapnya seraya menggeleng pelan.
***
Airin memiliki tugas untuk mengurus perusahaanya sendiri. Perusahaan yang Alvian beli dari Wijaya Bratayuda, pria yang selama ini, Airin anggap sebagai seorang ayah.
"Bu, ada paket,"
Seorang satpam memberikan sebuah kotak dan kali ini berukuran kecil.
Airin segera meraih seraya berdecak lirih, ia sebenarnya bingung, siapa yang selalu mengirim hadiah untuknya, dan gilanya.. kali ini Airin mendapatkan, cicin dan kalung berlian, tidak besar memang tapi Airin tahu, benda itu pasti mahal harganya.
"Kaya nih, kalau di kasih beginian, setiap hari," ucapnya pelan seraya melangkah untuk masuk ke dalam kantor miliknya.
Sssttt...
Si cantik menghela nafas kasar, sebab lagi-lagi ia menemukan surat dalam kotak hadiah itu.
"MAAF"
Ya.. hanya itu saja yang tertulis di sana, tentu saja, membuat Airin semakin bingung.
"Rin,"
Seseorang memanggil si cantik, dan ternyata Rio yang kini berada di hadapanya.
"Ada apa?"
"Gak, aku hanya melaporkan kinerja beberapa karyawan hari ini," jelas Rio.
Benar saja, sebab meski Airin dan Rio di landa peperangan batin, namun Airin tetap mengizinkan Rio bekerja di perusahaan miliknya, yang tentu saja atas persetujuan Alvian.
"Oke... terima kasih," ucapnya tanpa menatap wajah Rio sedikit pun. "Oh iya, satu hal lagi.. tolong jangan pernah suruh adikmu itu datang kesini, karena aku tak suka melihat wajahnya!!" seru Airin pula.
"Ba_baik," gugup Rio seketika.
"Aku sudah mentransfer sejumlah uang ke ATM'mu... gunakan uang itu untuk membahagiakan mamaku! Setiap bulan aku akan tetap memberikan uang untuk kalian,"
"Huuhh, baiklah," jawab Rio sendu.
Sungguh semua sudah berbalik, ia dan keluarganya tak lagi sekaya dulu, sebab perusahaan yang jadi sumber penghasilan sang papa, kini sudah beralih ke tangan Airin. Anak yang selama ini begitu Yuda benci, karena nyatanya, Airin memang bukan anak kandungnya.
"Aku permisi," lirih Rio lalu melangkah pergi.
Sementara Airin, spontan menghempaskan tubuhnya lalu mengelus pelan dadanya sendiri, sebab sebenarnya ia tak tega, melihat raut sedih dari wajah Rio, pria yang selama ini, ia sebut "Kakak".
***
Rasa penat setelah seharian bekerja, kini pun usai sudah, Airin dan Alvian memutuskan untuk pulang ke rumah.
Daaan..
Tiba-tiba saja, keduanya terkejut luar biasa saat melihat seorang pria, terlihat sangat mencurigakan berdiri di depan gerbang rumah.
"Maaf, anda siapa?" tanya Airin seraya menepuk pundak pria tersebut.
Namun, dia tak menjawab sedikit pun, justru segera pergi dengan terburu-buru. Alvian coba mengejarnya, namun semakin ia kejar, pria itu semakin berlari.
"Siapa dia Al, apa kau kenal?"
Alvian menggeleng, sebab ia juga tak mengenali pria misterius itu.
"Aneh sekali," gumam Airin dalam hati.
Keduanya pun segera masuk ke dalam rumah, dan lagi-lagi Airin mendapatkan hadiah.
"Sepertinya, orang tadilah pengirimnya," ujar Alvian seketika.
"Benar, kalau begitu, hal ini harus di selidiki. Tak masalah Al, cepatlah laporkan polisi.
__ADS_1
"Sudah, Rin.... aku sudah melaporkanya pada polisi, bahkan aku meminta beberapa temanku untuk menyelidiki hal ini."
"Serius, kau sesigap itu?"
"Bukan sigap, tapi hal ini membuatku sedikit tak nyaman. Hanya saja, kasus seperti ini sebenarnya tidak merugikan, apa lagi membahayakan, tapi aku penasaran. Siapa pengirimnya, dan apa motifnya, dia melakukan ini semua?"
Airin diam sejenak, lalu mengangguk paham. Benar, ini tidak merugikan, tapi sedikit mengusik pikiran yang akhirnya tak nyaman.
"Ah sudahlah, kita istirahat saja dulu, nanti di pikirkan lagi!" cetus Airin lalu menarik pelan tangan Alvian.
Sepontan saja, Alvian tersenyum lebar.
"Wah, sepertinya ada yang mau nepatin janji, nih!" goda Alvian lagi.
"Janji apa?"
"Hih, pake acara sok lupa, katanya tadi di lanjutin di rumah saja," si tampan mengingatkan seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Oh itu.. ayoo!!"
Airin bersemangat, ia bahkan meminta Alvian berbaring terlebih dahulu.
"Uhh asik, hahahahaha!"
Pria muda itu tertawa, melihat sang istri agresif luar biasa.
"Kata mama, harus kasih cucu sesegera mungkin," ucap Airin.
"Iya, kalau di kasih cepat ya syukur, tapi kalau belum kita coba lagi," balas Alvian seraya berbisik di telinga sang istri.
Sontak saja, Airin merasakan geli menyerang seluruh tubuhnya, saat Alvian memberi sentuhan-sentuhan manja.
"Cek google, Al!"
"Buat apa?"
"Tanya!"
"Ya, mau tanya apa?"
"Gaya bercinta seperti apa? Yang cepat menghasilkan anak?!" seru Airin mengada-ada. Yang tentu saja membuat Alvian tertawa sejadi-jadinya.
"Kok, tertawa sih, pak?"
"Kamu lucu,"
"Ih mohon maaf! Saya bukan pelawak, kok anda merasa lucu,"
Hahahaaha!
Alvian semakin tertawa, mendengar ucapan istrinya.
"Aaww, sakit!"
"Kenapa, Rin?"
"Pelan-pelan!"
"Haaah, astaga. Maaf!"
Alvian menahan tawa, ia segera memelankan pergerakanya.
.
.
.
Hayooo lagi, ngapain mereka?😭
Makasih kakak-kakak baik❤💪. Oh iya, mampir di karyaku satunya yuk, kali aja ada yang suka 😊❤.
__ADS_1