Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Kekasih Pura-Pura


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


☡Selamat Membaca☡


Meski wajahnya masih tampak lebam, Arfa memutuskan untuk tetap ke kampus, awalnya Nayla melarang, namun karena sang suami memaksa akhirnya ia pun mengalah. Dan selama berada di kampus, keduanya menjadi pusat perhatian, banyak pasang mata yang terus memandangi keduanya.


"Jangan ada yang membully lagi! Atau kalian akan di keluarkan dari kampus ini!" ancam Arfa seraya menatap tajam ke arah banyak orang yang memperhatikan ia dan Nayla.


"Memangnya kau siapa? Pakai sok mengancam!" pekik salah satu mahasiwa.


"Jangan banyak tanya! Nanti, kamu akan tau siapa aku," Arfa menegaskan.


Entah hal apa, yang memacu Arfa untuk mengatakan hal itu, yang pasti ia tak takut sama sekali, bahkan mengancam mereka tanpa ragu sedikit pun.


"Fa,"


Nayla menatap nanar wajah sang suami, ia ingin Arfa menjelaskan, akan ancamanya baru saja.


"Papi, pemilik gedung dan kampus ini, aku baru tahu tadi pagi. Papi mendirikan kampus ini sebagai hadiah untuk mami, karena dulu.. mami tak lulus kuliah, karena ada sesuatu hal yang membuat mami harus berhenti dan tak melanjutkan pendidikanya lagi," Arfa menjelaskan.


Awalnya Nayla fak percaya, namun Arfa terus meyakinkan dan memberi tahu istrinya, bahwa ucapanya bukanlah bohong belaka, ia pun menelpon sang papi dan menanyakan, apa yang ia ungkap baru saja.


("Iya.. kamupus dimana kamu kuliah kini, memanglah milik papi, awalnya papi tak berniat mengatakanya, tapi karena ada hal buruk yang menimpamu, papi harus mengungkap hal ini, agar tak ada yang membullymu lagi.") Ungkap sang papi.


Arfa yang sengaja membesarkan volume handpone miliknya, membuat banyak anak kampus tertunduk malu, setelah mendengar ungkapan dari Alvian yang tak lain pemilik "SAH" kampus dimana mereka semua berkuliah. Akhirnya para mahasiswa itu membubarkan diri secara teratur..


"Aku tidak mencari pembenaran, jika perbuatanku terhadap Nayla itu tidak salah. Apa yang ku lakukan tidak patut di contoh. Tapi kalian juga tidak berhak menghakimi! Aku dan Nayla sudah menikah, dan kami sudah menjadi suami istri secara agama dan negara. Jadi.. aku bertanggung jawab penuh; atas janin yang Nayla kandung kini, dengan hubungan kami yang sudah resmi. Aku berharap kalian berhenti membully!" tegas Arfa dengan suara lantang dan di dengar banyak mahasiswa lainya.


Sejak hari itu, jangankan membully, menatap saja mereka tidak berani, padahal Arfa bersikap masa bodoh ke mereka semua.


***


Di sisi lain, Arfi tengah di buat pusing akan ucapanya sendiri yang mengatakan jika ia sudah memiliki kekasih, hal itu membuat saudara kembarnya Arfa, penasaran, hingga meminta ia untuk membawa wanita yang ia sebut kekasih itu.


"Aaaggrr... bodoh!" grutunya pada dirinya sendiri.


Bagaimana Arfi tak pusing, karena nyatanya ia belum memiliki tambatan hati, seperti yang ia ucapkan.


"Ya Tuhaaan__ bagaimana ini?" tanyanya lagi.


Arfi meraih ponsel pintar miliknya, lalu mengotak-atik sosial media. Entah apa yang tengah ia cari.


"Uuuuuhh,"


Seketika ia tersenyum, secepat kilat ia beranjak dari duduknya, lalu pergi ke suatu tempat. Sepanjang perjalanan, Arfi terus berdo'a agar semua rencananya, terlaksa selancar mungkin.

__ADS_1


"Haii, selamat sore," sapanya pada seseorang yang tengah duduk seraya memainkab handpone.


"Se_selamat sore," seorang gadis cantik berkulit putih, rambut panjang namun terlihat sedikit pendek, menyapa Arfi dengan gugup karena pria di hadapanya menggunakan baju tugas kepolisian.


"Kamu, Sisi... kan?"


"Iya, aku Sisi. Apakan kamu Arfi, pria yang menghubungiku tadi?"


"Iya," jawabnya lalu mendudukan tubuhnya di kursi.


Gadis cantik bernama Sisi tersebut, adalah gadis yang siap menjadi pacar pura-pura untuk Arfi. Namun Sisi tak menyangka jika pria yang membutuhkan jasanya, ternyata Polisi tampan nan membahana, tak nakpak ada kekurangan sedikit pun.


"Ka_kamu, seorang polisi?"


"Apa, aku tampak seperti mamang sayur? Ya... jelas aku polisi'lah. Bajuku resmi dan aku bukan polisi tipu-tipu," jawab Arfi songong.


"Begitu ya. Lantas, apakah kamu yakin, mau memintaku jadi pacar pura-puramu? Kamu terlihat sangat tampan, jadi mana mungkin belum memiliki kekasih?"


Arfi pun menceritakan duduk masalah yang sungguh membuatnya gelisah. Prihal permintaaan sang suadara kembar, agar ia memperkenalkan kekasihnya malam nanti.


"Buhahahaha__!!"


Sisi seketika tertawa, hingga membuat Arfi menatap kesal ke arahnya.


"Kok tertawa, sih?"


Arfi menarik sudut bibir, bahkan ia memasamkan wajah, seraya menatap Sisi yang tersenyum ke arahnya.


"Asal kau tahu.. wanita bernama Nayla itu memang spesial, dia bukan hanya sekedar cantik tapi hatinya juga baik," Arfi mendengus kesal.


"Baiklah.. maaf! Jika perkataanku tadi, membuat anda tidak nyaman," Sisi berucap tulus.


"Bagus, jika kamu sadar," cetus Arfi lagi.


Sisi mengepal jari jemarinya, karena merasa kesal akan sikap pria yang kini ada di hadapanya. Polisi tapi cara dan sikapnya sombong luar biasa, namun ia harus sabar, karena kini ia tengah butuh uang untuk menyambung hidup.


"Jadi, apa tugasku, nanti?"


"Kamu hanya perlu, mengaku sebagai pacarku, malam nanti,"


"Oke, hanya itu saja?!"


"Ya... itu saja. Nanti malam jam 7 kamu ku jemput, kirim lengkap alamat rumahmu!"


Sisi mengangguk, ia mematuhi semua yang di ucapkan Arfa, secepat kilat ia menulis alamat rumahnya lalu mengirimkan ke no ponsel Arfi. Satu hal yang membuat Sisi kian kesal, polisi itu pergi meninggalkanya, tanpa mengucapkan sepatah katapun.

__ADS_1


"Duuh, sombongnya____," grutu Sisi kesal.


***


Jam setengah 7 malam, Arfa mengirim pesan singkat kepada Arfi, ia mengingatkan sang kakak jika malam ini ada janji untuk mengenalkan sang kekasih.


"Aman... jam setengah delapan, aku pasti sudah di rumahmu, sekarang aku baru akan menjemputnya," balas Arfi melalui pesan singkat.


Kini Arfi sudah berada di depan rumah, yang tampak kecil dan sederhana, bahkan rumah tersebut tampak sangat sepi sekali.


"Aku sudah di depan rumahmu," Arfi menelpon Sisi.


Dan 5 menit kemudian, Sisi benar keluar dari rumah kecil tersebut, dengan menggunakan Dress berwarna putih.


"Kenapa?" tanya Sisi penasaran, karena Arfi diam saja tanpa ekspresi sedikitpun.


"Ti_tidak," jawabnya gugup, namun sorot matanya masih fokus memandangi rumah Sisi.


"Kamu jij*k'kah, melihat rumahku?"


Arfi menggeleng cepat.


"Lalu, kenapa kamu menatap rumahku seperti itu?"


"Sepi," jawab Arfi spontan.


"Iya, karena aku, tinggal di rumah ini sendirian?"


"Lho, kok bisa? Kemana kedua orang tuamu?"


Sisi tersenyum, ia menatap kelu wajah Arfi yang penasaran. "Nanti saja, akan ku ceritakan, yang penting kini, selesaikan dulu rencanamu,"


Arfi pun setujuh, akhirnya ia membawa Sisi untuk ke salon terlebih dahulu. Karena penampilan gadis itu, tampak sangat biasa saja.


"Kamu harus tampil lebih cantik!" ujarnya, lalu mempersikahan Sisi untuk masuk ke dalam mobil miliknya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


❤TERIMA KASIH, KAKAK-KAKAK BAIK❤


__ADS_2