
🌸Selamat Membaca🌸
Seakan sudah menjadi takdir, Arfi di temukan dengan Angga dan Adik-adiknya, dimana nama mereka semua di awali dengan huruf (A). Arfi, Angga, Aldi dan Ata, nama mereka sontak nampak seperti ada ikatan persaudaraan, padahal tidak sama sekali.
Sssttt
Pria dua puluh sembilan tahun itu, menoleh jam di tanganya. Waktu menunjukan hampir jam enam pagi. Bergegas Arfi beranjak dari tidurnya setelah itu langsung keluar dari dalam tenda. Tatapan Arfi langsung tertuju ke sebuah tenda kemah, dimana ada Cia tidur bersama Kakaknya di dalam sana.
"Hm...,"
Arfi menahan langkah kaki kala berniat ingin melihat Cia tertidur, sekaligus ia juga kepo ingin memandangi wajah Kakak gadis itu, orang yang selalu Cia banggakan. Tapi niatnya urung terlaksana, sebab merasa tidak sopan jika diam-diam mengintip cewek-cewek yang tengah tertidur pulas. Lantas Arfi memilih pergi saja dari sana tanpa membangunkan mereka terlebih dulu.
.
.
.
***
Matahari sudah keluar dari peristiahatan, sinarnya memancar dengan sangat indah. Cia dan Sisi terbangun secara bersamaan, keduanya kompak mengerjab-ngerjabkan mata lebih dulu, sebelum nyawanya benar-benar terkumpul penuh.
"Eh, Pak Arfi kemana?"
Cia mengendurkan padanganya dan mencari sosok Arfi dari segala arah. Tapi pria itu tak menampakan eksistensinya. Bahkan mobilnya saja sudah tidak ada di tempat semua. Menyadarkan Cia jika Arfi tak lagi di sana bersama mereka.
"Gila nggak sih tuh mahluk, masa pergi nggak pamit dulu." Cia bergumam kesal sampai Sisi di buat ke heranan denganya.
"Kenapa sih, Dek?" Sisi coba bertanya. Dan Cia dengan sebal bercerita tentang atasanya yang pergi begitu saja. "Ya udah sih, mungkin bosmu ada kepentingan mendadak." tambah si cantik lagi.
Sisi mamang berbeda, ia bukan tipe manusia yang suka berpikir buruk. Karena ia marasa di atas muka bumi ini tidak ada yang kebetulan semua sudah menjadi takdir Tuhan. Contohnya saja hari ini, andai Sisi terbangun lebih pagi, ia pasti akan berjumpa dengan Arfi. Dan lagi-lagi takdir memang belum mengizinkan keduanya untuk bertemu.
"Pak Arfi memang gitu, gak usah di pikirin! Mungkin semalem dia ngompol lupa nggak pake pampers dan gak mau pinjem celanaku. Alhasil dia pasti cepat-cepat pergi dari sini. Karena malu sama kita-kita. kalau dia ketahuan ngompol," pikiran gila Angga yang langsung di tolak mentah-mentah oleh Cia. Hal itu tentu membuat Sisi terbahak-bahak.
"Kalian lucu banget sih. Udah jangan bahas bos kalian terus! Ini sudah jam delapan, apa kalian nggak masuk kerja?"
"Haaah, jam delapan? Kakak serius?" tanya Cia dan Angga bersamaan.
__ADS_1
Keduanya lari tergesa-gesa. Cia mengajak sang Kakak untuk pulang, sementara Angga masuk ke rumahnya setelah itu langsung berangkat bekerja. Saking buru-burunya, Angga lupa membangunkan Aldi dan Ata, kedua Adiknya yang masih terlelap di dalam tenda.
Ssstt
Cia sibuk berdandan rapih sedangkan Sisi menyiapkan sarapan pagi. Meski sudah telat gadis itu tidak pernah absen sarapan dulu bersama Kakak angkatnya.
"Cia, gimana kabar orang tuamu? Mama' mu sudah sadar belum?" setelah sekian hari memendam pagi ini, Sisi memberanikan diri untuk bertanya. Pertanyaanya spontan membuat Cia terdiam sejenak.
Ia mengela napas jengah, lalu memutar bola mata ke segala arah. "Aku sudah telat Kak, papay aku pergi dulu!" Cia melesat cepat, ia sengaja menghindari pertanyaan Sisi.
Sepanjang jalan menuju kantor, gadis itu hanya memasamkan wajah. Menggingat Mama dan Papa seketika dadanya terasa sangat sesak. Entah apa yang terjadi, hanya Cia sendiri yang mengetahui.
Sstt. Ck..
Cia sudah tiba di halaman kantor, ia kembali menghela napas karena mendapati Angga sudah tiba dan berjaga. Bahkan anak itu tersenyum manis menyambut kedatangan anak mantan pemilik perusahaan sebelumnya.
"Pagi nona Cia yang cantik jelita cetar membahana. Semangat magangnya!" canda Angga seketika.
"Dih, narsis amat sih. Uweeek, mual aku dengernya." sahut Cia justru tak sesuai harapan Angga.
"Pak Arfi, kok nggak bangin aku sih. Jadi jangan salahkan aku, hari ini datang terlambat," ujar Cia karena setelah tiba ia langsung menuju ruangan Arfi.
"Sejak kapan, ada karyawan marah-marah kepada bos nya sendiri. Kecuali karyawan bar-bar kayak kamu."
"Heleh... ngelak aja anda. Padahal aku tahu, Pak Arfi pasti nggak tega bangunin aku yang sedang tidur pulas." ucapnya lagi semakin percaya diri.
"Bodo amat dah. Males ngomong dengan cewek bar-bar. Cepat keluar, saya mau kerja!'
"Ih tega banget sih, Pak,"
"Mau di pecat atau keluar?"
"Oke.. oke... oke. Aku keluar. Jangan marah-marah mulu Pak! Nanti aku makin suka." goda Cia tak malu-malu lagi. Tapi jujur saja, saat ini pipi Arfi merah merona karena godaan dan candaan Cia baru saja.
"Dasar gadis gila!" umpat Arfi pelan.
Di luar ruangan, Cia duduk manis di tempatnya. Ia fokus menatap layar laptop seraya senyum-senyum sendiri. Mengingat sikap cuek dan acuh Arfi justru membuat ia semakin tergila-gila. Sebab jarang ada, pria yang tidak terpesona saat Cia menggoda. Tapi duda muda itu berbeda, dia malah biasa saja saat menghadapi Cia.
__ADS_1
TING!
Sebuah pesan masuk ke no whatsapp Cia, gadis itu mendapati nama sang Kakak yang mengirim pesan untuknya. Secepat mungkin ia membaca pesan dari Sisi tersebut.
"Cia, Kakak mau tanya boleh?" begitulah awal Sisi membuka percakapan. Cia langsung mengerutkan dahi sebab tak habis pikir atas sikap Kakaknya ini.
"Tanya aja, Kak! Aneh banget sih, kita ketemu tiap hari, kenapa Kakak malah nanya-nanya lewat WA?" Cia membalas pesan Sisi.
"Hehehe.. masalahnys ini baru ke teringat. Jadi cepat-cepat Kakak tanya, takut ntar lupa lagi,"
"Ohh okeh, dań silahkan bertanya Kakak ku sayang!"
Haning sejenak, hampir lima menit Cia menunggu, tapi Sisi belum juga membalas pesan WhatsApp darinya.
"Kemana sih, nih orang?" omel Cia kessl.
Dan ting! Sedetik kemudia pesan dari Sisi pun masuk, wanita itu bertanya hal yang tak masuk akal menurut Cia.
"Cia, tadi pagi Kakak denger, katanya nama bos kamu itu ARFI ya?" sungguh Sisi sangat gemetar mengetik pertanyaan ini.
"Iya Kak, namanya Arfi. Kenapa?"
"Nggak, Kakak cums tanya aja. Emmm, btw siapa nama panjang Pak Arfi itu?" lagi-lagi pertanyaan Sisi membuat Cia geleng kepala.
"Kenapa Kakak tanya-tanya? Atau jangan-jangan Kakak suka sama Pak Arfi ya? Hemm di larang keras! Aku sudah lebih dulu suka dia,
"Lah, siapa yang suka sih? Jangankan jatuh cinta, liat mukanya aja belum pernah, aneh sih kamu."
Cia menarik seulas senyum tipis. Benar tak mungkin Sisi menyukai Arfi, karena pada dasarnya mereka belum pernah berjumpa. Tapi pertanyaan sang Kakak sukses membuat Cia aneh bin penasaran.
.
.
.
B E R S A M B U N G
__ADS_1