
🌹Selamat Membaca🌹
Kurang lebih dua belas jam lamanya untuk Cia berpikir siapakah mantan istri dari Arfi? Gadis itu pun memutuskan untuk mendatangi pria yang sudah melamarnya kemarin. Tapi kini pikiran Cia terus berputar-putar, memikirkan pernyataan Arfi tersebut.
DIA YANG MENYURUHKU MENIKAHIMU!
Ucapan itu terus ternging-ngiang sampai Cia sulit untuk tertidur, bahkan saat pagi menyapa Cia tak merasakan kantuk sedikit pun.
CK!
Kondisi rumah Arfi tak sebesar rumahnya, tapi jejeran mobil mewah yang terparkir sudah cukup menjelaskan, jika pemiliknya pasti kaya raya. Cia menggosok-gosokan kedua telapak tanganya karena gugup, ia menoleh ke kanan dan ke kiri tapi Arfi belum menemuinya juga.
"Ehem...," suara itu menambah kegugupan Cia, ia pun menoleh dan mendapati seorang wanita yang usianya tak lagi muda berdiri tepat di hadapannya, wanita itu tersenyum ramah ke arah Cia.
"Maaf Dek, kamu cari siapa?" si Mami bertanya ramah.
"Pa-pak Arfi, tante... apa Pak Arfi masih di rumah?" Cia gemetaran tak karuan.
"Kamu siapa?"
Mendengar pertanyaan itu Cia pun mendadak kelu. Cia ingin sekali menjawab jika ia tunagan resmi Arfi, tapi lidahnya seolah tak mau di ajak kompromi, ia bahkan sangat gugup saat bersuara.
"Namaku Alicia panggil saja Cia! Ada hal penting yang harus ku bicarkan dengan Pak Arfi."
Mami pun diam sejenak, ia menatap Cia penuh selidik. "Kamu tunggu saja di sini! Saya panggilkan Arfi dulu!"
Cia mengangguk patuh dan setelah itu ia menatap wanita tua tersebut naik ke lantai atas. Meski sudah tak lagi muda, tapi si Mami masih tampak cantik dan mempesona.
Sstt...
Gadis itu kembali mendudukan tubuhnya di kursi dan lagi-lagj ia pun tertarik untuk memperhatikan seluruh sudut ruangan. Dan tatapanya tertuju pada sebuah foto yang tampak mirip. Sejenak Cia memikirkan apa yang baru saja di lihatnya.
"Itu Arfa, saudara kembar saya." saking fokusnya Cia sampai tak sadar jika kini Arfi sudah duduk di hadapannya.
"Sa-saudara kembar." ucapnya gemetar.
Nyatanya meski berstatus sebagai kekasih, Cia belum sepenuhnya mengenal Arfi, bahkan jujur saja setelah hampir tiga bulan menjalin cinta, ini kali pertama Cia bertamu ke rumah ke kasihnya sendiri.
"Pak Arfi punya saudara kembar?"
__ADS_1
"Menurut kamu gimana?:
"Kok aku nggak tau."
"Kamu nggak pernah nanya."
"^_^!" Seketika ia kesal sendiri dan bingung kenapa bisa ia sangat mencintai pria gila seperti Arfi yang suka main tebak-tebakan dan tidak terbuka jika bukan karena terdesak. Saat ini contohnya, kala Cia kembali menanyakan siapa mantan istri Arfi? Pria itu malah memilih menghindar.
"Maaf saya harus ke kantor, kapan-kapan kita lanjut ngobrol ya! Kamu sekarang seharusnya berada di rumah, Papa mu pasti masih berduka.
Sekali lagi Cia hanya mampu menghela napas kesal meski terpaksa harus menurut patuh. Ia menatap punggung Arfi yang kian menjauh dari nya. Dan saat Cia akan pergi dari rumah Arfi tapi niat nya terurung kan, sebab Mami dan Papi meminta Cia tinggal sebentar lagi.
"Kamu siapa? Kenapa kamu tampak akrab dengan anak saya? Sepertinya kamu masih sangat muda." tanya Mami seramah mungkin.
Mendengar itu, Cia merasakan ada yang aneh menyerang batinnya. Karena merasa jika Arfi tidak mengakui statusnya, buktinya Mami dan Papi.pria itu tidak mengenal Cia.
"Maaf Tante, aku hanya karyawan magang di kantor Pak Arfi dan benar aku masih kuliah. Aku datang ke sini karena ada perlu, tapi sepertinya Pak Arfi sedang sibuk." jelas Cia berbohong. Sebenarnya ia ingin sekali menangis saat ini juga.
Sepuluh menit saja mereka saling berbicara, Cia segera berpamitan untuk pergi. "Mama ku baru saja meninggal, jadi aku harus pulang menemani Papa."
Si Mami dan Papi turut merasa sedih. ."Saya dan suami saya ikut berduka ya Cia, semoga semua urusan Mamamu di permudahkan dan semoga masuk Surga."
.
.
.
***
Setelah pulang dari rumah Arfi, Cia bukan pulang ke rumahnya, ia justru menemui Sisi di kantor, banyak hal yang ingin ia sampaikan dan ceritakan.
"Cia- kenapa kamu disini?" Sisi menatap sang Adik heran
"Aku butuh Kakak."
"Tapi Kakak sedang kerja Cia."
Semua orang memandang ke arah keduanya. "Cia, kami turut berdukacita atas meninggalnya Bu Bos." ucap salah satunya mewakili para karyawan yang lain.
__ADS_1
"Terima kasih," Cia tersenyum manis ke arah mereka semua.
Gadis itu berjalan masuk kedalam ruangan kerja Arfi, di dalam sana ia meminta izin supaya Sisi di perbolehkan menemaninya. Dan dengan berat hati Arfi pun memberi izin. Tapi sebelum keduanya pergi ia tak lupa memberi tahu Sisi jika Cia penasaran prihal siapa mantan istrinya.
DAN
Benar saja, sesuai dugaan. Cia benar-benar tengah galau karena pernyataan Arfi kemarin. "Pak Arfi bilang, jika dia mencintai, melamar dan berniat menikahi, itu karena di suruh mantan istrinya, bukan dari hati Pak Arfi sendiri. Aku sedih banget gara-gara ini." curhatnya dengan mata berkaca-kaca, ia bahkan tertunduk sangat dalam.
Sisi sendiri menjadi gugup, batinnya mendadak kelu, bahkan ia harus berpikir dulu agar tak salah bicara sebab ia takut semakin menyakiti hati Adiknya. "Kamu yakin? Masa sih Pak Arfi terpaksa?" tanya Sisi gemetar.
"Benar Kak, aku merasakannya....," Cia tertunduk semakin dalam. "Tadi aku ke rumah Pak Arfi dan bertemu kedua orang tuanya. Kakak tau mereka tuh nggak kenal aku dan nggak tau siapa aku. Artinya Pak Arfi tidak menceritakan kalau dia sudah melamar ku kemarin."
"Haah, Pak Arfi ngelamar kamu?" Sisi malah ikut terkejut.
"Iya. Kenapa?" Cia menatap aneh sang Kakak.
"Nggak." jawabnya singkat. "Kamu nggak nuntut penjelasan gitu. Kenapa Pak Arfi tidak memberi tahu kedua orangtuanya, kalau dia udah ngelamar kamu?"
"Males."
"Kenapa?"
"Karena aku tanya siapa mantan istrinya saja Pak Arfi nggak jawab."
Untuk kesekian kalinya, Sisi tak bisa berkata-kata. Karena merasa semua jadi serumit ini. Padahal ia dan Arfi menyembunyikan kebenaran demi kebaikan bersama. Saat itu Cia tahu baik Arfi atau pun Sisi sama-sama masih saling mencintai. Padahal Cia sudah sangat jatuh cinta saat pertama kali ia berjumpa tanpa sengaja dengan Arfi dan dengan lantang ia berharap, pria itu bisa membebaskan Cia dari perjodohan.
*Andai nanti, kamu tahu siapa mantan istri Pak Arfi. Apakah kamu akan membencinya?"
"Nggak tahu juga, tapi yang pasti aku akan menuntut penjelasan. Kenapa dia meminta Pak Arfi untuk menikah denganku." jujurnya.
Untuk saat ini Cia bahkan merasa sedikit ragu melangkah ke jenjang yang lebih serius bersama Arfi. Ia tidak mau menikah karena keterpaksaan dan ia takut nantinya Arfi justru tidak bahagia setelah menikahinya.
.
.
.
.
__ADS_1
B E R S A M B U N G