Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 37 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Dua hari sebelum menjelang pernikahan. Arfi mengajak Sisi untuk pergi ke suatu tempat. Tapi karena tak enak hati dengan Cia, Sisi pun menolak. Namun bukan Arfi namanya jika tidak bisa memaksa.


"Ya udah deh, tapi jangan lama-lama ya!"


Arfi pun tersenyum menanggapi permintaan Cia. "Oke." jawabnya singkat.


Dengan malu-malu Sisi melangkah keluar dari kantor. Sementara Arfi berdalih jika ia dan Sisi harus bertemu dengan rekan kerja.


"Eemm... bunga-bunga perselingkuhan sepertinya akan bersemi." spontan Angga saat Arfi berlalu dari hadapannya.


"Eh, jaga bicara kamu ya!" Arfi geram.


"Kenapa? Uuuuupss, pasti Pak Arfi tersinggung ya?"


Rahangnya seketika mengeras, spontan saja Arfi merasa emosi, ia mengepal jari jemari dan berniat menghantam wajah Angga. Untung saja Sisi dengan sigap menenangkan dan menarik Arfi agar tak berdiri di depan satpam kantornya tersebut.


"Malu- jaga wibawamu!"


"Dengerin tuh kata ayank'nya!" Angga ikut bersuara.


"Bang sat ya, kamu! Mulut mu bisa di jaga nggak?"


"Nggak."


"Udah ayo!" Sisi kembali berusaha agar Arfi tak cekcok dengan Angga. Sementara Pak Suki juga berusaha menenangkan rekan kerjanya.


"Kamu mau di pecat? Nggak sopan banget sama Pak Bos." Pak Suki ikut kesal.


"Dia yang nyebelin Pak, kenapa anda marahin saya?" Angga tentu membela diri.


"Tapi senyebelin Pak Arfi, beliau tetep bos kamu. Dia yang gaji kamu setiap bulan dan sebentar lagi kamu juga akan kuliah, semua juga Pak Arfi yang membiayai. Masih mau nggak sopan?"


Seketika Angga mendadak kelu, ia terduduk lemas dan membenarkan apa yang di ucapkan Pak Suki. Tapi balik lagi, Angga tetap kesal karena Arfi akan menikahi Cia sementara bosnya itu mencintai Sisi. Angga tentu tak terima jika setelah menikah Cia tidak bahagia.


.


.


***


Arfi tidak fokus duduk di kursi kemudi, seraya sesekali memukul stir mobil dengan keras. Melihat sikap pria di sampingnya ini membuat Sisi menghela napas panjang.


"Kamu sudah tua, umurmu sebentar lagi kepala tiga. Masa masih emosian banget sih, berubah dong, makin umur seharusnya semakin dewasa." Sisi membuka suara berharap Arfi akan memahami ucapnya.


"Nggak usah bawel deh! Kalau nggak kenal Arfi yang sekarang mending jangan sok berkomentar!"


DEG!


Singkat namun sukses membuat Sisi tercekat. Ia mendadak hilang kata-kata dan tidak berani kembali berbicara. Dan raut wajah Sisi yang mendadak berubah membuat Arfi sadar jika ucapannya menyentak batin wanita di sampingnya ini.


"Maaf, aku bicaranya kasar ya?" Sisi menggeleng cepat.

__ADS_1


"Tapi kamu benar, sepertinya aku belum mengenal kamu yang sekarang."


"Hemmm... udah deh, nggak usah di bahas. Aku mau ajak kamu jalan bukan mau sedih-sedih. Tapi mau lihat senyum kamu sepanjang hari ini."


Sisi pun langsung melebarkan senyumnya. Setelah itu mobil mereka berhenti di sebuah tempat yang dulu menjadi favorit keduanya saat masih menjadi suami istri.


"Kok ke sini?"


"Mau nostalgia dulu bareng kamu."


Arfi menggenggam erat tangan Sisi lalu mengajak wanita yang masih sangat ia cintai ini duduk di sebuah kursi seraya menatap luas pemandangan yang amat mempesona di hadapan mereka.


PANTAI!


Iya dulu keduanya sering ke sana, bahkan lari-larian, bermain air dan bermain pasir, tidak pernah mereka lewatkan jika ke sini.


"Mau main air nggak?"


"Nggak deh, masih panas banget."


Merasa tidak enak karena telah menolak ajakan Arfi, Sisi meminta untuk membelikannya kelapa muda dan jagung bakar. Biasanya pria ini sangat semangat jika Sisi banyak meminta.


"Mau apa lagi?"


"Udah, itu aja."


"Oke."


Arfi melangkah cepat untuk memesan apa Sisi minta. Sepuluh menit kemudian barulah ia kembali dengan membawa jagung bakar dan es kelapa muda di tangannya.


"Silahkan menikmati!"


Sisi mengangguk cepat. Dengan canggung ia menyantap apa yang tadi Arfi beli, sementara pria di sampingnya kini tengah menikmati indahnya pemandangan pantai. Meski hari masih siang tapi tak bisa menandingi betapa eloknya suasana alam ciptaan Tuhan.


"Sisi...!"


"Iya." dengan gugup Sisi menoleh.


"Kamu yakin, nggak mau melewati hari-hari seperti ini bersamaku?"


"Kenapa tanya gitu?"


"Tanya aja."


Sisi memilih diam sejenak. "Kalau boleh jujur, aku merasa bersalah banget, karena diam-diam jalan bareng kamu, tanpa sepengetahuan Cia."


"Kalau aku juga mau jujur, saat ini aku bahagia banget bisa jalan-jalan sama kamu." Arfi seakan mengikuti ucapan Sisi.


Sisi sendiri munafik, jika tidak bahagia. Nyatanya ia sangat menikmati kebersamaanya dengan Arfi kini.


"Lusa aku dan Cia menikah, aku harap kita sama-sama tidak terluka."


"Iya... aku titip Adikku ya! Jangan kecewain dia dan jangan sakitin dia!"

__ADS_1


"Lantas, bagaimana jika kamu yang kecewa?"


"Nggak masalah, aku sudah terbiasa." Sisi menjawab spontan saja setelah sadar ia pun menutup mulut dengan kedua tanganya.


"Tenang aja, kamu nggak kecewa sendirian! Ada aku yang kecewa juga."


Nyatanya mereka berdua memang sama-sama kecewa, atas keadaan yang di landasi dengan perasaan kasihan. Kasihan jika Cia sedih, kasihan jika Cia terluka. Sampai tidak bisa kasihan pada diri mereka sendiri yang sebenarnya sama-sama masih berharap.


Lupakan. Lepaskan. Relakan dan Ikhlaskan.


Begitu motto hidup Sisi kini, karena ia yakin sekali suatu saat nanti Tuhan akan memberikan kebahagian untuknya. Sisi yakin takdirnya tidak akan selalu buruk.


"Si...,"


"Iya. Kenapa?"


"Boleh peluk kamu, sebentar aja?"


"BOLEH!"


Menikmati dan menghabiskan detik demi detik yang mereka lalui kini, dengan sebaik-baik mungkin. Melepas rindu yang sudah lama mereka pendam.


.


.


***


Setelah mengantar Sisi pulang. Arfi pun mensurvei gedung yang akan menjadi saksi, ia dan Cia menikah nanti.


Semua persiapan sudah hampir final, tinggal beberapa hal lagi yang belum terselesaikan. Arfi pun menghela napas lega.


"Aku sudah memutuskan, artinya aku harus siap menjalani." gumam Arfi lirih.


Sebentar lagi, ia akan memulai kehidupan yang baru. Arfi akan menjadi suami dan ia di tuntut untuk bertanggung jawab.


"Pak, apa anda yakin pernikahan semewah ini hanya mengundang seratus orang?" tanya pemilik Wedding organizer.


"Iya, karena menurut saya yang penting itu bukan seberapa banyak tamu, tapi seberapa hikmat pernikahannya nanti." Arfi menjawab sedikit emosi.


Sedangkan pemilik Wedding organizer tersebut hanya mampu membisu dan tersenyum kelu. Pasalnya pernikahan yang tengah ia rancang kini, menelan biaya yang membuat siapa saja geleng kepala.


"Saya percayakan semuanya kepada anda! Dan tolong jangan mengecewakan!"


"Siap Pak, semoga kami memberikan kenyamanan untuk anda."


Arfi tersenyum simpul setelah itu ia pun melangkah pergi. Dan pemilik Wedding organizer tersebut menatap langkah Arfi yang kian menjauh. Menurutnya ia semakin heran bin penasaran, karena selama ia mempersiapkan semua urusan pernikahan, ia belum pernah melihat sang mempelai wanita sekalipun.


.


.


.

__ADS_1


B E R S A M B U N G


__ADS_2