
ANTARA DENDAM DAN CINTA
Polisi Sang Penakluk Hati Season2
☡Selamat Membaca☡
Hampir 3 hari sudah Nayla tinggal di rumah Arfa, namun selama itu juga keduanya tak saling berbicara. Sementara Arfi membaca garak-gerik mereka yang tak biasa, sikap Arfa dan Nayla spontan menimbulkan banyak tanya dalam benaknya.
"Nay, kamu pucat sekali? Demam ya?"
Nayla menggeleng cepat, kala pertanyaan itu ia dapat dari bibir si mami.
"Apa kamu belum mau kuliah hari ini?" kini Arfi yang bertanya.
"Lu_lusa, baru aku akan kembali kuliah," jawabnya datar.
Nayla hanya menjawab pertanyaan mereka seperlunya saja, namun tatapanya melirik ke arah Arfa yang bersikap seolah acuh kepadanya. Bukan itu saja, selama Nayla berada di rumahnya, ia tak sedetikpun berniat untuk duduk di samping kekasihnya walau hanya sekedar bercakap sederhana.
"Fa, aku berangkat bertugas, dan aku juga berniat membawa kasus ini jalur hukum,"
"Heh, jangan sekarang, nanti saja! Kalau aku sudah tak lebam-lebam lagi, begini!"
"Justru itu, bisa menjadi bukti jika kamu, memang mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan dari pria tua itu," ujarnya lalu masuk ke dalam mobil.
Nayla yang mendengarkan percakapan di antara keduanya, hanya mampu menarik sudut bibir.
"Mereka kembar, tapi sikap, sifat dan cara sungguh jauh berbeda. Bagaimana bisa Arfa menjadi orang yang hidup dengan berjuta kelicikanya, sementara Arfi hidupnya lurus-lurus saja? Arfa berulah layaknya penjahat kelas atas, sedangkan Arfi, sosok polisi yang sangat baik hati," batin Nayla pelan.
Arfi sudah pergi bekerja, dan Arfa menghabiskan waktunya di depan layar kaca. Seraya sesekali memainkan posel pintarnya.
"Fa, mami mau ke mini market, kamu jaga papa ya!" titah si mami sebelum pergi.
"Siap, mi,"
Sang mami pun pergi untuk membeli beberapa bahan dapur yang sudah habis, sedangkan Arfa fokus menatap televisi.
Ting!
Sebuah pesan singkat masuk, ke handpone milik Arfa, yang ternyata pesan singkat dari anak buahnya.
"Bos, kemana aja? Kok gak ke lihatan?"
""Aku sakit, jadi belum bisa kemana-mana,"
"Serius? Bos sakit apa?"
Arfa menceritakan hal yang sudah terjadi beberapa waktu lalu, dan hal itu tentu saja membuat anak buah Arfa geram dan marah. Hingga tanpa izin dari Arfa mereka berniat akan membuat Tito celaka.
"Bagaimana kabar Dodi?" tanya Arfa lagi.
"Sudah lebih baik bos, dan sekarang kami sudah berada di rumah, tidak lagi di rumah sakit,"
Mendengar itu Arfa pun bernafas lega, ia bahagia, anak buahnya yang sempat sakit pun kini sudah berangsur membaik. Tanpa Arfa sadari, sedari tadi ada Nayla yang berdiri di belakangnya dan membaca setiap ketikan yang Arfa kirim kepada anak buahnya.
__ADS_1
"Ehem, ternyata, kamu mempunyai anak buah ya! Jangan-jangan beberapa waktu lalu, kamulah yang mengobrak-abrik kantor papa," ucap Nayla yang spontan saja membuat Arfa terkejut.
"Sialan.... apa yang kamu lakukan di sini?"
Namun Nayla tak menjawab dia memilih untuk diam saja, hal itu tentu membuat Arfa kesal.
Ssssttt____
"Aww...," decak si cantik lirih sebab Arfa menarik tanganya lalu menjatuhkan Airin di sofa.
"Kamu yang memilih untuk tinggal di sini, artinya... kamu memang meminta untuk terus ku nikmati,"
"Aahh jangan gila, Fa! Apa kamu tak memiliki rasa iba sedikit pun?"
"Tidak, bahkan aku berniat membuatmu menderita setiap menit,"
Arfa menyilangkan tangan Nayla, yang tentu saja membuat si cantik tak berdaya. Dengan gelap mata, ia kembali menjelajah tubuh kekasihya. Mengecup bibir cukup kasar dan menggigit leher Nayla hingga memerah.
"Eeemmmhhh___ sakit," rintihnya.
Arfa tak perduli, meski ia tengah sakit, tapi seketika otaknya menjadi liar, sebab ia berhasil membuka baju bagian atas milik Nayla.
"Nikahi aku, Fa! Maka kamu bisa puas melakukanya!" pinta Nayla seraya menyeka air mata.
"Ide bagus. Nanti aku akan menikahimu, lalu menjadikanmu mainanku," ucapnya berbibisik di telinga Nayla dan sesekali menggigit telinga kekasihnya.
"Aaa,"
"Su_sudah, Fa!" pintanya.
Tapi Arfa tak perduli, ia melakukanya sampai Nayla tak berdaya.
Braaaak!
"Hai, apa yang kamu lakukan?" Arfa terperanjat kala tubuhnya jatuh ke bawah sebab Nayla menendangnya sekuat tenaga.
"Sial..." omelnya kesal.
Sementara Nayla sudah masuk ke dalam kamar, si cantik pun menangis sesenggukan di dalam sana.
"Apakah, aku harus pergi saja? Tapi, bagaimana jika nanti aku hamil?" lirih Nayla meringkuh di kedua kaki, dengan tangan.
Sedangkan Arfa menyandarkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan mata, ia membayangkan betapa bejad dirinya tadi.
"Bodoh___ bodoh____! Kenapa kamu semenj*j*kan ini, Fa," sesalnya berkali-kali mengutuki otak liarnya tadi.
Dan saat itu pula, ia mengambil keputusan untuk segera menikahi Nayla, sebab Arfa takut jika Nayla hamil sebelum menikah, karena ia sadar ulahnya kemarin mungkin saja akan menghasilkan malaikat kecil dalam rahim Nayla.
"Nay___!" panggilnya dari balik pintu.
Namun tak ada jawaban, hingga Arfa memutuskan untuk membuka perlahan pintu kamar Nayla. Dan seketika saja, ia terkejut luar biasa.
"Heeeei, Nay___ apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
Si cantik tergeletak di lantai, dengan darah yang mengalir dari tanganya, ternyata Nayla melukai nadinya sendiri, beban yang ia tanggung kini, tak sanggup Nayla tampung. Bukan hanya badan, ia juga sakit batin dan mental, sebab Arfa memperlakuanya sehina itu, bak boneka yang di mainkan sesukanya.
"Ya Tuhan, Nayla___," rintihnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Arfa membawa wanitanya ke rumah sakit, dan sebelum itu ia membalut luka di tangan Nayla menggunakan bajunya.
"Biarkan aku, mati!' ucapnya terpatah-patah, lirih dan nyaris tak terdengar.
"Tidak, Nay... aku tak mau kamu meninggalkanku, karena aku mencintaimu,"
"Cinta? Cinta macam apa yang kamu punya? Karena selalu merusakku sesukamu," tambah Nayla lrih, suaranya pelan dan seolah akan hilang.
"Tutup mulutmu, diamlah!"
Arfa membenturkan kepalanya berkali-kali di stir mobilnya sendiri, seraya terus memacu kendaraan secepat kilat.
"Jangan kenapa-kenapa, Nay. Aku mohon! Aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri, jika sampai kamu mati," ujarnya dengan berlinang air mata.
"Pesikopat, sejenak dia baik, sejenak lagi, dia menjadi bad ji ngan," ucap Nayla di dalam hati.
Namun perlahan ia merasakan kepalanya sangat berat dan mata bekunang-kunang, dan seketika saja Nayla pun tak sadarkan diri.
"Haaah... Nay! Bangun, tolong jangan mati! Aku mencintaimu," isaknya seraya menepuk-nepuk pelan wajah si cantik.
Sesegara mungkin Arfa memapah tubuh Nayla saat keduanya sudah tiba di rumah sakit.
"Dokter_______!!" pekiknya.
Ya.. setelah itu Nayla langsung mendapatkan penanganan, ia bawa ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD).
"Mas, tunggu di luar saja!"
"Tapi tolong, selamatkan nyawanya!"
"Kami akan melakukan yang terbaik,"
Terpaksa ia pun menunggu, Arfa langsung menyandarkan tubuhnya di dinding, seraya sesekali menjambak rambutnya sendiri. Kini dendamnya justru menyakiti batinya.
"Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri! Jika sampai terjadi hal buruk terhadap Nayla," batinya.
Kini ia tenggelam dalam penyesalan yang amat dalam.
"Benar kata papi, dendam justru merugikan diri sendiri,"
.
.
.
.
TERIMA KASIH
__ADS_1