Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Berusaha Untuk Berubah


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Tak mau langkahnya dikejar oleh Arfi, Sisi berlari secepat mungkin, ia segera menyetop Taxi yang kebetulan lewat dihadapanya. Sepanjang perjalanan pulang, Sisi hanya merebahkan tubuh seraya membayangkan apa yang akan terjadi denganya nanti.


"Huuuh!"


Ia membuang napas kasar, memejamkan mata berkali-kali, Sisi terbayang wajah marah Arfi, yang cukup menyeramkan menurutnya.


"Mbak... aku harus bagaimana?" Sisi mencari solusi, dan menceritakan masalahnya kepada Nayla.


"Pergi ke rumah mami dan papi saja, jangan pulang ke apartemen!" justru Arfa yang menyarankan, karena kebetulan, pria itu sedang bersama Nayla


Sisi diam sejenak, sebab merasa takut saat Arfa yang berbicara. "Kak Arfa, tidak akan memberi tahu saudaramu'kan, jika aku curhat seperti ini?'


"Santai... kamu jangan takut! Nanti, aku coba menasehatinya lewat telepon!"


Pembicaraan pun berakhir, Sisi memutuskan untuk ke apartemen dulu, untuk mengambil beberapa lembar baju.


Ck...


Setibanya di apartemen, si cantik justru terkejut sebab sang suami audah ada di rumah. Secepat kilat Arfi menarik tangan Sisi dan mencengkram erat.


"Lepaskan! Sakit!"


"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa menghindar dariku?"


"Kak.... beri aku waktu untuk sendiri dulu! Karena, aku masih terbayang-bayang, ganasnya kamu saat meng*cup bibir wanita lain!" jujur Sisi tanpa ragu. "Hatiku sakit mengingatnya.".


"Hah...?"


Arfi spontan melepaskan cengkraman ditangan Sisi, ia tak menduga jika sang istri masih mengingat perbuatanyà tadi malam.


Wuuuush!


Sisi mendorong tubuh Arfi, dan secepat kilat ia beranjak. Karena terlalu panik, si cantik spontan berjalan masuk kedalam kamar mandi, sadar jika Arfi mengejar, ia langsung mengunci pintu yang akhirnya ia terjebak didalam sana.


"Sisi- Sisi- buka!!"


Pria muda tersebut berteriak memanggil nama sang istri, meminta Sisi untuk membuka pintu.


"Si- buka!" suaranya mulai pelan.


"Tidak mau.. nanti kakak menjajah tubuhku!" sahutnya dari kamar mandi.


Sejenak Arfi terdiam, ia paham hal apa yang membuat wanita itu ketakutan. Takut jika ia akan menghajar tubuhnya hingga tak berdaya. Padahal Arfi tak memiliki niat seperti itu sedikit pun. Nyatanya perlakuan buruk ia di beberapa waktu lalu, membuat Sisi trauma.


"Si- kakak janji tidak akan menidurimu!'


"Bohong! Kakak pembohong!" brontak Sisi tegas.


"Tidak. Kamu boleh pergi, jika aku menjajah tubuhmu lagi!'


Akhirnya, Sisi luluh juga, ia perlahan membuka pintu kamar mandi dan ditatapnya wajah sang suami yang tampak sedih dan berkaca-kaca.


"Kakak, berjanji! Tidak akan memperlakukanku buruk lagi!!'


"Iya."


Jujur Arfi menyerah, karena ia takut jika Sisi akan pergi dari hidupnya. Sedari tadi malam, istrinya itu mulai memberontak dan melawan, ia yakin, jika Sisi tak segan untuk meninggalkanya.


"Kakak kenapa?'


"Tidak. Kakak menyesal, tolong jangan pergi!'


"Aku tak berniat meninggalkan kakak. Tapi aku akan terus berontak, jika kakak kejam lagi!' jujurnya.

__ADS_1


Arfi hanya mampu menghela napas berat. Ia mengajak Sisi duduk dan bicara baik-baik denganya.


"Si- jangan pernah berteman dengan pria mana pun!"


"Kenapa, kakak tidak percaya padaku? Atau, kakak cemburu?'


"Cemburu. Iya, aku cemburu," jujurnya.


"Baik, aku tidak akan berteman dengan pria manapun. Lalu, apa lagi yang kakak mau dariku?"


"Jangan pergi keluar tanpa seijinku! Kamu harus pergi bersamaku kemana pun!"


"Baik. Lalu, apa lagi?'


"Kamu harus setia. Cukup, itu saja!"


Sisi tersenyum datar, ia semakin sadar jika hidup bagaikan didalam penjara cinta. Yang jelas, apapun yang akan ia lakukan, harus seizin Arfi.


"Baik, aku setujuh. Tapi jangan jadikan aku budak n^fsu'mu!"


"Siap...!"


Sore ini, Arfi dan Sisi menulis perjanjian diatas kertas. Keduanya saling berjanji akan setia sampai mati dan tidak akan saling menyakiti, juga akan saling melengkapi.


"Sayang kakak."


"Sayang Sisi juga."


"Peluk!"


Bak anak kecil, yang baru berdamai karena pertengkaran. Sisi dan Arfi saling menatap penuh arti.


"Maafkan kakak!"


"Iya."


***


"Beli apa saja boleh!" seru Arfi pada sang istri.


"Benar?"


"Iya... sayang!"


Sisi berlari menuju toko sebuah dan membeli boneka Doraemon, dari yang kecil lalu yang paling besar.


"Berapa harganya?"


"1.2 juta, pak."


"Hanya boneka?"


"Tapi istri anda membeli banyak."


"Oke..!"


Dengan wajah kusut, Arfi membayar boneka yang Sisi beli. Bahkan istrinya itu kini sudah berada di depan toko baju-baju Barbie. Dengan sangat semangat, Sisi memilih, ia memborong semua warna. Pink, biru, merah dan lain-lain.


"Berapa mbak?"


"857 ribu, pak! Semua baju itu harganya 1.7 juta, tapi hari ini ada diskon besar-besaran. Jadi cukup membayar dengan harga yang saya sebut tadi."


"Okeh.'


Dengan menghela napas berat, Arfi mengeluarkan 9 lembar uang dari dompetnya. Dan lagi, Sisi sudah berada didepan penjual es krim.

__ADS_1


"4 rasa ya, mas!" pinta Sisi.


Dua ia makan, dan dua lagi ia beri untuk sang suami. Dengan senyum terpaksa Arfi pun menurutinya.


"Kak.. aku mau naik itu!"


"Boleh."


"Dengan kakak, naiknya!"


"Huuuh! Okeh..., ayo!"


Lagi, dengan berat hati, ia menuruti keinginan sang istri, menaiki salah satu wahana permainan.


"Uhhhhh.... Haaaaaa!'


Sorak Sisi gembira, si cantik tertawa lepas. Menikmati hari bebas, dimana ia sangat mendambakanya. Jalan-jalan, shoping, dan bermain. Sisi bertingkah seperti anak kecil.


"Hem..!"


Arfi tersenyum, ia bahagia melihat tawa sang istri, yang tampak menikmati hari ini. Wajar Sisi bertingkah layaknya anak remaja, usianya baru 18 tahun dan teman-teman seusia dia, pasti sedang berkuliah, sementara si cantik, harus terjebak dalam sebuah pernikahan, yang seolah merampas masa mudanya. Sadar, telah membuat Sisi menderita, kini Arfi bertekat untuk berubah, tugasnya melindungi sang istri dan membahagiakanya..


"Kak- nonton bioskop yuk! Dulu saat masih SMA, teman-temanku selalu cerita, mareka nonton film ini'lah, itu'lah dan aku hanya bisa mendengar bercerita." jujur Sisi membuat Arfi menatap sendu.


"Kenapa, Sisi gak nonton?"


"Mahal kak tiket masuknya. Daripada buat nonton bioskop, ya mending buat makan 2 hari." tambahnya lagi.


Arfi tak kuasa menahan rasa sedih. Sesulit itu hidupnya dulu, tapi saat menikah, ia justru membuat Sisi menderita.


"Ya sudah. Ayo nonton! Kita beli tiket masuk dulu!"


"Tapi kak, belanjaan sebanyak ini, apa boleh di bawa masuk?"


"Ya gak dong sayang. Nanti kita titipkan dulu disana!" Arfi menunjuk sebuah tempat yang disediakan untuk tempat penitipan.


Sisi berdecak senang, ia sungguh semangat, ingin segera masuk ke gedung bioskop.


"Kamu mau nonton film, apa?"


"Kartun ini, kak!" Sisi menunjuk.


"Yakin, mau? Itu di putar jam 5 nanti!"


"Kenapa gak diputar sekarang saja?"


"Tidak bisa sayang. Setiap judul film pasti sudah ditentukan jam tayangnya."


"Ohh begitu ya."


Sisi pun menurut saja, mengikuti apa yang ingin di tonton Arfi. Si cantik meraih tangan sang suami dan menggenggam erat.


"Kakak..,"


"Iya."


"Jangan berubah lagi ya! Tetaplah seperti ini!" pintanya penuh harap.


Arfi membalasnya dengan senyum tulus. Ada penyesalan di netra indah milik si tampan, ia harus berjanji pada dirinya sendiri, agar bisa menahan emosi. Dan memperlakukan Sisi sebaik mungkin, karena hidup si cantik kini menjadi tanggung jawabnya.


.


.


.

__ADS_1


.


TERIMA KASIH


__ADS_2