
šSelamat Membacaš
Airin maju selangkah, kini wajahnya berhadapan tepat di wajah sang papa, wanita itu sudah tak sabar, ingin mendengar kenyataan yang sebenarnya.
"Katakan pah! Jangan ada yang di tutupi, kenapa kak Rio berkata, jika aku dan dia bukanlah saudara?!"
Airin benar-benar memaksa, sebab karena ucapan itulah, ia tak memiliki selera melakukan apapun.
"Kau," Yuda mulai buka suara.
"Yaa... aku kenapa?"
Pria paruh baya itu menarik nafas panjang, sebelum mengungkap rahasia, yang ia simpan bertahun-tahun lamanya.
"Kau.... anak haram," lirihnya sedikit ragu tapi suara itu masih terdengar jelas.
"A_apa, katakan sekali lagi!!"
Air mata sudah jatuh tanpa sopanya, namun ia mau mendengar lebih jelas lagi.
"Kau... anak, haram, Rin!!" Yuda menegaskan.
Bak di sambar petir di pagi buta, hati Airin hancur luar biasa.
"Airin bukan anak haram, pah!" Rio tak terima dengan ucapan sang papa.
"Iya, sebenci apapun papa kepadanya, Airin tetap anak kandungku, darah dagingku." kini Anita sang mam pun ikut berbicara.
Lemas. Berdiri dan bertumpu pada kakinya, sungguh sulit saat ini, Airin terduduk lesu, hingga membuat Alvian sedikit panik.
"Ayo kita pulang saja, Rin!" ajak Alvian pada sang istri, sungguh ia pun merasakan betapa hancurnya hati wanita yang sudah ia nikahi tersebut.
"Aku masih mau mendengar, semua cerita di masa lalu, sampai papa tega, berucap... jika aku anak haram," lirihnya pelan.
Mendengar itu, Yuda pun akhirnya bercerita, meski Rio dan sang istri berusaha untuk melarangnya, tapi tak urung menggagalkan niatnya untuk berbicara.
~Masa Lalu~
Bertahun-tahun yang lalu, Yuda menikah dengan seorang wanita bernama Kania, namun istrinya itu meninggal dunia saat melahirkan "RIO". Dan di tengah ke terpuruknya, hadirlah Anita yang menjadi penyemangat di saat hatinya tengah berduka, Yuda pun memutuskan untuk kembali menikah, namun di selang 2 tahun pernikahan, Anita ternyata berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, bahkan dari perselingkukan tersebut, Anita pun melahirkan "AIRIN". Ribut besar tak bisa ter'elakan, keduanya pun hampir bercerai, namun cinta di hati Yuda lebih besar daripada rasa benci, dan membuat keduanya kembali hidup bersama. Dari penikahan antara Yuda dan Anita, mereka pun memiliki anak, dialah "AMIRA".
"Aku sudah berusaha menerimamu, karena, saat usiamu memasuki 4 bulan, ayah kandungmu pergi entah kemana, hilang tanpa jejak. Tapi semakin aku mencoba menerima, aku semakin mengingat luka yang amat luar biasa sakitnya. Nyatanya aku tak bisa menerima kehadiranmu," Yuda menjelaskan secara menyeluruh, tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
Sakit. Hancur. Kacau.
Semua kata-kata itu, tak melukiskan betapa remuknya batin Airin, tangisnya pecah dadanya sesak luar biasa, ia menangis, bahkan air matanya enggan untuk berhenti.
Tak ada kata yang terucap sedikit pun, Alvian segera memapah tubuh istrinya, lalu membawa Airin keluar dari rumah.
"Al... tunggu!"
Rio berlari, mencoba untuk menghentikan langkah Alvian, yang pergi membawa Airin.
"Tolong, izinkan aku berbicara padanya!"
"Tidak, kau pasti akan menghancurkan hati istriku juga," larang Alvian.
__ADS_1
"Sebentar saja!" pinta Rio berharap.
"Turunkan aku, Al! Biarkan dia berbicara!" titah Airin pula.
Meski berat, pria muda itu segera menuruti apa yang di minta oleh Airin
"Katakan, apa yang ingin kau katakan!" cetus Airin spontan.
"Sebesar apapun, papa membencimu. Aku tak pernah benci sedikit pun padamu, bahkan, aku justru jatuh cinta, dan akan selalu cinta,"
Airin menarik sudut bibir, lalu menggigit kecil bibirnya sendiri, ia seolah tak perduli saat Rio, jujur akan semua perasaan yang dia punya.
"Katakan, sejak kapan kakak tau, jika aku bukan anak kandung papa! Lalu, kenapa kakak tak memberitahuku?" tanyanya dengan suara terbata-bata sebab merasakan sesak yang memenuhi dada, bahkan sorot matanya seketika menajam pada sosok wanita yang berdiri tepat di belakan Rio.
"Aku tahu semua ini, sejak kau masuk SMA.. saat itu kau kecelakaan dan terluka sangat parah, hingga mengeluarkan banyak darah. Maka dari itu kau butuh orang untuk mendonorkan darah kepadamu, tapi nyatanya baik mama ataupun papa, darahnya tidak cocok dengan darahmu, lalu aku mendesak papa untuk jujur, ternyata dugaanku benar, jika kau bukan adikku, sebab saat itu darahmu cocok dengan darah ayah kandungmu. namun jangankan mendonorkan darah, menemuimu saja dia tidak pernah," ungkap Rio lagi.
Airin terdiam, ia merasakan kepalanya berputar-putar,
"Aku tetap menyangimu, Rin,"
Plaaaak!
Sebuah tamparan mendarat aman di wajah Rio, sebab Yuda benar-benar murka, setelah mendengar jika Rio jatuh cinta kepada Airin.
"Masuk kamar!"
"Pah..," Rio memohon.
Namun Yuda tak perduli, ia menarik paksa, anak laki-lakinya untuk menjauhi Airin.
"Sebaiknya kalian pergi! Sebelum membuat kekacauan yang lebih parah lagi!"
Yuda mengusir keduanya, yang spontan semakian membuat Airin berlinang air mata.
"Sialan. . . Aku tak akan pernah memberimu ampun. Lihatlah... kau akan lebih hancur lagi diri ini!"
__ADS_1
Ancam Alvian tak main-main, tanpa pikir panjang ia mengajak Alvian segera pulang. Sementara di sisi lain, sebenarnya Anita sang mama pun sama hancurnya, Air mata yang membanjiri wajah anaknya, tentu saja membuat ia terpukul, namun Anita tak bisa membela, ia hanya berharap jika Alvian akan menjadi malaikat bagi anaknya.
\*\*\*
Sepanjang perjalanan pulang, Airin memilih untuk membisu.
"Anak haram,"
Ucapan Yuda sungguh melukai batinya, sesulit itu Airin melupakan, bahwa dia di anggap anak haram.
"Menangislah, Rin! Jika air mata, bisa membuat perasaanmu lega,"
"Al... aku benar-benar sadar, karena aku di anggap anak haram\_lah, yang membuat papa bersikap tak adil padaku," lirihnya seraya menyeka air mata.
"Kau bukan anak haram, Rin,"
"Tapi,"
Suara Airin tertahan, sebab telunjuk sang suami kini berada tepat di bibirnya, Alvian tak memberi izin, sang istri untuk berbicara, terlebih lagi, jika ucapan itu justru akan menyakiti hatinya sendiri.
"Yang haram itu bukan dirimu, setiap anak yang lahir di dunia, adalah sebuah anugrah. jadi, haram itu perbuatan mamamu, dan ayah kandungmu," Alvian menenangkan suaminya.
Meski sang suami mencoba untuk menguatkan, tapi nyatanya tak merubah perasaan Airin yang hancur.
"Aku tak bisa mengatakan apapun, hanya berharap, jika kamu adalah wanita hebat."
"Aku, tak setangguh itu Al,"
"Tapi, kamu kuat, Rin... sejauh ini, kamu selalu mampu menghadapi, hal apapun yang membuatmu jatuh,'
Spontan, Airin menyandarkan kepalanya di pundak Alvian, saat ini sang suamilah yang selalu membuatnya kuat.
"Aku tak pernah mengerti kenapa aku dilahirkan? Bahkan aku tak pernah meminta Tuhan, untuk meniupkan ruhnya ke dalam rahim mama. Andai kata ,ada semacam pemilihan di Alam Ruh, aku lebih memilih untuk tidak di lahirkan. Tapi kini semua harus ku jalani, menangis besedih dan berontak pun percuma, karena kenyataanya, selama ini papa, menganggpku anak haram, wajar.. karena hadirku adalah bukti lukanya, yang sangat nyata.
Airin, membuat tulisan tersebut, lalu mengirimnya ke no WhatsApp sang mama.
.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih kakak-kakak baikš¤, semoga tetap betah ya, di siniā¤ā¤.