Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 10 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Kesal karena Cia tak mau memberi tahu, siapa nama Bos Adik angkatnya itu. Sisi hanya bisa menghela napas sebal. Marah pun percuma, karena mau memberi tahu atau tidak itu hak Cia. Tapi sejujurnya ia benar-benar penasaran, karena Cia selalu berkata, jika Bos'nya adalah seorang duda muda. Tentu saja sangat tidak salah, jika Sisi sangat ingin tahu, siapa nama panjang Bos Cia itu. Benarkah dia Arfi sang mantan suami, atau Arfi yang lain? Entahlah.


"Aah, ngapain sih kepo, Si... dia aja nggak pernah tuh kangen kamu. Buktinya sampai detik ini, Arfi gak pernah kasih kabar atau basa-basi tanya kabar." omel Sisi jengah. Ia tentu saja selalu mengutuki diri sendiri yang tak bisa move on dari Arfi. Detik ini ia marasa sangat sedih, karena seperti yang Sisi bilang tadi. Arfi tak pernah basa basi menghubungi, padahal ia tak pernah mengganti no ponselnya sama sekali.


'"Lama-lama stress terus begini. Diam, nggak ada kerjaan, setiap jam rindu Arfi, aaah.. menyebalkan. Sepertinya aku harus mencari pekerjaan saja dan berusaha untuk menyibukan diri." tekat Sisi bulat.


Dengan ke sibukanya jika bekerja, setidaknya Sisi tak akan terus memikirkan Arfi. Lagi pula ini salahnya sendiri, ia yang meminta cerai, ia juga yang sakit hati. Terlebih lagi, Sisi tak bisa menyukai pria lain lagi. Arfi cinta pertama dalam hidupnya.


"Oke Kak, nanti aku tanyakan ya!"


Cia merespon, saat Sisi minta gadis itu mencarikannya lowongan pekerjaan. Tapi jika di tanya siapa nama panjang bos'nya, Cia memilih tak perduli.


"Oke, makasih.. semoga kita satu kantor nanti ya, supaya bisa pulang dan pergi sama-sama terus."


"Aku magang Kak, nggak selamanya kerja di sini."


"Gak masalah, yang penting kita akan kerja sama-sama, meski tidak akan selamanya."


"Oke deh kalau gitu. Nanti aku tanya Pak Arfi, ada nggak pekerjaan untuk Kakak. Tapi inget, kalau nanti Kakak kerja di sini, jangan jatuh cinta dengan dia! Pak Arfi harus jadi calon imam'ku!"


"Buhahahah... iya, iya...... aman Cia, lagi pula aku bukan manusia yang gampang jatuh cinta. Karena sebenarnya, aku masih menyimpan hati untuk mantan suamiku dulu." Sisi tak sadar, ia sebenarnya sedang curhat.


"Kakak keren, setia'nya nggak bisa di ragukan lagi."


"Halah lebay!"


Sisi mematikan telepon secara sepihak. Membuat Cia di seberang sana, merasa emosi dan marah. "Dasar, Kakak nggak ada akhlak," umpat gadis itu kesal.


Sampai-sampai, Cia tidak sadar sudah ada Arfi berdiri tepat di depannya kini. Pria itu menyilangkan tangan ke perut, tapi tatapanya mematikan.


"Ehh, ada Bapak.... maaf Pak, tadi Kakak ku rada nyebelin."


"Eh bocah, di kantor itu kerja, bukan teleponan!"


"Ya maap Pak! Soalnya tadi ada hal penting." Cia diam sejenak. "Kakak ku nanya, di sini ada lowongan pekerjaan atau nggak? Kalau ada.. dia niat kerja, jadi apapun boleh katanya." tambah gadis itu lagi.


"Ada... jadi asisten pribadi saya jika mau. Tapi saya butuh orang yang kalem, nggak bar-bar kayak kamu. Kakak mu bar-bar nggak? Kalau persis kamu sifatnya, saya tolak mentah-mentah!"


"Ihh sih Bapak mah tega, begini-begini aku orangnya setia loh. Tapi kalau nanya sikap Kakak ku, dia orangnya sopan dan kalem banget. Di jamin Bapak bakal lengket!"

__ADS_1


"Serius?"


"Sepuluh rius, Pak. Jadi gimana?"


"Oke, suruh dia menghadap saya besok!'


"Siap Pak Bos!"


Senang bukan kepalang, Cia langsung memberikan kabar bahagia itu untuk Sisi. Dan Kakaknya pun langsung merespon dengan sangat gembira. Akhirnya Sisi bisa bekerja lagi dan tak akan jadi pengangguran.


"Terima kasih Adik ku yang paling baik. Kakak mau siapin baju buat besok, karena kalau interview, penampilan harus elegan. Iya kan?" balas Sisi melalui pesan singkat.


"Iya Kak, iya."


Sorak bahagia Sisi turut di rasakan secara nyata oleh Cia. Gadis itu pasti akan tersenyum sumringah, jika mood Kakaknya sedang baik-baik saja.


.


.


.


***


"Nunggu siapa?" basa basi Arfi tiba-tiba.


"Taxi online, Pak."


"Mobilmu kemana?"


"Rusak lagi."


"Ohh, mau saya antarkan tidak?"


"Eh,"


"Tidak ada penawaran dua kali. Jika mau ayo masuk ke dalam mobil saya!"


Sisi tidak menjawab, ia melebarkan senyum di wajah seraya melangkah masuk ke dalam mobil milik Arfi. Ini kali kedua, pria itu mengantarkan Cia pulang.


"Temani saya, makan dulu!" ajak Arfi tanpa ragu.

__ADS_1


Cia hanya diam, wajahnya tertunduk kian dalam. Tapi hatinya berbunga-bunga, karena ia merasa Arfi seolah memberikan sinyal. Kalau ia boleh masuk ke dalam hidup pria itu.


"Mau nggak?"


"Bo-boleh, Pak."


Setelah memacu mobil selama kurang lebih lima belas menit. Arfi menghentikan mobil di sebuah rumah makan mewah, dan tentu saja ramai pengunjung. Cia seketika merasa canggung, pasalnya saat masuk ke dalam sana, banyak pasang mata tertuju padanya.


"Silahkan Pak Arfi!" pelayan rumah makan sepertinya sudah sangat mengenali pembeli yang satu ini.


"Tolong bawakan saya semua menu berbahan Ayam! Saya lapar, karena dari semalam belum makan," ujar Arfi pada sang pelayan.


Memang begitu nyatanya, karena sejak tadi malam, Arfi belum mengisi perutnya dengan makanan apapun. Tadi malam berkemah di halaman rumah Angga, juga tidak ada persiapan makanan sedikit pun, sebab berkemah karena dadakan. Sementara tadi pagi, Arfi buru-buru pergi ke kantor pagi-pagi sekali.


"Cia, tolong... besok Kakakmu harus menemuiku jam sebelas siang, Jangan kurang atau pun lebih, harus datang tepat waktu.


"Siap, Pak. Oh iya, anda tidak boleh jatuh cinta kepada Kakakku itu!"


"Loh kenapa?" telisik Arfi penasaran. "Lagi pula, cinta kan datangnya tiba-tiba, setiap orang mana tau akan jatuh cinta kepada siapa."


"Tapi kali ini di larang, sebab aku yang jatuh cinta kepada anda, jangan kaget dan jangan menghalangi, jika aku akan terus berusaha agar anda jatuh cinta kepada ku juga!"


"Ehh, kok gitu?" gugup Arfi tak bisa di pungkiri.


"Seperti yang anda katakan tadi, jika cinta, tidak akan memandang kepada siapa hati akan berlabuh. Begitu juga dengan perasaanku."


Seketika Arfi mendadak kelu, ia tïdak bisa berkata-kata. Tepatnya di buat salah tingkah oleh gadis muda yang kini bersamanya. Ia heran, Cia tidak ragu sama sekali, untuk mengungkapkan isi hati.


"Kamu tahu kan, jika saya ini duda?" pertanyaan ini spontan membuat Cia tertawa.


"Tahu. Tapi bukan masalah bagiku." tegas Cia tidak ragu sedikit pun.


"Kok ada ya, manusia sejujur kamu? Tapi saya ragu, kamu itu benar-benar cinta kepada saya atau hanya kagum saja. Secara kita belum terlalu lama saling mengenal." ucap pria itu pajang lebar.


"Aku akan membuktikan, kalau perasaanku ini adalah sebuah cinta. Maka jangan melarang, saat aku akan berusaha meyakin kan anda."


Tak ada lagi kata yang tepat untuk membalas pertanyaan Cia. Mengajak gadis di hadapanya makan bersama sore ini, apakah sebuah kesalahan atau tidak? Pernyataan Cia yang tiba-tiba, sukses membuat Arfi menggeleng kepala berkali-kali.


.


.

__ADS_1


.


L A N J U T


__ADS_2