
❣Selamat Membaca❣
Sisi mengusap air mata yang jatuh membasahi wajah, seraya sesekali membuang napas kasar. Dadanya sesak, jantung seakan berhenti berdetak. Pertemuan yang sangat ia rindukan, justru menjadi luka tak kasat mata yang kini ia rasa. Haruskah pertemukan kali ini di sebut sebuah kesalahan. Andai tahu keadaannya akan begini, Sisi pasti tak pernah berharap dan terus meminta untuk bertemu dengan mantan suaminya itu.
Terkadang memang, semua yang kita harapkan tak sesuai kenyataan. Tapi tenggelam dalam rasa sedih adalah hal yang tak berguna sama sekali. Sisi beranjak dari atas ranjang lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sisi tak mau, Cia melihat ia menangis seperti tadi.
Benar saja!
Lima belas menit setelah Sisi mandi, Cia pun tiba di kos-kosan. Gadis itu menatap sang Kakak lekat-lekat, pasalnya wajah Sisi nampak pucat.
"Asma Kakak kambuh, ya. Kok pucet banget?"
"I-iya, nih. Asma kambuh terus kepala sakit juga, alhasil muka jadi kayak tomat busuk, tapi sekarang sudah nggak sesak lagi, karena Kakak sudah minum obat tadi."
"Syukurlah kalau begitu." Cia tersenyum manis dan bergegas duduk di samping Sisi.
"Kamu kemana? Kok pulangnya malem banget? Terus itu, yang kamu bawa apa?"
"Astaga, pertanyaan Kakak banyak amat." Cia mengerucutkan bibir. "Aku tadi jalan bareng Pak Arfi, jadi pulangnya malem deh. Kalau ini makanan, Pak Arfi juga yang beliin buat Kakak katanya, sepecial. Nih ambil!" ucap Cia lagi seraya memberikan apa yang Arfi beli tadi untuk Sisi.
"Apa ini?"
"Buka aja!"
Munafik, jika Sisi tak penasaran prihal apa yang Arfi beli. Dan benar saja, pria itu membelikanya satu buah Pizza berukuran mini dengan toping full sosis tanpa toping yang lainnya
"Haah!" decak Sisi pelan.
Bagaimana ia tidak terkejut, karena dari dulu sekali, ia memang paling suka memakan Pizza dengan toping sosis sepenuhnya. Tak di sangka, Arfi tidak melupakan makanan ke sukaan Sisi yang satu ini.
TING!
Sebuah pesan masuk dengan no handpone yang tidak Sisi kenal. Mengucapkan salam dengan emoticon love di belakangnya. Sontak hal itu membuat Sisi terkejut
"Siapa sih, ini?" tanyanya pada diri sendiri, karena Cia sedang beradai di dalam kamar mandi. "Maaf ini, siapa?"
("Menurut kamu, siapa?")
"Udah deh, nggak usah bertele-tele. Kasih tau aku, kamu siapa!"
("Heemmmmmmm,") balas no baru itu singkat.
"Ham, hem, ham, hem. Udah deh, kalau nggak mau jujur, no kamu bakal tak blokir!" Sisi mengancam.
("Ehh, jangan dong! Oke, aku Arfi)" meski sedikit ragu tapi Arfi masih tetap mengatakanya.
"Dapet no hp saya, dari siapa?"
("Adik, kamu. Santai dong, nggak usah marah-marah!")
__ADS_1
"Jangan ganggu saya. Paham!"
("Nggak paham tuh!")
"Ihh, ngeselin banget. Udah dua puluh sembilan tahun kan? Jangan sok imut, deh!"
("Tapi saya merasa, memang imut,")
"Uwwekk, muntah saya,"
("Hahahaha, salam rindu, wanita yang sampai detik ini, masih ku harapkan!") Arfi mengirim pesan singkat yang spontan membuat Sisi tecekat. Wanita itu mendadak kelu membaca pesan itu.
"Jangan gila! Kamu pacarin Adikku, tapi seberani ini ketik begitu." balas Cia lagi.
Namun, sampai menit ke tiga puluh lima, tidak ada balasan dari Arfi lagi. Entah kenapa, Sisi mendadak gusar dan terus bertanya-tanya sendiri. "Apa ada yang salah dari ketikanku? Aaah, terserah!" seketika ia mengusap wajah sarkas.
"Eh, Kakak kenapa, sih? Dari tadi bolak balik liatin hp mulu, mana ngomong sendiri terus di jawab sendiri. Ngeri aku tuh,"
"Ngeri kenapa?" Sisi menatap tajam wajah Cia.
"Ngeri, kalau Kakak ke sambet khodamnya si Nur, KKN di Desa Penari." lawak Cia bukan main.
"Aah strees kamu, mau khodamnya Nur, mau Khodamnya Lucinta Luna, nanti mereka semua mau Kakak ajak temenan. Kan keren punya temen mahluk halu."
"Ihhhh, an njir deh. Temenan sama makluk halus ko bangga."
"Dari pada, temenan sama mahluk kasar,"
"Semua mahluk yang kasat mata, artinya kasar. Hehehe," jawab Sisi aneh bin tak masuk akal.
Cia mendengus sebal setelah itu menjatuhkan tubuh di atas ranjang untuk segera tidur, ia tak membalas candaan Sisi baru saja. "Aku ngantuk Kak, padahal besok pagi-pagi aku harus ke rumah Mama dan Papa."
"Iya tidurlah, mimpi indah ya!"
Sesaat kemudian, Sisi tersenyum kelu karena dalam sekejab, Cia sudah memejamkan mata. Anak ini selalu tampak murung jika berbicara tentang kedua orang tuanya sendiri.
.
.
.
***
Ke esokan paginya, Cia sudah lahap menyantap sarapan yang di siapkan Sisi sejak tadi. Dengan laham gadis itu menikmati suap demi suap.
"Kak Sisi rapih banget, mau kemana?"
"Kerja,"
__ADS_1
"Di kantor Pak Arfi?"
Sisi mengangguk ragu. "Iya, karena Kakak memang butuh pekerjaan,"
"Akhirnya kita satu kantor juga. Eeemm, tapi ntar dulu deh, kalau Kakak di terima kerja, terus kemarin kenapa Kakak jadi galak banget? Kakak keliatan sedih dan abis nangis, tapi bohong dengan bilang asmanya kambuh?"
DEEG!
Sepaham itu Cia terhadap sikapnya, detik ini ia menjadi sedikit kelu. "K-kakak kemarin sebenarnya nggak di terima, tapi Kakak mohon-mohon sampai nangis bahkan sesak. Karena Kakak butuh pekerjaan. Buat bayar kos-kosan dan makan setiap harinya." spontan ide ini terbesit di pikiran Sisi.
"Astaga Kak, aku masih punya tabungan. Uangnya cukup buat kita berdua untuk satu tahun ke depan. Kakak nggak perlu mohon-mohon!"
"Sudah terlanjur dan Kakak harus kerja pagi ini.:
"Okeee, semangat Kakakku!"
Cia memeluk erat tubuh Sisi, ia bisa merasakan detakan jantung yang tak beraturan dari wanita ini. Tapi bertanya pun percuma, karena hobby Sisi memang menyembunyikan rahasia.
"Aku pergj dulu ya, Kak!"
"Hati-hati di jalan!"
Sisi langsung menautkan kedua alisnya, saat melihat siapa yang datang menjemput Cia. Anak muda yang tampak gagah meski menggunakan baju dinas satpam. "Angga?" lirinya dalam hati.
.
.
.
***
Jam setengah delapan, Sisi sudah tiba di kantor, pagi ini semua mata tertuju ke arahnya. Sisi sangat cantik, bahkan mereka tidak akan sadar jika usia wanita ini sudah dua lima tahun.
"Selamat pagi," Sisi menyapa dan membungkukan badan tanda perkenalan. "Salam kenal untuk kalian semua," tambahnya lagi.
Mereka semua membalas sapaan Sisi dengan senyuman dan melambaikan tangan. "Cantik banget gila! Calon jodoh gue kayaknya!" celetuk beberapa karyawan pria yang terlihat masih sangat muda-muda.
"Sisi- masuk ke ruangan saya!" panggil Arfi tiba-tiba.
"Buset, nih laki pagi-pagi udah di kantor aja," ocehnya dalam hati. Tapi ia tetap masuk ke dalam ruang kerja Arfi.
Sementara beberapa karyawan pria membuang napas gusar. "Kalau sainganya Pak Arfi, aku mundur deh," ujar karyawan itu spontan. Dan langsung menimbulkan gelak tawa di kantor pagi ini.
.
.
.
__ADS_1
B E R S A M B U N G