
šSelamat Membacaš
Alvian menghempaskan tubuhnya, setelah tiba di rumah, pria muda itu mampu bernafas lega setelah mendapatkan apa yang sang istri harapkan.
"Makasih, ya!" ucap Airin seraya menikmati Es krim rasa Vanila yang Alvian beli untuknya.
Sementara si tampan melirik ayam-ayam kecil, yang Airin letakan di atas meja.
"Ayamnya bringsik, Rin. Tarok luar ya, aku mau tidur!"
Sepontan Airin menghentikan aktifitasnya memakan Es Krim, secepat kilat ia menyambar anak-anak ayam tersebut lalu, ia bawa keluar kamar.
"Eh,"
Alvian menautkan kedua alisnya, ia menangkap sinyal-sinyal tak baik dari silap sang istri.
"Marah, Rin?"
"Gak," jawabnya datar.
"Ya maaf! Aku cuma mau tidur, bukan gak suka sama anak ayamnya," ucap Alvian.
"Ya udah tidur sana, ayamnya udah diem. Jadi tak akan mengganggu tidurmu,"
Pria muda itu, segera melangkah masuk kembali ke dalam kamar. Karena terlalu lelahnya, ia seolah tak perduli jika Airin sedang marah.
"Selebay itukah, ibu-ibu hamil," grutu Alvian sebelum memejamkan mata.
**
Jam delapan pagi, Airin sudah selesai mandi dan rapih, ia menyiapkan sarapan untuk sang suami.
"Rin, mama ke kantor dulu, ya! Kamu, jangan terlalu lelah, nanti siang ke rumah sakit, priksakan kandunganmu. Minta vitamin suaya kamu dan bayimu, sehat!" titah Tania yang membuat Airin menggeleng pelan.
Si cantik menaraik sudut bibir, lalu menggigit kecil, ia merasa si mama mertua terlalu berlebihan padanya.
"Ya ampun! Yang hamil siapa, yang sibuk siapa?" grutunya lalu mendudukan tubuhnya di sofa.
Sang papa yang mendengar pun, seketika saja tertawa sejadi-jadinya, ia melihat betapa kesalnya Airin saat si mama benar-benar overprotektif, terlebih pada kehamilanya.
"Baik-baik, Rin!" ucap Reyhan lalu melangkah keluar dari rumah.
"I_iya, pah," gugupnya
Airin cukup terkejut, saat si papa menyapa, ia malu luar biasa karen sudah pasti pria paruh baya itu mendengar grutu'anya baru saja.
"Mama'mu, terlalu menggebu-gebu, mau punya cucu... jadi dia bersikap berlebihan padamu," tambahnya sebelum benar-benar enyah dari hadapan Airin.
Si cantik mengangguk paham, ia menggaruk-garuk kepalanya sendiri, yang sebenarnya tidak gatal di rasa.
"Huuh,"
__ADS_1
Airin bernafas lega, ia langsung mendudukan kembali tubuhnya di Sofa.
***
"Rin,"
"Hei, kau sudah bangun?"
"Iya,"
Alvian memandangi sang istri yang tengah memegang jus buah di tanganya.
"Kamu ke kantor hari ini?" tanya Airin lagi.
"Gak, aku sengaja libur, karena mau mengantarmu, ke klinik kandungan dulu," jelasnya.
Si tampan berjalan pelan, namun sorot matanya menatap nanar, sang istri yang tengah tertawa geli, sebab ia seolah tengah memiliki teman baru.
"Rin, kok anak-anak ayamnya di lepas, sih?"
"Kasihan Al, masih kecil. Setauku setiap mahluk hidup semuanya memiliki hak bebas, jadi ayamnya aku lepas aja, biar bisa jalan-jalan," jelas Airin santai.
"Tapi Rin, aku cari anak ayamnya susah lho. Tangkap lagi ya! Nanti aku buatin kandangnya,"
"Tangkap aja sendiri!" titah Airin santai, ia justru berjalan pelan lalu menuju ke ruang tengah untuk menonton televisi.
Alvian menggeleng pelan, sikap Airin membuatnya memasamkan wajah. bagaimana tidak, is sungguh kesal, semuadah itu Airin melepaskan anak-anak ayam tersebut, padahal ia sudah mencarinya susah payah, bahkan rela begadang demi mencari anak ayam. Dan yang lebih membuat Alvian semakin kesal, sang istri melepaskan anak-anak ayam tepat di ruang tamu, yang tentu saja membuat ruangan tersebut sedikit kotor.
Sesigap mungkin Alvian memasukan anak-anak ayam itu, ke dalam sangkarnya. Si tampan meminta si Bibi untuk segera memberihkan.
"Sabar, mas Al! Namanya, lagi hamil, jadi memang sedikit manja," ujar si Bibi pula.
Alvian menarik nafas panjang, lalu membuangnya secara perlahan, ia mengelus dadanya sendiri untuk tetap sabar.
Semenjak hamil, Airin sering kali membuat sang suami kesal, ia bahkan seolah tengah menguji sebatas mana kesabaran Alvian, bahkan semakin bertambahnya usia kandungan, semakin Airin bersikap manja.
***
Siang hari yang cerah, tanpa polesan make up sedikit pun, Airin datang ke kantor membawakan makanan untuk Alvian. Perutnya yang sedikit membuncit membuat Airin malas menyentuh produk-produk kecantikan. Baginya.... asal ia dan sang janin sehat, itu sudah lebih dari cukup.
"Eh," salah satu karyawan menutup mulutnya saat melihat Airin berjalan, ia sebenarnya ingin sekali tertawa melihat penampilan istri bos mereka.
"Kenapa sih?" tanya salah satunya.
"Lihatlah, dia kenapa seperti badut!" ceplosnya seolah fisik Airin yang perutnya membuncit menjadi bahan lelucon.
"Huuus," salah satunya menutup mulut karyawan yang berucap demikiam.
Tapi... apa mau di kata, Airin sudah mendengarnya.
"Apa katamu, aku seperti badut?" kesal Airin, karena terlalu geramnya, ia pun menjambak rambut karyawan tersebut.
__ADS_1
Yang tentu saja, menimbulkan kegaduhan. Sebab karyawan itu berteriak sekuat tenaga, saat Airin menjambak rambutnya.
"Heh, Rin... ada apa?"
Alvian menarik tubuh tangan sang istri, lalu menangkan Airin. Spontan hati Alvian merasa sakit saat melihat cairan bening keluar dari bola mata wanita yang tengah mengandung anaknya.
"A_ada apa, Rin? Kenapa, kau menangis?"
Airin hanya tertunduk, ia tak menjawab pertanyaan yang Alvian berikan, si cantik hanya semakin deras mengeluarkan air mata dari manik indahnya.
"Jelaskan padaku, apa yang terjadi? Kenapa, istriku menangis?!" tanya Alvian sedikit membentak.
Salah satu karyawanpun maju, ia menceritakan apa yang terjadi baru saja, dan hal apa yang membuat Airin marah.
"Apa....?"
Bola mata Alvian menyorot nanar, emosinya sudah tak bisa ia bendung, si tampan berjalan pelan, ke arah salah satu karyawan yang terlihat kesakitan, sebab tadi Airin menjambak rambutnya sekuat tenaga.
"Kau...,"
Praaaank!
Alvian menendang meja yang tak jauh dari keberadaanya, hingga apapun yang ada di atas meja tersebut, jatuh berserakan kelantai.
"Apa kau tak memiliki sopan santun? Apakah mulutmu, hanya kau gunakan untuk menghina? Apakah dulu, saat ibumu mengandungmu, perut beliau tidak membuncit. Kenapa, dengan lancarnya, kau menghina istriku. Haaaaaa?!"
Emosi Alvian tak bisa ia kendalikan, air mata Airin membuatnya sangat-sangat marah.
"Apakah, kau tak memiliki keinginan untuk hamil setelah menikah nanti?"
"Ma_maaf pak!" gugupnya seraya menahan malu.
"Apa maafmu, bisa menghentikan air mata di wajah istriku?"
Si karyawan makin tertunduk lesu, ia menyesali ucapanya tadi.
"Asal kau tau, aku tak pernah membuatnya sakit hati, apa lagi sampai menangis. Setiap hari, aku berusahan untuk tak menyakiti hatinya. Apapun yang istriku mau, selalu ku penuhi. Tapi kau, dengan luar biasanya membully fisik istriku!!" jelas Alvian lagi dengan emosi yang kian menjadi-jadi.
"Ma_maaf pak! Saya akui, saya bersalah," ucapnya lagi.
"Maafmu saya terima. Tapi... mulai hari ini, kau bukan lagi karyawan kantorku!" tambah si tampan lagi.
Alvian segera mengajak Airin untuk masuk kedalam ruang kerjanya.
"Paak, saya minta maaf! Tolong jangan pecat saya!" pintanya lalu mengejar langkah Alvian.
Tapi, pria muda itu seolah tak perduli, keputusanya sudah bulat, sebab sebenarnya sudah sejak lama, Alvian geram, sebab selama ini dialah satu-satunya karyawan pemilik lidah setajam pisau. Dan Alvian berharap dengan di berhentikan kerja, seseorang itu akan sadar diri, hingga tak pernah membully siapapun lagi.
.
.
__ADS_1
Tak ada tempat untuk pembully, sekian terima gajišā¤.