Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Makan Malam dan Cerita Sisi


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


☡Selamat Membaca☡


Hampir 1 jam Sisi masih di otak atik oleh si mbak-mbak salon, mulai dari merapihkan rambut menyulam alis dan bibir hingga bolak-balik mengganti baju. Arfi yang sedari tadi menunggu, hampir saja tertidur karena merasa jenuh.


"Hai,"


Suara itu pelan, tangan lembutnya menepuk pundak Arfi, yang tentu saja membuat si polisi tampan tersebut cukup terkejut. Namun ia di manjakan oleh penampilan Sisi yang cantik sekali malam ini.


"Si_sisi,"


"Hai pak, aku sudah selesai," Sisi tersenyum.


"O_oke, ayo kita pergi!" ajaknya gugup.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Arfa, Sisi dan Arfi memilih untuk diam saja, namun tak bisa di pungkiri, kecantikan Sisi membuat Arfi sesekali mencuri pandang ke arah gadis itu.


**


"Sudah sampai. Ayo turun!"


Arfi membukan pintu mobilnya, lalu meraih tangan Sisi dan melangkah bersamaan untuk segera masuk ke dalam rumah. Sedangkan Sisi memandangi rumah yang akan di masukinya kini, seraya menggeleng pelan.


"Ini rumah atau hotel?" tanyanya dalam hati.


Ceklek!


Pintu rumah mewah itu pun terbuka dan berdirilah sosok pria yang begitu mirip dengan Arfi


"Ayo masuk! Aku sudah menunggu sejak tadi, karena kini sudah hampir jam setengah sembilan," ujar Arfa namun tatapanya menajam ke arah gadis cantik yang tengah menggenggam tangan Arfi.


Tanpa menjawab seruan sang adik, Arfi menarik pelan tangan Sisi untuk segera masuk dan langsung menuju ruang tengah, dan di sana sudah ada Nayla yang sedang sibuk mengupas buah mangga.


"Selamat malam, Nay,"


Dengan sedikit canggung Arfi menyapa istri adiknya, lalu mengajak gadis yang kini bersamanya untuk duduk, sedangkan Sisi tak henti memandangi wanita bernama Nayla.


"Oh, wajar Arfi susah move on. Cantiknya gak ada obat," lirih Sisi di dalam hati.


Sementara itu, Arfa langsung mempersilahkan Arfi dan kekasihnya, untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan.


"Salam kenal, namaku Arfa,.. aku saudara kembar Arfi. Dan ini istriku, namanya Nayla," Arfa memperkenalkan diri


"Ohh, salam kenal. Namaku Prisilia Lisika, tapi di panggil Sisi, biar mudah," Sisi juga memperkenalkan diri.


"Begitu ya... sejak kapan kalian jadian?"


"Satu minggu," jawab Sisi.


"Satu bulan," jawab Arfi.


Keduanya menjawab berbeda, yang seketika membuat Arfa dan Nayla manautkan kedua alisnya.


"Jadi, satu bulan atau satu minggu, nih?!" todong Arfa dan Nayla bersamaan pula.


"I_iya... maksudku, satu bulan," jawab Sisi seraya tertawa datar, karena tangan kiri Arfi, mencubit p^hanya.

__ADS_1


Arfa dan Nayla pun tersenyum, meski keduanya menangkap sinyla-sinyal aneh antara Arfi dan juga Sisi, namun mereka bersikap biasa saja. Dan membiarkan makan malam ini... selesai dulu.


"Si, berapa umurmu?" Nayla coba bertanya.


Arfi spontan menatap wajah kekasih pura-puranya tersebut.


"Umurku 17 tahun kurang 1 bulan," jawabnya jujur.


Bukan hanya Arfa dan Nayla saja yang terkejut, tapi Arfi sendiri menggeleng pelan, saat Sisi mengatakan berapa usianya saat ini.


"Jadi, kamu masih sekolah?"


"Iya, kelas tiga SMA,"


"Woww, bagaimana bisa, kakakku ini, jatuh cinta kepada seorang remaja?"


Sisi terdiam, ia memandangi wajah Arfi tajam, karena gugup, pria itu akan menjawab apa. Prihal pertanyaan yang di ajukan Arfa.


"Kata papi, cinta itu misteri. Kita tidak pernah tau dimana dia akan berlabuh, seperti rasa yang ku punya untuk Sisi, aku sendiri lupa... bagaimana bisa aku jatuh cinta kepadanya. Yang pasti aku selalu nyaman jika bersamanya," jawab Arfi menjelaskan tanpa jeda dan ungkapanya baru saja, akhirnya membuat Arfa dan Nayla percaya sebab Arfi berucap setulus mungkin.


Jam 22.30


Hampir jam 11 malam, acara makan malam dan saling berkenalan pun selesai. Arfa dan Nayla meminta Arfi, sering-sering membawa Sisi main ke rumahnya.


"Si...,"


Arfi coba mencairkan suasana, karena sepanjang perjalan untuk pulang, Sisi memilih untuk diam saja, sama seperti saat berangkat tadi.


"I_iya. Ada apa, pak?" gugup Sisi jelas.


"Lalu?"


"Panggil, Arfi saja!"


Sisi menggeleng cepat, ia merasa canggung terhadap pria yang kini bersamanya.


"Anda, 6 tahun lebih tua, jadi.. mana mungkin aku akan memanggil nama saja," kilah Sisi.


Sejenak Arfi terdiam, ia menarik sudut bibir lalu berpikir, jika ucapan gadis itu benar adanya.


"Oke... terserah kamu saja! Mau pak, om atau abang, suka-suka Sisi,"


"Kakak."


"Haaah?"


"Ya.. kakak. Bagimana jika aku memanggil anda dengan sebutan kakak saja?"


"Ter_se_raaah!"


Arfi sedikit geli akan panggilan yang di ajukan Sisi, tapi kakak lebih baik daripada di panggil bapak. Begitu pikirnya


"Ini bayaranmu!" polisi muda itu memberikan beberapa lembar uang, kepada gadis remaja yang akan beranjak dewasa itu, karena sudah mau menjadi kekasih pura-puranya.


Sisi tak mengambil uang yang Arfi sodorkan, ia langsung turun dari mobil pria itu...... karena memang sudah sampai di depan rumahnya.


"Si. Sisi...!!"

__ADS_1


Arfi pun ikut turun dari mobil dan mengejar langkah gadis mungil itu.


"Hhmm, ambil saja! Lagi pula uang anda sudah habis cukup banyak, karena mengajakku ke salon tadi,"


"Itu tanggung jawabku. Lagi pula aku sudah berjanji akan memberimu uang,"


Sisi tersenyum, ia mengajak Arfi duduk sejenak di teras rumahnya, yang tampak sepi dan tak ada kehidupan sama sekali.


"Kak,'


"A_apa?"


Entah mengapa, Arfi gemetaran karena Sisi memanggilnya "Kakak".


"Anda'kan seorang polisi dan tadi aku sudah membantu. Jadi... bolehkah aku meminta bantuan kakak juga," ujarnya.


"Boleh. Apa yang bisa ku bantu?"


Gadis mungil itu, menarik nafas panjang lalu membuang perlahan. Sisi kini tak berniat akan uang Arfi lagi, karena ia justru berharap polisi tampan itu mau membantunya.


"Aku sebatang kara di dunia ini, sekolahpun karena aku mendapat beasiswa. Dan makan sehari-hari, aku suka mencari pekerjaan dadakan, yang hari itu juga menghasilkan uang," jujur Sisi, mengungkap hidupnya yang sebenarnya.


"Haaah...??" Arfi merasa iba. "Lantas, dimana kedua orang tuamu?"


"Meninggal."


"A_apa, kok bisa?"


"Papa terkena serangan jantung, sementara mamaku gila, karena papa meninggal. Dan kondisi tak wajarnya itulah, hingga mama membunuh dirinya sendiri akhirnya meninggal juga," Sisi tertunduk ia mencoba menahan air matanya.


"Pasti ada masalah yang terjadi, hingga membuat papamu terkena serangan jantung?"


"Benar?"


Sisi bercerita, jika 2 tahun yang lalu, ia hidup di keluarga yang sangat kaya. Tapi tiba-tiba terpaksa harus jatuh miskin, karena rumahnya di sita Bank dan semua aset kekayaan kedua orang tuanya beralih nama, karena sudah di jual oleh seseorang.


"Dulu papaku, memiliki perusahaan di bidang properti, tapi semua itu di rampas oleh orang yang mungkin saja aku kenal. Tapi sampai detik ini, aku belum tau siapa pengkhianat itu, jadi aku mohon, bantu aku untuk menyelidiki hal ini!!" harap Sisi, tapi kini tetes demi tetes air mata tak mampu ia tahan.


Arfi yang mendengar semua cerita SIsi, mampu merasakan betapa sakitnya batin gadis itu. Karena miskin mendadak'lah, membuat papa gadis mungil tersebut, terkena serangan jantung hingga meninggal dunia.


Sssstt... Ck...


Dengan spontan, Arfi menarik si cantik dan membawa Sisi dalam dekapanya.


"Tenang! Aku pasti membantumu," bisik Arfi di telinga Sisi.


.


.


.


.


.


❤TERIMA KASIH😊❤

__ADS_1


__ADS_2