Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 13 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Dalam hidupnya, berkali-kali Sisi mendapatkan kejutan yang tidak terduga. Kejutan yang semakin menjerumuskan ia dalam kubungan kesedihan.


Seperti hari ini, jam ini dan detik ini. Waktu dan takdir sudah bekerja sama, supaya Sisi bertemu Arfi, di situasi yang tak terpikir sama sekali.


BERMESRAAN!


Itu yang Sisi saksikan pertama kali menatap. Dan gilanya, Arfi melakukan hal itu kepada Cia, sosok gadis yang sudah dua tahun menjadi Adik angkat sekaligus sahabat.


Sebuah pertemuan yang sekian lama di harapkan. Tapi yang terjadi tak sesuai keinginan. Arfi sepertinya sudah melupakan Sisi dan menjalin cinta dengan Cia.


Dua pasang mata, yang selama ini di dekap rindu untuk bertemu. Hanya saling menatap sangat dalam dan begitu dalam. Tak ada kata yang terucap, Arfi dan Sisi hanya diam membisu.


KAKAK!


Sebuatan itu yang keluar dari bibir Cia, sesaat melihat Sisi tiba. Karena itu lah, Arfi tak lantas menarik Sisi dalam dekapanya. Meski sebenarnya, Arfi sangat ingin melakukan hal tersebut.


"Kak, ayo masuk. Silahkan duduk!" setelah hampir sepuluh menit membisu. Cia membuka suara dan memecahkan ke heningan. "Pak Arfi, ini Kakak' ku, Sisi! Dan Kak Sisi, ini dia Pak Arfi!" dengan polosnya Cia memperkenalkan mereka berdua.


"Salam kenal," Sisi bahkan mengulurkan tangan, seakan mereka berdua memang baru berkenalan. "Namaku, Sisi, semoga bisa bekerja sama dengan anda," susah payah Sisi berbicara supaya ia tak nampak terluka. Bayangan Arfi menge cup bibir merah Sisi terus terbayang-bayang.


"Cia, keluar dulu ya! Saya mau menginterview Kakak kamu dulu," Arfi tak menanggapi ucapan Sisi malah meminta Cia keluar dari dalam ruang kerjanya.


Tak ada rasa curiga, dengan senyum lebar Cia melangkah. Ia malah menitipkan Sisi kepada Arfi. "Jangan godain Kakak ku, ya Pak!" titahnya tak ragu seketika Arfi menduduk kelu.


.


.


Mata mereka masih beradu, seolah tengah melepas rindu. Belum ada sepatah kata yang bisa terucapa lagi, keduanya seperti sedang saling memaki di dalam hati.


"Sejak kapan, kamu memiliki Adik bernama, Cia?"

__ADS_1


"Sejak dua tahun lalu, tepatnya setelah kita bercerai. Cia mengurusku saat aku sakit dan Cia selalu menguatkanku saat aku terjatuh."


"Aku tidak bertanya, jadi berhenti menjelaskan!"


"Kenapa?"


Arfi hanya membuang muka, sikap seperti ini bukanlah sifatnya. Tak ada yang tahu, jauh di dalam lubuk hati pria itu, ia tetap senang dan bahagia karena wanita yang sangat di cintai, kini duduk tepat di hadapanya. Setelah dua tahun tak pernah saling menyapa apa lagi berjumpa. Ini kali pertams Arfi dan Sisi bertemu lagi.


"Aku harap, apa yang terjadi di masa lalu, jangan di ungkit! Apa lagi sampai Cia tahu, cukup hanya kita berdua saja yang mengetahuinya. Bagiku masa lalu tetap hanya sebagai masa lalu," bibir tergetar dada berdebar Sisi ingin sekali menangis saat ini juga. Sakitnya tak bisa di lukiskan oleh kata-kata, karena ia merasa Arfi sudah melupakanya.


Celotehan-celotehan Cia setiap hari, yang sangat sulit menaklukan hati seorang Arfi, karena pria itu masih sangat mengharapkan sang mantan istri kembali. Rasanya sangat berbanding terbalik dengan apa yang Sisi saksikan sendiri. Arfi bisa memeluk dan mencium Cia seperti saat melakukan itu kepada Sisi dulu.


"Si...," suara Arfi sangat pelan nyaris tidak bisa di dengar. Tapi Sisi masih bisa mendengarnya.


"Maaf, aku ke sini untuk interview, bukan bernostagia tentang masa lalu!" Sisi siap beranjak dari kursi tapi Arfi sekuat tenaga menghalangi.


"Tetap di sini! Atau ku beri tahu, Cia... jika kamu mantan istriku!" tegas pria itu dengan napas yang naik turun.


"Terserah, kamu mau anggap aku mengancam atau tidak. Yang jelas, aku mau kamu di sini dulu!"


Sisi pun duduk kembali, ia tak segan langsung menceritakan posisi hubungan antara ia dan Cia. Sisi membuka semua.... betapa ia berhutang budi pada gadis itu, ia juga memberi tahu, kalau Cia sangat mencintai dan menyukai Arfi. Terbukti dia selalu bahagia, setiap kali bercerita semua tentang pria ini.


"Jangan sakiti dia. Jangan tinggalkan dia dan jangan katakan apapun tentang kita! Hidup Cia semakin berwarna, setelah dia mengenal anda."


"Oke."


Hanya itu jawaban atas permintaan Sisi, tapi sukses membuat Sisi tercengang. Karena Arfi menjawab sedemikian singkat.


"Apa kamu sudah melupakanku?" kini Arfi yang bertanya.


Wajah Sisi memerah, matanya berkaca-kaca. Ia meluruskan tatapan ke depan sebelum akhirnya kembali berbicara. "Aku sudah melupakanmu, setelah perceraian kita dulu."


"Ba-baiklah."

__ADS_1


Sakit bukan main, batin dan perasaan Arfi kini. Bertahun-tahun ia mencintai wanita yang tak lagi menganggapnya ada. Setidaknya itulah yang saat ini Arfi pikirkan tentang Sisi. Padahal itu tak benar sama sekali. Nyatanya perjuangan Sisi melupakan Arfi hanya berakhir sia-sia saja. Ia tetap tak bisa mengubur nama Arfi begitu saja.


"Tetaplah menjadi Arfi yang di kenal, Cia! Gadis itu manaruh harapan besar padamu. Sejak kecil Cia merasa hidup dalam tekanan dan bertemu denganmu, ia anggap sebagai harapan. Jangan kecewakan Adikku, aku mohon!" Sisi rela menundukan kepala berkali-kali demi mendapatkan jawaban IYA dari Arfi.


"Maaf, aku tidak bisa berjanji!"


"Kenapa, bukankah tadi kamu menciumnya. Dan bearti kamu juga mencintai Cia?" wanita itu penasaran.


"Cinta? Ahahahhahaha, tidak sama sekali. Hari ini aku memutuskan untuk belajar menerima Cia dan berusaha mencintainya. Tapi sial... saat aku sedang berusaha melupakanmu dan menerima hati orang lain. Kenapa tiba-tiba kamu harus datang? Kenapa kamu harus berdiri di hadapanku? Padahal aku dan Cia baru saja resmi menjalin cinta."


Sisi terdiam, menunduk semakin dalam. Ternyata pikiranya salah. Karena menganggap pria itu sudah melupakanya. Namun sesaat kemudian, penjelasan Arfi membuat air mata Sisi jatuh tak tertahan. "Aku juga masih mencintaimu, Kak, tapi aku tidak pernah berharapan, jika kita akan rujuk kembali!" ucapnya lirih di dalam hati.


Ah, tidak-tidak, sungguh mustahil Arfi masih mencintainya. Karena pria itu tak pernah menghubungi Sisi sama sekali.


"Kak Arfi bohong. Jika Kakak masih mencintaiku, kenapa kamu tak pernah menghubungiku? Padahal aku tidak pernah mengganti no ponselku."


Arfi menarik napas dalam-dalam, ia menatap wajah Sisi sangat tajam. Bahkan wanita itu tak mau mengalah juga. Arfi melotot Sisi lebih melotot.


"Sisi, aku ingin sekali menghubungimu, tapi aku tidak bisa."


"Kenapa?"


"Karena setelah kita bercerai. Aku membuang semua kenangan tentang kamu ke Danau. Baik foto atau pun barang-barang pemberian. Saat itu aku frustasi dan rasa ingin sekali mati. Tapi aku masih sedikit beruntung, karena masih memiliki foto berukuran kecil milikmu dalam dompetku. Yang terus ku simpan rapih sampai kini." Arfi berkata jujur.


Sisi mendadak kelu. Tadi ia bisa melotot lebar, tapi kini, ia hanya terpaku sendiri, seraya menela'ah semua ucapan Arfi. Sisi bingung, harus senang atau sedih.


.


.


.


B E R S A M B U N G

__ADS_1


__ADS_2