Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Ke Lulusan Arfa


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Sisi masih terdiam, ia menatap sendu sosok pria yang kini ada di depan nya, yang dengan lantang ingin menikahi gadis bertubuh mungil tersebut. Ya... Arfi tak ragu sedikitpun kala meminta Sisi untuk menjadi pendamping hidup nya.


"Ka-kapan, kakak akan menikahiku?" tanya Sisi gugup seolah tenggorokan nya tercekat. Sisi tak mampu berkata banyak.


"Lusa." jawab Arfi tegas dan lugas, ia berucap seolah tak ragu sedikitpun.


"Tidak bisa kak. Lusa, aku kelulusan dan hari itu akan banyak acara di sekolahku," Sisi menjelaskan seraya menatap Arfi sedikit takut.


"Okeh, kalau begitu setelah kamu kelulusan, besoknya kita harus menikah."


"Se-cepat itu?" Sisi semakin gemetaran.


"Kenapa? Apa kau tidak mau menikah denganku?"


Sisi menggeleng cepat, iabukan menolak menikah dengan Arfi, tapi permintaan pria itu yang mengatakan akan segera menikahinya, terkesan tiba-tiba, Sisi belum menyiapkan mental secara lahir dan batin.


"Menikah cepat, atau aku menidurimu sebelum menikah?" pertanyaan Arfi terkesan mengancam membuat gadis itu tak mampu menolak.


"Ba-baik, kita menikah sehari setelah kelulusanku."


Arfi tersenyum puas dengan apa yang di sampaikan Sisi tadi, karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang suami. Hal yang sudah lama sekali ia dambakan.


****


Sementara itu setelah pulih, kini Nayla sudah di izinkan untuk pulang ke rumah. Dan karena masih awal-awal menjadi orang tua, Nayla dan Arfa meminta si mami dan sang papi menginap di rumah nya, sementara ini.


"Lusa aku wisuda, nanti kamu dan dedek Acha ikut ya! Mami dan papi, Arfi juga jangan lupa! Bila perlu ajak Sisi untuk ikut!" titah Arfa seraya tersenyum riang.


Setelah semua hal di rencanakan, dan Arfi yang kini ikut tinggal di rumah Arfa sementara waktu, mengatakan jika Sisi tak akan bisa ikut bersama mereka.


"Kenapa??" Nayla dan Arfa bertanya bersamaan.


"Kelulusan, tepat saat kamu wisuda, hari itu Sisi juga kelulusan sekolah," jelas Arfi pula.


Arfa dan Nayla mendengus pelan, sungguh menyayangkan karena Sisi tidak bisa ikut bersama mereka.

__ADS_1


"Emmm... lalu, siapa yang akan menemani Sisi saat dia kelulusan nanti?" kini si mami yang bertanya.


Sejenak Arfi terdiam ia hanya mampu tertunduk lesu dan tidak bisa menjawab pertanyaan si mami, karena ia tak bisa memilih antara Arfa dan Sisi, karena dua-duanya sama-sama penting dalam hidup nya.


"Mungkin, aku akan datang ke wisudamu saja, lagi pula Sisi sudah terbiasa sendiri. Pasti dia mengerti, jika aku memilih untuk hadir di hari pentingmu dulu."


Si mami dan si papi, juga Nayla dan Arfa saling berpandangan, mereka tidak tahu, harus mengatakan apa. Dimanapun Arfi memilih akan datang nanti, semua adalah pilihan'nya.


"Ikuti kata hatimu! Kepada siapa kamu harus hadir!" bisik Arfa pelan di telinga saudara kembar nya itu.


Arfi hanya mengangguk-ngangguk sok paham, meski sebenarnya ia masih dalam dilema yang luar biasa, karena berada diantara 2 pilihan.


"Menurutku, kamu harus hadir di hari kelulusan Sisi, daripada wisudaku!" ujar Arfa seketika dan membuat semua yang ada, di dalam ruangan menatap heran ke arahnya.


"Kamu yakin?" Arfi memastikan seraya memandangi lekat-lekat, wajah saudara tersebut.


"Yakin dong. Karena, saat aku wisuda nanti, aku ditemani banyak orang, ada mami, papi dan juga istri dan anakku. Sementara Sisi, dia hanya sendiri, tidak memiliki siapapun, jadi pasti kamulah.. satu-satunya orang yang diharapkan untuk hadir."


Dengan semua kedewasaan nya, Arfa menjelaskan alasan dengan seksama. Kenapa ia lebih meminta, Arfi untuk hadir di kelulusan Sisi, bahkan penjelasan itu membuat Arfi terharu.


"Terima kasih saudaraku." ujarnya sedikit bercanda seraya tersenyum penuh makna. Arfi menepuk pelan pundak Arfa, setelah itu pergi masuk ke dalam kamar.


Tentu saja Sisi bersedih, tapi marah juga percuma, karena menurut nya, ia belum memiliki hak untuk melarang atau memaksa Arfi. Dan Sisi berpura-pura bersikap biasa saja, seolah tidak bersedih sedikitpun.


"Semoga, kak Arfa berbahagia di hari wisudanya nanti!" ucapnya seolah berharap. Dan tanpa mendengar jawaban dari Arfi, Sisi langsung mematikan sambungan telepon.


Ck...


Arfi tersenyum simpul, karena dari nada bicara Sisi tadi, ia bisa mendengar jika gadis itu kecewa, karena ia mengatakan tak bisa datang di hari penting Sisi nanti.


***


2 hari kemudian, tibalah saatnya dimana Arfa mengajak keluarganya untuk hadir di hari wisuda. Dimana hari terakhir ia akan berada di kampus itu.


"Selamat, atas wisudamu! Setelah ini, kamu bisa fokus mengurus perusahaan papi!" ucap Arfi pada sang adik


Arfa hanya membalas dengan senyum menawan, ia pun beranjak dari duduknya dan pergi menuju mobil, karena di sana sudah ada Nayla, si mami dan papi juga anak kesayanga nya sudah menunggu.

__ADS_1


"Nay, aman?' Arfa memastikan kesehatan sang istri.


"Aman... aku baik-baik saja," jawab Nayla memastikan.


Arfa dan keluarganya, bersemangat menuju ke kampus. Dan setelah tiba di sana, Arfa yang datang bersama Nayla dengan menggendong anaknya yang baru berusia 1 minggu pun menjadi pusat perhatian. Dengan langkah gagah dan tegak Arfa tak malu sedikitpun, ia melenggang santai seraya mendorong kursi roda, karena Nayla memang belum di izinkan untuk terlalu lelah.


"Silahkan, pak!"


Dewan kampus manyambut kedatangan Alvian Athalla Putra, yang tak lain pemilik dari kampus di mana Arfa dan mahasiswa lainnya, menimba ilmu. Alvian ialah ayah kandung dari Arfa sendiri.


"Nay, sini duduk di samping mami!"


Airin tahu, jika menantunya mendapatkan tatapan sinis dari banyak pihak. Karena seperti yang di ketahui, Nayla terpaksa berhenti kuliah karena sedang mengandung.


"Jangan hirukan mereka, tegakkan kepalamu!" kini si papi yang berbisik di telinga menantu nya.


Sungguh, tak ada yang bisa melukiskan betapa bahagianya Nayla, karena memiliki mertua yang benar-benar menyayangi.


"Dengan segala hormat, kami persilahkan kepada pak Alvian, selaku pemilik kampus, untuk naik ke atas panggung, agar bisa menyampaikan, sepatah dua patah kata!"


Dengan langkah tegak, si papi naik ke atas panggung, ia menyoroti semua mahasiswa yang ada di depanya, dan mempersilahkan salah satu di antara mereka untuk bertanya.


"Pak Al... kasih kami tips agar menjadi orang yang sukses?"


Alvian tersenyum simpul, ia membuang nafas panjang sebelum berbicara.


"Selamat siang, semua para mahasiswi dan mahasiswa yang sangat saya banggakan, juga para dewan kampus yang terhormat! Kali ini saya ingin memberitahukan, bahwa... saya bukanlah orang yang sukses seperti yang si adik tadi tanyakan."


"Loh, kok bisa bukan orang sukses Pak? Anda kan, memiliki perusahaan yang berkembang pesat bahkan anda pemilik kampus besar ini. Bagaimana anda mengatakan tidak sukses?" ujar salah satu mahasiswa dengan lantang.


Lagi Alvian menarik nafas panjang, sebelum kembali berucap. Pria yang usianya tak lagi muda itu, mengatakan... jika ia mungkin sukses dalam bidang usaha dan finansial. Tapi tidak dalam mendidik anak, karena kenyataan nya, anak yang sangat Alvian banggakan, justru menodai seorang gadis dan kini sudah memiliki anak.


"Tapi, saya tidak membenci gadis itu, tidak juga memarahi Arfa, karena dalam hari ini, sayalah yang bersalah, karena tidak mampu menjadi orang tua yang baik. Jadi, saya sangat berharap kepada kalian semua, para mahasiswi dan mahasiswa. Berhenti menatap sinis kearah menantu saya! Karena salah terbesar bukan pada diri Nayla, tapi sepenuh nya kesalahan saya yang tidak bisa mendidik Arfa, hingga dia dengan gelap mata, melakukan hal yang sangat merugikan Nayla." Jelas si papi panjang lebar.


Dan, semua orang yang ada di dalam ruangan itu, hanya mampu terdiam. Sementara Nayla menangis sesenggukan. Karena, hari dimana Arfa bahagia karena telah lulus kuliah, Nayla juga berbahagia, karena Alvian, ayah kandung dari sang suami, membersihkan namanya.


.

__ADS_1


.


TERIMA KASIH


__ADS_2