Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Arfa, Arfi


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


Polisi Sang Penakluk Hati Season2.


☡Selamat Membaca☡


Arfi menarik kedua alisnya, ia menatap heran sang adik yang senyum-senyum sendiri saat tiba di rumah, ia menepuk pelan pundak Arfa, yang tentu saja membuat anak muda itu terkejut.


"Fi, apaan sih?" decaknya kesal.


"Pantes ya, penampilan berubah tiba-tiba. Ohh rupanya sedang jatuh cinta ya,"


"Heleh, sok tau banget sih,"


Arfa pun membalas tepukan Arfi, ia berbisik pelan di telinga saudaranya.


"Kau tau, sebentar lagi, aku akan membalaskan dendam papi,"


'Ehh, apa maksudmu? Jangan gila, Fa!"


Arfa justru tersenyum simpul, ia pun berjalan meninggalkan keberadaan Arfi, yang tentu saja membuat saudaranya itu semakin penasaran.


"Woy___ kamu belum jawab pertanyaanku!"


Namun Arfa tak memperdulikan teriakan Arfi, anak muda itu justru masuk kedalam kamar, lalu mengunci pintu, dan tak mau tau akan pekikan sang kakak.


"Ada apa, Fi,"


"Eh, mami. Tidak, mi... aku hanya sedikit pensaran, karena Arfa tiba-tiba saja merubah penampilanya." Jelas Arfi berbohong. Karena sebenarnya ia penasaran akan ucapan Arfa tadi.


Airin pun tersenyum, ia mempercayai ucapan Arfi begitu saja.


"Papi, ingin bertemu denganmu,"


"Baik, aku kamar papi ya,"


Arfi langsung melangkah pergi, menjauhi kebaradaan sang mami, anak muda itu langsung masuk ke dalam kamar untuk menemui pria yang sangat di sayanginya.


"Pi, ada apa? Kenapa memanggilku?"


Alvian tersenyum penuh arti, ini kali pertama ia tersenyum setelah kematian kedua orang tuanya.


"Fa, papi minta! Meski rasa kesal, benci dan marah, papi harap, kamu jangan jadi pendendam ya! Teruatama, kepada orang yang telah sengaja melenyapkan nyawa Oma dan Opa, karena dendam hanya akan memperpanjang perselisihan, yang sudah terjadi!" jelas Alvian pada anaknya.


Arfi, mengagguk paham, namun hal yang membuat ia tersenyum adalah, sang papi, yang sudah mau membuka suara dan mau berbicara. Sebab selama Alvian menyelam dalam diam, ia takut, jika Arfi ataupun Arfa, akan memiliki dendam, dan akan mencari siapa yang sengaja menyabotase mobil kedua orang tuanya.


"Apa kamu sudah tahu, siapa pembunuh itu?"


Arfi mengangguk, ia tak memiliki dendam tapi berencana menjebloskan mereka kedalam penjara.

__ADS_1


"Tito dan keluarganya, harus mendapatkan hukuman, atas kejahatan yang sudah mereka lakukan,"


"Balas mereka melalui jalur hukum, jangan dengan emosi dan marah!"


"Baik, pi,"


Setelah berbicara empat mata, Arfi pun keluar dari kamar Alvian, ia berharap sang papi, akan kembali memiliki semangat untuk menatap dunia dengan senyum dan tawa. Sudah cukup bagi Alvian, untuk terus tenggelam dalam kesedihan.


"Mi, papi sudah mau berbicara kepadaku,"


"Syukurlah, mami berharap. Papi'mu akan membuang rasa sedihnya dan kembali ceria seperti dulu lagi," hatap Airin.


"Iya, mami juga, harus tetap sehat dan baik-baik ya! Mami istitahat sana, wajah mami masih tampak pucat.


"Tapi, Fa... mami bosan berada di dalam kamar saja,"


"Ajak papi nonton drama Thailand, biar mami dan papi terhibur!"


Airin menautkan kedua alisnya setelah mendengar, titah Arfi baru saja. Wanita yang tak lagi muda itu, langsung masuk ke dalam kamar, yang tentu membuat Arfa seketika saja tersenyum, ia berharap sang mami, menuruti saranya tadi.


***


Si kembar, memang memiliki sikap dan sifat yang sangat berbeda, Arfa terlihat lebih arogant meski berpenampilan bak orang cupu, berbeda dengan Arfi yang selalu tampil modis, tapi ia lebih sabar dalam segala hal.


"Kemarin cakep banget, Fa. Kok kaca matanya di pake lagi?"


"Bu_bukan seperti itu, Fa. Tapi, kamu kemarin tampil tanpa kaca mata, dan terlihat sangat gagah," Arfi menjelaskan.


"Hiiih, aku jadi tidak naf*su makan,"


Arfa memabanting, sendok dan garpu di atas piring, ia langsung pergi meninggalkan meja makan. Karena saat ini sebenarnya mereka sedang sarapan bersama.


"Fa... fa... aku tak bermaksud menyakiti perasaanmu, maaf! Jika pertanyaanku tadi, membuatmu, risih," ucap Arfi dengan segenap kedewasaanya.


Arfa hanya membalas ucapan Arfi dengan senyum tipis, ia langsung marih kontak mobil dan segera bergegas pergi. Ia sebenarnya tidak marah akan ucapan Arfi, namun nyatanya Arfa memang suka, membuat saudara kembarnya merasa bersalah.


"Biarkan! Nanti dia pasti menyapamu lagi!" ucap sang papi.


Sementara kini, Arfa sudah berada di kampus, Arfi pun sudah bertugas.


Ting!


Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel milik Arfa, dan ternyata itu pesan dari sang papi, anak muda itu, secepat kilat membaca pesan dari orang yang amat Arfa hormati.


"Sayang. Jangan bersikap gegabah, jangan pula jadi pendendam! Arfa anak baik, papi percaya Arfa,"


Begitulah, isi pesan singkat dari si papi, yang tentu saja membuat Arfa menggigit tipis bibirnya sendiri.


"Apa, papi tau? Niatku untuk balas dendam?" lirih Arfa dalam hati. Ia sendiri bingung kenapa sang papi mengirim pesan seperti itu kepadanya.Tapi terselip rasa bahagia sebab sang papi kini, sudah tak banyak diam lagi, seperti hari-hari biasanya.

__ADS_1


Anak muda itu berjalan gagah, saat turun dari mobilnya. Lagi... Arfa memang berpenampilan keren hari ini, tak cupu seperti di rumah tadi.


"Pagi, Fa," sapa Ika, tanpa ragu.


Namun Arfa membalas dengan senyum sinis, tanpa ragu, ia menarik tangan Nayla dan mengajak gadis itu makan di kantin.


"Apaan sih, Fa. Malu tahu!" ucap Nayla pelan.


"Ohhh, si cupu yang seketika jadi pangeran tampan. Sekarang sudah berani pegang-pegang tangan Nayla, asal kau tau, bagiku kau tetap Arfa si cupu," cerca Dimas, anak kampus yang juga menyukai Nayla.


'Hmmm... asal kamu tau, si cupu ini, sudah resmi menjadi kekasih, Nayla. Dan kamu sudah tidak ada hak untuk mengejarnya lagi, karena Nayla kini pacarku," tegas Arfa tanpa basa basi, ia menggenggam erat tangan si cantik di hadapan Dimas.


"Haaaah, aku tidak percaya,"


"Tanya saja dengan Nayla!"


"Nay,"


Dimas menatap wajah Nayla penuh harap, ia berharap Nayla akan mengelak ucapan Arfa baru saja.


"Iya, aku dan Arfa sudah resmi jadian," Nayla mengakui hubunganya di hadapan Dimas.


"Kurang ajar. Barani sekali kau selingkuh?!" geram Dimas seraya mengepal kedua tanganya.


"Apa maksudmu, Nayla berselingkuh?" Arfa penasaran.


"Aku dan Nayla sudah di jodohkan, bahkan minggu depan, orang tua kami, berencana untuk menyatukan kami dalam ikatan pertunangan," jelasnya, yang tentu saja membuat dada Arfa sesak seketika.


"Tapi aku tidak mau di jodohkan denganmu. Pria sombong yang suka mengatur!" tegas Nayla berteriak.


"Terserah, karena aku yakin, kau tidak akan berani menolak, ke inginan kedua orang tuamu," tambah Dimas lagi.


Seketika, Nayla pun tertunduk lesu, bahkan matanya mulai berkaca-kaca, ia memang tak pernah bisa membantah apapun yang di inginkan oleh kedua orang tuanya.


"Tenang saja! Aku yang akan menggagalkan pertunanganmu dengan Dimas," Arfa menenangkan Nayla.


"Barani coba-coba! Maka nyawamu taruhanya," ancam Dimas menunjuk kasar wajar Arfa.


"Tidak takut," jawabnya, lalu mengajak Nayla menjauhi keberadaan Dimas.


Tentu saja, perdebatan antara Dimas dan Arfa pun viral. Video pertengkaran keduanya menyebar di dunia maya, hingga banyak sekali yang menontonya, termasuk Tito yang tak lain, ayah dari Airin.


.


.


.


.Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2