
☡Selamat Membaca☡
Arfa menghentikan laju mobilnya saat melihat Arfi berada di pinggir jalan, entah apa yang di lakukan saudara kembarnya itu di sana.
"Fi, apa yang terjadi? Kenapa di sini banyak sekali polisi?"
"Ada orang jatuh dari motor, karena tas miliknya di rampas seseorang tidak di kenal, bahkan orang itu hampir saja kehilangan nyawanya," jelas Arfi pada sang adik.
Meski kembar, dan lahir di hari yang sama, tapi mereka tetaplah adik dan kakak. Arfi lebih dulu lahir daripada Arfa.
Kini semua rekan-rekan Arfi, justru tertuju pada Arfa, yang tak lain saudara kembar rekan kerja mereka.
"Baru kali ini, aku bertemu dengan saudara kembarmu secara langsung," decak Rifki kagum.
Ya, meski mereka tau, Arfi memiliki saudara kembar, tapi ini kali pertama, mereka melihat Arfa berdiri di depan mata.
"Mau kemana, Fa?"
"Mau antarkan ini,"
Arfa menunjukan tas milik Nayla, namun pikiranya melayang-layang entah kemana. Karena Arfa takut, jika anak buahnyalah yang melakukan perampasan paksa dan hampir menghilangkan nyawa seseorang.
"Tas siapa itu?"
"Nayla,"
"Kok bisa ada di kamu?"
"Tadi ketinggalan di kampus," jawabnya berbohong.
"Oh, begitu ya. Ya sudah, hati-hati di jalan, karena sekarang begal dan pejambret sedang berkeliaran dimana-mana. Takutnya kamu akan jadi korban mereka," Arfi mengingatkan adiknya.
Sementara Arfa mengangguk pelan, seraya menggaruk-garuk kepala.
"Andai kau tahu, bahwa mereka semua teman-temanku," lirih Arfa dalam hati dan langsung masuk ke dalam mobil.
Sesigap mungkin, ia menghubungi anak buahnya, untuk tidak beraksi dulu sementara waktu. Karena Arfa takut, jika mereka akan tertangkap.
***
Kini Arfa sudah tiba di sebuah rumah, yang tampak mewah. Meski tak semewah rumah miliknya, ia segera bertanya kepada si satpam yang tampak sedang berjaga.
"Oh iya, mas. Ini rumah mbak Nayla, mari masuk!" seru si satpam ramah.
Dengan gagah, Arfa pun masuk ke dalam rumah, ia segera di antar oleh satpam menuju ke halaman belakang Yang spontan membuat Arfa menelan salivanya, sebab Nayla tampak tengah berenang di kolam, dengan menggunakan baju alakadarnya, transparan dan lekuk tubuh indah Nayla pun terpampang nyata.
"Haahh, Fa... kok kamu ada di sini?"
Airin segara meraih handuk miliknya, lalu menutupi tubuh sexinya, meski ia sadar Arfa pasti sudah menyaksikan dengan kedua matanya.
"Ada perlu apa apa kau datang yang ke sini?" tanya Nayla sedikit malu-malu.
__ADS_1
"Ini," Arfa menyodorkan tas dan dompet milik si cantik yang tentu saja membuat Nayla berdecak penasaran.
"Kok bisa ada di, kamu? Tas dan dompetku?"
"Tadi, tasku juga mau di rampas paksa, tapi aku mampu mengalahkan mereka, dan aku mengambil tas yang juga mereka bawa. Setelah aku cek, ini tas milikmu," jelas Arfa bebohong.
Anak muda itu pun mengarang cerita bebas, dan bodohnya Nayla pun percaya dengan semua ucapan Arfa, sebab dari raut wajah dan tatapan Arfa, tak tampak jika anak muda itu tengah berbohong.
"Terima kasih ya. Akhirnya tas dan dompetku kembali lagi,"
"Sama-sama.. lain kali, kamu lebih berhati-hati ya!"
Nayla pun tersenyum, ia menatap dalam-dalam wajah Arfa yang kemarin menyatakan cinta kepadanya. Ia berpikir, apakah Arfa masih memiliki rasa yang sama.
"Aku, ganti baju dulu ya," ucap Nayla.
"Mau aku temani, tidak?" goda Arfa.
"Ih, apaan sih," wajah Nayla memerah, Arfa membuatnya salah tingkah.
Si cantik melangkah masuk ke dalam rumah, sementara Arfa memandangi seluruh sudut rumah Nayla yang tampak begitu sepi.
15 menit kemudian, Nayla pun kembali menemui Arfa, ia membawa 2 gelas jus jeruk di tanganya.
"Silahkan di minum!"
"Terima kasih," jawab Arfa seraya memandangi Nayla dari atas sampai ke bawah.
"Kenapa sih?"
"Eh,"
Nayla semakin salah tingkah, ia benar-benar berbunga-bunga saat Arfa memujinya.
"Ngomong-ngomong. Di mana kedua orang tuamu?"
"Sibuk, mama dan papa jarang berada di rumah. Mereka sibuk bekerja, bahkan gila nama baik."
"Maksudmu?"
"Ya, mereka terlihat sangat baik dan perduli terhadap orang lain. Dimana-mana mama dan papa selalu di sanjung dan di puji, tapi mereka tak pernah tahu, jika kedua orang tuaku, menelantarkanku setiap hari. Aku kesepian, tak punya teman. Ika dan Meymei jarang ke sini, jadi setiap hari aku merasa sendiri," jelas Nayla yang tanpa sadar mencurahkan isi hati dan perasaanya.
Arfa tersenyum puas, ia seolah di beri jalan mudah oleh Tuhan, agar bisa setiap hari datang ke rumah Nayla, dan bisa menyelidiki siapa Tito sebenarnya
"Emmm, kalau begitu. Bolehkan aku datang ke rumahmu setiap hari? Lalu menemanimu di sini?"
Nayla diam sejenak, ia tak menyangka Arfa masih mau perduli kepadanya.
"Boleh, asal kamu tidak keberatan,'
"Tidak sama sekali, aku justru senang bisa menjaga wanita yang sangat aku cintai," ujar Arfa antara benar-benar tulus atau bulus.
__ADS_1
"Benarkah?"
Lagi-lagi Nayla di buat salah tingkah oleh Arfa, sebenarnya ia memang sudah sejak lama menyukai Arfa juga.
"Fa... kalau boleh jujur, aku lebih menyukai penampilanmu yang lama;"
"Lho. kenapa?" tentu saja Arfa merasa heran.
"Karena, kamu menyembunyikan ketampananmu di balik kaca mata. Sungguh sejujurnya aku sangat bahagia saat kamu menyatakan cinta kepadaku,"
Kejujuran Nayla membuat Arfa sedikit terkejut, tentu saja, karena ia sedikit tak percaya jika selama ini Nayla sudah jatuh cinta padanya.
Dan, akhirnya sejak saat itu mereka pun jadian secara diam-diam.
"Aku pulang dulu, besok aku datang lagi,"
'Iya," jawab Nayla dengan senyum penuh makna.
"Tapi bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Apa?" si cantik pun penasaran.
"Emm, tolong jangan gunakan baju kurang bahan di tempat umum, apa lagi di kampus! Karena keindahan tubuhmu hanya boleh di lihat olehku," pinta Arfa yang langsung di sambut tawa kecil dari Nayla.
"Eh; kok tertawa sih?"
"Siap pak Arfa, aku tak akan pernah lagi, menggunakan baju-baju ****,"
"Bagus. Calon istri yang baik, patuh dan taat."
Arfa mencubit pelan, hidung si cantik yang tentu saja membuat Nayla berdecak lirih.
"Sakit n, jing," kesalnya.
Arfa pun tertawa melihat raut kesal Nayla.
Sssttt.. Ck...
"Aww, sakit bego_____," geram Arfa seketika saat Nayla menginjak kedua kakinya.
"Pasangan aneh. Baru jadian kok cubit-cubitan terus tendang-tendangan," ucap si bibi pelan, saat melihat kedua anak muda yang baru saja meresmikan cinta mereka, tapi lucunya Nayla dan Arfa justru bertingkah sangat konyol.
"Ya udah, aku pulang,"
"Hati-hati sayang!'
Arfa mengangguk pelan, lalu melangkah dengan bahagia, wajahnya memerah, ia masih tak percaya, jika kini ia dan Nayla sudah resmi pacaran. Tapi ada cinta dan dendam, membenam dalam dadanya.
.
.
__ADS_1
.
Besok up 3 bab lagi yak🤗. Makasih kakak-kakak baik❤