Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Cemburu


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


Polisi Sang Penakluk Hati Season2


☡Selamat Membaca☡


Tak mau bertanya terlebih dahulu, Arfa yang terlanjur sudah tersulut emosi, langsung melabrak Nayla dan Arfi yang tengah makan berdua.


"Ohh, bagus____ bisa ya, kalian asik makan siang berdua di sini." Omelnya tanpa basa-basi.


"Eh, Fa... jangan asal marah-marah! Aku dan Nayla tak sengaja bertemu di sini," Arfi coba menjelaskan.


"Haah, sudah tertangkap basah masih saja berkilah!"


"Apa katamu? Maksudmu aku berselingkuh?'" Nayla menatap kesal wajah Arfa.


"Lantas, apa namanya? Makan berdua di Cafe seperti ini, apa lagi kalau bukan berselingkuh??" Arfa berucap kasar.


"Gila... apa cara pikirmu sepicik ini? Mana mungkin aku menyukai saudaramu sendiri," kesalnya.


Arfa dan Nayla terus berdebat, tapi Arfa tak memiliki waktu untuk menyaksikan percekcokan mereka, yang jelas kini Arfi paham, jika cinta akan membutakan akal sehat. Buktinya Arfa cemburu pada saudaranya sendiri.


Braak!


Nayla masuk ke dalam mobil lalu menutup pintu sekuat tenaga, yang membuat Arfa terkejut luar biasa.


"Hei, Nay... mau kemana?!" pekiknya kesal.


"Ke kampus, hari ini kita ada mata kuliah jam 2 siang," jelasnya.


Nayla langsung memacu mobil miliknya untuk menuju ke kampus, sementara Arfa mengikuti mobil sang kekasih dari belakang.


"Wooow___," sorak riang banyak pasang mata saat Arfa turun dari mobilnya.


Ya, setibanya di kampus, banyak cewek-cewek cantik memuji ke gagahan dan ke tampananya. Karena sejak beberapa hari ini, Arfa memang tak berpenampilan culun dan cupu, tak ada kaca mata dan baju kemeja seperti dulu, ia kini lebih suka menggunakan kaos polos dan celana pendek, hingga membuat bulu-bulu lebat yang tumbuh di ruas kakinya, tampak dan bisa di pandang oleh semua orang.


"Ya ampun, Fa___ kenapa selama ini, kau menyembunyikan ketampananmu?" tanya Ika dengan segenap rasa kagumnya.


"Supaya, kau tidak jatuh cinfa kepadaku!" jawabnya yang tentu saja membuat Ika langsung memasamkan wajah.


Sementara Meymei dan Nayla tertawa sejadi-jadinya, mendengar jawab Arfa untuk Ika.


"Huuh, centil! Malu sendirikan jadinya," ejek Meymei tanpa ragu, yang akhirnya membuat Ika terdiam membisu.


Mereka bertiga pun, memilih duduk di kantin untuk menunggu si dosen datang. Dan saat itu pula, banyak cowok-cowok kampus duduk mendekati ketiganya.


"Aku sulit mengerti, kenapa dia selalu menjadi daya tarik bagi setiap pria yang ada di dekatnya? Aku tidak habis pikir, atau entah aku sedang cemburu?" batin Arfa di dalam hati seraya memperhatikan sang ke kasih yang tengah di kelilingi anak-anak kampus.

__ADS_1


Arfa menyandarkan tubuhnya di sebuah kursi, namun sorot matanya menajam memperhatikan Nayla.


"Setiap hari, ada saja perhatianku kepadanya. Tidak adakah sesuatu yang perlu ku kerjakan selain memikirkannya? Kenapa aku secinta ini padanya?" lirihnya lagi.


Anak muda itu mengepal jari-jemarinya, ia tak bisa sesabar itu melihat Nayla di kelilingi banyak pria.


"Minggir-minggir! Jangan ada yang mendekati Nayla!" usir Arfa tiba-tiba.


"Huuuuu______!"


Sorak beberapa orang yang kesal akan sikap Arfa.


"Hutan kali, teriak-teriak gak jelas!" cerca Arfa yang membuat mereka semakin emosi. "Ehh, di larang marah! Karena Nayla memang kekasihku, jadi hakku melarang kalian untuk dekat-dekat denganya." Tambah Arfa lagi.


Akhirnya mereka pun melilih mundur teratur, meminggalkan Arfa berdua saja dengan Nayla, sementara si cantik menatap wajah pria yang baru saja marah-marah, dengan senyum penuh makna.


"Marah-marah mulu sih, pak!" goda Nayla lalu mencubit pipi Arfa.


"Bukan marah, Nay," kilahnya.


"Lantas?"


"Cemburu." Jawab Arfa tegas.


"Hadeh,"


"Astaga, Arfa___ turunkan! Malu tau,"


"Bodo,"


Ia tak perduli sama sekali, justru sesekali mendaratkan kecupan hangat di kening si cantik, yang tentu saja membuat heboh penghuni kampus.


"Sialan___!" grutu Dimas kesal dan benci kala melihat kemesraan antara Nayla dan Arfa.


Dimas segera menghungi Tito, meminta agar pertuangan antara ia dan Nayla di percepat.


"Si cupu itu, sudah berani menggendong Nayla di depan umum om. Aku tak terima jika calon istriku di sentuh oleh orang lain." Ungkap Dimas kepada Tito.


Dan akhirnya, dengan geram pria paruh baya itu langsung memutuskan, jika lusa pertunangan antara Dimas dan Nayla harus segera terlaksna, yang tentu saja keputusan tersebut membuat Dimas tersenyum puas.


"Bersenang-senanglah kalian! Karena lusa, ku pastikan kalian akan terpisah," ujar Dimas licik, ia sudah tak sabar ingin membuat Arfa patah jika nanti akhirnya Nayla akan menjadi miliknya.


***


Sepulang dari kampus, cuaca tak bersahabat karena tiba-tiba saja, turun hujan sangat lebat. Bukan hanya itu saja, mobil yang di gunakan oleh Arfa dan Nayla, mogok di tengah jalan. Hingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk mampir ke sebuah tempat, karena mobil Arfa mogok tepat di depan hotel yang tampak sangat sepi sore ini.


Sementara Arfi yang masih bertugas di kantor, seketika terbayang wajah cantik Nayla. Senyumnya, suaranya nada bicaranya sungguh sulit hilang dari benak Arfi, entah kenapa sore ini ia terbayang-bayang pesona kekasih adiknya sendiri.

__ADS_1


"Hayoo, mikirin siapa?" sergah Rafki mengejutkan Arfi.


"Ah, kau ini. Mengganggu halu'ku saja," decak Arfi bercanda.


"Memang, lagi khayalin siapa sih?"


"Ada deh," jawab Arfi pelan, sebab mana mungkin ia mengatakan kepada Rifki jika kini ia tengah memikirkan kekasih adiknya.


Di sisi lain, Arfa kini tengah berdua dengan Nayla di sebuah kamar hotel, mereka menikmati waktu untuk berdua saja.


Ck... Ssstttt...


"Fa, ngapain sih kita harus mesen kamar, kan kalau hujan reda kita bisa langsung pulang ke rumah?" tanya Nayla heran, ia melepaskan jacket kampusnya, hingga nampaklah lekuk tubuh langsingnya, sebab saat ini gadis itu hanya menggunakan baju kaos ketat berwarna putih dengan rok sebatas lutut. Yang tentu saja membuat Arfa kian terpesona.


Drrrt... Drrrrt


Ponsel milik si cantik berdering dan ternyata sang papa yang menghubunginya.


"Hallo pah,"


"Rin, kamu dimana?"


"Di_di rumah temen pah," jawabnya gugup karena berbohong.


"Baiklah, jika hujan reda segeralah pulang kerumah, karena ada hal yang akan papa bicarakan denganmu, prihal pertunangan antara kamu dan Dimas, yang akan papa percepat esok lusa,"


Tito menyampaikan semuanya kepada Nayla, namun anaknya itu bersi keras, untuk menolak perjodohannya dengan Dimas.


"Kenapa, Nay?" tanya Arfa penasaran sebab ia melihat wajah murung Nayla setelah mendapat telpon dari si papa.


Si cantik pun menceritakan, semuanya kepada Arfa, bahkan si papa berniat untuk mempercepat pertunanganya dengan Dimas. Namun Arfa tak menunjukan raut sedih setelah mendengar cerita dari Nayla tersebut.


"Kau tau, aku punya ide agar papamu menyetujuhi hubungan kita," bisik Arfa pelan di telinga Nayla.


"A_apa?" si cantik pun penasaran.


"Sini!"


Arfa pun membisikan sesuatu kepada Nayla, dan gadis itu terperanjat setelah mendengarnya, karena menurutnya ide Arfa benar-benar gila.


.


.


.


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2