Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Mengajak Pindah


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Sudah hampir 8 bulan Arfa dan Nayla berada di Jerman, tapi keduanya belum menunjukan tanda-tanda untuk pulang ke Negaranya, mereka justru betah di sana, karena usaha yang mereka buka, berkembang pesat. Beruntung jaman sudah sangat moderen, Arfa dan Nayla bisa melepas rindu melalui video call.


"Abis dari mana, Si? Kok mukanya kusut sekali?" tanya Nayla yang kini sedang bersama Arfa dan anak perempuanya. Mereka tengah berlibur di sebuah Villa.


"Pulang dari Posyandu mbak, tapi aku sedih, karena tadi di ejek oleh emak-emak julid di sini!"


"Lho... kok bisa mereka julid?"


"Mereka bilang. Masih kecil kok nikah? Masih kecil kok hamil? Gitulah... intinya mereka memojokanku!"


"Ya sudah... bulan depan, minta antar Arfi saja! Aku yakin mereka tak akan berani mengejekmu!" sahut Arfa yang tengah sibuk bermain dengan baby Acha.


"Betul, Si!" tambah Nayla pula.


Sisi menghela napas berat. "Baiklah, nanti aku bicarakan baik-baik dengan kak Arfi, semoga dia mau."


Sisi yang sibuk video call bersama Nayla dan Arfa tidak sadar jika ada Arfi berdiri di belakangnya.


"Ehh....!!"


Nayla sebenarnya ingin memberi tahu Sisi, prihal keberadaan Arfi, tapi pria itu meminta Nayla dan Arfa untuk diam.


"Suamimu pulang jam berapa?" basa basi Nayla lagi.


"Gak tentu mbak.... kadang jam 4, kadang juga jam 5.. kalau sedang marah, biasanya pulang jam 10 malam."


"Masa sih? Kamu gak takut sendirian terus?"


"Gaaklah. Tapi sebenarnya kak Arfi meminta aku untuk ikut dia ke kantor,"


"Terus, kenapa gak ikut?" kini Arfa yanv bertanya.


"Gaaak ah... malas, karena setiap aku ikut ke kantor, pulangnya pasti bertengkar."


"Kok, bisaaaa?!" Arfa dan Nayla bersamaan bertanya.


"Kak Arfi itu pecemburu, kalau ada yang deket-deket aku sedikit aja, dia pasti marah-marah!'


"Haaaaah?!"


Arfi yang sedari tadi ada di belakang Sisi, seketika matanya membulat sempurna, ia melotot kesal, tapi sedikit lucu. Penjelasan istrinya membuat ia tergelitik gelitik geli.


"Eheeemm.... siapa yang pecemburu sayang?" Arfi berbisik pelan di telinga Sisi.


"Haah.. ka-kakak."


Wanita mungil itu terkejut luar biasa, ia spontan menutup laptop dan sambungan video call pun terputus.


"Apa... hm, siapa yang pecemburu, hah?"


"Kakak'lah. Yang jelas bukan aku!"


Sisi langsung beranjak, ia berlari lalu masuk kedalam kamar, dan Arfi tak mau mengalah ia pun mengejar langkah istrinya.


"Haayoo, mau kemana??"

__ADS_1


Sisi sudah tersudut di dinding, ia tak bisa kabur lagi, sementara Arfi terus mendekat, kini ia dan Sisi sudah saling menatap.


Wussh!


Selama Sisi hamil, Arfi memang tak pernah mengajak istrinya berhubungan badan. Bukan karena tak ingin, ia coba menahan n*fsunhya, agar bisa membuat istrinya nyaman. Arfi hanya meng*cup kening Sisi saat wanita itu tertidur lelap dan mengelus perutnya setiap akan pergi kekantor.


Ssstt...


Tatapan mata Arfi yang sangat dalam membuat Sisi tersenyum. Sebebarnya ia merasa hampa karena Arfi tak pernah menyentuh selama ia hamil dan kini usia kandunganya hampir 4 bulam.


Haaaap!


Sisi maju selangkah, ia meng*cup bibir Arfi tiba-tiba, serangan Sisi yang tanpa aba-aba membuat sang suami diam tanpa kata. Jantungnya berdetak tak seirama, ia gemetar luar biasa, Arfi akan terus seperti itu, setiap kali Sisi menciumnya lebih dulu.


"Hei... apa yang kamu lakukan? Lihatlah pusakaku berdiri, kamu harus bertanggung jawab!" serunya lalu mengajar langkah Sisi yang kini sudah menjauh. Wanita itu membuat sang suami berani untuk mengajaknya berpelukan malam ini.


"Boleh."


"Ti-tidak marah?"


"Tidak. Asal kakak melakukan sewajarnya saja!"


Arfi mengangguk setujuh, ia langsung mendekati Sisi lalu menggendong sang istri setelah itu pelan-pelan merebahkan tubuh si cantik di atas tempat tidur. Malam ini, Arfi dan Sisi melakukan hubungan dengan perasaan bahagia. Tak ada paksaan, seperti selama ini yang di lakukan Arfi.


"Aku mencintaimu," bisiknya lirih. Di telinga sang istri yang mulai terlelap.


Arfi memeluk sang istri sepanjang malam, ia memberikan Sisi kenyamanan, bukan seperti selama ini. Arfi juga sudah berkonsultasi ke Dokter, jika berhubungan saat istri hamil memang di perbolehkan, asal jangan di lakukan secara berlebihan.


***


Pagi menyapa, dengan sinar sang fajar yang terpancar, senyum pun tak bisa terhindar, kala menatap wajah Arfi yang begitu tampan pagi ini. Sisi memandangi wajah sang suami yang masih terlelap di dalam dunia mimpi.


Pelan-pelan, Sisi beranjak dari tempat tidur, dengan hati-hati agar pergerakanya tak membangunkan sang suami.


Ck...


Ia sudah turun dari atas ranjang, langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihan diri. Setelah itu ia keluar untuk mencari sarapan pagi.


"Sisi...," seorang pria muda yang dulu saat sekolah menyukai Sisi, tersenyum senang kala bertemu dengan wanita itu lagi.


"Fadil... sedang apa kamu di sini?"


"Membeli sarapan. Kamu sendiri?"


"Sama." jawab Sisi singkat.


"Wah kita jodoh dong."


"Hem...!" hanya itu yang keluar dari bibir Sisi


Fadil bukan tidak tahu, jika Sisi sudah menikah, tapi ia tak perduli sama sekali, yang pasti ia akan senang setiap kali bertemu dengan Sisi.


"Aku duluan ya!"


Setelah sarapan ia dapatkan, Sisi segera bergegas pergi. Namun Fadil mengikuti langkahnhaya.


"Ngapain sih, ikuti aku? Kurang kerjaan!" ketusnya kesal.

__ADS_1


"Yee... siapa yang ikuti kamu. Aku mau ke apartemen, sebab sedari tadi malam, aku tinggal di sini!"


"Haaah? Serius?" Sisi terbelalak tak percaya.


"Seriuslah. Kamu sendiri ngapain di sini?"


"Gak apa-apa!"


Sisi berjalan cepat, agar Fadil tidak tahu dimana kamarnya. Ia benar-benar tak nyaman jika tinggal berdekatan dengan pria itu.


"Pak, kenal cewek tadi?" Fadil bertanya kepada satpam apartemen.


"Ohh itu mbak Sisi, mas."


"Dia tinggal di apartemen ini?"


"Iya... lantai 7 kamar no 28." ujar si satpam memberi tahu.


"Hmmm.. baiklah, terima kasih, pak!"


Fadil bahagia luar biasa, karena ia satu apartemen dan hebatnya satu lantai dengan Sisi. Hanya saja, ia kamar 19 sementara wanita itu kamar 28.


"Jangan macam-macam, mas! Suami mbak Sisi pecemburu berat."


Hal itu justru membuat Fadil kian senang, entah apa yang tengan ia pikirkan. "Ohh, baguslah, kalau suami dia pecemburu, aku bisa dengan mudah menghancurkan rumah tangganya." ucap Fadil penuh kelicikan.


Dulu ia memang mati-matian menyukai Sisi, tapi kedua orang tuanya melarang. Terlebih ia sedang sekolah dan status sosial ia dan Sisi berbeda. Fadil anak orang ternama sementara Sisi anak sebatang kara.


***


"Huuuh!"


Sisi menghela napas perlahan, setelah tiba di kamarnya. Ia sungguh gelisah setelah bertemu Fadil tadi, tatapan pria itu masih sama. Sama seperti dulu saat menyatakan cinta.


"Si- kamu darimana?" tanya Arfi yang baru keluar dari kamar mandi.


"Be-beli sarapan." jawabnya gugup. "Kakak sudah bangun?" Sisi berusaha bersikap sebiasa mungkin, meski sebenarnya ia tengah gelisah.


"Kamu beli apa? Ya sudah, ayo makan sama-sama! Sebentar lagi, kakak akan ke kantor."


Sisi mengangguk datar, ia dengan semua perasaanya yang tak karuan, menuruti apa yang di perintahkan Arfi. Kini ia menikmati sarapan pagi bersama sang suami.


"Kak- kita beli rumah yuk! Kecil juga gak apa-apa."


"Eh... kok ngajak beli rumah dadakan?" selidik Arfi heran.


"Gak betah disini." jawabnya berbohong, padahal ia malas bertemu Fadil setiap hari.


"Kakak memang sedang membuat rumah Si... baru jadi setengah. Kata arsiteknya sih, selesai pertengahan tahun tahun ini, jadi kamu sabar ya! Untuk sementara kita disini dulu!'


Sisi tak bisa menolak, kecuali mengiyakan ucapan sang suami. Jalan satu-satunya agar tak bertemu Fadil, ikut Arfi ke kantor setiap hari.


.


.


.

__ADS_1


.


TERIMA KASIH


__ADS_2