Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bukan Jahat Tapi Terpaksa Jahat


__ADS_3

Airin mendudukan tubuhnya, ia tak bisa melakukan banyak hal, meski tau jika Alvian terluka, setelah bertemu Nino dan Dini. Gadis itu hanya berharap jika Alvian baik-baik saja.


"Kenapa, Rin?" tanya seseorang yang satu tahanan denganya.


"Tidak, aku hanya sedikit pusing," jawab Airin berbohog.


"Kau ini, masih sungkan saja untuk bercerita. Katakan apa yang membuatmu sedih begitu, kita 1 tempat tingga dan di sini kita harus saling menguatkan," ujar seseorang tersebut, sebut saja namanya Ria.


"Aku sedih, tapi pantaskah aku bersedih?" Airin tertunduk lesu.


"Alvian. Polisi bernama Alvian itukan yang sedang kau pikirkan?"


"Haaaah," Airin semakin menundukan wajahnya, ia benar-benar malu karena Ria tau apa yang kini mengusik batinya.


"Kau ini, sebentar! Biar aku panggilkan,"


"Panggil siapa?" Airin menatap Ria tak mengerti


"Pak polisi kemarilah!" Ria memanggil polisi yang tengah menjaga tak juah dari tempat ia dan Airin di tahan.


"Ri, apa yang kau lalukan?" Airin berdecak heran.


Sementara polisi yang di panggil Ria tadi, benar-benar mendekati keberadaan mereka berdua. Hal itu tentu membuat Airin semakin tertuntuk malu.


"Ada apa?" tanya si polisi seraya menatap lekat wajah keduanya.


"Bisa tolong panggilkan, pak Alvian!" titah Ria tanpa ragu.


"Astaga Ria, apa yang kau lakukan?" Airin menarik pelan tangan teman 1 tahananya itu. "Jangan pak!""tambah Airin lagi, kepada si polisi.


"Gimana sih, panggil atau tidak.


"Panggil!"


"Tidak!"


Airin dan Ria berucap secara bersamaan. Membuat si polisi menatap kesal ke arak keduanya.


"Huuuh, cantik-cantik menyebalkan!' ujar si polisi lalu pergi meninggalkan keberadaan keduanya.


"Astaga, Rin! Katanya tadi rindu pak Alvian?"


"Siapa yang bilang aku rindu? Haaa!" Airin menepuk pelan bahu Ria.


Sementara Ria tertawa sejadi-jadinya, melihat expresi wajah Airin yang cukup menggemaskan. Keduanya baru 10 hari ini tinggal bersama di satu tempat tahanan tersebut, tapi baik Ria ataupun Airin sudah cepat akrab dan saling memahami.


"Aku tidak rindu, tapi aku khawatir!" ujar Airin kepada Ria.

__ADS_1


"Sama saja, Rin. Kau suka dia kan?"


"Is gila! Mana mau dia denganku, aku tahanan dan dia polisi. Sadar diri, aku Ri," jawabnya lalu mendapat tatapan tajam dari Ria.


"Tapi, kalau dia suka kamu gimana?"


Airin tak menjawab, dia justru tertawa sejadi-jadinya, setelah mendengar pertanyaan dari Ria.


"Ku beri tahu, padamu ya! Aku tak akan semudah itu lagi jatuh cinta, rasa sakit di hatiku masih teramat luar biasa, karena cintalah yang membuatku mendekam di sini, dan prihal Alvian, apapun yang dia lakukan untukku, aku tak mau menyimpulkan kalau dia suka kepadaku. Takutnya, setelah aku terlalu berharap, nyatanya dia hanya kasihan bukan suka," jelas Airin dengan segenap rasa takutnya yang masih luar biasa.


Ria pun terdiam, kini ia tak mampu berucap lagi, binar kesedihan di wajah cantik Airin, benar-benar membuatnya tak mampu berkata-kata.


"Maaf, Rin!" pintanya tulus.


"Tidak masalah," jawab Airin datar lalu mengajak Ria duduk kembali.


Keduanya saling bercerita, dan menghibur satu sama lain, baik Airin ataupun Ria, bukan orang jahat yang berniat membuat siapapun celaka, tapi keadaanlah yang membuatnya harus mendekam di dalam sana.


"Sahabatan ya!" ajak Airin kepada Ria.


"Kau yakin, mau bersahabat dengan pembunuh sepertiku?" ragu Ria.


"Kau bukan pembunuh, aku juga bukan pembunuh, kita sama-sama terpaksa melakukanya." Tambah Airin.


"Jika kau keluar lebih dulu, tunggu aku ya!" Ria menatap Airin penuh harap.


Keduanya saling berpeluk, tak ada yang Airin harap lagi, kecuali menerima siapapun yang mau menerimanya, sebab di saat ia berada dalam keterpurukan, Airin sadar, bahwa kesalahnya yang tanpa sengaja membuat ia di buang keluarganya. Karena kedua orang tua Airin, benar-benar tak peruli sama sekali, bahkan selama Airin berada di jeruji besi, mereka tak berniat menolong anaknya sedikit pun.


"Aku istitahat ya, Rin! Kepalaku tiba-tiba saja sedikit pusing," uvap Ria, lalu mengusap air mata di wajah cantik Airin dan juga wajahnya sendiri. "Jangan menangis, percayalah! Apapun yang terjadi saat ini, adalah hal yang akan membuat kita sama-sama lebih dewasa lagi," tambah Ria lagi, dia pun segera beranjak dari tempat duduknya.


Sementara Airin kini hanya membisu, seraya menela'ah nasehat Ria untuknya.


Di sisi lain, ada Alvian yang sebenarnya sejak tadi memperhatikan mereka berdua. Polisi tampan itu, tercekat kelu, setelah mendengar semua pembicaraan antara Airin dan Ria.


"Hmmmm," gumam Alvian pelan, seraya menyodorkan air dingin ke arah Airin.


"Eh, kau," si cantik cukup terkejut sebab Alvian tiba-tiba sudah berada di depan tempat ia di tahan.


"Minumlah, setelah menangis kau pasti lelah, kan?!"


"Sok tau," jawab si cantik mengejek lalu mengusap air mata yang sejak tadi tak mau reda.


"Mau tidak?" Alvian kembali menyodorkan air dingin di tanganya, seraya tersenyum melihat sikap Airin.


"Ada racunya, gak? Nanti aku mati bahaya, dosaku masih banyak soalnya," canda Airin mengada-ada.


Alvian pun tertawa, tingkah Airin benar-benar membuatnya menggeleng pelan.

__ADS_1


"Tidak ada, aku coba dulu ya!" jawabnya datar.


Alvian adalah polisi yang benar-benar kaku dan terkesan pendiam, itulah sebabnya ia tak bisa mengimbangi candaan Airin.


"Jangan dong, nanti airnya berkurang," tukasnya lalu mengambil paksa, sebotol air dingin yang sejak tadi berada di tangan Alvian.


Senyum, hanya itu yang Alvian lakukan setelah mendengar ucapan Airin tadi.


"Kaku banget sih pak, padahal dari tadi aku bercanda, loh," goda Airin kemudian.


"Balum terbiasa, nanti kalau sudah kenal aku lebih dekat, pasti aku becandain, kamu," jawab Alvian polos.


"Boleh, kalau gitu yuk kenalan lebih dekat lagi. Tapi....." ucapan Airin tertahan, ia menatap tajam wajah Alvian.


"Tapi apa?" si tampan penasaran.


"Jangan bercanda prihal, perasaan pak! Sakit lho, hasilnya," ujar Airin membuat Alvian diam sejenak.


"Baik, kalau begitu, jika nanti aku jatuh cinta kepadamu, itu bukan main-mainya," jawabnya yang seketika mendapat tatapan tajam dari si cantik.


"Aaah," Airin tak mampu berkata-kata, sebab Alvian lebih tajam membalas tatapanya. "Polisi gila! Beraninya menggodaku," cetusnya dalam hati.


"Kenapa, kau diam?" Alvian mengedipkan sebelah matanya.


"Isss, apaan?" si cantik berdecak kesal.


Kini Alvian kembali tertawa, jujur saja sikap dan tingkah Airin memang menggemaskan baginya.


"Pak, katanya tangan anda terluka?" tanya Airin mengalihkan pembicaraan.


"Iya, dan ini karena mantan pacarmu,"


"Issssss," lagi-lagi Airin mengerutkan wajah cantiknya, si polisi benar-benar membuatnya begitu kesal.


"Bercanda, Rin," Alvian tersenyum ke arah si cantik. "Oh iya, masih manggil aku bapak terus sih,"


"Iya, Al. Maaf Al....!" jawabnya walau terkesan terpaksa.


Airin benar-benar canggung jika memanggil Alvian dengan nama saja.


"Ya sudah, kau istirahat ya! Besok pagi semua tahanan di sini harus senam, dan kau juga wajib ikut," ujar Alvian lalu pergi dari hadapan Airin.


"Al... boleh minta sesuatu tidak?" teriak si cantik membuat Alvian seketika menghentikan langkahnya.


"Apa? Kau mau apa?"


"Aku ingin makan nasi goreng nih, kalau kau ada waktu, beliin ya! Tulis, harganya berapa, hitung saja sebagai hutang, nanti aku ganti uangnya, setelah aku keluar dari sini," titahnya yang langsung membuat Alvian tertawa lagi.

__ADS_1


"Baiklah," jawab si tampan di sertai tawa sejadi-jadinya setelah mendengar ucapan Airin tadi.


__ADS_2