Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Amarah si Papi


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Setelah merasa urusanya selesai, Arfi kembali ke apartemen untuk menjemput sang istri. Sesampainya disana, ia dibuat terpana akan kecantikan Sisi siang ini. Baju gaun pink pendek di sertai rambut yang terurai, membuat Sisi tampak bak boneka Barbie.


"Si-Sisi...!!" gugupnya.


"Cantik tidak?" Sisi bertanya manja, ia bahkan bersikap seolah tak terjadi apa-apa, menatap Arfi dengan penuh cinta.


"Ca-cantik," jawabnya terpana.


Arfi menggeleng pelan, istri kecilnya seakan melupakan, jika semalam ia membuat tersiksa.


"Mbak Nayla sudah meneleponku, katanya mereka sudah betangkat ke Bandara."


"O-oke. Ayo berangkat!"


Arfi menggenggam tangan sang istri dan membawanya berjalan bersama, kali ini Arfi tak menarik kasar tangan Sisi.


***


Keduanya sudah tiba di Bandara. Arfa dan Nayla sudah berada disana, juga si mami dan si papi.


"Hai Sisi,"


Nayla bersemangat dan sungguh senang saat bertemu saudara iparnya itu.


"Mbak Nayla sudah mau berangkah?"


"Iya. Satu jam lagi kami akan terbang."


"Ta-tapi, usia dedek Achs baru saja 3 minggu kurang. Apa sudah di izinkan ikut terbang?"


"Bisa... aku dan Arfa naik pesawat eksklusif. Jadi semuanya di jamin aman." Nayla menjelaskan seraya melempar senyum penuh arti ke arah Sisi. "Cantik, kamu anak tangguh, bertahun-tahun kamu bisa menaklukan keadaan..... dan aku juga yakin, kamu pasti bisa menaklukan dia." Nayla berbisik.


DEG!


Seolah mendapatkan bisikan dari malaikat, jantung Sisi berdebar kuat, ia menggenggam erat-erat tanganya sendiri. Bisikan Nayla baru saja, seolah menjelaskan, jika wanita itu tahu jika Arfi masih menyukainya.


"Ta-tapi, dia memperlakukanku tak seharusnya."


"Maksudmu?" Nayla tersentak.


"Ahahaha, tidak-tidak, aku hanya bercanda." Sisi berkilah, ia memberi kec^pan di kening Acha yang kini berada dalam dekapan Nayla. Setelah itu ia mendekati keberadaan Arfi yang tampak mengobrol dengan Arfa dan kedua orang tuanya.


"Hati-hati dan cepat kembali! Jaga baik-baik anak dan istrimu!" pesan Arfi tulus seraya menatap ke arah Nayla, meski wanita itu membuang wajah setiap kali dipandangi Arfi.

__ADS_1


Arfa dan Nayla kini sudah berjalan menjauh dari mereka. Keduanya berencana akan menetap di Jerman selama 3 bulan, Arfa berusaha untuk menjalin hubungan dengan keluarga Nayla, agar kedepan semua akan baik-baik saja. Jika kamu bisa merebut hati anaknya, maka rebut juga perhatian kedua orang tuanya. Jika kamu mencintai seorang gadis maka cintailah juga keluarga besarnya. Itulah hal yang selalu Arfa ingat dan akan ia terapkan di keluarga Nayla.


***


Setelah Arfa dan istrinya terbang menuju Jerman. Kini si mami dan sang papi meminta Sisi dan Arfi makan bersama di rumah. Lagi pula, ada hal yang harus Arfi sampaikan juga.


"Si- ikut mami ke mini markret depan yuk!"


"Boleh mi,"


Setelah makan bersama, Airin mengajak sang menantu untuk membeli sesuatu. Sementara Arfi dan si papi duduk bersantai di teras rumah.


"Apaaaa??? Berhenti dari kepolisian?!!!"


Si papi terkejut bercampur marah, ia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh sang anak.


"Iya, pi." tegas Arfi.


"Apa kamu sudah gila? Menurutmu menjadi seorang polisi itu mudah? Asal kamu tahu, di luar sana banyak sekali anak-anak yang ingin menjadi sepertimu, tapi mereka tidak bisa dan sebagian lagi tidak mampu!!"


Si papi yang emosi, menunjuk-nunjuk wajah Arfi penuh emosi. Sedangkan Arfi hanya tertunduk sedih.


"Maafkan aku, pi. Aku tak pantas menjadi seorang polisi!" tukas Arfi dengan kepala yang masih tertunduk.


"A-aku..,"


Arfi menjelaskan secara rinci, hal yang membuat ia merasa tak pantas menjadi polisi. Sikapnya terjadap Sisi, sebenarnya adalah sebuah kejahatan, Arfi sadar itu. Ia menceritakan semua hal yang ia lakukan terhadap Sisi termasuk memakai Sisi senjang malam, hingga wanita itu tak berdaia.


PLAAAK... PLAAAK!!


Tamparan keras mendarat aman diwajah Arfi, bahkan darah segar sedikit keluar dari bibirnya. Sikap Arfi tak bisa di toleransi menurut sang papi, Alvian tak menyangka jika anaknya begitu tega.


"Kamu harus mendapat hukuman. Kamu pantas di penjara!" pekik si papi marah, seraya memukul berkali-kali tubuh anaknya.


Dan... saat si papi akan menampar wajah Arfi lagi, saat itulah si mami dan Sisi pulang ke rumah. Melihat apa yang terjadi sesigap mungkin Sisi melindungi Arfi dan meminta Alvian berhenti memukulnya.


"Mas, apa yang terjadi? Kenapa kamu menghajar anakmu sendiri?" si mami tampak sedih, karena wajah Arfi membiru belum lagi darah yang keluar dari sudut bibir.


"Ambilkan ponselku! Aku harus menghubungi polisi dan melaporkan anakmu!!' ujar si papi beteriak. Ia menarik tangan Sisi untuk menjauh dari Arfi.


"Mas... ada apa ini? Kenapa sampai melapor kepolisi?" Airin semakin tak mengerti.


Si papi menceritakan semua perbuatan Arfi kepada sang istri. Seketika Airin merasakan dadanya teramat sesak, karena tak menyangka jika anaknya bisa berbuat setega itu terhadap Sisi.


"Jangan pi! Aku tidak mau, kak Arfi di penjara!" pintanya memohon.

__ADS_1


"Dia menjahatimu, Si. Kenapa kamu melarangnya?"


"Aku masih hidup dan badanku tetap sehat. Artinya kak Arfi tak sejahat itu padaku. Jika aku sampai masuk rumah sakit, barulah papi boleh melaporkanya!" tambahnya semakin berharap.


Si mami dan sang papi, memandangi anak menantunya dengan iba. Tampak jika wajah nya tampak lelah, tapi sorot mata menjelaskan jika Sisi sangat mencintai Arfi.


"Haaaah!"


Alvian membuang nafas kasar, ia pergi begitu saja, tanda mengiyakan permintaan Sisi, agar tidak melaporkan Arfi ke kantor polisi.


"Pulanglah! Dan jangan sakiti istrimu! Jika nanti amarah papi sudah reda, menghadaplah dan berjanji, jika kamu tak akan menyakiti Sisi lagi!" seru sang mami setelah itu ia mengejar langkah Alvian.


Arfi pun beranjak dari tempat ia duduk, tanpa mengucapkan sepatah katapun langsung masuk kedalam mobilnya.


"Mau ikut pulang denganku atau tidur di jalanan?" tanya Arfi seraya menatap Sisi sedikit benci.


"I-iya, pulang." gugupnya lalu masuk kedalam mobil juga.


Selama di dalam mobil, menuju jalan ke apartemen, keduanya tak saling berbicara, hanya Arfi yang sesekali meringis karena menahan sakit, sebab si papi tadi hampir membuatnya mati. Sebagai mantan polisi si papi memang mendidik anak-anaknya dengan sangat keras, jika bersalah, Alvian akan memukul sampai anaknya mengatakan maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan lagi.


Ck.


Keduanya sudah tiba di kamar apartemen. Dan Sisi langsung mengambil kotak obat untuk mengobati luka dan lebam Arfi.


"Sudahlah! Jangan cari muka, aku muak!" caci Arfi.


"Terserah kakak muak, izinkan aku memberihkan luka kakak dulu!"


"Pandai sekali, gadis kecil sepertimu mencari perhatian kedua orang tuaku dan bersikap bak pahlawan kesiang seperti, tadi!" caci Arfi lagi.


Meski rasanya sakit mengujam hati, tapi Sisi beusaha tak perduli, ia tetap membersihkan luka lebam di wajah Arfi. Selama itu juga, sang suami terus mencaci maki.


"Kaauu....!"


Arfi kian kesal, karena Sisi tak bergeming, padahal ia mencaci sampai mulutnya terasa pegal.


"Masih ada tidak, caci'an yang akan kakak lontarkan? Katakan saja, aku pasti akan mendengarnya!"


Sisi menantang, tapi hal itulah justru membuat Arfi diam.


.


.


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2