Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: P O L O S


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Arfa akhirnya mendapatkan apa yang Nayla minta, ia membawa si mamang berbaju merah dan rambutnya yang keriting serta gerobak baksonya, kehadapan sang istri tercinta. Dan seketika saja Nayla pun tertawa terbahak-bahak, ia tak menyangka jika suaminya benar-benar menuruti apa yang ia mau.


"Puas...?!"


Arfa berdecak kesal, karena Nayla tertawa, saat ia berhasil membawa si mamang bakso ke rumah.


"Puas banget dong." jawabnya. Seraya terus tertawa, Nayla menutup mulutnya, agar tidak tertawa lagi, sebab ia melihat wajah sang suami, cemberut sampai pipinya memerah karena menahan marah.


Akhirnya Nayla dan Arfa tetap memborong semua bakso yang dijual oleh si mamang berbaju merah itu, lalu membagikannya ke tetangga dan juga anak buah Arfa.


"Terima kasih sayang. Maaf ya karena aku telah membuatmu kesal," ucap Nayla tulus.


Si tampan hanya mengangguk-angguk datar, ia tersenyum terpaksa, meski sebenarnya ia masih sangat kesal luar biasa. Sebab karena permintaan istrinya itulah, ia sampai memasang spanduk di pinggir jalan dan akhirnya menemukan si mamang bakso itu. Tapi nyatanya Nayla bukan benar-benar mengidam, ia hanya menguji seberapa peduli sang suami tercinta.


"Besok-besok jangan diulang lagi ya! Aku sampai menahan malu, demi dirimu," tuturnya seraya mencubit pelan hidung sang istri.


Keduanya pun akhirnya, memilih, untuk menikmati semangkuk bakso berdua.


***


Di tempat lain Sisi dan Arfi yang sedang dimabuk kasmaran, menikmati waktu santai bersama. Setiap kali selesai bertugas, Arfi pasti menyempatkan diri untuk bertemu dengan kekasihnya itu.


"Kak gak usah pulang dulu, di luar hujan badai!" Sisi mengingatkan.


"Iya, lagi pula mobil kakak sedang rusak... dan hujan turun sangat deras, sehingga tidak ada bengkel yang buka." Arfi menjelaskan.


Sisi tersenyum datar, seraya meletakkan secangkir teh hangat di atas meja, untuk pria yang telah mengisi full hati dan perasaannya.


"Kilat tengah mencekat, badai masih marah di luar sana, bumi sedang bersedih, sehingga kita semua tidak bisa melakukan apapun jika bumi sedang berduka." Arfi berujar puitis.


"Wihh, sepertinya dulu nilai pelajaran bahasa kakak, pasti di atas 9... bisa barucap se sosweet itu!" Sisi bertepuk tangan.


"Bukan hanya 9 tapi 10 keatas," ujarnya bangga.


"Memang ada, nilai 10 keatas?" Sisi penasaran.


"Adalah, sepuluh plus, hahahah__," Jawabnya seraya tertawa datar, Sisi pun menatap wajah Arfi kesal. "Maaf- maaf- kakak bercanda!'


Karena hujan di luar sana, justru turun semakin deras, membuat Arfi tidak bisa pulang juga... bahkan tanpa sadar, hari sudah berganti malam.


"Huwaaa...,"

__ADS_1


Gadis mungil itu tak kuasa menahan kantuknya, ia tanpa sadar tertidur dan menyandarkan kepala tempat di bahu Arfi. Si tampan tersenyum ia menarik tubuh Sisi perlahan dan menidurkan gadis itu di pahanya.


1 jam kemudian.


Perlahan si cantik membukan mata setelah itu melirik jam di tangan, dan waktu menunjukan pukul 8 malam. Tapi sepertinya hujan tak kunjung reda.


Ssssttt....


Sisi terkejut karena baru menyadarinya, jika ia tertidur di paha Arfi, si cantik melirik cepat... karena ia melihat Arfi, tengah tertidur pulas di kursi. Jadi sedari tadi, sebenarnya keduanya tengah tertidur.


Ck...


Diam-diam Sisi beranjak dari duduknya, ia perlahan menjauhkan tubuh dari arti Sisi dan berusaha... agar pergerakannya tak membuat Arfi terbangun.


Haaap!


Arfi menarik tangan gadis itu dan membawa Sisi dalam dekapanya, Sisi tersentak karena nyatanya Arfi masih menutup mata seolah tampak masih tertidur.


"Kakak, tidur beneran, apa pura-pura sih?" Sisi coba bertanya namun tak ada jawaban.


Arfi yang sebenarnya memang sudah terbangun, berusaha menahan tawanya, melihat tingkah polos, dari gadis yang kini sudah menjadi kekasihnya.


"Ya kali ada, orang pura-pura tidur, terus jawab pertanyaan orang gitu?" Arfi berdecak pelan di dalam hati, ia masih menahan tawa.


Sssttt...


Setelah berhasil melepaskan tangan Arfi, ia mencoba untuk menjauh lagi. Tapi sayang... Arfi kembali menarik tangannya, dan kali ini mendekap tubuh Sisi erat-erat.


"Hemmm!"


Gadis itu mendengus kesal, ia melihat raut wajah Arfi tampak berpura-pura tertidur, ada senyum tipis yang tersungging dari bibirnya, membuat Sisi yakin, jika kekasihnya hanya berpura-pura.


Haaap!


'Awwww_____!"


Teriak Arfi kencang, ia berdecak lirih seraya meringis menahan sakit pada tanganya. Karena Sisi menggigit tangan Afi berkali-kali, hingga meninggalkan bekas gigi, di tangan mulus pria tampan itu.


"Sakit Sisi!" omelnya.


"Salah siapa pura-pura tidur? Kalau mau minta peluk, bilang dong enggak usah sok jaim!" Sisi berucap seolah tengah menggoda Arfi.


Arfi yang terpancing, menarik tangan Sisi, lalu membawa tubuh gadis itu kembali dalam dekapannya. Secepat kilat... Arfi menjatuhkan tubuh Sisi di atas sofa, lalu menggenggam erat-erat kedua tangannyan, hingga si cantik tak bisa bergerak. Tubuh Arfi mengambil alih posisi dan berada tepat di atas tubuh mungil gadis tersebut.

__ADS_1


"Ka-kakak, mau, apa?"


Seketika Sisi menjadi gugup, karena Arfi menatap wajahnya, bak singa yang sedang kelaparan.... dan siap mencabik-cabik tubuh gadis itu.


"Kaak,"


Suara itu terdengar mendayu, membuat Arfi kian tertantang, padahal Sisi meminta Arfi segara menjauh dari atas tubuhnya.


"Eemm."


Lirih, pelan namun semakin membuat jiwa kelakian Arfi meronta. Suara mendayu itu keluar dari bibir Sisi karena Arfi menyarang bibirnya, seraya mengec^p penuh n^fsu. Sisi terpejam, ia merasakan ada hal aneh menyerang tubuhnya seolah menikmati, jengkal demi jengkal, balaian yang Arfi beri. Dengan sangat lembut Arfi membawa gadis itu terhanyut dalam nikmatnya sebuah permainan.


"Haaah...!"


Nafas Sisi terengah-engah, keringat membasahi tubuh keduanya. Namun Saat Arfi akan menghujam pusaka miliknya kedalam kolam cinta milik Sisi, ia segera tersadar setelah itu mengambil selimut yang ada di atas ranjang, untuk menutup tubuh polos Sisi, karena tak menggunakan sehelai kain pun. Tanpa ia sadari, Arfi sudah melucuti semua baju yang menutup tubuh gadis itu.


"Si- msafkan, kakak!" gugupnya karena merasa malu dan bersalah.


Sisi tak menjawab, ia justru menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya. Banyak bekas memerah tertinggal disana, semua hasil karya Arfi yang medadak tadi.


"Kakak harus menikahiku!" serunya dari balik selimut.


'Tapi Sisi masih sekolah," jawabnya seraya memunguti baju sang kekasih yang berserak kesegala arah.


"Aku tidak perduli, kakak tetap harus menikahiku! Karena kakak telah menyentuhku... bagaimana jika aku hamil?" tanya Sisi polos.


"Haaaah... gak akan hamil sayang. Kakak tidak memasukanya." Arfi berucap keras dan meyakinkan gadis mungil itu.


"Apa yang di masukin, kak?"


"Astaga, kakak mana mungkin menjelaskanya. Yang jelas kamu tidak akan hamil. Kakak akan menikahimu setelah kamu lulus sekolah nanti!" Arfi meyakinkan.


"Ohh gitu ya. Baiklah,"


Sisi masih betah, berdiam di balik selimut yang menutup tubuhnya. Gadis itu takut menatap wajah Arfi.


.


.


.


.

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2