
🕊Selamat Membaca🕊
Pagi ini gemuruh terdengar, awan menghitam seakan ingin menangis sederas-deras. Airin terbangun dari aktifitas tidurnya, sementara Alvian sudah tidak ada di atas ranjang.
"Kemana dia?" lirih Airin dalam hati.
Si cantik segera beranjak dari tempat tidur, lalu mandi dan siap untuk berangkat ke kantor hari ini.
Langkahnya tergesa-gesa, menuju meja makan yang tampak tak ada siapapun di sana.
"Sudah jam 7, kok belum ada yang sarapan? Alvian kemana sih?"
Ia menoleh kekanan dan kekiri, memastikan keberadaan sang suami, seketika Airin tersenyum sebab Alvian nampak tengah duduk di teras rumah seraya menghadap laptop di hadapanya.
"Sarapan yuk!"
"Hai Rin, sudah bangun? Kok rapih banget?" Alvian justru balik bertanya.
"Ini sudah jam 7 lewat Al, kau malah masih asik main laptop di sini,"
"Lalu, memangnya mau kemana, kita?"
"Ya kerjalah,"
"Astaga Airin, kebayakan goyang ya, tadi malam, jadi lupa kalau hari ini, hari libur kerja," ucap Alvian di sertai senyuman.
"Haaah, benarkah?"
Wanita cantik itu membuang nafas kasar, ia berdecak kesal. Kenapa bisa lupa, kalau saat ini hari minggu
"Ihh, yang goyangkan kamu, bukan aku,"
"Masa? Perasaan kamu deh,"
"Apaan sih,"
Airin spontan mencubit perut Alvian, pagi ini keduanya menyambut hari dengan canda tawa.
"Pagi-pagi gini, udah mau hujan aja," omel si cantik.
"Artinya, kita di suruh stay di rumah saja,"
"Hemm, yalah,"
Airin mengajak Alvian untuk sarapan bersama. Dengan senang hati Alvian pun menuruti.
Saat menyantap sarapan pagi, keduanya memilih untuk diam tanpa kata, tak berbicara sedikit pun. Memilih menikmati suap demi suap, masakan si bibi yang begitu nikmat.
"Huuh, kenyangnya," ucap Alvain setelah selesai makan.
Ucapan itu di sambut senyum dari wajah sang istri.
"Al,"
"Ya,"
__ADS_1
"Selesai ini, antarkan aku main kerumah, ya! Aku rindu, mama," pinta Airin penuh harap.
"Iya Rin," jawabnya lalu mengusap pelan kening sang istri.
Ya.. karena rasa rindunya pada Anita sang mama, Airin memutuskan untuk menemuinya. Karena bagaimana pun, Anita tetaplah ibu kandungnya. Ada banyak hal, yang mau ia tanyakan di sana.
***
Keduanya pun tiba di rumah, yang selama ini Airin tumbuh dan besar di dalamnya. Dengan berat ia melangkah, yang ia kira rumahnya tapi nyatanya. Bukan. Semua orang pasti akan bahagia saat menginjakan kaki di rumah, tapi nyatanya Airin berbeda.
"Senyum Rin, katanya rindu mamamu!" seru Alvian pada istrinya yang telihat memasamkan wajah.
Airin coba menyunggingkan senyum dari wajah cantiknya, ingin bertemu seseorang yang amat ia rindukan
"Rin," Anita beranjak dari tempat ia semula duduk, saat melihat Airin ada di hadapanya.
"Apa kabar, mah?"
"Ba_baik," gugup Anita.
Wanita paruh baya itu, tak kuasa menahan air mata, karena nyatanya ia juga merindukan anaknya.
"Kamu apa kabar, Rin?"
Kini Anita yang balik bertanya.
"Aku baik, mah," jawabnya. "Oh iya, mana kak Rio dan Amira?" tambah Airin lagi.
"Amira pergi bersama teman-temanya, kalau Rio, setiap libur bekerja kantor, ia pasti akan mencari pekerjaan sampingan, karena biaya hidup yang cukup mahal, belum lagi untuk membayar hutang di bank." Jelas Anita pada anaknya.
Mendengar itu, membuat batin Airin spontan menangis, ia sebenarnya tak memiliki niat untuk membuat keluarganya hidup susah.
"Rin,"
"Ya,"
"Maafkan mama!"
"Maad untuk?"
"Untuk semuanya. Semua hal yang membuatmu kecewa, membuatmu sakit dan terluka,"
"Ah tidak masalah, kalau kalian tidak membungku, mungkin aku tidak bertemu Alvian," jawabnya bercanda.
Mendengar itu, Alvian yang sedari tadi mendengar saja pembicaraan istrinya, seketika tersenyum penuh arti.
"Benar juga," Alvian membatin. "Ya, sejatinya setiap apapun yang menimpa, pasti akan ada hikmahnya," lirihnya lagi di dalam hati.
Pria muda itu, memang memilih untuk diam saja, sebab ia ingin memberi ruang Airin dan Anita untuk berbicara empat mata. Sementara Anita sendiri, tersenyum malu saat mematap wajah Alvian, ia tak menyangka jika Tuhan tetap menakdirkan Alvian untuk menjadi menantunya.
"Al, apa kabar kedua orang tuamu?" basa basi Anita pada menantunya itu.
"Baik mah," jawab Alvian sedikit canggung.
Sebab, untuk pertama kalinya Alvian memanggil Anita dengan sebutan mama.
__ADS_1
"Ohh syukurlah," balas Anita kemudian.
Pagi ini, Airin menghabiskan waktu untuk berbicang dengan sang mama. Sedangkan Alvian memilih untuk diam saja seraya memandang hujan, yang turun mengguyur bumi.
"Waktu adalah hal, yang tak bisa terulang lagi, maka nikmati selagi bisa dan ada,"
Itulah kata-kata yang Airin tanamkan pada dirinya, sebab sebesar apapun dendam yang ia punya, tak dapat mengalahkan sebuah cinta dan sayang yang bersemayam di dalam hatinya. Bagaimanapun, Anita tetaplah orang yang telah melahirkanya, terlepas sebagaimana ia di besarkan oleh wanita paruh baya tersebut.
"Mah, apa aku boleh bertanya?"
"Tanyakanlah, Rin!"
"Dimana papa kandungku? Kenapa dia pergi, meninggalkan mama, saat mama hamil aku?"
Anita menghela nafas berat, ia tampak meneteskan air mata, entah apa yang kini tengah ia rasa, wanita itu terlihat sedih luar biasa.
"Mah, aku tak akan memaksa, jika saat ini mama belum siap untuk bercerita! Tapi, aku harap suatu saat nanti, mama akan menceritakan semuanya padaku," harap Airin sendu.
Lagi-lagi. Anita menghela nafas berat, sesak di dadanya kian terasa, ia memutuskan untuk bercerita. Seketika hal itu membuat Airin dan Alvian tersenyum, sebab bukan hanya Airin saja yang penasaran, tapi Alvian pun sama.
"Dulu, awalnya mama memang menikah dengan Yuda, tapi pernikahan kami tak bahagia, sebab saat itu Yuda terlalu sibuk bekerja bahkan selalu membandingkan mama dengan, istrinya yang sudah tidak. Karena hal itulah, mama jenuh, setelah 2 tahun bertahan, mama memutuskan untuk meminta cerai, tapi Yuda menolak. Akhirnya mama khilaf, berselingkuh hingga hal yang tak seharusnya terjadi. Tapi saat usiamu 4 bulan, papa kandungmu meninggalkan mama, tanpa pesan tanpa kata, beruntung Yuda tetap tak mau bercerai, hingga kami hidup bersama dan kau di anggap anak olehnya," jelas si mama, dengan berlinang air mata.
Airin tertunduk lesu, ia sendiri tak mengerti siapa yang salah dalam kasus ini.
"Semua salah, dan tidak ada yang benar," ujar Alvian membuka suara setelah mendengar cerita secara jelas dari Anita.
"Tapi, yang sangat di sayangkan. Kenapa papa pergi, tanpa mengucapkan dan mengatakan apapun," tambah Airin.
Alvian segera mendekati keberadaan sang istri, yang sejak tadi duduk di samping Anita. Pria muda itu mememeluk erat tubun Airin dan berusaha memberikan ketenangan.
"Apapun yang kau dengar, jangan jadikan alasan untukmu bersedih. Kau harus kuat, nanti kita cari tahu sama-sama, dimana keberadaan papamu."
Airin tersenyum sendu mendegar ucapan sang suami itu.
"Ini foto papamu, Rin!" ujar Anita tiba-tiba seraya menyodorkan, selembar foto yang sang mama ucap, dialah papa kandung Airin.
"Haaaah....!!"
Seketika Airin terbelalak tak percaya, saat melihat siapa yang ada di dalam foto tersebut.
"Siapa ini ya? Sepertinya aku pernah melihatnya," lirih Airin pelan dengan banyak tanya yang memenui benaknya.
.
..
..
...
....
Heyaa, siapa? Jawabanya ada di nanti siang ya😊.
🕊Terima kasih selalu untuk kakak-kakak baik, maaf kalau tulisanku banyak kekurangan! Ini lagi belajar untuk lebih baik☺💪🕊
__ADS_1