
🕊Selamat Membaca🕊
Sejenak Airin dan Alvian mendiamkan sebuah kotak, yang berada ada dihadapan keduanya, sebuah paket yang seseorang kirim untuk Airin.
"Buka Sekarang atau nanti saja?" tanya Airin pada sama suami.
"Sekarang saja, Rin! Aku penasaran apa isinya di kotak itu?"
Secepat kilat, Airin pun membuka sebuah kotak, yang berukuran besar tersebut, perlahan tapi pasti ia pun melihat isi di dalamnya.
Dan...
Seketika keduanya terbelalak tak percaya, seraya menggeleng pelan, sebab isi kotak tersebut sungguh membuat Airin dan Alvian heran.
"Apa, Rin?"
"Baju,"
Benar saja, di dalam kotak tersebut, terdapat beberapa lembar baju, dari mulai baju anak-anak, remaja, hingga baju orang dewasa.
"Woow, ini baju bukan merek main-main, sepertinya mahal," puji Alvian.
"Ih.. apaan sih? Aneh banget, Siapa coba yang ngirim paket gila ini ke sini, aneh.. tadi uang sekarang baju, maksudnya apa coba?"
"Iya juga sih?"
Banyak tanya memenuhi benak keduanya, Airin dan Alvin masih terus membongkar satu persatu baju-baju yang ada.
"Ada suratnya lagi, Rin!"
Tanpa pikir panjang lagi, Airin meraih sebuah surat, yang berada di lantaran baju-baju itu. Ia pun segera membaca, tulisan yang tertera di secarik kertas tersebut.
"Maaf! Karena aku, kau harus mengalami kesulitan. Pakailah baju-baju itu, mungkin saja, ada yang kau suka!"
Begitu isi tulisan dalam secarik kertas yang kini berada di tangan Airin.
"Heran,"
"Sama, aku juga heran. Siapa sih pengirimnya?" ujar Airin kemudian.
"Besok! Aku akan meminta, satpam kantormu, satpam kantorku, dan satpam rumah, untuk menahan orang yang mengirim paket ini!"
"Buat apa?"
"Ya tanyalah, siapa pengirimnya?"
"Tau ah... pusing! bodo amat, siapa pengirimnya, selagi gak ngerugiin aku, biarkan saja dulu!"
"Hmm... oke,"
Alvian menarik nafas pelan, ia segera beranjak lalu pergi dari hadapan sang istri. Sementara Airin, meletakan baju-baju tersebut ke sebuah tempat.
"Selidiki, siapa pengrim paket-paket misterius ini kepada Airin!"
Alvian meminta Toni dan beberapa orang untuk mencari tahu, siapa pengirim paket aneh itu. Sebab dari surat-surat yang tertulis, Alvian yakin, jika pengirimnya bukan orang jauh.
__ADS_1
**
Di sela heningnya malam, Alvian mendudukan tubuhnya di sofa, di temani teh hangat dan gurihnya makanan ringan, yang sengaja Airin siapkan untuknya.
"Uhh... enak ya, Al,"
"Oh.. tentu, rasanya benar-benar nikmat. Teh hangat manis di campur gurihnya kehidupan," jawab Alvian bercanda.
"Hidup siapa yang gurih?" Airin mengeryitkan wajah cantiknya.
"Hidup kitalah,"
"Mana ada, hidup kita belum gurih, karena perjalanya pernikahan baru saja di mulai. Kedepan pasti banyak hal yang akan kita hadapi. Kau dan aku harus siap menyikapi dengan lebih deawasa lagi. Begitu kata mamamu,"
"Apa hubunganya, gurih sama perjalanan hidup, kamu ada-ada aja deh,"
Airin tersenyum, sebab suaminya tengah berusaha untuk membuatnya tertawa. Tapi nyatanya, saat ini hidup Airin sendiri yang sedang menjadi candaan oleh keadaan.
"Kenapa, Rin?"
"Gapapa, gak tau... kenapa malas sekali tertawa," ucapnya lalu tertunduk.
"Itu, karena kondisi hatimu sedang tak baik-baik saja,"
Alvian membelai lembut kening sang istri, lalu meminta Airin untuk duduk di sampingnya.
"Kau mau apa, Rin? Biar tak sedih seperti ini?"
"Mau apa, ya? Yang enak ngapain, ya kira-kira?" Airin justru balik bertanya, bahkan ia menunjukan sisi imut, yang spontan membuat Alvian gemas.
"Mau gak, kamu... aku ajak jadi pencuri, aja?"
"Kamu mencuri hati aku. Dan aku mencuri hati kamu," candanya.
Lalu Airin pun tertawa sejadi-jadinya, candaan Alvian berhasil membuat sang istri terhibur.
"Ihh, narsis banget sih, Al,"
"Hehehe... itu aja, aku tau dari Toni," jujurnya.
"Haaah, kok tau dari Toni?"
"Toni, yang ngajarin aku, alay sedikit. Biar hidup gal kaku-kaku banget,"
Airin menepuk pelan keningnya sendiri, tak di sangka, ternyata polisi ada yang alay dan narsis juga.
Dari sisi lain, di sebuah kursi yang tak jauh dari Airin dan Alvian duduk, ada si mama dan si papa, memperhatikan keduanya dengan hati bahagia. Tania dan Reyhan berharap, hadirnya Alvian dalam hidup Airin dapat mengurangi, betapa sulitnya hidup Airin selama ini.
"Sudah malam, tidur sana!" titah si papa sedikit berteriak.
"Nanti aja, masih jam 10 malam. tanggung.. nunggu jam 12 malam sekalian," canda Alvian.
"Hadeh... ya udah, kalau belum mau tidur, sini ngobrol bareng mama dan papa!" titah si papa lagi.
Keduanya pun menuruti, apa yang di perintakan oleh si papa. Airin dan Alvian segera bergabung dan duduk bersama Reyhan dan Tania.
__ADS_1
"Apa itu, mah?" tanya Airin, saat melihat si mama mertua memegang sebuah album foto.
"Oh.. ini album saat Alvian masih bayi, dan ada beberapa foto, mama dan papa saat muda dulu," jelas Tania pada menantunya,
"Lihat dong!"
Airin bersemangat, ia penasaran dengan wajah Alvian saat masih bayi. Seketia ia tersenyum, sebab dari lahir Alvian memang sudah terlihat tampan.
"Ini siapa, mah?" tanya Airin penasaran saat melihat foto seseorang yang terlihat sudah begitu tua, dalam foto tersebut ia menggendong Alvian saat masih kecil.
"Ini kakek'nya Alvian, saat itu usia Alvian menginjak 4 tahun, namun 5 hari setelah berfoto, beliau meninggal karena ada seseorang yang membunuhnya. Sampai detik ini, kami belum tahu siapa pelaku pembunuhan itu,"
"Astaga,"
Airin terperanjat, mendengar cerita Tania, ia spotan memeluk tubuh si mama mertua, karena wanita paruh baya itu, terlihat meneteskan air mata.
"Mah..maaf! Karena pertanyaanku, mama jadi sedih begini," pintanya tulus.
"Tidak masalah, Rin, dengan begitu kau bisa tahu, jika dulu ada masalalu kami, yang sungguh menyedihkan juga."
Tania tersenyum, ia menatap wajah Airin penuh kasih sayang.
Karena hal itulah, akhirnya Tania pun menceritakan, masa lalu yang cukup menyedihkan.
"Jadi, kakek meminggal tidak sendiri?"
"Tidak, Rin.. beliau meninggal bersama seorang anak angkatnya, yang saat itu berniat menolong. Tapi dia justru ikut terbunuh,"
"Ya Tuhan....!"
Airin merasakan nyeri di bagian dada, sebab membayangkan saja, ia sudah tidak mampu. Bagaimana sedihnya, saat melihat orang yang di sayang terbunuh di depan mata.
"Bagaimana bisa? Orang yang membunuh tak tertangkap, mah?"
"Entahlah," kini Alvian yang menjawab, pria muda itu sejak tadi diam saja membiarkan sang mama dan istrinya saling berbicara berdua.
"Huuuf, sungguh menyedihkan," si cantik bergumam pelan.
"Itulah sebabnya, kenapa mama dan papa memintaku, menjadi sorang polisi, agar bisa menegakkan keadilan seadil-adilnya."
"Bukankah mama seorang pengacara dan papa juga jaksa, kenapa kalian tak bisa meminta bantuan ke siapapun, yang mungkin bisa menolong?" wanita cantik itu benar-benar penasaran.
"Saat itu, mama dan papa.. masih sama-sama kuliah, dan kami menikah di usia yang sangat muda. Ya itu 19 tahun, karena ada hal yang membuat kami, terpaksa menikah cepat," tambah Tania bercerita.
Airin pun menarik sudut bibir, ia tersenyum simpul mendengar cerita di masalalu kedua mertuanya. Ia berpikir, bahwa bukan hidupnya saja yang sulit, tapi ada hidup orang lain juga, yang sama sulitnya.
"Ya... hadapi, jalani!" ucap Airin dalam hati, ia berusaha menyemangati dirinya sendiri.
.
.
.
.
__ADS_1
Makasih kakak-kakak baik, semoga tetap betah di sini ya❤.
🕊Terima kasih🕊